“Re, ntar pulang sekolah jalan yuk.”
Rea yang baru akan memasang earphone, menoleh dan menatap Sisca di sampingnya. “Maaf, aku nggak bisa Sis,” tolak Rea.
Sisca mengerucutkan bibir mendengar jawaban temannya itu. “Ayolah, temenin. Gua beneran males pulang ke rumah. Mau ya ….”
“Maaf, aku beneran nggak bisa. Lain kali ya?”
“Nggak seru ah!” gerutu Sisca sambil mengentakkan kakinya. “Elo kenapa sih? Emang elo mau ke mana? Seinget gua hari ini elo nggak ada latihan di Dojo.”
Rea tersenyum kecil. “Maaf, aku beneran nggak bisa.”
“Emang elo mau apa? Atau mau pergi? Ke mana?” Sisca jadi penasaran dengan penolakan Rea yang tidak biasanya.
“Maaf ya.” Rea tidak ingin memberitahu Sisca ke mana dirinya akan pergi. Rea yakin jika Sisca tahu, temannya itu akan memberitahu Robert, sehingga rencananya untuk sendirian ke makam ayahnya akan buyar.
Hari ini adalah peringatan kematian ayahnya. Rea hanya ingin menghabiskan waktu sendirian saja di sana, seperti yang dia lakukan sejak SMP. Menikmati keheningan sambil bermonolog di depan makam. Mengeluarkan keluh kesah yang dirasakan, dan membiarkan ceritanya dibawa pergi oleh angin.
Mendengar penolakan Rea, membuat Sisca benar-benar kesal, sehingga dia mendiamkan Rea selama pelajaran berlangsung. Begitu bel istirahat kedua berbunyi, Sisca bergegas keluar dan berjalan ke kelas Gerry. Dia mempunyai sebuah rencana dan ingin meminta bantuan pada pemuda itu.
Tiba di depan kelas Gerry, Sisca tidak melihat pemuda itu. Dia membalikkan badan dan mencoba mencari gerry di kantin, akan tetapi hasilnya juga sama. Gerry tidak berada di sana. Akhirnya Sisca berjalan ke belakang sekolah dan melihat jika Gerry sedang berkumpul dengan Robert dan dua teman lainnya yang dulu pernah bertemu di warung Mpok Ati.
Sisca berjalan menghampiri Gerry dengan langkah tergesa. “Ger, boleh ngomong bentar nggak?” tanya Sisca begitu tiba di dekat Gerry.
“Cie …, cie …, cie …, yang disamperin sama gebetan,” goda kedua teman Gerry sambil menyeringai jail.
Gerry tidak menanggapi ledekan kedua temannya. Dia menatap Sisca yang tampak kikuk. “Kenapa?” Gerry tidak dapat menyembunyikan rasa senang karena Sisca mendatanginya tanpa diminta.
Dengan pipi merona karena ledekan kedua teman Gerry, Sisca menarik tangan pemuda itu supaya menjauh, sehingga dapat berbicara berduaan saja. Namun, Robert menahan sebelah tangan Gerry. “Ngomongnya di sini aja! Kenapa elo nyari Gerry?!”
Sisca mengerucutkan bibir mendengar perkataan Robert. Dia menggelengkan kepala dan tetap memegang tangan Gerry.
“Cepetan bilang, ada apaan?!” sentak Robert.
Sisca mengembuskan napas gusar, akan tetapi merasa percuma mendebat Robert, karena pasti tidak akan menang. Akhirnya, Sisca mengatakan juga keinginannya di depan ketiga teman Gerry. “Ntar pulang sekolah mau tolong anterin aku nggak?”
Gerry terkejut mendengar permintaan Sisca, sedangkan kedua temannya terkekeh geli setelah tahu tujuan kedatangan Sisca.
“Emang elo nggak bisa pulang sendiri?! Lagian kan elo selalu dianter jemput kayak anak kecil, kenapa juga minta dianter sama Gerry! Dia kan bukan supir lo!” ujar Robert setelah terdiam sejenak.
Sisca benar-benar dongkol mendengar perkataan Robert yang diucapkan tanpa keramahan sedikitpun. “Gue bukan minta dianterin pulang tau!” sentak Sisca dengan berani sambil menatap tajam pada Robert.
“Terus?!” cecar Robert.
“Gue pengen ngikutin Rea!” sahut Sisca gusar. “Kalo pake mobil kan susah, lebih gampang pake motor, bisa selap-selip, dan itu anak nggak akan tau!”
Robert mengerutkan kening mendengar ucapan Sisca. “Emang Rea mau ke mana?”
Sisca mengentakkan kaki, kesal karena akhirnya Robert tahu tujuannya meminta bantuan Gerry. “Gua juga nggak tau, makanya pengen ngikutin! Ditanya anaknya nggak mau jawab. Kan jadi penasaran.”
Mendengar penjelasan Sisca, Gerry pun akhirnya mengerti. “Oke, ntar gua bisa anterin. Gua tunggu di tempat parkir. Nggak pake lama keluar dari kelasnya.”
“Makasih ya. Kalo gitu gua balik dulu.” Sisca tersenyum manis pada Gerry, kemudian membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu.
Gerry memandangi Robert yang tidak banyak bicara setelah Sisca pergi. Kedua teman yang lain pun memilih diam karena raut wajah Robert yang langsung berubah dingin setelah tahu Rea mau pergi.
Gerry menepuk pelan bahu Robert. “Gua yakin, ntar Rea pasti nolak dianterin pulang sama elo. Terus elo bakal gimana?”
“Nggak tau. Gua juga yakin banget kalo cewek jutek bakal ngomong yang sama ke gua kayak yang dia lakuin ke Sisca.”
“Elo penasaran pengen tau kan?” ledek Gerry sambil tersenyum menyebalkan. “Penasaran mah tinggal ngikut aja Bet, susah amat. Urusan kalo nanti Rea tau, bisa dipikirin belakangan.” Gerry melanjutkan perkataannya.
Robert tetap tidak membalas perkataan Gerry dan memilih diam hingga bel masuk berbunyi. Sepanjang sisa pelajaran, Robert tetap diam. Pikirannya hanya tertuju pada Rea dan apa yang akan dilakukan gadis itu setelah pulang sekolah.
Begitu bel pulang berbunyi, Robert meninggalkan kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Gerry. Tujuannya hanya satu, yaitu mendatangi kelas Rea dan menunggu gadis itu. “Pulang sekarang?” Robert mencegat Rea yang baru keluar dari kelas.
Rea mengelengkan kepala. “Maaf, hari ini aku pulang sendiri.” Tanpa menunggu jawaban Robert, Rea berjalan melewati pemuda itu yang terhenyak mendengar penolakan gadis itu.
Hanya sesaat saja Robert diam, kemudian dia bergegas mengejar Rea dan mencekal pergelangan tangan gadis itu. “Elo mau ke mana? Biar gua anter.”
Rea berusaha melepaskan cekalan Robert, risih karena beberapa anak memperhatikan sambil berbisik-bisik. “Aku ada perlu, jadi nggak akan langsung pulang.”
“Gua anter!” sahut Robert tegas.
Rea menatap Robert sambil menyunggikan senyum kecil. “Maaf, hari ini ijinin aku pulang sendiri ya.”
Robert mengembuskan napas gusar mendengar penolakan gadis keras kepala di hadapannya. “Terserah!” Robert melepaskan cekalan tangannya dan berlalu meninggalkan Rea.
Rea menatap kepergian Robert dengan sedih. “Maaf, tapi aku nggak bisa ajak kamu ke sana,” gumam Rea lirih.
Rea berjalan perlahan menuju gerbang sekolah, dan terus melangkah hingga tiba di halte. Dia berdiri menunggu bis yang akan membawanya ke TPU, tempat ayahnya dimakamkan. Saat bis yang ditunggu datang, Rea naik dan tidak melihat ada dua buah motor yang berhenti tiak jauh dari halte.
Motor yang dikendarai Robert dan Gerry yang membonceng Sisca mengikuti bis yang ditumpangi Rea. Robert dan Gerry menghentikan motor saat melihat Rea turun dari bis. Mereka melihat Rea berjalan mendatangi sebuah toko bunga kecil. Tidak lama kemudian, mereka melihat Rea keluar sambil membawa buket bunga di tangannya.
“Itu anak mau ke mana? Ngapain beli bunga segala? Dia mau ketemu sama siapa?” Hati Robert dipenuhi banyak pertanyaan melihat kelakuan Rea.
Robert dan Gerry tetap mengikuti Rea dari jarak yang tidak terlalu jauh. Mereka semakin bingung saat melihat Rea memasuki pemakaman. Robert dan Gerry mengendarai motor memasuki area pemakaman. Setelah memarkir kendaraan, bertiga mereka bergegas mencari-cari sosok Rea. Setelah menemukan gadis itu, Robert, Gerry, dan Sisca berjalan di belakang, mengikuti Reahingga gadis itu berhenti di depan sebuah makam.
Rea berjongkok di sisi pusara yang bertuliskan nama ayahnya. Dia mengusap batu nisan dari marmer hitam dengan penuh kasih. “Halo Pa, apa kabar?” Rea meletakkan buket bunga ditengah nisan dengan hati-hati.
“Hari ini Rea dateng sendiri lagi. Mama lagi sibuk, jadi nggak bisa dateng. Papa nggak marah kan?” Suara Rea bergetar menahan tangis yang ditahannya sejak tadi. “Sekarang Rea udah SMA, udah pake seragam putih abu. Pengen banget Papa bisa liat, dan peluk Rea kayak yang biasa Papa lakuin dulu.” Rea menyeka bulir air mata yang mengalir tanpa bisa dicegah. “Rea kangen banget sama Papa. Kenapa sih Papa perginya cepet banget? Rea belum puas nikmatin hari-hari sama Papa. Masih banyak hal yang belum sempet kita nikmatin berdua.”
Di belakangnya, baik Robert, Gerry, dan Sisca dapat mendengar dengan jelas semua perkataan Rea yang sangat menyentuh hati. Sisca menghapus air matanya. Dia tidak pernah menyangka jika Rea sangat kesepian dan merindukan sosok ayah yang sudah terlebih dahulu pergi. Dibandingkan dirinya yang selama ini selalu mengeluh karena kurang perhatian, ternyata ada yang lebih menderita darinya, karena tidak akan pernah bisa bertemu lagi selamanya.
Sementara Robert menatap punggung Rea yang berguncang karena menangis dengan perasaan campur aduk. Ternyata seorang Rea adalah sosok yang rapuh di dalam, walaupun selalu bersikap sebaliknya dalam hidup sehari-hari. Semakin kuat keinginan Robert untuk selalu menjaga dan melindungi gadis itu.
Robert berjalan menghampiri Rea dan berdiri tepat di belakang gadis itu. “Kenapa nggak bilang kalo mau nengok bokap? Kan aku bisa anterin ke sini, sekalian kenalan sama bokap.”
Rea terkejut dan mendongak ke atas saat mendengar suara Robert. “Kamu ngapain ke sini? Kok bisa tau aku di sini?”
Robert tidak menjawab pertanyaan Rea, dan memilih untuk jongkok di samping gadis itu. “Selamat siang Om,” sapa Robert sambil menyentuh rumput yang menyelimuti pusara. “Saya Robert, kakak kelas Rea.” Robert memperkenalkan diri tanpa merasa canggung sedikitpun.
Melihat kelakuan Robert, Gerry dan Sisca bergegas mendekat dan ikut berjongkok di sisi lain pusara.
“Selamat siang Om,” ujar Sisca berusaha ceria. “Saya Sisca, sahabat sekaligus teman sekelas, juga temen sebangkunya Rea. Seneng bisa kenalan sama Om.”
“Saya Gerry Om, temennya Robert. Apa kabar?”
Rea menatap ketiga orang yang berjongkok bersamanya. Ada rasa haru melihat mereka datang dan menemani dirinya. “Pa, udah liat temen-temen Rea kan?” Suaranya tersendat menahan kesedihan yang kembali hadir. “Mereka selalu temenin Rea dan selalu baik sama Rea.”
Robert menatap pusara dan berjanji dalam hati. “Saya janji bakal jagain Rea, dan bikin dia seneng terus. Menjadi orang yang akan selalu ada buat Rea, juga bikin dia bahagia.”
Setelah merasa lega dan puas, Rea berniat pulang, karena hari sudah mulai sore. “Pa, Rea pulang dulu ya. Nanti Rea ke sini lagi. Papa jangan kuatir, Rea pasti rajin belajar dan juga berlatih, seperti yang Papa mau. Selalu sayang sama Papa.”
Rea bangkit berdiri, dan berjalan meninggalkan makam ayahnya. Robert, Gerry, dan Sisca pun mengikuti Rea setelah berpamitan di depan pusara.
“Kenapa nggak bilang kalo mau ke sini?” tanya Robert sembari menjajari langkah Rea.
“Karena aku mau sendirian,” sahut Rea tenang. “Kenapa kamu ngikutin aku?” Rea menghentikan langkah dan menatap Robert dengan rasa ingin tahu.
“Aku penasaran sama tempat yang mau kamu datengin,” sahut Robert tanpa merasa bersalah. “Dan aku harus tau segala sesuatu yang kamu lakuin, ka-”
“Kenapa?” Rea menelengkan kepala, menunggu Robert menjawab pertanyaannya.
“Masa kamu nggak tau? Masa iya masih harus aku jelasin?”
“Karena aku emang nggak tau,” sahut Rea tenang. “Kalo Sisca yang penasaran dan pengen tau ya wajar, karena dia temen aku. Tapi kalo kamu kan beda,”
“Beda di mananya?!” sela Robert gusar.
“Kan kamu kakak kelas, dan nggak ada hubungan apa-apa juga sama aku.”
“Kata siapa nggak ada?!”
“Kata aku. Kenapa mesti marah? Kan aku ngomongnya bener.”
Robert mengangkat tangan ke atas, kehilangan kata-kata dalam sekejap mendengar jawaban yang meluncur dari bibir Rea. Sementara Gerry menepuk kening dengan keras, gemas dengan keluguan Rea. Sedangkan Sisca menggeleng pasrah.
“Elo tuh bodoh, pura-pura nggak tau, atau emang polos banget sih?!” Robert benar-benar gemas dengan sikap Rea.
“Kalo emang nggak tau, mau diapain,” sahut Rea bingung.
Sisca semakin gemas mendengar jawaban temannya. “Re, masa elo nggak tau sih kalo Robert itu sayang sama eo, jatuh cinta sama elo! Makanya dia begitu ke elo! Kan elo juga pacaran sama dia, jadi kan wajar juga kalo dia pengen tau semua tentang elo.”
“Pacar?” gumam Rea. “Kan cuma pacaran boongan, supaya Lydia nggak bisa usik aku?” Rea menatap Robert dengan lugu.
“Bet, boleh nggak gua jitak kepala itu anak sekali aja? Siapa tau habis dijitak jadi bisa mikir?” ujar Gerry gemas.