Fugitive

1225 Kata
Aku dan Caleb berpandangan. Nggak ada dari kami yang berani bergerak. Mirriam sudah mati. Walau belum menyentuh lehernya untuk memeriksa nadinya, kami yakin benar kalau dia sudah mati. Darahnya mengalir membasahi tempat tidur, membuat seprai putihnya merah semua. “JANGAN!” teriakku menahan Caleb yang seperti akan menyentuhnya. Wajah Caleb ketakutan. Aku tahu. Dia takut melihat konsekuensi apa yang akan kami dapatkan karena ini. “Lalu ... bagaimana?” tanyanya dengan suara tercekat. “Tidak ada. Tidak tahu. Aku ... aku tidak tahu.” Aku ingin menangis. Aku ingin menelepon Daddy Drey dan menangis memintanya ke sini. Tapi, kalau begitu dia pasti tahu aku ada di sini. “Telepon ayahmu.” “Tidak!” “Dia harus tahu.” “Dia tidak boleh tahu.” “Kamu sinting, Claire. Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah ini?” “Lari!” Aduh, pikiranku memang bodoh sekali! Tapi memang cuma ini yang bisa kupikirkan. Aku nggak punya ide lain. “Claire?” “Cal, kita nggak bisa pulang dan berkata kalau kita baru membantu Mirriam bunuh diri begitu saja. Kita pasti menghadapi masalah. Ayo kita pergi. Ke mana saja, pokoknya pergi. Kita akan pulang kalau semua sudah mereda.” Dia melotot. “Kamu sinting. Mana bisa mereda. Ini bukan masalah Archie yang ngambek. Ini masalah anak yang mati di depan mata kita.” Dia mengangkat tangannya yang terciprat darah Mirriam. Aku nggak tahu. Aku nggak bisa berpikir. Sarafku terlalu tegang untuk bisa berpikir. Aku ingin muntah dan berteriak. Aku ingin menangis sekeras yang kubisa. Aku ingin mengatakan pada dunia kalau aku nggak bersalah. Lalu, aku melakukan hal paling mudah yang bisa kulalukan, cuci tangan. Aku mencuci tanganku yang gemetar dan penuh darah. “Claire?” “Diam, Cal!” Kukeringkan tanganku pada celana jins, lalu kutarik tasku sembarangan. Barang-barang yang ada di dalamnya berhamburan ke luar. Dengan marah, frustrasi, dan sangat ingin menangis kujejalkan lagi semua barang ke dalam tas itu. “Claire, kita harus memanggil seseorang.” “CALEB!” bentakku keras. “Siapa pun yang kamu panggil nanti pasti akan memojokkan kita. Daripada kamu seperti itu, kenapa tidak bersiap-siap keluar dari tempat ini? Terima kasih sudah membantu. Kamu benar-benar cowok yang sangat bisa diandalkan.” Dia menunduk untuk membantuku, tapi aku sudah terlanjur marah. Kuselesaikan dengan cepat, lalu berdiri lagi. Tanpa mengatakan apa pun, kami berjalan cepat ke luar kamar Mirriam. Aku melewati pintu pagar yang telah dijaga perawat pria berwajah oriental. Aku tersenyum terpaksa padanya. “Dia tidak mau berbicara denganmu?” tanya perawat itu. Aku memaksakan senyum, semoga sisa darah di lengan jaketku nggak terlalu mencurigakan. “Dia mengerikan,” komentarku sambil keluar dari pagar ruang itu. Aku berjalan cepat dengan Caleb mengikutiku dan berusaha memanggilku dengan suara mendesis di belakang. Aku nggak memedulikannya. Aku terus berjalan, agak berlari ke luar dari rumah sakit itu. Kali ini aku bersyukur sejak minggat dengan Archie itu aku melatih fisikku agar bisa berlari seperti ini jika memang dibutuhkan. Yang jelas, aku nggak mau ditangkap dan masuk penjara. “Claire! Apa-apaan?!” Caleb lebih dulu menyentuh badan motor itu menahanku. “Kamu tidak perlu berlari begitu. Mereka--” “Mereka tidak boleh mendapatkanku, Caleb. Mereka tidak boleh menangkapku. Kamu ingat itu.” “Kamu bisa mengatakan pada mereka kalau kamu tidak bersalah. Mereka--” “Kamu mau pergi dari sini atau aku yang pergi sendiri dengan taksi?” Caleb memandangiku sesaat, lalu mengumpat dengan kesal. Dia nggak akan meninggalkanku, kok. Tetap saja dia memakai helm dan menunggangi motor itu. Aku juga naik ke badan motor, memeluknya. Aku yakin benar dia bakal mengebut habis-habisan. Agak jauh dari rumah sakit itu, Caleb menurunkan kecepatan motornya. Kukira dia mau turun untuk kencing atau hal lain. Ternyata dia membuka kaca helm dan berkata, “Kita tidak boleh begini, Claire. ini salah. Kita tidak bisa lari dari tanggung jawab.” “Bukan kita, Cal. Aku. Aku yang lari dari tanggung jawab.” Aku sudah muak berdebat dengannya. “Begini saja, tinggalkan aku di sini dan pulanglah! Aku tidak akan marah padamu. Aku akan memaklumi semua kepengecutanmu.” “Aku bukan pengecut. Kamu tahu itu. Aku hanya merasa ini semua salah. Kamu--kita tidak harus lari. Kita bisa memperbaiki semua ini.” “Bagaimana?” “Mengaku. Kita lapor pada petugas di rumah sakit jiwa itu dan mengatakan yang sebenarnya. Kita katakan pada mereka kalau kita tidak salah. Kamu akan menjalani tes kejujuran dan mereka tahu kamu tidak berniat membunuh Mirriam.” Itu masalahnya. Caleb nggak tahu kalau aku berharap Mirriam mati. Aku sangat berharap Mirriam mati bersama bayinya, paling nggak, dia kesakitan seperti yang dialami Mom dulu. Kematiannya adalah bonus jackpot. Jika poligraf membaca ini, mereka akan tahu kalau aku berbohong. Mereka akan menyeretku ke penjara. Mom akan menangis. Dadddy Drey akan kecewa padaku. Kami semua akan hancur gara-gara aku. “Claire?” “Cal, berhenti!” “Tidak.” “Kibilang berhenti!” “TIdak akan.” “Berhenti atau aku loncat,” ancamku. “Cal, kamu tahu aku nggak pernah main-main kalau mengancam seseorang.” “f**k, Claire!” Tapi, dia berhenti. Dia mengerem mendadak di pinggir jalan saat kendaraan lain sepi. Dengan cepat aku melompat turun dari motornya dan mengembalikan helm yang kupakai. “Pulanglah!” “Kamu sinting? Ibumu akan mengamuk padaku.” “Tidak. Katakan saja padanya kalau kita bertengkar dan aku melarikan diri.” “Aku bertanggung jawab atas dirimu, Claire Johansson. Aku yang mengajakmu ke luar rumah. Aku akan mengembalikanmu ke rumah juga.” Aku nggak menghiraukannya. Aku berjalan ke depan dan mengangkat jempolku meminta tumpangan pada siapa pun yang melewatiku. Dia turun dari motor dan mengejarku. “CLAIRE! CLAIRE!” Aku nggak mendengarkan. Aku berjalan lebih cepat mendahuluinya. Sebuah mobil besar berhenti di dekatku. Seorang gadis berambut pirang platina mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. “Butuh tumpangan?” tanyanya sambil mengunyah permen karet. “Ya, please. Aku butuh tumpangan ke mana saja.” Gadis itu menjulurkan kepalanya, melihat Caleb di belakangku. “Pacarmu?” Aku menoleh sekadar memastikan kalau itu memang benar-benar Caleb. “Ya. Kami bertengkar dan aku tidak mau lagi bersamanya.” Gadis itu tersenyum mengejek pada Caleb. “Dia imut. Kalian masih SMA?” “Dia akan massuk MIT tahun ini.” “WOW!” Gadis itu bersiul pada teman-temannya di dalam mobil. Cowok dengan berewok tipis yang mengemudikan mobil itu membuatku ingat pada Heath karena kulitnya yang cokelat terbakar matahari dan bentuk wajahnya. Tapi, aku yakin itu bukan Heath karena dia meminum bir. “Claire!” Caleb menangkap tanganku. Orang-orang di dalam mobill itu berseru, mengira dia akan berbuat kasar padaku. “Aku kehilangan kesabaran. Pulang denganku sekarang dan kita selesaikan masalah ini.” “Kami juga kehilangan kesabaran, Dude. Kalau kamu menyukainya, perlakukan dia dengan baik,” kata cowok yang ada di belakang. Cowok itu bertubuh besar sekali, nyaris seperti raksasa. Kausnya nggak bisa menutupi otot lengannya yang sepertinya hasil dari olah raga habis-habisaan dan steroid. Dia menghadapi Caleb yang mencoba menarikku. Karena khawatir Caleb bakal babak belur dihajar Hulk ini, aku mendorongnya. “Pulang saja! Aku tidak membutuhkanmu lagi,” kataku sambil masuk ke mobil itu. Cowok besar itu terus melotot dengan mata kecilnya ada Caleb. Dia sepertinya ingin mengusir Caleb. Tapi, tentu saja cowokku itu nggak mundur begitu saja. Dia juga membalas melotot pada raksasa itu hingga raksasa itu masuk ke mobil. Sampai mobil pergi, Caleb tetap berdiri di pinggir jalan, menatapku menghilang dari pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN