Haussen-Dwarf Asylum merupakan rumah sakit jiwa yang cukup ternama di LA. Awalnya, rumah sakit ini hanya menampung puluhan pasien saja. Kini, rumah sakit ini menjadi rujukan utama pasien-pasien di Beverly Hills hingga Long Beach. Terbayang, kan, bagaimana penambahan jumlah orang sakit jiwa dari tahun ke tahun di LA? Sebuah artikel di koran harian yang dibaca Daddy Drey menyebutkan bahwa inflasi dan ketidakstabilan ekonomi serta masalah keluarga menjadi penyebab utama orang sakit jiwa, seperti yang dialami Mirriam saat ini. Dia jadi remaja dengan gangguan jiwa karena runtuhnya kehidupan keluarganya pasca ibunya meninggal. Seharusnya aku bersimpati padanya kalau dia nggak mengajak keluargaku ikut gila juga. Masih bisa kuingat bagaimana Mom terpuruk dalam depresi karena hampir terpisah dari Daddy Drey. Kalau perpisahan itu benar-benar terjadi, kurasa Mom dan Dad akan sama-sama berada di rumah sakit jiwa ini. Mereka itu nggak bisa dipisahkan.
Caleb menggandengku dengan tangannya yang dingin. Kami berjalan dalam diam menuju ruang direktur. Mulanya direktur itu nggak mau menemuiku. Setelah kukatakan kalau aku mewakili Dadddy Drey, baru dia mau menemuiku. Dengan tatapan kesal, dia menyambutku di ruangannya yang serba putih dan kelabu, pilihan warna yang sangat buruk untuk rumah sakit jiwa.
Mrs. Dwarf memang bukan perempuan yang bisa dianggap remeh. Dia keturunan kulit hitam dengan kecantikan yang tegas seperti Cleopatra. Rambutnya sudah kelabu, tapi wajahnya sama sekali nggak menunjukkan kerut penuaan, bahkan kulitnya terlihat berkilau saat terkena sinar matahari dari jendela besar di sampingnya.
“Aku tidak menyangka lelaki terhormat seperti Drey Syailendra mengirim anak kecil untuk menyelesaikan masalahnya,” katanya dengan angkuh setelah menjabat tanganku.
Aku tersinggung dia menyebutku anak kecil. “Sebenarnya, Mrs. Dwarf, ayahku tidak mengirimku. Dia dalam keadaan yang kurang sehat setelah operasi transplantasi ginjal yang dilakukan beberapa waktu lalu. Aku ke sini untuk menemui Mirriam Rivera secara pribadi. Bagaimana pun dia pernah menjadi teman kami. Mungkin saja kehadiranku bisa memberikan sesuatu yang berbeda pada dirinya.”
“Sesuatu yang berbeda?” Dia menurunkan kacamatanya, lalu meletakkan kacamata itu ke meja. “Apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini?”
Aku harap Mirriam mau menelan obat yang kubawa dan bayinya tamat. Itu saja.
Aku mengangkat bahu. “Tidak banyak, Ma'am. Aku hanya ingin berbicara padanya. Aku ingin bertanya, apa benar janin itu anak ayahku atau dia sempat tidur dengan laki-laki lain setelah keluar dari rumah sakit?”
Dia melipat tangan. “Rasanya sulit dipercaya gadis yang memiliki luka dalam cukup parah seperti dia berhubungan seksual dengan lelaki lain atau bahkan memikirkannya.”
“Well, mari kita lihat bagaimana Mirriam Rivera meniduri pamannya sendiri dalam usahanya untuk menghancurkan hubungan paman dan bibinya. Dalam tes kesehatan jiwanya, Mirriam memiliki penyakit jiwa yang kompleks. Bisa saja dia memikirkan hal lain, apalagi dia memiliki ambisi untuk menghancurkan keluarga kami.”
“Dan kamu mengatakan ingin berbicara dengan orang yang memiliki ambisi ingin menghancurkan keluargamu?”
“Aku diajarkan untuk tidak menjadi seorang pendendam.”
Dia mengembuskan napas dengan cepat dan aggak keras, terlihat sekali dia ingin menunjukkan kekesalannya. “Aku sering melihat kasus 'victim blaming' seperti ini. Kalian orang-orang kaya ingin melakukan gaslight dan menyalahkan korban.”
Aku berusaha menutupi keinginan untuk menghajarnya dengan senyuman. “Ma'am, jika kamu melihat kasus ini di pengadilan, kamu akan tahu kalau keluarga kamilah korbannya. Ayahku diperkosa. Mirriam membuatnya mabuk dan menyeretnya ke kamar. Ayahku mengalami pelecehan seksual dan harus dipenjara atas perbuatan yang tidak dilakukannya. Adikku diracun. Ibuku harus kehilangan bayinya dan mengalami luka dalam rahimnya karena perbuatan Mirriam. Coba kita lihat siapa yang menjadi korban di sini. Jika memang benar kami hanya mengada-ada dan melakukan tuduhan terbalik, tentunya saat ini kami sedang dalam keadaan sehat, tertawa, berlibur di Long Beach atau mungkin Hawaii, dan mengirim pengacara untuk membereskan masalah ini. Kami punya banyak uang yang cukup untuk membeli rumah sakit jiwa ini. Kami tidak melakukannya karena kami bersimpati pada Mirriam rivera. Kami ingin menempuh jalan yang baik. Ayahku seorang terhormat dan bermartabat. Jika benar anak yang dimiliki Mirriam Rivera adalah anaknya, aku yakin ayahku akan bertanggung jawab penuh hingga anak itu dewasa. Jika tidak, aku akan menyarankan agar Mirriam Rivera dipenjara atas tuduhan pencemaran nama baik dan aku akan mencatat kata-katamu sebagai tindakan pelecehan verbal. Aku membawa saksi di sini dan merekam semua pembicaraan kita.”
Aku terengah-engah saat menyelesaikan kalimat panjang yang kuucapkan nyaris tanpa napas itu. Dadaku panas sekali mendengar tuduhan yang diberikan perempuan ini. Jika dia mencoba membuatku tersinggung lagi, mungkin aku benar-benar akan menelepon Steve untuk mengajukan tuntutan untuknya.
Dia mengawasiku. Mata cokelat tua besarnya terus mengawasiku seolah aku adalah musuh yang sedang dipelajarinya.
“Kamu yakin dia akan berbicara denganmu?” tanyanya dengan nada bicara yang lebih hati-hati.
Aku menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Aku akan mencobanya. Siapa tahu dia bisa memberikan informasi walau sedikit.”
Dia mengangkat alis, lalu berdiri. “Kita akan melihatnya.”
Dia berjalan mendahului kami. Tanpa instruksi lain, kami berdiri untuk mengikutinya. Dia mengajak kami masuk ke lorong putih dan masuk ke ruang lain yang dipagar tinggi mirip penjara. Ruang itu adalah ruang pemeriksaan sebelum masuk ke bagian lain rumah sakit jiwa ini. Kamera pengawas di pasang di setiap sudut atap, mengawasi setiap gerakan yang ada di koridor ini. Selanjutnya, kami memasuki lorong lagi yang bercabang pada ujungnya. Setiap cabang ada keterangan yang tertulis di dinding.
“Onix untuk pasien isolasi, Emerald untuk pasien yang bisa diajak bekerja sama mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ringan di sini, dan Ruby untuk pasien yang butuh perawatan medis,” jelas Mrs. Dwarf saat Caleb menunjuk tanda nama areal rumah sakit itu. Sebenarnya, Caleb nggak ngomong apa-apa, tapi sepertinya perempuan itu mengerti.
Kami menuju bangsal Ruby. Tumit sepatu Mrs. Dwarf berbunyi di lantai mengundang beberapa pasien melihat ke luar jendela kecil pada pintu kamar. Rupanya, satu kamar hanya berisi satu pasien. Sebagian dari mereka terlihat sangat normal dengan tatapan mata jernih dan bersahabat, sebagian lagi terlihat kosong seperti nggak mengerti apa yang dilihatnya.
Kami masuk ke kamar di tengah, nomor lima dari belokan pertama koridor itu. Mrs. Dwarf menatapku sebelum membuka pintunya. “Apa kamu yakin ingin menemuinya di sini?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan.
Aku melihat bagian belakang kepala Mirriam. Rambutnya kusam, terlihat rusak dan kusut pada ujungnya. Dia duduk tegak di pinggir tempat tidur membelakangi kami. Dari gerakan konstan tangannya yang nggak dibalut gips, kelihatannya dia sedang mengerjakan sesuatu, menyulam atau merajut mungkin. piyama rumah sakit yang dipakainya terlihat pas untuk tubuh kurusnya. Dari kamar yang bersih dan aroma pewangi ruangan yang menenangkan, sepertinya dia dalam perawatan yang baik. Mungkin nggak akan ada masalah jika dia lebih lama di sini. Jelas saja tempat ini lebih baik dari penjara.
“Ya,” jawabku singkat. “Berapa lama waktuku?”
Dia melihat jam tangannya. “Tiga puluh menit lagi waktu rekreasi. Semua orang yang dalam keadaan sehat akan dibawa ke taman belakang sebentar sebelum makan siang. Aku akan menyuruh seorang perawat menjemputnya. Jika kamu bisa berbicara dengannya dan membutuhkan tambahan waktu, kamu bisa melanjutkan obrolan kalian di halaman belakang.” Dia melihat ke luar kamar. “Aku akan meminta seseorang menemani kalian di sini sebentar lagi.”
“Terima kasih,” kataku. Tapi, Mrs.Dwarf masih belum meninggalkan kami. Dia berdiri di depan pintu, mengawasi bagaimana interaksi awal kami. Akan kutunjukkan padanya kalau aku bisa menjadi orang yang berkomunikasi dengan k*****t betina ini.
“Hai, Mirriam,” sapaku berusaha menggunakan suara ramah, menekan kebencianku. Tangannya berhenti bergerak. Dia bereaksi terhadap suaraku. “Aku Claire. Kamu masih mengenaliku?”
Dia diam saja. Saat aku berdiri di sampingnya, dia menoleh. Tampangnya benar-benar mengerikan. Dia pucat sekali. Di bawah matanya ada lingkaran hitam, persis anak-anak yang kerasukan setan dalam film horor. Dia semakin kurus, sangat kurus sampai tulang pipi dan tulang selangkanya terlihat menonjol. Tampangnya nyaris tanpa ekspresi. Ini membuatku jauh lebih takut daripada melihatnya marah seperti waktu itu. Aku jadi nggak bisa membaca apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Setelah berada di sampingnya, ternyata Mirriam nggak merajut atau menyulam. Dia sedang mencekik bantal. Dia memukuli bantal itu tepat di bagian tengah. Ini membuatku lebih gugup dari sebelumnya. Dia sama sekali nggak berubah. Dengan tangan kiri dan kaki yang dibalut gips, amarahnya terlihat lebih mengerikan.
“Aku datang dengan Caleb.” Aku menunjuk Caleb dan Mirriam memutar kepalanya lebih ke belakang untuk melihat Caleb yang mengangkat telapak tangan untuk menyapanya. “Aku punya sesuatu untukmu.” Aku melihat Mrs. Dwarf yang tersenyum senang melihat reaksi Mirriam.
“Aku akan memanggil seseorang untuk mencatat ini,” katanya sebelum keluar dari kamar, terlihat puas dengan kemajuan yang kami berikan.
Aku melihat Cal yang terlihat tegang, sama sepertiku. Kuharap kami bisa melakukan seperti yang kami rencanakan.
Tadinya, kupikir Mirriam akan menolakku. Aku sudah menyiapkan beberapa serbuk yang menurut rencana akan kujejalkan ke mulutnya jika dia nggak mau menelan obat ini. Aku bersumpah akan melakukan apa saja untuk membuat Mirriam menalannya. Aku nggak mau gagal. Aku sudah menahan malu saat membeli obat ini di toko obat yang ditemukan Cal.
Sejak mendengar rencanaku di telepon beberapa hari lalu, Cal mencari apotek yang menjual misoprostol secara bebas. Tentu saja obat ini nggak boleh diperjual-belikan tanpa resep dokter di sini. Obat ini sebenarnya adalah obat untuk tukak lambung yang memiliki efek cukup mengerikan, salah satunya adalah menggugurkan kandungan. Karena efek inilah orang menggunakannya untuk proses abortus. WHO sendiri sudah membuat guidelines untuk mengatur penggunaan obat ini karena untuk memberi efek abortus yang efektif, misoprostol harus dipadukan dengan dua obat lain. Kalau nggak, obat itu hanya merusak janin, tanpa bisa mengeluarkan jaringannya dari tubuh. Ini aman, kok. Aku sudah memeriksa dua kali pada guidelines yang dibuat WHO. Setelah membacanya, Caleb berkata, “Aku tidak tega melakukannya.”
“Apa kamu pikir aku tidak mual membayangkannya?” kataku dengan air mata menggantung membayangkan ada bayi yang sangat kecil keluar dari tubuh Mirriam dalam keadaan mati. “Tapi, coba bayangkan bagaimana bayi itu jika dibesarkan oleh gadis seperti dia? Apa kamu tidak kasihan melihat satu lagi anak tumbuh dengan jiwa yang rusak karena dibesarkan seorang ibu seperti dia?”
“Aku tahu,” katanya pelan. “Aku hanya ... entahlah, Claire. Kuharap yang kita lakukan ini benar.”
“Kuharap juga begitu,” kataku pelan.
Sejak saat itu, aku nggak berhenti berdoa dan meminta maaf pada Tuhan. Aku nggak mau membunuh siapa pun, tapi ini harus. Tanpa bayi itu, kehidupan semua orang akan berjalan dengan semestinya. Kini, di depan Mirriam aku begitu gemetar. Aku nggak takut sama dia. Aku cuma memikirkan bayinya. Aku bertanya-tanya apakah anak itu sudah punya jantung yang berdenyut? Apa dia sudah bisa merasa sakit?
Kukeluarkan bungkusan pernak-pernik cewek dari tasku. Tadi aku juga mampir untuk membeli beberapa perlengkapan seperti cermin, sisir, sekotak jepit rambut lucu, dan make up untuknya. Siapa tahu dia bosan dan mencari sesuatu sebagai hiburan. Rambut Mirriam bagus. Kalau aku bisa membujuknya mencuci rambut, mungkin rambutnya bisa dihias seperti dulu. Yah, dulu Mirriam, Mom, dan aku sering saling menghias rambut. Mirriam sering memuji betapa wanginya rambut Mom dan betapa lembutnya rambutku. Kami nggak menyangka kalau pujian itu sebenarnya bentuk rasa iri.
Aku menarik kursi plastik di depan meja, satu-satunya kursi dalam kamar sempit itu. Aku duduk di depannya, memberinya barang-barang yang kubawa. Aku sudah memilih warna-warna make up dan lipstik yang disukainya. Aku mau saja kok kalau dia mengajakku curhat sambil bermain salon-salonan.
“Aku punya Mac,” kataku sambil menunjukkan sekotak blush on baru dan highlighter. “Aku juga mendapatkan lipstik Dior yang kamu inginkan. Kurasa warnanya terlalu tua untukmu. Dan... ini ... palet Fenty yang kamu suka. Warnanya seperti warna unicorn.” Kubariskan semua perlengkapan make up itu di tempat tidurnya. Kusodorkan juga cermin portabel yang sebesar laptop empat belas inci padanya.
“Apa maumu?” tanyanya setelah lama diam. Aku mendongak pada Caleb, bingung harus menjelaskan yang sebenarnya atau berbasa-bassi dulu. Caleb juga kelihatannya tegang sekali, entah karena yang akan kami lakukan atau karena dia takut pada Mirriam.
“Aku ingin bertemu denganmu.”
“Kamu ingin tahu apa anak ini milik ayahmu, kan?” Dia memutuskan untuk nggak berbasa-basi.
Aku menelan ludah dengan susah payah, bersiap menghadapi perang dengannya. “Ya,” jawabku pendek. “Aku tidak percaya kalau itu anak ayahku. Kamu jalang. Kamu bisa berbuat dengan siapa saja yang kamu mau, lalu menuduh ayahku yang melakukannya.”
Dia tersenyum. “Kamu makin pintar,” katanya pelan. “Kamu lebih pintar daripada orang-orang t***l di sini.”
“Aku akan membantumu.”
“Meniduri ayahmu lagi?”
Aku mengepalkan tangan, menahan amarah. “Membunuh bayimu,” kataku dengan kekesalan yang bisa membuatku khilaf. “Kita akan selesaikan saja urusan ini. Bayimu mati, kamu akan baik-baik saja di sini. Kita semua akan baik-baik saja.”
“Kamu yang akan baik-baik saja.” Dia mencibir. “Dasar orang kaya egois. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri.”
“Kamu juga memikirkan dirimu sendiri, Jalang! Apa matamu sudah buta? Kamu yang datang ke keluarga kami untuk menghancurkan semuanya. Kamu yang membuat keluarga kami berantakan. Padahal kami sangat menyayangimu. Kami ingin membantumu dan menjadikanmu bagian dari keluarga kami.”
“Tidak ... tidak ... kamu tidak membantuku. Tidak sama sekali.” Dia mengambil cermin di dekatnya, melihat dirinya di cermin itu dan merapikan bagian depan rambutnya. “Coba lihat, Claire, apa aku sudah cocok menjadi ibumu?”
Aku sangat ingin menghajar anak ini.
“Aku bisa membayangkan aku berjalan ke altar bersama ayahmu. Kami pasti bahagia.” Dia menoleh padaku, berkedip dengan gaya menjijikkan.
“Ayahku tidak menikah di altar.” Ah, tololnya! Kenapa malah ini yang kukatakan.
“Oh, dia akan menikah di altar. Dia akan melakukan apa saja yang kuinginkan.”
“Jangan bermimpi! Kamu tidak akan menikah dengannya. Kamu tidak akan menghancurkan hidup kami lagi. Kamu akan membunuh anakmu sendiri dan pergi yang jauh dari hidup kami.”
Dia berpaling padaku. “Membunuh anakku? Kenapa? Ayahmu akan mencintainya. Ibumu tidak bisa memberinya anak lagi. Dia akan bersamaku dengan Syailendra kecil di sini.”
Aku mendekat, cukup dekat, tapi nggak menyentuhnya. “Dengar, Mirriam. Kami orang kaya. Kami memiliki cukup banyak uang untuk membayar dokter agar menggugurkan bayimu. Kami akan melakukannya. Kami akan melenyapkan bayi itu dan membuangmu. Tidak akan ada yang mengingatmu. Tidak akan ada yang peduli denganmu lagi. Kamu akan di sini selamanya. Se. La. Ma. Nya.”
Tatapannya berubah jadi marah. Dia melompat ke tempat tidur. “AKU AKAN MENGHANCURKANMU, k*****t!”
Dia mengambil cermin yang kubawa. Kupikir dia ingin melemparkan cermin itu padaku. Ternyata dia memukulkan cermin itu ke dinding. Dengan cepat dia mengambil pecahan paling besar dari cermin itu, lalu mengangkatnya tinggi. “Kalau aku tidak bisa menghancurkan keluargamu, aku akan membawamu ke neraka berrsamaku,” katanya dengan suara dingin mengerikan. Lalu dia menggorok lehernya sendiri dengan pecahan cermin itu.
Caleb menangkap tangannya. Aku melompat ke arahnya. Dia sudah menggelepar. Senyum di wajahnya terlihat mengerikan seolah mengejekku dan menunjukkan kemenangannya. Aku gemas. Aku mendorong tangannya agar menusukkan beling itu lebih dalam. Darah menyembur dari lehernya, m*****i piyama dan kulit pucatnya. Tanganku juga penuh darah. Tapi, aku nggak bisa melakukan apa-apa. Aku mundur, melihat matanya yang terbalik, bagian putihnya menghadap ke atas. Dia makin terlihat seperti orang yang kerasukan dalam film horor. Hanya saja kali ini dia nggak kerasukan apa pun. Nyawanya yang terbang melayang ke luar dari tubuhnya. Dia meninggalkan aku dan Caleb yang berlumuran darah dan bingung apa yang sedang kami hadapi.
Aku melihat Caleb dengan seluruh tubuh gemetar. “Kurasa, kita membunuhnya, Cal.”
***