Nisan Tanpa Nama di Sleman

1616 Kata
Elvina akhirnya luruh. Ia menangis sesenggukan, bukan karena sedih, tapi karena merasa akhirnya ada bahu yang benar-benar bisa ia sandari setelah badai yang dikirimkan Reza. Namun di balik kebahagiaan itu, sebuah rahasia besar masih membayangi: Kapan Abimanyu akan tahu bahwa adik iparnya adalah pria yang menghancurkan wanita yang ia cintai? Hujan deras mengguyur Yogyakarta malam itu, menyamarkan suara rintihan kecil yang keluar dari bibir Elvina. Di dalam rumah minimalisnya yang sunyi—rumah yang kini terasa lebih seperti benteng pertahanan daripada penjara—Elvina terbangun dengan rasa mulas yang luar biasa. Usia kandungannya sudah menginjak sembilan bulan, tinggal menghitung hari menuju persalinan. "Sshhh... sebentar ya, Sayang. Mama ke kamar mandi dulu," bisiknya parau, mencoba menenangkan janinnya yang menendang-nendang kuat. Dengan tangan bertumpu pada pinggang dan satu tangan meraba dinding, Elvina turun dari ranjang. Napasnya memburu. Setiap langkah terasa seperti beban ribuan ton. Cahaya lampu tidur yang temaram membuat bayangannya tampak rapuh di dinding. Saat kakinya melangkah masuk ke area kamar mandi, sebuah serangan nyeri yang hebat mendadak menghantam rahimnya. Crat! Air ketubannya pecah, membasahi lantai keramik yang licin. "Aakh!" Elvina kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset cairan itu sendiri. BRAK! Tubuh Elvina menghantam lantai dengan keras. Kepalanya terbentur pinggiran bak mandi sebelum akhirnya ia terkulai lemas. Kesadarannya perlahan meredup, menyisakan pandangan yang buram pada ubin putih. Di sana, di antara air ketuban yang bening, warna merah pekat mulai merembes. Darah. "Mas... Abi..." gumamnya lirih, sebelum kegelapan total menjemputnya. Ponselnya tergeletak jauh di atas nakas kamar, tak terjangkau, sementara darah terus mengalir, mengancam dua nyawa sekaligus. Di sisi lain kota, di dalam kamar hotelnya, Abimanyu Kalandra tidak bisa memejamkan mata. Dokumen audit PT Kalandra cabang Jogja yang ada di depannya seolah memuakkan. Dadanya sesak, jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Ia meraih ponselnya, menatap layar yang menunjukkan foto Elvina yang ia ambil secara diam-diam saat wanita itu tertidur di rumah sakit bulan lalu. "Kenapa perasaanku nggak enak begini?" gumam Abi. Ia mencoba menelepon Elvina. Satu kali... dua kali... tidak ada jawaban. Abi melirik jam dinding, sudah pukul dua pagi. Biasanya Elvina selalu menyalakan ponselnya jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat. Tanpa pikir panjang, Abi menyambar kunci mobilnya. Ia mengabaikan hujan badai yang mengamuk di luar. Instingnya sebagai pria yang mencintai Elvina berteriak bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi. Abimanyu tiba di depan rumah Elvina dengan napas tersengal. Ia melihat lampu kamar Elvina masih menyala, namun suasana sangat sunyi. Ia mengetuk pintu berkali-kali, memanggil nama Elvina, tapi nihil. "El! Elvina! Buka pintunya!" Karena panik, Abi menendang pintu kayu itu hingga terbuka. Ia berlari menuju kamar utama dan mendapati ranjang yang kosong. Suara kucuran air dari kamar mandi membuatnya terperangah. "Ya Allah! ELVINA!" Abi mematung di ambang pintu kamar mandi. Pemandangan itu nyaris menghancurkan jantungnya. Elvina tergeletak tak sadarkan diri di atas genangan darah yang mulai mendingin. Wajah cantiknya pucat seputih kertas. "Enggak... enggak boleh! Kamu harus bertahan!" Abi menerjang maju, mengangkat tubuh Elvina yang terasa dingin ke dalam dekapannya. Ia tidak peduli kemeja mahalnya bersimbah darah. Sambil terus membisikkan doa dan kata-kata penyemangat yang gemetar, Abi membawa Elvina keluar, menerjang hujan menuju mobilnya. "Jangan pergi, El... Jangan tinggalin aku. Kamu sudah janji mau lihat anak kita lahir!" Di dalam mobil yang melaju kencang menembus badai, Abi memacu kendaraannya seperti orang kesetanan menuju rumah sakit internasional terdekat. Tangannya yang satu mengemudi, sementara yang lain menggenggam erat tangan Elvina yang lemas, seolah ingin menyalurkan seluruh nyawanya agar wanita itu tetap bertahan. Malam itu, Abimanyu tidak hanya berjuang untuk wanita yang ia cintai, tapi ia sedang beradu cepat dengan maut untuk menyelamatkan benih yang ditanam oleh pria b******k bernama Reza—benih yang kini ia anggap sebagai anaknya sendiri. Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala, membelah kegelapan koridor rumah sakit yang sunyi. Abimanyu duduk di kursi tunggu dengan kemeja putih yang kini sudah berubah warna menjadi merah pekat karena darah Elvina. Tangannya gemetar, kepalanya tertunduk dalam. Tak lama kemudian, Paman Ahmad dan Bibi Ratminah datang dengan napas tersengal dan tangis yang pecah. "Mas Abi... bagaimana Elvina?" tanya Bibi Ratminah sambil meremas jemarinya yang dingin. Abi mendongak, matanya merah karena menahan tangis. "Masih di dalam, Bi. Elvina kehilangan banyak darah. Dokter sedang berusaha..." Pintu operasi terbuka perlahan. Seorang dokter spesialis kandungan keluar dengan raut wajah yang sangat berat. Abi langsung berdiri, jantungnya serasa berhenti berdetak. "Keluarga Ibu Elvina?" tanya Dokter. "Saya, Dok. Saya suaminya," jawab Abi tanpa ragu, demi memudahkan segala urusan medis. Dokter itu menghela napas panjang, menatap Abi dengan tatapan simpati. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Benturan saat jatuh menyebabkan abrupsi plasenta yang parah. Ibu Elvina kritis dan saat ini dalam kondisi koma. Dan... saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Bayinya tidak bisa kami selamatkan. Dia sudah meninggal di dalam kandungan sebelum sampai ke sini." Deg. Dunia seolah runtuh menimpa pundak Abimanyu. Lututnya lemas, ia nyaris jatuh jika tidak berpegangan pada dinding. Bibi Ratminah histeris, pingsan di pelukan Paman Ahmad. "Nggak mungkin... Bayi itu... dia kuat, Dok! Dia selalu menendang saat aku bicara padanya!" suara Abi pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Hujan di Yogyakarta belum juga reda, seolah langit ikut meratapi kepergian nyawa kecil yang bahkan belum sempat menghirup udara dunia. Malam itu juga, Abimanyu mengurus segala administrasi pemakaman. Ia menolak membiarkan Paman Ahmad yang renta kebingungan di tengah malam. Di sebuah tempat pemakaman umum yang sunyi, Abimanyu menggendong tubuh mungil yang sudah dibungkus kain kafan itu. Beratnya sangat ringan, namun terasa begitu membebani hati Abi. Bayi itu adalah anak Reza, pria yang ia benci, tapi bagi Abi, bayi ini adalah harapan Elvina, wanita yang ia cintai. "Maafkan aku, jagoan kecil..." bisik Abi di depan liang lahat yang masih basah. "Aku gagal menjagamu untuk Ibumu." Dengan tangannya sendiri, Abi menurunkan jenazah bayi itu ke liang lahat. Paman Ahmad melantunkan azan dengan suara gemetar di bawah payung yang dipegangi petugas makam. Tanah perlahan menutupi nisan kayu yang masih polos. Tidak ada nama ayah di sana, hanya tertulis: Bin Elvina Prayoga. Setelah semua selesai, Abi berdiri lama di depan pusara kecil itu. Kemejanya basah kuyup, wajahnya kaku. "Aku janji padamu, Nak. Aku tidak akan membiarkan Ibumu menyerah. Dan aku akan mencari siapa pun yang menyebabkan Ibumu menderita seperti ini." Kembali ke rumah sakit, Abi tidak beranjak dari depan kaca ruang ICU. Di dalam sana, Elvina terbaring dengan berbagai selang yang menopang hidupnya. Wajahnya sangat pucat, seolah jiwanya ikut pergi bersama anaknya ke alam baka. "El... bangun, Sayang," bisik Abi di balik kaca, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. "Jangan tinggalkan aku sendiri. Kamu harus bangun, meskipun hanya untuk memaki aku karena gagal menyelamatkan anakmu. Tapi tolong, jangan menyerah." Paman Ahmad mendekat, menepuk bahu Abi pelan. "Mas Abi, pulanglah dulu. Bersihkan diri, Mas sudah dari tadi begini." "Tidak, Paman. Saya tidak akan pergi satu senti pun dari sini sampai Elvina membuka matanya," jawab Abi tegas. Di tengah kesunyian ICU, diam-diam Abi mengepalkan tangannya. Ia tahu Elvina jatuh karena stres dan beban pikiran yang menumpuk. Pikirannya melayang pada sosok pria yang pernah menikahi Elvina siri. Siapa kamu, b******k? Siapa pria yang sudah membuang berlian seperti Elvina hingga dia berakhir tragis seperti ini? batin Abi penuh dendam. Abi belum tahu, bahwa takdir sedang menarik Reza Mahardika kembali ke Yogyakarta dalam hitungan jam. Dan saat kebenaran itu terungkap, rumah sakit ini akan menjadi saksi meledaknya amarah sang pewaris Kalandra. Tiga hari telah berlalu, namun Yogyakarta bagi Abimanyu terasa seperti waktu yang berhenti. Ruang ICU rumah sakit itu menjadi saksi bisu kesetiaan seorang pria yang tak sedarah, namun memiliki cinta yang melampaui logika. Abimanyu duduk di kursi plastik yang keras, matanya yang biasa tajam kini tampak kuyu dan merah. Ia menolak untuk pulang ke hotel, bahkan sekadar untuk berganti pakaian. Paman Ahmad berkali-kali membujuknya, namun Abi hanya menggeleng pelan. "Aku tidak bisa meninggalkannya, Paman. Aku takut saat dia membuka mata, dia merasa sendirian lagi," ucap Abi parau. Setiap jam besuk tiba, Abi mengenakan jubah hijau steril dan masker. Ia duduk di samping tempat tidur Elvina, menggenggam tangan wanita itu yang terasa sangat dingin dan kecil di balik selang infus. Suara mesin bedside monitor yang berbunyi beep... beep... menjadi satu-satunya melodi yang menemani kesunyian mereka. Abimanyu mendekatkan wajahnya ke telinga Elvina. Ia mencium kening wanita itu lama, seolah ingin menyalurkan seluruh sisa kekuatannya. "El... ini aku, Abi," bisiknya lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang menyesak di d**a. "Sudah tiga hari, Sayang. Kamu nggak capek tidur terus? Bangunlah... Yogyakarta di luar sana mendung karena menunggumu tersenyum." Abi mengusap jemari Elvina yang tak bergerak. "Aku tahu hatimu hancur karena kehilangan kecil kita. Aku tahu kamu merasa dunia ini tidak adil. Tapi tolong, jangan menyerah pada nyawamu sendiri. Aku masih di sini, El. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh lagi." Abi menunduk, menyandarkan keningnya di punggung tangan Elvina. "Aku berjanji, El... setelah kamu bangun, aku akan membawamu pergi jauh dari semua rasa sakit ini. Aku akan menjagamu dengan seluruh hidupku. Tidak akan ada lagi air mata, tidak akan ada lagi pengkhianatan. Cuma ada aku yang akan selalu berdiri di depanmu untuk menghalau badai." Tiba-tiba, jantung Abimanyu berdegup kencang. Ia melihat jemari manis Elvina bergerak sedikit—sebuah gerakan yang sangat halus, namun bagi Abi, itu adalah keajaiban. "El? Elvina? Kamu dengar aku?" Abi berdiri, matanya membelalak penuh harap. Di balik kelopak mata yang tertutup rapat, setetes air mata bening mengalir di sudut mata Elvina. Wanita itu seolah mendengar kepedihan dalam suara Abi. Namun, matanya masih belum sanggup terbuka. Garis di monitor jantung sedikit bergejolak, menunjukkan ada perjuangan di dalam sana. "Dokter! Suster!" teriak Abi sambil berlari menuju pintu. "Dia merespons! Istri saya merespons!" Paman Ahmad dan Bibi Ratminah yang menunggu di luar langsung berdiri dengan tangis syukur. Harapan yang sempat meredup kini menyala kembali. Abimanyu bersandar di dinding koridor, napasnya memburu. Ia tidak peduli jika ia terlihat berantakan; yang ia tahu, Elvina sedang berjuang untuk kembali kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN