Part 10

924 Kata
Gabriel bersama kedua orang tuanya baru tiba di depan ruang di mana Ify masih diperiksa. Ketiga orang di depan sana hanya bisa menunduk, merasa bersalah. Agni lebih dulu maju, memegang tangan mama. "Maaf, Ma," ucapnya disertai tangis. "Gak papa, bukan salah kalian." Tangan mama mengelus pelan rambut Agni. Berusaha menegarkan hatinya, juga meyakinkan bahwa sang putri akan baik-baik saja. Papa terduduk lesu di ruang tunggu, meskipun tidak menunjukkan ekspresi apapun, tetapi hatinya menyebut doa bagi putrinya. "Yel!" Rio muncul dengan wajah paniknya. Ia masih mengenakan seragam sekolah, belum sempat pulang, ia dan Cakka menemani Alvin yang sedang kacau juga. "Ify?" "Masih diperiksa, Yo," sahutnya lemah, salahnya juga yang malah melepas sang adik untuk pergi bersama ketiga sahabatnya. "Ify baik-baik aja 'kan, Shill?" Badan Sivia bergetar hebat, menyaksikan darah yang keluar lumayan banyak dari hidung Ify tadi. Muka pucatnya, dan tangannya yang dingin tersentuh telapak tangan Sivia. Napas milik sahabatnya juga terdengar begitu lemah tadi. Ia yang takut akan darah, menjadi panik. Berusaha mencari kekuatan dengan memeluk Shilla yang berada di sampingnya. "Ify baik-baik aja, Vi." Shilla berusaha menenangkannya. "Da-rah Ify tadi banyak ba-nget," ucapnya tersenggal, masih berada dalam pelukan Shilla. Sahabatnya semakin mempererat pelukannya kala tubuh Sivia makin bergetar. Membayangkan banyak darah tadi membuatnya ngeri. Apalagi darah Ify sampai di baju putih yang ia kenakan. "Ify kan mimisan, itu darah kotor yang keluar. Itu normal, Vi." Mama yang mendengar ucapan Shilla menatap miris. Sangat berharap sekali jika apa yang dialami putrinya merupakan suatu yang normal. Namun, harapan ternyata hanya harapan belaka. Penyakit Ify semakin parah. Apalagi ketika dokter yang memeriksa Ify keluar dari sana dengan keadaan wajah tegang. "Badan Ify mulai melemah, pengobatan tradisional sepertinya sulit untuk menunjang, Pak, secepatnya harus dilakukan kemo." "Kita tunggu sampai Ify sadar untuk pemeriksaan lebih lanjut." Dokter pergi, menyisakan pertanyaan di wajah Agni, Shilla juga Sivia. Papa kembali terduduk, tidak sanggup melihat wajah sedih mama. "Kanker darah," ujar Gabriel lirih, menjawab kebingungan di wajah ketiga gadis ini. "Ify sakit kanker darah, jika itu yang ingin kalian tanyakan," lanjutnya lagi. Shilla menggeleng tak percaya, begitu pula Agni. Sivia langsung melepaskan pelukannya, menatap Gabriel dengan tatapan tak percaya. "Abang bohong 'kan?" "Sebulan lalu Ify divonis, kita gak sadar jika penyakitnya sudah lumayan parah. Coba saja kita lebih peka dengan keadaan Ify. Mungkin Ify lebih mudah untuk disembuhkan." "Nggak! Bohong!" Sivia masih pada pendiriannya, sementara kedua gadis yang lain belum bisa membuka suara, fakta yang diberikan Gabriel sukses membuat jantung mereka berkejut kuat. Tak percaya, tentu saja. Ingatan Sivia kembali pada kehidupannya, kala sang ibu meninggal dengan nasib yang sama setahun lalu. Kanker yang diderita ibunya sudah menyebar luas, segala macam pengobatan sudah dilakukan. Mulai dari tradisional hingga kemoterapi. Namun, hanya mampu bertahan tiga tahun, dari saat ibunya divonis penyakit tersebut. Sekarang penyakit yang sama menyerang sahabatnya, sahabat yang menemaninya setahun ini. Ify yang terang-terangan mendekatinya saat pertama kali masuk sekolah. Hanya Alvin yang dikenalnya kala itu. Tetapi Ify dengan senang hati mau berteman dengannya. Adanya Ify mampu membuat Sivia melupakan sejenak kesedihan tentang sang ibu. Saat ia menceritakan kisah hidupnya, gadis itu langsung mengajukan diri untuk berteman dengannya. Mengirimkan Agni juga Shilla untuknya. Bukan karena gelar ia menjadi kekasih Alvin, Ify tulus dengannya. Hal itu ia tunjukkan saat di awal pertemanan mereka. Meski baru tiga hari berteman, dengan perasaan sedih, ketiga orang itu hadir saat ibunya tiada. Memeluk, juga memberi kekuatan untuk Sivia. "Ify gak akan sama kaya ibu gue 'kan, Shill?" Sivia menggeleng kuat, membunuh pikiran-pikiran yang keluar tanpa mau berhenti. Ia masih meyakini jika Ify sehat, Ify baik-baik saja." "Ah Bang Iyel, bercandaan lu gak lucu. Mana kameranya, ini prank 'kan?" Gabriel menggeleng pelan, sementara Rio masih terdiam menunduk. Sama seperti papa, biarpun kelihatan tenang, rasa cemas dan takut menyerang perasaannya saat ini. Alvin dan Cakka datang, memandang heran wajah-wajah di depan mereka. Ify hanya pingsan, tetapi semua orang memasang wajah khawatir berlebihan. Mata Alvin tertuju pada Sivia yang memandang kosong ke depan. Gumaman lirih sedikit tidak jelas keluar dari mulut kekasihnya. Ia berjalan mendekat. "Bohong, Ify sehat, bang Iyel bohong." Samar-samar Alvin mulai mendengar apa yang diucapkan Sivia. Ia memegang pundak gadis itu. Sivia tersentak berbalik menatapnya. "Kak Al," histeris Sivia seraya memeluknya. Padahal Alvin sudah waspada jika nanti tamparan akan mendarat di pipinya karena mengusik gadis ini. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia tak menyia-nyiakan waktu untuk balik memeluk Sivia. Ah ia rindu sekali dengan kekasihnya ini. "Kata bang Iyel, Ify kena kanker. Ya kali Ify kena kanker. Ify sehat gitu. Gak mungkinkan?" adu Sivia lirih. Dengan matanya Alvin mengkode sahabat meminta penjelasan. Anggukan Gabriel sukses membuat matanya membulat. "Dulu, ibu ninggalin Sivia karena kanker. I-fy ... Ify?" Alvin semakin mempererat pelukannya, mengusap lembut punggung sang kekasih. Burusaha menenangkan. "Ify pasti baik-baik aja, dokter pasti bisa ngobatin Ify." "Darah banyak keluar. Tadi Ify mimisan. Via takut." "Hei, dengerin Kakak, Ify kuat, lawan Dea aja berani, apalagi lawan penyakit." Ia tak tahu apa yang diucapkannya ini berpengaruh atau tidak. Tetapi, saat mendengar kekehan Sivia, rasa sesaknya perlahan keluar. "Iya Ify kuat. Tetapi ibu ...." Alvin melepaskan pelukannya, menggiring Sivia untuk duduk di kursi samping Papa. Badannya masih bergetar, jantungnya bekerja dengan cepat. Tak hanya Sivia, Shilla sepertinya juga shock parah, dan Cakka sudah bertindak untuk menenangkannya. Sementara Agni, berangkulan dengan mama, saling menguatkan. Ia jongkok di depan Sivia, menggenggam tangan gadis itu erat. Hanya menggenggam tangan, Alvin tak bersuara. Ia membiarkan Sivia agar tenang dulu. Alvin kaget, kaget sekali mendengar kabar ini. Sedih, pasti. Ify adiknya, mereka dekat lumayan lama. Saat ia memulai pertemanan dengan Gabriel juga Rio, awal mulai masuk SMP. Gadis itu dulu sering menjadi pusat penyampaian perhatiannya, saat Sivia memutuskan hubungan mereka, Alvin sudah ingin beralih pada Ify. Dengan sigap Gabriel pasang badan, ia tak ingin Ify menjadi pelampiasan. "Adek Kak Al kuat, kalau hanya kanker saja pasti bisa dilawan. Ayo, Fy, apa perlu Kak Al bantu? Tapi bantu do'a aja, ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN