Tumbal Takhta Jakarta

1774 Kata
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di Jakarta, Anya Dian Safitri duduk di meja makannya yang sunyi. Di depannya, tersaji sarapan mewah yang tidak disentuhnya. Hari ini hari Sabtu, dan seperti biasa, kursi di depannya kosong. Reza sudah berangkat ke Yogyakarta sejak Jumat malam dengan alasan "pengecekan gudang logistik baru." Anya bukan wanita bodoh. Sebagai anak seorang konglomerat, ia terbiasa mengamati detail. Selama tiga bulan terakhir, ia merasakan perubahan pada suaminya. Pertama, Reza menjadi terlalu manis. Terlalu banyak memberikan bunga dan perhiasan tanpa alasan, seolah-olah sedang menutupi rasa bersalah yang besar. Kedua, tagihan kartu kredit Reza menunjukkan transaksi di toko perlengkapan bayi dan supermarket di Yogyakarta, padahal Reza bilang dia hanya fokus pada urusan gudang. Ketiga, Reza tidak lagi menyentuhnya dengan gairah yang sama. Setiap kali Anya mencoba bermanja, Reza selalu beralasan lelah karena tekanan kerja dari ayahnya. "Bi, Mas Reza kalau ke Jogja biasanya bawa mobil kantor atau sewa?" tanya Anya pada supir pribadi mereka yang sedang mencuci mobil di garasi. "Biasanya Bapak minta diantar ke bandara aja, Bu. Katanya di sana sudah ada mobil operasional," jawab sang supir jujur. Anya menyipitkan mata. Ia baru saja mengecek laporan operasional perusahaan, dan tidak ada pengadaan mobil operasional baru di Yogyakarta tahun ini. Insting seorang istri mulai berteriak. Ada sesuatu yang disembunyikan Reza di kota pelajar itu, dan itu bukan sekadar bisnis. "Oke, Reza. Kalau kamu mau main petak umpet, mari kita lihat siapa yang lebih jago," gumam Anya sambil meremas ponselnya. Ia memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Ia akan mencari tahu sendiri. Minggu pagi, Anya mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Ia tidak membawa pengawal, tidak memakai baju desainer yang mencolok. Ia hanya mengenakan kacamata hitam besar dan trench coat tipis untuk menyamar. Ia telah menyewa seorang detektif swasta untuk melacak posisi ponsel Reza. Lokasinya menunjukkan sebuah perumahan di Sleman. Dengan jantung yang berdegup kencang, Anya menaiki taksi menuju alamat tersebut. Taksi berhenti agak jauh dari sebuah rumah minimalis bercat putih. Anya melihat mobil SUV hitam yang ia kenal—mobil yang sering disewa Reza di Yogyakarta—terparkir di depan gerbang. Anya turun dengan kaki yang terasa berat. Dari kejauhan, ia melihat pintu rumah itu terbuka. Reza keluar mengenakan kaos oblong santai, sesuatu yang jarang ia lakukan di Jakarta. Dan di sampingnya, seorang wanita muda yang tampak sangat lembut, mengenakan daster batik, sedang memegang perutnya yang buncit. Anya terkesiap. Ia membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Ia melihat Reza tertawa lepas—tawa yang belum pernah ia lihat selama dua tahun pernikahan mereka di Jakarta. Reza merangkul pinggang wanita itu, mencium keningnya, lalu mereka duduk di ayunan kayu sambil membicarakan sesuatu yang tampak sangat membahagiakan. "b******k kamu, Rez..." desah Anya. Air matanya jatuh, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang membara. Suaminya, yang dipuja ayahnya sebagai menantu teladan, ternyata memelihara wanita lain di kota ini. Bahkan wanita itu sedang mengandung—sesuatu yang sangat Anya dambakan namun belum terwujud. Suasana sore yang tenang di Sleman seketika berubah mencekam. Langit yang mulai menjingga seolah menjadi saksi bisu runtuhnya dunia Elvina Prayoga. Ia berdiri mematung, jemarinya meremas daster batik yang ia kenakan, sementara matanya menatap nanar pada wanita elegan di hadapannya yang memancarkan aura otoritas dan kemarahan yang dingin. "Mas... Mas Reza... ini siapa?" suara Elvina bergetar, hampir tak terdengar. Reza tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin bercucuran di pelipisnya. Ia tampak seperti pesakitan yang baru saja dijatuhi hukuman mati. Anya Dian Safitri melangkah maju, suara hak sepatunya di atas lantai teras terdengar seperti ketukan palu hakim. Ia menatap Elvina dengan pandangan menghina, seolah Elvina adalah kotoran yang menempel di sepatunya. "Kamu tanya saya siapa?" Anya tertawa sinis, suara tawanya kering dan menyakitkan. "Saya Anya Dian Safitri. Istri sah Reza Mahardika. Kami sudah menikah dua tahun, secara negara, secara agama, dan di hadapan seluruh kolega bisnis di Jakarta. Bukan pernikahan 'sembunyi-sembunyi' murahan seperti yang kamu jalani ini." Elvina menggelengkan kepala, air mata mulai membanjiri pipinya. "Nggak... nggak mungkin. Mas Reza bilang dia belum menikah. Dia bilang orang tuanya di luar negeri... kami sudah menikah siri, kami..." "Nikah siri?" potong Anya dengan nada meremehkan. "Dek, dengerin ya. Di Jakarta, perempuan seperti kamu itu banyak. Sebutannya pun macam-macam, tapi yang paling pas buat kamu adalah simpanan. Kamu itu cuma pelampiasan nafsu suami saya saat dia bosan dengan rutinitas kantor. Kamu pikir rumah ini tanda cinta? Ini cuma uang receh dari Papa saya yang dia pakai buat bayar 'servis' kamu." "Cukup, Anya!" teriak Reza pelan, suaranya parau. Anya berbalik, menatap Reza dengan mata yang menyala. "Cukup? Kamu bilang cukup setelah kamu khianatin aku selama berbulan-bulan? Kamu pakai fasilitas dari Papa aku, jabatan dari Papa aku, buat kasih makan perempuan ini?" Elvina merasa dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di dunia ini tiba-tiba habis. Ia menatap Reza dengan tatapan memohon. "Mas... katakan kalau dia bohong. Katakan kalau kamu cuma punya aku..." Reza hanya menunduk, tak berani menatap mata bening istrinya di Jogja itu. Keheningan Reza adalah jawaban paling menyakitkan yang pernah Elvina terima. Anya kemudian bersedekap, menatap Reza dengan tatapan menantang. "Oke, Reza. Kita selesaikan sekarang. Aku nggak suka berbagi, apalagi dengan perempuan kampung seperti dia. Pilih sekarang: Kamu ikut aku pulang ke Jakarta, minta maaf sama Papa, dan kita lupakan sampah ini... atau kamu tetap di sini, kehilangan jabatan kamu sebagai Manajer Operasional, kehilangan semua aset kamu, dan jadi gelandangan sama perempuan ini dan anak haram yang ada di perutnya itu." "Anya, jangan bawa-baca anak ini..." bisik Reza gemetar. "Pilih, Reza! Sekarang!" bentak Anya. "Jabatan dan masa depan kamu, atau perempuan simpanan ini?" Elvina memegangi perutnya yang mulai terasa melilit karena stres yang luar biasa. Ia menatap Reza, menanti satu patah kata pembelaan. Ia berharap Reza akan menggenggam tangannya dan mengatakan bahwa cinta mereka lebih berharga dari segalanya. Namun, yang ia lihat justru hal sebaliknya. Reza menatap Anya dengan tatapan ketakutan. Ketakutan akan kemiskinan. Ketakutan akan kehilangan status sosial yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Perlahan, Reza melepaskan tautan tangannya yang tadi sempat berada dekat dengan Elvina. "Mas...?" isak Elvina. Reza tidak menoleh. Ia justru melangkah satu tindak mendekati Anya. "Anya... maafkan aku. Aku khilaf. Aku... aku bakal urus semuanya. Aku bakal tinggalin dia." Dunia Elvina benar-benar gelap seketika itu juga. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat daripada rasa nyeri di perutnya. Ia tidak menyangka, laki-laki yang ia puja sebagai malaikat penjaga, ternyata hanyalah iblis yang memakai topeng demi ambisi pribadi. Angin sore di Sleman yang biasanya sejuk kini terasa mencekam, seolah oksigen di sekitar teras rumah itu mendadak hilang. Reza Mahardika berdiri di persimpangan paling krusial dalam hidupnya. Di sebelah kiri, ada Elvina—wanita yang memberinya kehangatan, cinta tulus, dan kini sedang mengandung darah dagingnya. Di sebelah kanan, ada Anya—kunci menuju takhta, kekuasaan, dan gaya hidup jetset Jakarta yang selama ini ia puja. "Reza! Pilih sekarang! Kamu mau jadi gelandangan bersama perempuan kampung ini, atau kamu ikut aku pulang dan kita lupakan sampah ini?" suara Anya menggelegar, dingin dan tak terbantahkan. Reza menatap tangan Elvina yang gemetar, lalu beralih menatap mata Anya yang menyipit penuh ancaman. Bayangan tentang kehilangan jabatan Manajer Operasional, mobil mewah, dan fasilitas kartu kredit tanpa batas dari mertuanya berkelebat di kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan kembali menjadi staf biasa yang harus mengantre busway setiap pagi. Lutut Reza mendadak lemas. Namun, bukannya mendekat ke arah Elvina yang sedang menangis, ia justru berlutut di hadapan kaki Anya. "Anya... Sayang, dengerin aku dulu," suara Reza bergetar, penuh kepalsuan yang menjijikkan. "Aku... aku nggak pernah bermaksud khianatin kamu. Aku dijebak, Nya!" Elvina terperangah. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan. "Mas... apa yang kamu bilang?" Reza tidak menoleh pada Elvina. Ia justru menatap Anya dengan tatapan memelas. "Keluarga mereka, Nya... Paman Ahmad dan istrinya. Mereka tahu aku orang kaya dari Jakarta. Mereka menjebak aku! Aku dikasih minuman sampai mabuk, lalu mereka menuduh aku berbuat macam-macam sama Elvina. Aku dipaksa nikah siri karena mereka mau memeras hartaku! Aku takut karirku hancur kalau aku lapor polisi, makanya aku diam selama ini." "PEMBOHONG!" teriak Elvina histeris. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa. "Mas Reza, kamu sendiri yang datang melamarku! Kamu yang memohon pada Paman Ahmad! Bagaimana bisa kamu setega itu memfitnah keluargaku?" Reza mengabaikan teriakan Elvina. Ia terus menciumi punggung tangan Anya. "Percaya sama aku, Nya. Anak itu... aku bahkan nggak yakin itu anakku. Mereka cuma mau cari bapak buat bayi itu agar bisa terus minta uang sama aku. Aku cuma cinta sama kamu, Anya. Tolong, jangan tinggalin aku." Anya tersenyum sinis, merasa menang melihat suaminya bertekuk lutut. Namun, ia ingin bukti nyata. Ia ingin menghancurkan Elvina sepenuhnya agar tidak pernah berani muncul lagi. "Kalau memang kamu dijebak, buktikan sekarang," kata Anya datar. "Ceraikan dia. Di depan aku. Sekarang juga." Reza menelan ludah. Ia menatap Elvina yang sudah terduduk lemas di lantai teras, air mata membasahi daster batiknya. Elvina menatapnya dengan pandangan hancur, seolah sedang menatap orang asing yang paling mengerikan di dunia. "Mas... tolong... ingat anak kita," bisik Elvina lirih, tenaganya sudah terkuras habis. Reza menguatkan hatinya. Ambisinya telah membunuh sisa nurani yang ia miliki. Ia berdiri tegak, menatap Elvina dengan tatapan dingin, seolah-olah wanita di hadapannya adalah musuh besar. "Elvina Prayoga," suara Reza terdengar kaku dan tajam. "Hari ini, di depan istri sah saya, saya nyatakan bahwa saya menceraikan kamu. Hubungan kita selesai. Jangan pernah hubungi saya lagi, jangan pernah cari saya ke Jakarta. Dan soal anak itu... urus saja sendiri dengan keluargamu yang sudah menjebak saya!" BRAK! Hati Elvina seolah meledak menjadi jutaan keping. Kata "cerai" itu terasa lebih tajam daripada belati yang menghujam jantungnya. Pria yang seminggu lalu memuja perutnya dan berjanji akan menjadi ayah terbaik, kini membuangnya seperti sampah plastik yang tidak berharga. "Pergi kamu, Reza! PERGIII!" Elvina berteriak sekencang-kencangnya sebelum akhirnya tubuhnya limbung dan jatuh pingsan di atas lantai dingin. Anya menatap tubuh Elvina yang tergeletak dengan pandangan dingin, lalu beralih pada Reza. "Bagus. Sekarang, kemas barang-barang kamu. Kita pulang ke Jakarta malam ini juga." Reza mengekori Anya seperti anjing penurut. Ia bahkan tidak menoleh sekali pun untuk memastikan apakah Elvina masih bernapas atau tidak. Di dalam mobil menuju bandara, Reza terus membujuk Anya, merangkulnya, dan meyakinkan bahwa Elvina hanyalah kesalahan kecil yang tidak akan terulang. "Aku bakal ganti semua kerugian Papa, Nya. Aku bakal kerja lebih keras lagi," janji Reza saat mereka duduk di ruang tunggu eksekutif bandara. Anya memaafkan Reza, bukan karena dia bodoh, tapi karena dia terlalu angkuh untuk mengakui suaminya berpaling. Baginya, kemenangan atas Elvina sudah cukup untuk memuaskan egonya. Mereka kembali ke Jakarta, kembali ke penthouse mewah, kembali ke lingkaran sosial kelas atas, seolah-olah badai di Yogyakarta hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat. Reza kembali duduk di kursi manajernya, menyesap kopi mahal sambil menatap gedung-gedung pencakar langit. Ia merasa lega telah menyelamatkan posisinya. Baginya, Elvina hanyalah masa lalu yang harus dikubur sedalam-dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN