Protector
“Aku ingin merasakan ciumanmu dalam cawan suci kerinduanku,” ucapku lembut sambil menggenggam tangannya. Kulihat mata birunya yang menatapku dengan sayu. Semuanya pas. Semuanya seperti yang kuinginkan.
Caleb tersenyum, membalas genggaman tanganku. “Seberapa besar hasratmu untukku, Sayang? Benarkah semua cinta di dunia sudah kamu habiskan untukku?”
“Kalian menggelikan.”
Caleb mengumpat dan membanting buku di tangannya mendengar ejekan itu. Aku melotot pada cewek itu.
“Alice Thompson! Setidaknya bantu aku menghafal dialogku!” Kulemparkan naskah ke pangkuannya. Dengan geli dia mengikik dan melemparkan lagi naskah drama itu pada Caleb.
“Aku benci drama. Aku bersyukur balet tidak perlu dialog untuk drama.” Dia berdiri untuk meletakkan gelas s**u cokelatnya di meja. “Orang d***u mana yang menyuruh kalian menjadi Romeo dan Juliet?”
Caleb memiringkan bibir, mengambek. Dari tadi Alice memang terus mengejek kami seolah semua yang kami lakukan jelek dan salah di matanya.
“Mengingat tidak ada lagi yang mau menjadi teman kami dan tidak ada yang mau berpasangan denganku di kelas sastra untuk penampilan drama, Caleb jadi pasanganku.” Aku menunjuknya dengan pensil yang kupakai untuk memperbaiki naskah.
Cewek kurus itu memutar mata. “Kalau aku jadi kamu, aku sudah keluar dari sekolah sialan itu. Ada banyak sekolah di LA untuk kalian. Buat apa kalian menghabiskan waktu di sekolah yang membuat kesehatan mental kalian hancur?” Dia melihat Caleb. “Kalau kamu tidak punya uang untuk mendaftar sekolah keren lain, aku yang membayar sekolahmu, Stephenson.”
“Mulutnya besar sekali,” keluh Caleb padaku.
Alice berdiri di depan Caleb, menjilati bibir atasnya dengan gaya mengejek, lalu memasukkan jari tengahnya ke mulut. “Sebesar apa menurutmu?”
Caleb memutar mata dan mengeluh keras. Dengan kasar dia mengesampingkan tubuh Alice dan mengambil tasnya sendiri. “Aku akan pulang. Kalau kamu kembali, jangan bawa anak ini. Dia menyebalkan seperti ayahnya.”
Alice tertawa mengejek. “Ayahku? Oh, maksudmu laki-laki yang memecundangimu? Aku kasihan dengan orang-orang yang sakit hati saat kalah. Seharusnya bukan hanya otakmu yang olahraga, Stephenson, tubuhmu juga.”
Caleb sudah keluar dari ruang perawatan Daddy Drey saat Alice menyelesikan kalimatnya. Jika tetap ada di sini, aku yakin mereka akan berkelahi sungguhan.
Alice itu anak baik. Dia ramah dan mudah akrab dengan siapa saja. Hanya saja, dia terlalu angkuh dan sering seenaknya sendiri. Kata Mom itu wajar karena dia anak tunggal dan sangat dimanjakan oleh ayahnya. Steve selalu berkata kalau Alice itu anak paling kasihan karena hanya bisa melihat ibunya yang terbaring koma sejak melahirkan dia. Lalu, bagaimana denganku? Aku juga nggak melihat ibuku sejak lahir dan sekarang kehilangan ayahku. Jadi anak tanpa orangtua kandung bukan berarti bikin aku jadi berengsek, kan?
Katanya, Alice juga baru saja keluar dari asrama. Mungkin saja kehidupan di London dan asrama itu membuatnya jadi besar kepala. Dia merasa mulutnya bisa bebas menghina siapa saja sesuka hati. Sialnya, Archie mengidolakan Alice. Dia mencontek cara Alice menghina orang lain tanpa merasa bersalah dan dengan cepat mempraktekkannya.
“Lain kali, cari pacar yang tidak pemarah,” katanya berusaha berbicara bahasa Indonesia dengan logat yang berantakan seperti ayahnya.
“Perbaiki dulu bahasa Indonesiamu.”
“Kenapa kamu tiba-tiba mengkritikku?” Dia melotot. “Aku mengatakan yang sebenarnya tentang pacarmu.” Dia duduk dengan kaki bersilang. Rok pendeknya memperlihatkan celana dalam berenda yang sejak tadi berusaha dihindari Caleb. “Kamu cantik dan aku yakin bisa mendapatkan pacar dalam sekejap.”
“Kenapa bukan kamu saja yang mencari pacar?”
Dia mengedipkan mata kirinya. “Aku sudah punya pacar, Miss Johansson. Kamu akan jatuh cinta saat melihatnya.”
“Jangan repot-repot. Nanti dia malah naksir aku.”
Dia tertawa mengejek. “Ngomong-ngomong, ke mana ayah-ayah kita? Katanya mereka ada perlu hanya sebentar di ruang dokter. Kenapa sampai sekarang belum kembali?”
“Kamu mau minta bantuan karena kalah dariku?”
“Jangan bercanda!” Dia melihat jam tangannya dengan alis kemerahannya yang mengerut. “Aku serius, Claire. Sudah satu jam lebih. Ini terlalu lama untuk bicara dengan dokter.”
“Maksudmu?”
Dia melihat pintu dengan alis berkerut semakin dalam, lalu menggeleng. “Tidak. Ini terlalu lama.” Dia berdiri dengan cepat. “Ayo kita lihat apa yang mereka lakukan. Ayahku bisa sangat terlambat. Dia bilang kami akan menjenguk ibuku.” Nada bicara Alice lebih pada khawatir daripada kesal.
Aku ingin protes dan mengatakan pada Alice kalau mungkin saja ayah-ayah kami sedang berbicara berempat di ruang tertentu. Mereka sering begitu. Nggak ada alasan untuk khawatir sebenarnya. Ini di rumah sakit dan Daddy Drey akan pulang sebentar lagi. Bisa saja mereka ngobrol dulu sambil minum kopi di suatu tempat mumpung istri-istri mereka nggak ada.
Aku agak berlari menyusul langkah Alice yang cepat. Alice sangat mahir dalam balet, jauh lebih mahir dariku. Langkah dan gerakannya seperti orang menari, lincah dan ringan. Dalam kondisi biasa, Alice Thompson adalah teman yang menyenangkan.
Kami melihat nama di depan pintu ruang kerja Dokter Edwards. Alice nggak langsung membuka pintu itu. Dia memberi kode padaku untuk diam. Setelah itu, dia mendorong sedikit pintunya agar terbuka. Dengan lipatan kertas brosur tentang kesehatan mental dari rumah sakit dia mengganjal pintu itu agar tetap membuka sedikit.
Apa sebenarnya yang dilakukannya? Kenapa kami nggak masuk dan langsung memanggil ayah-ayah kami agar menyelesaikan urusannya?
Aku melihat ke samping dan bagian lain koridor untuk memastikan nggak ada orang yang memergoki kami menguping. Ruangan ini memang agak tersembunyi dari lalu-lalang orang di koridor, terutama dengan adanya pohon palem besar di dalam pot yang menghalangi pandangan orang. Tapi, tetap saja aku khawatir. Daddy Drey bisa membunuhku kalau sampai melihatku menguping pembicaraan orang lain.
“Jadi, tidak ada masalah yang berarti dengan ginjalnya?” Itu suara Steve Thompson, ayah Alice. Terdengar juga suara kertas yang dibolak-balik dengan kasar dan seseorang mengumpat. “Benar dugaanmu,” katanya lagi dengan suara kecewa yang terasa menyedihkan.
“Seumur hidup aku menjadi orang d***u. Baru kali ini aku menyesali kedunguanku. Seharusnya aku mengatakan pada kalian dari awal.” Itu suara Adam Rockwood yang terdengar menyesal dan agak kecewa. “Maafkan aku, Brother.”
“Begini saja, Dokter, apa yang dia tawarkan padamu?” Ini suara dalam Heath. Dia mengambil napas dalam. Suara napas Heath itu khas sekali karena dia dulunya perokok parah. Pada bagian lain ruangan itu terdengar seperti ada yang sedang melakukan sesuatu dengan benda logam.
“Tidak. Kumohon tidak. Dia hanya memberiku beberapa ratu ribu dolar. Aku sedang kesulitan keuangan. Kuharap kalian tidak menganggapnya buruk. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya. Dia hanya perlu mengonsumsi beberappa obat dan--”
“Beberapa obat? BEBERAPA OBAT KAMU BILANG?! DUA SAUDARAKU KEHILANGAN GINJAL MEREKA DAN HARUS MENGHABISKAN SEUMUR HIDUP DENGAN CACAT PERMANEN DI DALAM TUBUH MEREKA. KAMU BERKATA “HANYA OBAT”?!”
Aku pindah ke depan Alice, lebih mendekat pada bagian pintu yang terbuka agar bisa mendengar dengan lebih baik. Steve kelihatannya marah besar. Aku ingin benar-benar tahu masalahnya.
Dokter itu mengucapkan beberapa kata lagi dengan gugup. Aku nggak bisa mendengar apa pun selain racauan nggak jelas. Steve mengamuk dengan kata “f**k” yang sangat banyak dan nada tinggi. Adam Rockwood terdengar berusaha menenangkannya, tapi Steve malah semakin mengamuk lagi. Ketika suasana makin memanas, meletuslah pistol dengan bunyi memekakkan. Aku hampir menjerit. Kusumpalkan tangan ke mulut agar nggak benar-benar menjerit.
Aku tahu itu bunyi pistol aku sudah beberapa kali ikut latihan menembak dan hafal benar bagaimana bunyinya. Kali ini suaranya melengking dan tajam. Bunyinya hanya sebentar, lalu ruangan itu sepi. Sesaat kemudian terdengar suara Heath yang mengucapkan satu kata dalam bahasa Arab.
“f**k! Kamu membunuhnya, Thompson!” keluh Adam.
“Kita memang sudah tidak membutuhkannya lagi,” kata Heath dengan tenang. “Dia hanya satu dari alat Denver.” Terdengar seseorang menarik napas panjang dan dalam, lalu seorang lagi mengucapkan sesuatu dalam bahasa Arab yang kuyakin itu Daddy Drey.
Apa yang mereka lakukan? Apa yang terjadi dengan Daddy Drey?
Alice mendorong sedikit pintu itu dan mengambil kertas brosur yang mengganjal, lalu menutup lagi pintu itu, nyaris tanpa suara. Dengan tenang dia menarik tanganku menjauhi ruangan itu. Kukira dia mengajakku kembali ke kamar Daddy Drey. Ternyata, dia mengajakku ke kafetaria di lantai atas. Dia menyeretku tanpa berkata apa-apa ke meja paling pojok, lalu meninggalkanku sendirian. Dia kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua botol soda dingin dan cokelat. Entah bagaimana dia kemudian memelukku. Dia membelai kepalaku. Saat itulah aku tahu kalau aku menangis. Aku juga gemetar. Kupeluk Alice erat-erat seperti mencari pegangan agar nggak jatuh.
“Sudah. Sudah. Tidak apa-apa. Mereka melakukan yang memang seharusnya,” katanya pelan seperti Mom.
Aku menggeleng, sama sekali nggak mengerti. “Jelaskan padaku!”
Dia menarik napas dalam-dalam sebelum meminum sodanya. “Denver Atkins. Kamu tahu? Dia senator di Washington, ayah dari Aaron Atkins, sahabat mereka dulu. Denver dendam pada mereka karena telah membunuh anaknya.”
“Sebentar! Kamu berkata Aaron adalah sahabat mereka. Aku pernah mendengar nama Aaron disebut entah oleh siapa. Kenapa mereka harus membunuh sahabat sendiri?”
“Karena Aaron memperkosa dan menganiaya adik ibu angkatmu yang sekarang menjadi istri Heath. Aaron punya kelainan seksual.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Ayahku pernah menyinggung tentang ini, lalu aku mencari kebenarannya di internet. Beritanya nyaris hilang, tapi aku masih menemukan kliping di jasa pembuatan kliping nasional. Beritanya cukup heboh dulu. Mereka merundung Glacie di media. Selama berbulan-bulan. Ketika Atikins keluar dari penjara untuk mendapat tahanan kota, seseorang menculiknya. Lalu, tidak ada kabar apa pun tentang Atkins lagi. Dia seperti menghilang ditelan bumi.”
“Jasa kliping nasional?”
Alice memutar mata. “Apa sih yang kamu pikirkan? Kenapa malah memikirkan kliping? Yah, dalam hal ini ada baiknya menyimpan koran karena mereka tidak akan bisa menghapus koran yang sudah terbit, kan?” Alice meminum sodanya lagi. “Dari yang kudengar tadi, Denver sepertinya menyuruh Dokter Edwards memalsukan data Drey sehingga mereka memutuskan agar Drey menjalani operasi transplantasi ginjal. Sebenarnya, aku juga kaget kenapa Drey tiba-tiba harus operasi tranplantasi ginjal. Kupikir tubuhnya sehat sekali. Jika ada masalah dengan ginjalnya, kurasa tidak perlu sampai transplantasi.”
“Lalu, kenapa dia sampai pingsan di penjara? Daddy Drey tidak pernah pingsan.”
“Kalau kamu dipukuli terus dan dehidrasi atau kekurangan makan dan waktu tidur, pasti staminamu hancur dan kamu akan dengan mudah tumbang kalau dipukuli orang.”
Aku mengangguk, mengiyakan penjelasan masuk akal itu.
“Yang jelas, sepertinya mereka marah sekali pada Atkins itu.” Alice memiringkan bibirnya. “Mereka marah pada diri sendiri mungkin. Kurasa, mereka sedang emosional sekali sampai tidak meminta 'second opinion'.”
“Mereka mengkhawatirkanku dan Archie yang kabur dari rumah, juga kasus ayahku. Mereka cuma manusia biasa.”
Kami berdua diam, menekuni pikiran kami sendiri. Eh, tapi sebenarnya aku nggak memikirkan apa-apa, kok. Aku hanya berusaha menguasai diri.
“Mereka akan membunuh Denver Atkins?” tanyaku pada Alice yang kelihatannya tahu banyak tentang ayah-ayah kami.
“Kurasa iya.”
“Mereka membunuh orang? Ayahmu sudah membunuh orang, Alice. Ayahmu mencabut nyawa orang. Kenapa kamu diam saja?”
Alice memejamkan mata, mendongak, lalu meminum sodanya agak lama. Setelah mengembuskan napas panjang, dia berkata padaku, “Aku tidak bisa diam saja atau bersikap biasa, Claire. Aku sangat ingin menangis. Tapi, untuk apa? Memaki orang-orang yang melindungi kita? Yang mereka lakukan sudah benar. Mereka tidak pantas dipersalahkan.”
“Tapi mereka mencabut nyawa orang.”
“Claire, kita ini anak orang-orang yang memiliki banyak musuh. Kekayaan yang orangtua kita miliki membuat banyak orang dengki. Kedengkian ini memancing permusuhan. Memangnya kamu pikir untuk apa Drey sampai menghapus rumahnya dari Googlemap? Kamu pikir kenapa Heath sampai pindah ke Stoneberg dan membuat bunker? Kamu pikir kenapa Adam sampai membayar tiga bodyguard untuk menjaga bayinya? Mereka berada di posisi, kalau bukan membunuh, mereka dan keluarga mereka yang akan terbunuh.”
“Kenapa mereka tidak melepaskan kekayaan mereka saja?”
“Lalu apa? Nama mereka masih tetap dikenal orang, kan? Mereka sudah terlanjur lahir dengan nama belakang mereka. Dengan membuang kekayaan dan menjadi orang biasa tidak akan membuat mereka jadi dilupakan orang. Justru itu akan memudahkan musuh-musuh mereka mendekat.” Dia menggenggam tanganku. “Claire, percayalah pada mereka. Orangtua kita memang bukan orang baik. Mereka hanya pemimpin rumah tangga yang berusaha menjaga keluarganya. Mereka ingin memastikan kita tumbuh menjadi orang baik dengan kehidupan yang baik. Kalau mereka membunuh orang, itu karena memang harus. Sekalipun dibiarkan hidup, Atkins juga akan membunuh dokter itu karena dia pasti tidak mau posisinya diketahui orang lain. Dengan aduan itu, Atkins juga bisa menggempur Drey lagi. Bisa jadi kamu yang menjadi sasaran berikutnya.”
Aku menelan ludah dengan susah payah, tetap saja ludah itu nggak mau masuk di tenggorokanku. Alice memberiku soda dan aku meminumnya dengan rasa sakit di tenggorokan karena memaksa menelan.
“Sudah berapa lama kamu tahu tentang ini?”
“Saat berumur sepuluh tahun aku melihat teman-temanku mati di depan hidungku karena ulahku.”
“Ulahmu?”
Dia mengangkat bahu. “Cerita yang sangat panjang. Kamu tidak akan mengerti.”
“Buat aku mengerti!”
Dia menggeleng. “Sebaiknya tidak. Hidupmu sudah cukup berat, Claire. Tidak perlu lagi kamu memikirkan hidup orang lain,” katanya sambil menunduk memainkan kaleng soda kosong di tangannya. Dengan ketepatan sempurna dia melemparkan kaleng soda itu ke tong sampah terbuka yang berjarak beberapa meter di samping kami. Bunyi keras kaleng soda yang menabrak dinding tong sampah itu membuat beberapa orang menoleh dengan terkejut dan kesal ke arah kami. Alice nggak peduli. dia mengangkat jari tengah pada semua orang yang melihat kami. Ya, seperti Alice yang biasa.
Satu jam kemudian baru kami kembali. Aku sudah lebih tenang dan kami menghabiskan dua kaleng soda masing-masing. Kata Alice, dia bisa mendapatkan bir untuk kami, tapi aku khawatir ayah kami menggantung kami terbalik di halaman rumah sakit kalau sampai tahu.
Daddy Drey, Heath, Steve, dan Adam berkumpul kembali di kamar perawatan Drey sambil menonton American Football sambil makan popcorn dan minum kopi panas. Ruangan yang semula beraroma lavender lembut jadi beraroma kopi yang kuat. Mommy dan Cattleya memotongkan kue untuk mereka, sementara Glacie berbicara dengan anak-anak kecil di bagian lain ruangan. Kelihatannya, Archie kena marah lagi.
Pemandangan yang indah ini ternyata membutuhkan pengorbanan besar dari bapak-bapak itu. Mereka harus terus berjuang untuk melindungi keluarga mereka. Mereka nggak mengatakan apa pun pada kami bukan untuk menyimpan rahasia sendiri. Mereka hanya ingin kami nggak memikirkannya juga.
Alice tidur dengan nggak sopan di tempat tidur Daddy Drey dan langsung mendapat teguran dari ayahnya. Dia mengambek dengan menendang tempat tidur itu dan melompat ke sofa dengan sepatu masih menempel di kakinya.
Beberapa jam lalu, mungkin aku akan menganggap kelakuan Alice ini usahanya mencari perhatian. Kali ini aku tahu Alice bertingkah menyebalkan seperti itu untuk menutupi kegelisahan dalam hatinya sendiri. sejak sepuluh tahun dia melihat orang meninggal? Kalau bukan karena sangat hebat, dia pasti sudah gila sekarang. Dia sendirian, nggak punya ibu atau saudara yang bisa memeluknya. Dia menghadapi hidupnya sendiri. Kurasa, ini alasan dia selama ini iri padaku yang punya Nanna dan Mom.
Setiap malam sebelum tidur dan setelah bangun tidur aku selalu berdoa, sama dengan Archie. Dia berdoa pada Tuhannya dan aku pada Tuhanku. Doa kami sama; kesembuhan untuk Daddy Drey dan kebahagiaan untuk kami sekeluarga. Aku juga menambahkan satu doa kecil untuk Mom, punya anak lagi. Dia sangat ingin menimang bayi. Aku tahu benar hal ini. Saat melewati ruang bayi di rumah sakit, Mom berhenti di depan jendela besar hanya untuk melihat bayi. Kadang, Mom berbicara sendiri seolah sedang berbicara dengan salah satu bayi di situ. Kasihan, deh. Mom seperti orang nggak waras jadinya.
Sekarang, aku menambahkan satu doa lagi agar Tuhan mengampuni dosa orang-orang yang telah melindungi keluargaku. Kuharap Tuhan mengerti kalau mereka hanya ingin melindungi keluarga mereka dari orang-orang jahat seperti kata Alice tadi.
***