Lentera di Balik Badai

1401 Kata
Tiga hari kemudian, Elvina terbangun di kamar rumah sakit dengan selang infus menempel di tangannya. Di sampingnya, Paman Ahmad dan Bibi Ratminah menatapnya dengan mata sembap. "Nduk... sabar ya," bisik Bibi Ratminah sambil mengelus tangan Elvina. Elvina terdiam, tangannya perlahan meraba perutnya yang masih terasa ada kehidupan di sana. "Bayinya... bayinya selamat, Bi?" "Selamat, Nduk. Gusti Allah masih sayang sama si jabang bayi," jawab Paman Ahmad parau. Elvina memejamkan mata. Bayangan wajah Reza saat memfitnah keluarganya kembali berputar. Rasa cintanya yang begitu besar telah menguap, digantikan oleh rasa benci yang sangat dingin dan pekat. Ia menyadari satu hal: ia tidak pernah benar-benar mengenal pria bernama Reza Mahardika itu. Setelah keluar dari rumah sakit, Elvina tidak kembali ke rumah minimalis pemberian Reza. Ia mengemasi barang-barangnya, mengunci pintu rumah itu, dan menyerahkan kuncinya kepada Paman Ahmad untuk dijual atau dikembalikan. Ia kembali ke rumah lamanya yang sederhana. Di depan cermin, Elvina menatap dirinya sendiri. Wajahnya pucat, tapi matanya memancarkan kekuatan baru. "Mulai hari ini, namamu tidak punya bapak," bisik Elvina pada perutnya. "Aku akan jadi ibu sekaligus ayah buatmu. Kita akan buktikan kalau kita bisa hidup tanpa laki-laki pengecut itu." Elvina kembali ke kampus UMY, mengajar dengan kepala tegak meski gosip tentang perceraiannya mulai terdengar. Ia bekerja dua kali lebih keras, menabung setiap rupiah, dan menutup rapat pintu hatinya. Ia berdiri di atas puing-puing hatinya yang hancur, bersiap untuk sebuah perjalanan panjang sebagai ibu tunggal, sementara di Jakarta, Reza Mahardika tidak tahu bahwa "masalah" yang ia buang suatu hari nanti akan kembali sebagai badai yang akan meruntuhkan seluruh singgasananya. Yogyakarta di bulan kelima kehamilan Elvina terasa jauh lebih berat. Terik matahari siang itu seolah membakar aspal di depan kampus UMY. Elvina berdiri di halte bus, tangannya gemetar meraba perutnya yang sudah membuncit. Tiba-tiba, rasa nyeri yang tajam menghujam pinggang bawahnya. "Sshhh... sayang, bertahan ya," bisik Elvina lirih. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Pandangannya mulai mengabur. Ia baru saja menyelesaikan kelas maraton dan bimbingan skripsi yang menguras energi. Stres batin yang ia pendam selama dua bulan terakhir mulai menagih janji pada fisiknya. Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan halte. Kaca jendela turun, menyingkap sosok pria dengan rahang tegas dan tatapan mata yang tajam namun teduh. Abimanyu Kalandra. Ia baru saja mendarat di Jogja pagi ini untuk membereskan kekacauan manajerial di kantor cabang. Abimanyu melihat wanita itu. Wajahnya pucat pasi, namun kecantikannya yang alami tetap terpancar meski dalam kondisi kesakitan. "Mbak? Anda tidak apa-apa?" Abimanyu turun dari mobil, suaranya berat dan berwibawa. Elvina mendongak, matanya yang sayu menatap pria asing di depannya. "Sakit... perut saya..." Elvina nyaris ambruk jika Abimanyu tidak sigap menangkap pinggangnya. Tanpa banyak bicara, Abimanyu mengangkat tubuh Elvina. "Saya bawa ke rumah sakit sekarang. Bertahanlah." Di ruang instalasi gawat darurat, Abimanyu menunggu dengan cemas. Ia sendiri bingung kenapa ia begitu peduli pada wanita yang baru ditemuinya di halte. Ada sesuatu pada diri Elvina yang membuatnya ingin melindungi—mungkin gurat kesedihan yang dalam di balik matanya. Dokter keluar setelah satu jam. "Ibu Elvina mengalami kontraksi dini karena kelelahan hebat dan stres psikologis. Dia harus bed rest total selama beberapa hari ke depan. Beruntung janinnya kuat." Abimanyu masuk ke ruang rawat inap. Ia melihat Elvina terbaring lemah dengan selang infus. Wajahnya yang polos tanpa riasan tampak begitu rapuh. "Terima kasih... Mas..." suara Elvina parau. "Abimanyu. Panggil saja Abi," ujar Abi sambil duduk di kursi samping bed. "Dokter bilang Anda stres. Di mana suami Anda? Kenapa membiarkan istri hamil besar sendirian di halte?" Mendengar kata 'suami', mata Elvina berkaca-kaca. Ia membuang muka ke arah jendela. "Saya tidak punya suami, Mas Abi. Saya... akan membesarkan anak ini sendiri." Abimanyu tertegun. Sebagai pria yang terbiasa hidup di lingkungan korporat yang dingin dan penuh kepalsuan, kejujuran pahit di suara Elvina menyentuh sisi kemanusiaannya yang terdalam. Ada rasa kagum yang muncul tiba-tiba; wanita ini hancur, tapi ia tidak menyerah pada kandungannya. Selama tiga hari Elvina di rumah sakit, Abimanyu tidak pernah absen menjenguk. Padahal, jadwalnya untuk membenahi PT Kalandra cabang Jogja sangat padat. Ia membawakan buah-buahan segar, buku-buku yang menenangkan, dan yang paling penting: ia memberikan telinga untuk mendengar. "Kamu harus kuat, El. Anak ini butuh ibunya yang bahagia. Jangan biarkan masa lalu membunuh masa depan bayi ini," ucap Abi suatu sore sambil mengupas apel untuk Elvina. Elvina menatap Abi dengan heran. "Kenapa Mas Abi baik sekali sama saya? Kita baru kenal." Abi menghentikan gerakannya. Ia menatap Elvina lekat-lekat. Kecantikan Elvina saat tersenyum tipis benar-benar meluluhkan dinding es di hati Abi. "Mungkin karena aku bosan melihat orang-orang di Jakarta yang hanya mengejar harta. Melihat kamu berjuang untuk nyawa kecil ini... itu membuatku sadar apa yang benar-benar berharga." Tanpa disadari keduanya, benih cinta mulai tumbuh. Bagi Elvina, Abi adalah oase di padang pasir. Bagi Abi, Elvina adalah alasan kenapa ia harus berlama-lama di Yogyakarta. Abi belum tahu bahwa Elvina adalah wanita yang diceraikan oleh adik iparnya sendiri, Reza Mahardika. Dan Elvina belum tahu bahwa pria baik hati ini adalah kakak kandung dari Anya—wanita yang menghancurkan hidupnya. Sore itu, aroma hujan tanah basah menyeruak di teras rumah Paman Ahmad. Elvina duduk di kursi kayu, jemarinya perlahan mengelus perutnya yang kini memasuki usia enam bulan. Di depannya, sebuah mobil mewah yang sudah sangat ia kenali berhenti. Abimanyu turun, membawa tas belanja berisi buah-buahan impor dan s**u khusus ibu hamil. "Mas Abi... sudah saya katakan berkali-kali, jangan repot-repot ke sini terus," suara Elvina terdengar datar, namun ada getaran lelah di sana. Abimanyu tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya ia simpan hanya untuk orang terdekat. Ia meletakkan bawaannya di meja. "Ini bukan repot, El. Ini perhatian. Dokter bilang kalsium kamu harus terjaga." Elvina mendongak, menatap