Cowok besar seperti raksasa itu bernama Herman Brant, cowok asal Ohio yang alergi dengan s**u sapi. Dia atlet binaraga di kampusnya. Lalu, orang-orang ini berasal dari kampus yang sama di Santa Barbara. Sudah dua hari mereka di jalan dan sekarang mereka akan ke salah satu pantai yang ada di Santa Monica. Katanya akan ada konser dan pesta di situ. Mereka sudah lama ingin mengikutinya. Mereka pergi berenam; pada bagian depan yang kubilang mirip Heath itu namanya Hardin Meyer dan pacarnya yang berambut pirang platina, Nina, yang duduk mengapitku ada Herman dan Jock (Kurasa ini hanya nama panggilan), dan di belakang ada Irene dan pacarnya yang cukup tampan, Liam Svenson.
Aku terkejut saat mendengar Irene menyebutkan namanya. Kenapa bisa pas sekali dengan nama ibuku? Aku memandangi cewek berkulit cokelat itu lama-lama sampai dia menatapku heran dan bertanya, “Kenapa? ada masalah?”
Aku menggeleng. Kuharap suara ibuku juga semerdu itu. “Ibuku juga bernama Irene,” jawabku jujur.
“Ibumu? Dia menunggumu di rumah?” tanya Irene lagi.
Aku menggeleng lagi. “Dia meninggal saat melahirkanku. Aku hanya punya foto dan namanya. Dia ... orang Indonesia,” jawabku sebelum berbalik menghadap ke depan lagi.
“Kamu orang Indonesia?” tanya Herman yang ternyata memiliki simpati tinggi, berbanding terbalik dengan tubuh besarnya.
“Ayahku orang Inggris, tapi aku diadopsi keluarga Amerika. Uhm ... ibu angkatku Indonesia.”
“Banyak orang Indonesia di sini?”
“Tidak juga. Aku belum pernah ke sini sebelum menjadi anak angkat keluargaku.” Aku menggigit bagian dalam bibir bawah, menahan informasi yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba saja aku ingat pesan Alice untuk nggak sembarang memberikan informasi pribadi pada orang asing. “Maaf,” kataku yang sebenarnya pada diri sendiri.
Kurasa teman-teman baruku mengerti kenapa aku tiba-tiba muram. Jock menawariku bir yang langsung kutolak. Herman menawariku jus jeruk kaleng. “Kamu akan baik-baik saja bersama kami,” katanya sambil menggoyang kaleng jus berembun yang kelihatannya segar itu.
“Thanks,” kataku menerima kaleng itu.
“Kamu akan ikut dengan kami atau turun di tengah jalan?” tanya Hardin sambil melihatku dari spion. “Kami seharusnya punya satu tiket tambahan karena teman kami tiba-tiba harus operasi usus buntu sebelum pergi. Kamu bisa memakai tiketnya. Tapi ... kelihatannya usiamu belum delapan belas.”
Aduh! Nanti aku ketahuan!
“Akan delapan belas sebenarnya,” kataku berbohong. “Bulan depan. Aku hanya ... cukup imut. Itu saja.”
Jock tersenyum di sebelahku. “Usahamu untuk berbohong payah sekali.”
Wajahku jadi panas mendengar ejekan itu. Aku ingin berkelit, tapi nggak mungkin. Mereka tahu benar kalau aku belum delapan belas. Tubuhku nggak setinggi mereka dan wajahku juga kelihatan masih anak-anak banget kalau dibandingkan dengan mereka. Siapa pun tahu kalau aku masih bocah banget, bahkan kalau dibanding dengan Alice pun aku masih terlihat anak-anak banget.
“Kenapa kalian bertengkar?” tanya Liam yang tiba-tiba kepalanya muncul di antara aku dan Jock. “Pacarmu. Sepertinya kamu marah besar padanya.”
Aku nggak ingin mengatakan apa un apda orang lain, tapi mulutku gatal. Aku sangat ingin bercerita pada seseorang. Mengingat nggak ada orang lain yang bakal mendengarkanku, sepertinya mereka juga nggak masalah. Mungkin, aku hanya perlu menyembunyikan sedikit cerita yang penting saja.
“Aku ... uhm, maksudku kami ... punya pandangan berbeeda tentang penyelesaian masalah kami,” kataku malu-malu.
Nina di depan berbalik. “Kamu hamil?” tebaknya yang membuat Herman menahan napas.
Aku menggeleng cepat. “Aku ... tidak. Tidak. Aku tidak hamil,” jawabku dengan wajah yang sangat panas. Keringat meluncur di punggungku. Malu sekali rasanya dikira hamil begini. Aku justru menyuruh orang menggugurkan kandungannya. Malahan hail itu lebih bagus daripada membunuh orang. Hamil nggak membuatku berurusan dengan polisi.
“Aku berbuat hal buruk pada seseorang. Dia ingin kami pulang dan mengaku pada orangtuaku. Tapi, aku tidak mau menghadapinya. Aku ... aku tidak ingin orangtuaku tahu dan ... aku tidak ingin ditangkap polisi.”
“Kamu mencuri?” tebak Nina lagi. Aku hanya melihatnya dengan tatapan minta tolong. Mungkin lebih baik disangka mencuri daripada ketahuan membunuh orang. Mereka pasti akan langsung menendangku keluar dari mobil ini.
“Kadang aku juga melakukannya,” kata Irene pada Liam. “Aku mencuri uang orangtuaku dan bibiku. Kadang aku juga mengutil di toko. Masa SMA-ku buruk sekali.” Dia tertawa. “Lagipula, anak SMA mana sih yang nggak mencuri? Selain anak-anak orang kaya, rasanya semua remaja mencuri uang orangtua atau temannya.”
Nina tertawa dan membenarkan pengakuan Irene. Anak-anak cowok juga tertawa, kelihatannya memiliki pengalaman yang sama.
“Tahu Alice Thompson yang ramai dibicarakan di i********:?” tanya Nina. “Dengan rumah semegah dan kamar seindah itu, dia tidak perlu mencuri. Dia punya semua yang dibutuhkan. Hidupnya pasti sekarang bahagia sekali. Dia mungkin saja memegang kartu ayahnya dan bisa berbelanja apa pun yang diinginkan. Bayangkan kalau kamu memacarinya, Jock!”
Jock yang mendengar itu menggerakkan tangan di depan selangkangannya seperti orang yang sedang m********i. “Akan kupuaskan dia. Pakai, lalu buang kapan aku mau. Gadis seperti itu passti sudah sering bergonta-ganti pacar.”
“Dia hampir tidak pernah lagi nampak di i********:. Mungkin dia hamil.” Nina tertawa bersama Irene. “Gadis seperti dia sangat mudah dipermainkan.”
Alice memang nggak pernah menunjukkan wajah lagi sejak kabar dia menjadi muslim. Orang membicarakannya seenak sendiri. Kalau ada laki-laki yang berani mempermainkan Alice, aku yakin kepalanya sudah hancur di tangan Steve. Apa aku perlu menjelaskan pada mereka kalau aku kenal Alice? Apa nggak apa-apa kalau mereka tahu aku anak Drey Syailendra? Apa mereka nggak akan menculikku?
“Kamu punya i********:, Claire?” tanya Jock sambil menyodorkan HP-nya.
Aku menggeleng. “Ibuku tidak suka media sosial. Menurutnya itu buruk untuk perkembangan anak.”
Seisi mobil tertawa kerass sekali. “Ibumu lahir di zaman es?” tanya Hardin dengan tawa keras mengejek.
Aku diam saja, berpura-pura meminum banyak-banyak jeruk dalam kaleng yang kupegang.
“Jangan seperti itu, Man!” kata Herman. “Setiap orangtua memiliki pola asuh mereka sendiri. Claire sama sekali tidak bisa mengatur bagaimana orangtuanya membesarkannya.”
Aku berterima kasih sekali pada Herman. Nasihatnya itu membuat teman-temannya diam dan berhenti bertanya-tanya tentangku. Untuk sementara aku aman. Kami berkendara dalam diam, sesekali Nina dan Irene menyanyikan lagu yang terdengar dari radio. Jika aku mengenali satu atau dua lagu, aku akan ikut bernyanyi. Jika tidak, aku diam saja. Jock mengeluarkan kartu permainan lecek yang kelihatannya sering dimainkan kalau dia sedang mabuk. Beberapa kartu lengket karena gula atau minuman manis. Di sisa perjalanan, mereka sudah mulai lelah dan tertidur. Jock tidur dengan kepala bersandar pada jendela mobil, Herman mendongak dengan mulut terbuka dan mengorok. Aku memutuskan untuk nggak tidur. Aku mengamati bagian luar jendela, mencoba melihat di mana kami sekarang. Lagi-lagi aku berada di luar jalur aman yang sering kudatangi. Aku nggak pernah ke Santa Monica sendirian, apalagi ke San Pedro (Mereka menyebut San Pedro juga tadi). Aku nggak tahu lagi ada di mana sekarang. Kalau aku membuka Google Map, seseorang di mobil ini bisa mengintip ke wallpaper HP-ku dan tahu siapa aku.
Seharuanya aku ingat pesan Heath untuk nggak menumpang mobil orang asing. Rencanaku, setelah kami sampai di pantai yang mereka maksud, aku akan menelepon penyewaan mobil dan meminta diantar ke tempat yang lebih aman. Aku belum memikirkan tempatnya. Yang jelas, aku nggak boleh pulang dulu.
Kami berhenti di pom bensin. Aku menyerahkan uang lecek lima puluh dolar dari pecahan yang lebih kecil untuk mereka sebagai kontribusi karena aku sudah numpang ke sini. Aku sengaja nggak mengeluarkan uang besar agar mereka nggak curiga.
“Simpan uang harammu, Sayang,” kata Nina yang berpikir kalau aku habis mencuri. “Pakai uang itu untuk membeli apa yang kamu inginkan. Aku punya ccukup banyak uang sampai pulang nanti.”
“Terima kasih banyak,” kataku dengan tulus. Kalau kutebak mungkin Nina anak orang yang cukup berada. Pakaiannya bermerek walau bukan merek asli. Dia juga punya selera fashion dan make up yang bagus.
Kami melanjutkan perjalanan hingga mencapai pantai. Irene menawariku baju untuk kupakai ke pantai. Aku menolak dengan mengatakan kalau yang kupakai adalah jaket ayahku. Aku ingin terus bersamanya. Irene mengerti tentang ini. Dia membiarkanku memakai pakaianku walau terlihat aneh di pantai ini.
Yang kami datangi adalah konser band indie di pantai. Penjaga tiket menatapku curiga seolah tahu kalau usiaku masih terlalu muda untuk datang ke konser yang sepertinya juga bakal jadi ajang anak-anak muda teler ini, apalagi dandananku terlihat benar-benar seperti anak kecil.
“Dia adikku. Kenapa?” kata Liam sambil merangkul bahuku.
“Wajah kalian tidak sama,” kata cowok yang menjaga booth tiket.
Liam maju selangkah. “Sudah kukatakan dia adikku, bukan kembaranku. Apa kamu tahu hukum mendel tentang genetika?”
Tentu saja penjaga booth tiket itu nggak tahu apa-apa soal genetika dan nggak kenal siapa Gregor Johann Mendel. Dia membuka pagar pembatas dan mengizinkan kami masuk.
“Thanks,” kataku sambil tersenyum.
“Sama-sama, Sist,” jawabnya terus berjalan sambil tetap merangkul bahuku dan Irene di tangan lainnya. Kami menikmati sore itu dalam dentum band indie yang meng-cover lagu-lagu One Republic hingga Coldplay. Untungnya aku tinggal dengan Drey yang sangat menyukai musik. Aku bisa ikut menikmati konser itu.
Sebenarnya, ini konser pertamaku di bagian depan panggung. Aku pernah nonton konsernya Billie Ellish, Coldplay, dan Selena Gomez. Kami menggunakan tiket VIP dan menonton dari bagian depan panggung. Seringnya sih aku dan Archie menonton sebentar dengan diantar Daddy Drey sementara Mom, yang nggak bisa melihat kerumunan orang, menunggu di ruang VIP. Baru kali ini aku merasakan serunya bernyanyi dengan suara keras sambil melompat-lompat dengan teman-teman baruku.
Saat matahari sudah lebih condong ke barat, banyak penonton lama yang sudah capek melompat berjalan ke pinggir untuk mencari minuman. Liam memberiku sebotol air mineral dingin yang ditempelkannya ke pipiku. Herman menunjukkan toilet untuk Irene dan Nina. Kurasa, aku juga butuh toilet.
“Bagaimana rasanya jadi anak angkat?” tanya Liam padaku setelah aku keluar dari WC. Dia yang ditugasi menungguku agar aku nggak tersesat sementara yang lain sudah memencar mencari makanan dan minuman.
“Tidak buruk,” jawabku. “Mereka menyayangiku.”
“Beruntung sekali.”
“Kamu anak angkat atau ....”
“Aku punya ayah tiri yang tidak mungkin kusebut baik.”
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.” Dia menunjuk Herman dan Nina yang duduk didepan perapian. “Ayo ke sana!” ajaknya.
Sebenarnya perapian itu terbuat dari tong besi yang dipotong dan diberi kayu kering agar bisa menjadi perapian. Nina memamggang marsmelow dengan tongkat kayu yang kelihatannya nggak bersih. Aku menolak saat dia menawarkan dengan alasan aku sudah minum terlalu banyak air putih.
“Mana Irene?” tanyaku pada Nina. Cewek itu menunjuk ke booth tato. “Dia sudah lama sekali ingin punya tato. Susul saja dia, Liam!”
Liam menarik bibir ke bawah. “Aku ingin dia mengejutkanku dengan tato barunya.” Liam melihatku. “Mau kutunjukkan sesuatu?”
“Apa?”
“Kamu pernah ke pantai baru-baru ini?”
Aku menggeleng.
“Ikutlah!” Dia menarik tanganku. Sebenarnya dia mengajak Nina dan Herman juga, tapi sepertinya mereka lebih tertarik makan marsmalow panggang.
Dia mengajakku ke pinggir pantai. Dengan kakinya, dia menyibak air di pantai. Cahaya kebiruan suram berpendar dari dalam pantai. Bioluminisensi dari plankton yang terganggu itu terlihat indah sekali. Pada waktu tertentu plankton itu naik ke permukaan. Reaksi kimia dan perubahan suhu yang drastis membuat zat luciferin dalam tubuh mereka berpendar. Ini fenomena alam biasa yang terlihat indah. Nggak semua bagian bibir pantai berpendar begini. Sepertinya bagian ini memang banyak planktonnya.
“Bagaimana jika manusia memiliki kemampuan berpendar seperti ini?” tanya Liam yang membuatku berpaling padanya.
“Pasti lucu. Manusia bisa berpendar saat marah.”
“Seperti kamu. Kamu berpendar saat tersenyum,” katanya sambil tertawa seolah yang dikatakannya cuma lelucon. Aku ikut menertawakan leluconnya. Kulepas sepatu dan kunaikkan celanaku agar bisa menyibakkan air laut dan mengganggu plankton itu juga.
Dia mengulurkan tangan, menggandengku ke tempat lain. Langit sudah mulai menggelap. Kupikir kami akan kembali ke teman-teman yang mungkin sekarang sedang mencari makan malam.
“Hei!” Dia menarikku sampai menabraknya. Karena tingginya jauh di atasku, aku jadi harus mendongak melihatnya. “Bagaimana kalau kita di sini saja. Kurasa ... kita bisa berbicara lebih baik jika hanya berdua.”
Aku nggak akan bersikap bodoh. Gerak tubuhnya ini menunjukkan kalau dia menginginkanku secara seksual. Dia sudah dua puluh tahun dan aku masih lima belas. Kalau ada yang tahu, dia bisa dituntut karena p*******a. Aku berusaha mendorongnya, tapi dia lebih kuat. Dia menjegal kakiku, membuatku jatuh. Dengan cepat dia menangkapku dan menarikku ke pelukannya.
“Kita akan baik-baik saja, Claire. Hanya kita berdua.”
“Tidak akan pernah,” jawabku tegas. Dengan kaki kiri, kujepit kaki kanannya. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang dengan kepala bagian belakang menghantam pasir lebih dulu. Dia berteriak kesakitan. Sebelum dia bangun, kutahan tubuhnya dengan kaki. Aku akan membuat Heath bangga melihat adegan ini.
Sayangnya, perkelahian ini mengundang orang datang. Mereka mengerubungi kami, termasuk Hardin dan Irene yang kelihatannya marah.
“Dia merampokku. Dia meminta uangku,” kata Liam yang masih berbaring memegang bagian belakang kepalanya, membesar-besarkan rasa sakitnya.
“f**k you, b***h!” Irene menarik tasku, membuatku terlempar ke pasir. Bagian depan tasku terbuka membuat isinya berantakan di pasir.
“Misoprostol?” Seorang cewek mengambil obat yang jatuh di bawah kakinya. “Kamu hamil?”
“Ya,” kata Liam cepat. “Dia butuh uang untuk membuang bayinya.”
“k*****t! Anak sial!” Irene menyerangku. Secara refleks, aku menangkap tangannya dan membantingnya ke pasir.
“Aku tidak hamil. Obat itu bukan untukku.” Tentu saja ini sia-sia. Siapa yang percaya kalau aku membeli obat itu untuk cewek gila yang sekarang sudah mati?
Orang-orang menyorakiku, mendorongku ke luar dari kerumunan. Yang sempat kubawa cuma sepatuku saja. Tas dan semua barang yang berantakan terinjak-injak anak lain. Ini saja sudah cukup. Aku beruntung nggak dipukuli karena pengakuan Liam tadi. Aku berjalan di bagian pinggir kerumunan, menyelip di antara orang yang sedang melompat dan bernyanyi. Setelah tiga puluh menit baru aku bisa keluar dari tempat itu. Ada yang memanggilku dengan “hei, Miss!” tapi aku nggak berbalik. Aku malah berlari menjauhi kerumunan, menuju jalan raya. Aku nggak tahu ini di mana. Aku kehilangan HP dan semua harta benda yang kupunya.
Setelah memikirkan bagaimana kondisiku, aku memutuskan untuk mencari tempat untuk makan malam dulu. Aku benar-benar lapar. Kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi, aku sendirian di jalanan. Kali ini, aku nggak punya Archie dan barang-barang yang mungkin bisa membantuku. Aku cuma punya dompet di saku jaket dengan kartu identitas anak, kartu ATM, dan beberapa lembar uang. Aku pasrah sekarang. Daddy Drey atau polisi yang menemukanku boleh membawaku ke mana pun. Aku nggak akan melawan. Aku memakai kartu ATM di mesin ATM pertama yang kulihat dan mengambil dua puluh dolar. Daddy Drey bisa melacak ini. Dia akan mempersempit ruang pencarian dan menemukanku. Tapi, apa dia akan mencariku? Setelah semua kebodohan yang kulakukan, apa aku masih bakal dicari?
Aku masuk ke restoran pertama yang kulihat. Restoran itu agak sepi di malam yang ramai ini. Kupikir mungkin makanannya nggak enak. Aku nggak butuh makanan enak. Aku butuh tempat yang sepi agar bisa menenangkan diri dan memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang.
Pintu restoran itu berbunyi saat kubuka. Bagian atasnya terhubung dengan lonceng kecil, khas toko-toko lama yang belum punya alat-alat pengamanan canggih. Perempuan muda berdiri di belakang meja bar terlihat sedang menulis sesuatu. Dia memaksakan senyum padaku dan mengucapkan selamat malam dengan sopan. Perempuan yang lebih tua di belakangnya mengangguk, berusaha ramah. Aku mengangguk saja pada mereka, lalu berjalan ke meja paling pojok agar aku bisa melakukan apa saja tanpa diawasi orang lain.
Restoran ini nggak buruk, kok. Aroma butter dan aroma gurih lain tercium membuat selera makanku yang tadinya nggak ada sama sekali jadi meningkat. Aku memesan telur dadar dan burger selain air mineral pada perempuan muda yang roknya terlalu pendek. Lalu, aku mengeluarkan isi dompetku untuk kubariskan di meja, mencari sesuatu yang bisa membawaku pulang. Satu-satunya cara hanya menelepon ke rumah dan meminta jemput. Tapi, aku benar-benar ragu masih ada yang mau menjemputku setelah semua ini.
Pelayan yang agak tua mengantarkan pesananku. Dengan cepat kumasukkan lagi barang-barang tadi ke dompetku.
“Mana orangtuamu, Little Girl?” tanya perempuan itu dengan nada ingin tahu.
“Ayahku akan menjemput,” kataku berbohong. Aku tersenyum untuk meyakinkannya walau kelihatannya dia nggak yakin sama sekali kalau akan ada yang menjemputku.
Ah, Claire! Kenapa selalu begini? Kenapa kamu selalu mengambil pilihan bodoh? Kenapa kamu keras kepala dan sama sekali nggak belajar?
Aku membenturkan kepala ke meja beberapa kali sampai piring di atasnya berbunyi karena guncanga. Kali ini aku kehilangan selera makan. Aku menunduk, menempelkan dahi pada meja dan menangis. Sungguh, aku menyesal sudah membantah Caleb. Seharusnya aku mendengarkannya. Seharusnya aku mendengarkan orang-orang yang memberiku nasihat.
Lonceng di pintu depan restoran terdengar berdenting lagi. Pasti ada yang masuk ke resto ini lagi. Aku ingin sekali melihat Daddy Drey dan Mommy masuk ke sini dan memelukku, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan mereka tetap mencintaiku setelah semua yang kulakukan. Tapi, itu nggak mungkin. Mereka mungkin sekarang sedang menyelsaikan masalah yang kusebabkan. Mungkin saja petugas rumah sakit jiwa itu menelepon polisi dan dengan cepat menebak akulah penyebab kematian Mirriam. Mereka mungkin sudah mencariku ke rumah Daddy Drey. Mommy mungkin sekarang menangis dan Daddy Drey mungkin kebingungan mencariku. Semoga Caleb mengatakan dengan siapa aku pergi pada mereka. Aduh, dia bakal diapain ya sama Dad?
“Ah, Claire, kamu ini kerjanya cuma nyusahin orang aja,” kataku pada diri sendiri, lalu menunduk lagi, menutup mataku dengan tangan dan serbet. Aku ingin menangis dengan lega, tapi nggak ada air mata yang keluar. Yang menyesakkan dadaku adalah rasa sesal dan amarah pada diri sendiri. Kenapa aku selalu bersikpa impulsif? Kenapa aku nggak memikirkan dengan baik yang akan kulakukan? Kenapa aku nggak mendengarkan orang lain?
Caleb? Apa dia marah sama aku? Apa aku kehilangan dia kali ini?
“Boleh aku duduk di sini?”
Aku mendongak mendengar suara laki-laki itu. Lalu, air mataku yang dari tadi hanya sedikir, sekarangg membanjir. Aku menangis sejadi-jadinya.
***