BRIAN POV *** Aku melirik arloji di tangan kiriku. Mungkin ini sudah yang ke sepuluh kalinya siang ini. Dua puluh menit aku menunggu, tapi Mawar tidak kunjung tampak. Berkali-kali aku menelfon gadis itu, namun tidak ada jawaban. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencarinya ke dalam. Aku masuk ke area kampus tempatku bekerja dulu. Aku berjalan di sebuah lorong panjang kemudian menaiki beberapa anak tangga. Aku tidak tahu dimana gadis itu berada. Aku hanya mencarinya berdasarkan insting saja. Lagi pula, gedung setiap jurusan di pisah. Jadi aku tidak harus mengelilingi semua gedung yang ada. "Fany?" Aku tersenyum saat mendapati sahabat terbaik calon tunanganku itu terdiam di di perpustakaan. Aku berjalan mendekatinya, kemudian menepuk bahunya. "Pak Brian?" kagetnya. Aku tersenyum kemudian d

