Dalton membawa senapan Cheytac M 200 kesukaanku yang diselundupkan dalam tas gitar hitam. Bersama penyerahan senapan DMR itu dia meminta menentaskan segalanya dalam satu bidikan "one shoot one kill" aturan penembak runduk. Saat itu aku masih tak tahu, apa dalam ketetapan hati yang kuat atau masih kepayahan untuk bertahan. Ini hanya sebuah kewajiban yang perlu kupatuhi, semua akan selesai dalam satu tarikan napas. Itu keyakinanku. Dari puncak gedung hotel Silla, angin musim gugur bertiup kencang. Rona matahari tersembunyi malu dipuncak awan. Awan sama yang menaungi Busan yang indah. Ingatan yang tak kuharapkan menggetarkan dua tanganku. Aku gentar, serat-serat air mata mengencang membuatku sesak dan jatuh. Aku menangis tanpa alasan dalam sayup angin yang kesepian. Aku bernapas sekian ka