mata tajam Abimanyu yang selalu membuatnya merasa "telanjang". "Kenapa, Mas? Kenapa kamu lakukan ini semua? Kamu itu CEO, pewaris tunggal keluarga Kalandra yang terhormat di Jakarta. Sedangkan aku?" Elvina tertawa getir, air mata menggenang di sudut matanya. "Aku ini janda, Mas. Wanita yang diceraikan suaminya di depan mata istri sahnya. Aku ini 'barang bekas' yang dibuang. Kita beda kasta, Mas Abi." Kata-kata Elvina tajam, sengaja ia ucapkan untuk menyakiti dirinya sendiri sekaligus menjauhkan Abi. Ia takut jatuh cinta lagi. Ia takut kecewa untuk kedua kalinya. Abimanyu tidak bergeming. Ia justru melangkah mendekat, lalu berlutut di depan kursi Elvina agar tinggi mereka sejajar. Ia menatap Elvina dengan intensitas yang nyaris membuat napas wanita itu tercekat. "Dengar, Elvina Prayoga," suara Abi rendah dan berwibawa. "Di Jakarta, aku dikelilingi wanita-wanita yang memakai tas seharga rumahmu, tapi hati mereka kosong. Mereka mendekatiku karena namaku, karena hartaku. Tapi kamu? Kamu berdiri di atas kakimu sendiri meski duniamu runtuh. Kamu pejuang." Abi meraih jemari Elvina yang dingin, mengabaikan usaha Elvina untuk menarik tangannya. "Jangan pernah sebut dirimu 'barang bekas'. Kamu adalah ibu dari nyawa yang sedang tumbuh ini. Bagiku, itu kemuliaan yang tidak dimiliki wanita manapun yang pernah aku kenal. Aku tidak peduli apa kata dunia, aku tidak peduli statusmu. Yang aku peduli adalah bagaimana aku bisa memastikan kamu dan bayi ini aman." "Tapi keluargamu... Pak Wahyu Kalandra tidak akan pernah setuju," bisik Elvina lirih. Nama itu, Kalandra, selalu membuat dadanya sesak karena teringat Reza. "Ayahku mengenalku sebagai pria yang tidak pernah menyerah pada apa yang ia inginkan. Dan saat ini, yang aku inginkan adalah menjaga kalian," balas Abi tegas. Minggu-minggu berikutnya, Abimanyu membuktikan ucapannya bukan sekadar gombalan kelas atas. Ia tidak hanya memberikan barang mewah, tapi kehadiran fisik yang nyata. Saat Elvina mengalami kram perut di tengah malam, Abi—yang sedang menginap di hotel di pusat kota—langsung meluncur ke Sleman hanya untuk memastikan Elvina meminum obatnya. Ia bahkan tidak segan membantu Paman Ahmad memperbaiki atap dapur yang bocor, melepas jas mahalnya dan hanya mengenakan kemeja yang digulung hingga siku. "Lihat itu, Nduk," bisik Bibi Ratminah pada Elvina saat melihat Abi sedang bercanda tawa dengan Paman Ahmad di halaman. "Mas Abi itu tulus. Laki-laki kaya mana yang mau kotor-kotoran di rumah kampung kalau bukan karena cinta?" Elvina terdiam. Dinding es di hatinya mulai retak, tapi ia masih terlalu takut untuk membiarkannya hancur. Ia sering mencuri pandang pada Abi, mengagumi punggung kokoh pria itu yang seolah siap menopang seluruh beban hidupnya. "Mas Abi..." panggil Elvina pelan saat Abi masuk ke dalam rumah untuk mencuci tangan. "Ya, El?" "Kenapa kamu sesabar ini?" Abimanyu menatap Elvina, lalu beralih pada perut Elvina yang membesar. Ia meletakkan tangannya di sana dengan sangat sopan, merasakan tendangan kecil dari dalam. "Karena bayi ini butuh pelindung, dan ibunya butuh seseorang yang tidak akan pernah melepaskannya, seberapa keras pun dia mencoba mengusirku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN