Harsh Time

3059 Kata
Dia memegang kepalaku dengan kehangatan yang kurindukan. Karena tangisanku makin keras, dia pindah ke sebelahku dan memelukku. Pelukan hangat yang sering diberikannya untuk menenangkanku. Dia nggak ngomong apa-apa, seperti biasa, cuma memelukku dan membelai kepalaku saja, seperti Mom. Sepertinya, ini memang default setting di keluarga kami. Siapa pun yang bersedih akan mendapat perlakuan seperti ini. “Bagaimana Daddy tahu aku di sini?” tanyaku dengan suara bindeng. Dad mengulurkan saputangan yang sering dibawanya, saputangan katun dengan sulaman huruf “S” dari emas atau perak. Sebenarnya, “S” itu untuk “Syailendra”. Tapi, Dad selalu berkata pada siapa saja yang bertanya kalau itu dari “Savanna”. “Ponselmu,” katanya dengan senyum miring mengejek seperti biasanya. “Penjaga yang kalian kelabuhi melapor padaku tepat saat kalian keluar dari halaman rumah. Aku langsung menyikuti sinyal ponselmu.” “Daddy meretas HP-ku?” “Tentu saja. Orangtua mana yang tidak?” Aku manyun. Kesal sebenarnya, tapi kalau nggak begitu, aku nggak akan ditemukan. Mungkin saja dalam kesempatan lainnya, hal ini akan berguna. Seharusnya aku memang membuang keegoisanku. Mungkin saja sebuah masalah akan jadi lebih baik jika kulihat dari sisi orangtua. Mereka tahu lebih banyak dariku. “Lalu, caleb menghubungiku tepat setelah kalian berpisah. Dia melacak sinyal pada anting-antingmu.” Dad menunjuk telingaku tepat saat seorang pelayan datang untuk memberikan buku menu. “Aku ingin minum kopi, tapi aku tidak akan meminumnya di sini. Anak-anakku menunggu di mobil.” Pelayan itu menaikkan alis. “Kami tidak punya gelas kertas untuk membawa pulan kopi, Sir. Kami kehabisan. Kami hanya punya gelas milkshake.” “Aku akan membeli gelas milik kalian,” kata Dad tenang. “Aku juga ingin tiga milkshake untuk kubawa pulang.” “Dad minum milkshake?” Seharusnya Dad nggak boleh minum apa-apa selain air putih dan jus buah. Selama masa penyembuhan ini. Itu juga harus ditakar dalam ukuran tertentu yang sangat diperhatikan Mommy. Dia tersenyum. “Adikmu dan Dean menunggu di mobil. Kami langsung mencarimu begitu urusan kami selesai.” Dad melihat pelayan itu lagi. “Terima kasih. Itu saja.” Begitu pelayan itu menjauh, aku menarik mantel Dad. “Sepertinya, aku bakal dipenjara juga.” Wajah Dad terkejut. “Kenapa? Kalian melakukan sesuatu yang buruk? Remaja berandal itu melakukan sesuatu yang buruk padamu?” Aku membelalak kaget. “Dad tahu kalau aku sama mereka?” “Caleb memberi tahu semua.” “Juga tentang ... uhm ... eh ... itu ....” Aku nggak berani mengaku. Aku memang pengecut. Daddy Drey sudah menungguku mengucapkannya, tapi nggak bisa. Aku nggak bisa mengatakan apa pun. “Haussen-Dwarf Asylum?” Jantungku seperti berhenti saat Dad mengucapkannya. Aku bahkan lupa caranya bernapas. Aku menunggunya melanjutkan. Aku menunggunya mengatakan kalau aku bakal dipenjara. Mungkin, Dad akan mengatakan kalau aku akan didampingi pengacara. Dad akan berjanji memberiku pengacara yang baik seperti Steve. Lalu, aku akan menjalani proses pengadilan yang emosional karena Mom terus menangis. Setelah itu aku akan dipenjara di lembaga sosial selama beberapa tahun. Saat aku keluar, semua sudah berubah. Mereka mungkin akan belajar hidup tanpaku, melupakanku. Cal juga akan kuliah dan punya cewek yang lebih baik. Aku akan kehilangan mereka dan berpikir sebaiknya mati saja. “Claire?” Daddy Drey melambaikan tangan di depan wajahku, membawaku keluar dari lamunan mengerikan tadi. “Ya, Dad. Aku ... membunuh Mirriam.” Dia diam saja. Sepertinya memang semua jadi tiba-tiba diam saja. Aku bahkan nggak yakin kalau jam di tanganku masih bergerak. Aku mengaku seperti Christopher Lee Watts[1] mengaku pada ayahnya telah membunuh istri dan anak-anaknya. Setelah ini, mungkin akan ada polisi yang datang dan menyuruhku menghadap ke tembok, memborgolku, dan membawaku ke mobil polisi yang bau muntahan pemabuk dan anyir darah. Daddy Drey akan mencoba mengikhlaskan kepergianku karena anak sepertiku ini berbahaya. “Maaf, Dad.” Cuma ini yang bisa kukatakan. Apa lagi memangnya? Daddy Drey tersenyum. Awalnya hanya senyum kecil, lalu berubah jadi senyum lebar. Dia mendongakkan daguku, memintaku melihat wajahnya. Begitu aku menatap matanya yang seperti permen cokelat itu, kata-kata meluncur begitu saja dari mulutku. “Aku nggak mau keluarga kita berantakan lagi. Aku nggak mau Dad berantem sama Mommy lagi. Aku nggak mau Archie nangis lagi. Aku mau kita bahagia gini terus selamanya. Aku nggak mau cuma gara-gara Mirriam semua berantakan lagi. Aku mau merahasiakan dari Mom soal Dokter Edwards. Aku mau merahasiakan apa aja asal kalian nggak dapat masalah lagi.” “Itu yang membuatmu menyembunyikan masalah ini?” “Ya, Dad. Aku nggak niat membunuh Mirriam. Aku cuma mau Mirriam menggugurkan janinnya biar semua selesai. Sumpah, Dad. Aku nggak mau dia mati. Aku ... cuma gemas waktu dia menggorok lehernya. Aku ... merasa ... aku mendorong tangannya. Aku ... merasa dia memang seharusnya mati saja. Aku berdosa, Daddy.” Aku meremas ujung mantelnya, berharap Daddy nggak pergi setelah mendengar semua ini. Aku berharap semua baik-baik saja. Tapi, apa mungkin? “Claire, mau mendengar ceritaku?” tanyanya sebelum meminum air putihku di meja. “Mau,” jawabku pelan. Walau agak bingung kenapa Daddy malah menyuruhku mendengar cerita, bukannya menceramahiku, aku mau kok melakukan apa pun yang dimintanya. “Sudah tahu kalau keluargaku berengsek, kan?” Aku mengangguk, lalu mengusap air mataku agar bisa melihatnya lebih jelas. Berkali-kali dia menyebut tentang keberengsekan keluarganya. Mana mungkin aku lupa. Dia hanya belum pernah menceritakan secara mendetail apa yang dialaminya semasa kecil. “Mereka membenciku sejak kecil. Perbedaan usiaku dengan kakak-kakakku cukup jauh. Selain itu, setelah lahir, aku langsung dibawa ke Indonesia untuk dirawat Pak Rinto dan Bu Tiar. Ibuku baru ingat kalau punya aku saat aku sudah SMP, sekitar tiga belas atau empat belas tahun. Sebelumnya, aku hanya sesekalu saja ke rumah Syailendra. Aku lebih suka ada di rumah orangtua angkatku yang baik. Walau kadang Bu Tiar memukul kakiku kalau aku nakal sekali, aku sangat mencintainya.” “Kenakalan apa yang Daddy lakukan?” Dia menoleh ke kanan-kiri, lalu menunduk padaku. “Aku suka bermain api. Aku suka membunuh hewan-hewan kecil dan melihatnya menggelepar sampai mati.” Aku menatapnya ngeri, berharap itu hanya bohongan. “Aku serius,” katanya meyakinkan. “Setelah dewasa aku baru tahu kalau itu tanda kelainan jiwa yang cukup parah. Setelah memukul kakiku dengan tangan, Bu Tiar selalu memintaku menyebutkan apa kesalahanku. Lalu, dia akan bertanya, 'Apa Mas mau nyakiti Bude begini terus? Setiap mukul Mas, Bude sakit. Bude sayang sama Mas, tapi Bude nggak mau Mas jadi anak manja.'“ Dad terdiam. Bibirnya tersenyum kecil membayangkan Bu Tiar yang dia cintai. Sepertinya, dia ingin sekali kakinya dipukul lagi dan melihat ibu angkatnya itu lagi. Aku juga begitu kok kalau ingat Daddy Martin. Aku juga jadi ingin dimarahi lagi, dibentak lagi, dan dihukum lagi. Apa saja. Aku mau merasakan bagian mana pun dari kehidupannya asal bisa melihatnya lagi. Daddy Martin benar, merindukan orang yang sudah meninggal itu sangat nggak enak. Dia menghapus air mata di ujung mata kirinya. “Bu Tiar dan Pak Rinto, dua hal terbaik dalam masa kecilku. Keluargaku seperti iblis. Mereka menekanku dengan harapan aku bisa jadi lelaki yang kuat. Mereka sama sekali tidak pernah bertanya bagaimana perasaanku atau apa yang kupikirkan. Yang paling buruk, kami dididik untuk saling membunuh demi kekuasaan. Begitu ayahku meninggal, kami berebut menjadi yang terkuat.” Dia tersenyum. “Aku masih ingat saat aku, Heath, dan Mommy keluar dari rumah itu di antara bom gas yang dilemparkan Heath untuk mengusir mereka.” “Archie belum lahir?” “Sudah. Archie bersama Karin dan Tundra.” “Setelah Mom koma?” “Ya. Kamu masih ingat?” Aku tersenyum juga. “Tentu saja. Aku bahkan masih ingat bagaimana pertama kali bertemu Mom. Dia menakjubkan.” “Sampai sekarang dia membuatku jatuh cinta.” Aku menarik lengannya, membuatnya fokus pada obrolan kami sebelumnya. Kalau sudah diajak ngomong tentang Mommy, Dad suka hilang fokus dan terus membicarakan cewek kesayangannya itu. “Terus?” tanyaku. “Lalu aku membunuh saudaraku,” katanya dengan senyum yang sama. Aku merasa seperti ditembak tepat di kepala. Rasanya, aku terlalu terkejut untuk sadar kalau aku terkejut. “Dad?” “Ya, Claire. Kamu tidak salah dengar. Aku membunuh saudara-saudaraku bersama Heath sebelum mereka menyakiti istri dan anakku.” Daddy menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan. “Sebelumnya, saat masih kuliah bersama Adam dan Steve, kami melakukan cukup banyak kejahatan, termasuk pembunuhan. Kami ... merasa ada iblis di dalam diri kami. Iblis pemarah yang membutakan jiwa kami.” Dia diam sebentar. “Yang sering mengingatkan kami untuk tidak melakukannya adalah Adam. Dia yang paling memiliki welas asih di antara kami. Ini karena dia dibesarkan oleh keluarga yang penuh cinta. Orangtua Adam, terutama ibunya adalah tempat penampungan untuk semua keluh kesah kami. Mereka merangkul kami saat kami membutuhkan seseorang. Bahkan saat aku marah pada Adam, ibunya tetap datang padaku agar aku memaafkan anaknya. Dia beruntung sekali.” Dia melihat permukaan meja dan tersenyum kecil pada permukaan meja itu seolah meja itu berubah jadi pensieve[2] yang bisa memperlihatkan masa lalu padanya. Aku ingin bertanya kenapa dia dan Adam sampai sempat bermusuhan, tapi sebaiknya nanti saja. Kubiarkan dia mengenang kenangannya sendiri. Daddy Drey menarik napas dalam dan tersenyum padaku, seolah malu memperlihatkan kalau dia ketahuan melamun. “Itu yang ingin kuberikan pada kalian, Claire. Kami ingin kalian hidup dengan penuh kasih sayang. Kami ingin kalian seperti Dave yang penyayang karena dibesar perempuan seperti Nanna.” “Dan aku mengecewakan kalian?” “Dan kami lupa kalau kamu juga memiliki ambisi untuk mewujudkannya. Ambisi sama yang membuat kami melakukan apa yang kamu lihat di rumah sakit waktu itu, Claire. Kami ingin melindungi keluarga kami.” “Kalian melakukan sesuatu pada Atkins?” Jakunnya bergerak, dia menelan ludah. Sebentar kemudian dia mengangguk dan menunjukkan layar HP-nya yang menampilkan berita meledaknya yacht milik senator Atkins. Dia menatapku seolah ingin mengakui kalau itu perbuatannya. “Aku meneleponnya tidak lama setelah kematian Dokter Edwards. Dia mengatakan akan menghabisi kalian satu per satu agar aku tahu bagaimana rasanya kehilangan anak seperti dia.” Suaranya seperti tercekik. “Aku tidak akan bisa hidup lagi tanpa kalian. Tidak akan.” Aku berusaha memahami kata-kata yang diucapkannya pelan itu. Yang kutangkap hanyalah kata cinta. Kata itu tersembunyi dalam setiap hela napasnya. “Aku tidak ingin kamu melakukan yang kami lakukan. Aku tidak ingin kamu melukai jiwamu dengan menyakiti orang lain. Tidak peduli seburuk apa keadaanmu, aku tidak ingin kamu mencabut nyawa orang lain. Setiap orang melakukannya, sebenarnya dia sedang menghancurkan diri sendiri.” Dia menahan senyum sampai cekungan di sekitar bibirnya yang disukai Mom terlihat. “Kecuali yang tersisa hanya piluhan antara membunuhnya atau mempertahankan hidupmu.” “Aku mengerti, Dad. Alice juga ngomong gitu. Kami bukan dari keluarga biasa yang punya masalah biasa. Aku anak Drey Syailendra yang memimpin kerajaannya sendiri. Aku akan menggantikanmu dan Mom melindungi keluarga ini suatu hari nanti. Juga Archie dan adik-adikku nanti “ Dia memegang tanganku, menumpuk tanganku di antara tangannya, lalu menciumi tanganku. Sambil menempelkan tanganku pada pipinya, dia berkata, “Kamu melakukan yang baik, Claire. Kamu memikirkan hal yang baik. Hanya saja, kamu lupa melibatkan orangtua dalam pemikiranmu itu. Dengar, kami ini memang menyebalkan. Kami sering berpikir dengan pemikiran yang tidak kamu mengerti. Tapi, kami memiliki pengalaman yang lebih banyak darimu. Kami menghadapi lebih banyak manusia dan masalah sebelum kamu lahir. Paling tidak, ajak kami berdiskusi walau sedikit. Kita sudah pernah berbicara masalah ini, bukan? Kami tidak akan pernah bisa tahu apa pun tentangmu jika kamu tidak mengatakannya dengan jujur.” “Maafkan aku, Dad. Aku hanya merasa melakukan hal yang benar. Seharusnya aku mendengarkan Caleb. Aku menyesal.” “Bagus. Penyesalan itu berharga sekali. Kalau kamu selalu merasa dirimu benar dalam setiap masalah, selamanya kamu tidak akan belajar apa pun dari masalahmu, Claire. Sekali lagi, kamu membuatku bangga, Nak.” “Walau aku akan dipenjara?” Alis Daddy Drey yang melengkung itu terangkat. “Siapa yang bilang?” “Aku membunuh Mirriam.” Dia tersenyum. “Kamar Mirriam dilengkapi kamera pengawas, Claire. Mereka memeriksa rekamannya dan melihat jelas kalau Mirriam menggorok lehernya sendiri. Kamu dan Caleb berusaha mencegahnya. Mirriam lebih dulu menusukkan beling ke lehernya, lalu kamu terlihat menarik tangannya dan Caleb menahan tangan yang lain agar tidak terlalu dalam menusuk. Usaha kalian sia-sia dan Mirriam meninggal.” Dia memeragakan gerakan menusuk leher dengan tangan. “Aku sudah menelepon ke sana. Mereka memang meminta keterangan kalian dan ingin bertanya kenapa kalian tidak dengan segera melaporkan hal ini. Tapi, aku menolak dengan mengatakan kalau kalian sangat syok dan tidak bisa diajak bicara.” “Dad?” Aku nyaris nggak percaya pada apa yang kudengar. Daddy membelaku. Dia melindungiku walau belum bertanya apa pun padaku. “Aku akan melakukan apa pun agar kalian tidak mendapat masalah.” Aku memeluknya. Kali ini sebuah pelukan yang menyatakan betapa leganya aku mendengar semua ini. Aku benar-benar lega. Sangat lega. Aku sampai menangis lagi saking senangnya. Daddy memelukku, menungguku sampai selesai menangis. Dia merangkulku saat kami kembali pada Archie dan Dean yang hampir berkelahi karena berdebat tentang kue yang disukai Mila. Aku duduk di depan dan menyalakan radio keras-keras sampai Daddy Drey marah. “Kenapa sih kamu nggak hilang aja, Claire?” gerutu Archie yang mendapat peringatan dari Dad. “Lihat saja, Dad! Dia itu usil banget. Harusnya dia tahu berapa umurnya!” “Dean?” panggilku. “Ya?” “Kalau adiknya Mila lahir, mungkin kami akan ke sana. Apa kamu mau ikut? Nanti aku yang minta izin pada ibumu.” Archie berteriak marah dan Dean mengepalkan tinju ke atas. Daddy Drey tertawa melihat kelakuan mereka. “Aku tidak ikut campur, Nak. Semua tergantung Mila nantinya.” Jadilah sepanjang perjalanan itu Archie mengamuk pada semua orang. Karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan Dad merasa kurang enak badan setelah minum kopi nggak enak dari restoran tadi, kami memutuskan menginap di penginapan terdekat. Penginapan itu merupakan penginapan terburuk yang pernah kami tinggali, tapi kami nggak mengeluh. Kami semua memang lelah. Dean malah sempat tidur dalam perjalanan ke penginapan itu. Sebelum masuk kamar, Archie meraup makanan ringan yang ada di meja resepsionis. Katanya, “Mumpung nggak ada Mommy, Dad.” Seharusnya Dad nggak suka, tapi dia terlalu lelah untuk berdebat. Jadi, kami langsung menuju kamar masing-masing (Archie dan Dean ada dalam satu kamar). “Boleh kami nongkrong di kamarmu dulu, Dad? Sampai makanan ringan ini habis, mungkin,” pinta Archie dengan tatapan memelasnya yang nggak pernah gagal itu. Dad mengangguk lemah, pasrah atas apa pun yang dilakukan anaknya. Aku masuk ke kamarku sendiri, lalu menghubungi Mom pakai HP Dad. Aku menceritakan semua dan minta maaf pada Mom karena membuatnya sendirian malam ini. Aku yakin Mom nggak bakal bisa tidur. “Kami mencintaimu, Claire. Apa pun yang sekarang ada di dalam hatimu, entah itu ketakutan atau kemarahan, pastikan kamu selalu ingat kalau kami mencintaimu. Kami menunggu kamu pulang dan siap melakukan apa pun untuk melindungimu,” ucap Mom dengan suara yang membuatku semakin merindukannya. “Kami nggak bisa kasih kamu banyak hal. Cuma cinta ini, cinta yang nggak bakal putus untukmu.” “Aku sayang Mommy.” “Mommy lebih sayang sama kamu.” Mom sepertinya tersenyum. “Sayang banget malah. Tidur dulu, Claire. Minta Daddy membelikanmu selimut. Mommy nggak pernah percaya sama selimut penginapan nggak jelas gitu.” “Oke, Mom.” “Jangan sampai nggak, ya.” “Iya, Mom.” Aku tahu kok Mommy nggak bakal tenang kalau nggak benar-benar ada selimut baru yang bersih di sampingku. Sekalipun Mommy nggak suka kalau kami nggak mencuci baju atau barang-barang dari kain lainnya yang baru dibeli, tapi menurutnya selimut baru itu lebih bersih ketimbang selimut penginapan yang bisa saja habis dipakai orang untuk “one-night stand”. Sayangnya, Daddy yang sudah capek menyetir mengeluh keras-keras saat kuminta beli selimut. Dia sudah melepas kaus kakinya. Ini berarti ayahku itu sudah nggak mau bergerak dari posisinya. “Dad, di dunia ini ada dua yang nggak boleh Daddy langgar, perintah Tuhan dan perintah Mommy,” kata Archie mengingatkan. Ayahku, milyuner Drey Syailendra itu bergelung di tempat tidur, belagak tuli hingga Archie berkata, “Menurut ramalanku--” “Kamu tidak bisa meramal, Archie,” kata Dean dengan mata gelapnya yang melotot. “Oh, kali ini bisa.” Archie terkekeh. Dia berdeham dan mengeluarkan suara dalam yang dia pikir bakal terdengar lebih gagah. “Menurut ramalanku, sebentar lagi akan ada nuklir yang jatuh di tempat ini kalau Daddy nggak bergerak.” Dia melihat jam tangannya. “Nuklir itu akan jatuh pada hitungan ... sepuluh ... sembilan ... delapan ... tujuh ... en--” HP Dad berbunyi. Suara deringan khas dari Mom. Dengan cepat Dad keluar dari cangkang selimutnya dan mengangkat telepon itu. “Ya, Sweet Cake? Oh, ya. Tentu. Aku sudah berjalan ke toko. Aku akan mencari selimut baru untuk anak-anak. Tentu saja, Sayang. Kamu mau sesuatu untuk oleh-oleh, Sayang?” Tentu saja Dad melakukannya sambil buru-buru memakai kaus kaki dan sepatunya lagi. Sebelum menutup pintu kamar dia mendesis dengan tatapan kesal, “Jangan ada yang keluar dari kamar ini!” Archie tersenyum pada Dean sambil menaik-naikkan alis dengan bangga. “Sepertinya, begitu juga masa depanku,” kata Dean sambil menepuk dahinya. “Sebesar apa pun otot ayahku, suara ibuku tetap menaklukkannya. Kalau ibuku berkata, 'Tidak, Lee. Itu tidak bagus untuk anak-anak,' maka ayahku juga akan berkata itu tidak bagus, sebagus apa pun menurutnya.” Archie cekikikan. “Ah, perempuan! Untungnya aku cuma punya satu perempuan dalam hidupku.” “Terus, kamu anggap apa aku? Apa aku nggak masuk dalam hidupmu?” Dia melotot kaget padaku. “Kamu? Apa kamu termasuk perempuan, Claire?” “Sialan!” Kulempar dia dengan bantal. Dengan senang hati dia membalas pukulanku juga. Malam itu, kami menghancurkan bantal di kamar ini. Dad harus mengganti bantal berisi dakron murah yang sudah agak tengik karena lembap dan sudah lama nggak diganti sama pemilik penginapan ini. Sebagai gantinya, kami harus memijat Dad. Archie dan Dean masing-masing memijat bagian kaki dan aku bagian punggung. Nggak lama, kok, Dad langsung tertidur pada menit pertama. Kurasa dia memang lelah sekali hari ini. Archie dan Dean berbaring di kakinya, melupakan selimut baru yang belum dibuka dari bungkusnya. Aku menciumi Dad dan Archie sambil berkata, “Terima kasih banyak. I love you.” Lalu, kubentangkan selimut dan tidur di sofa agar bisa memandangi mereka terus. Nggak peduli kamarku kosong dan sofa ini berbau jamur, aku senang berada di sini, di samping orang-orang yang mencintaiku dengan cinta yang takkan pernah rusak. Selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN