WISNU Malam ini, tepat sebelum gue berangkat untuk menjemput Keyfa, bokap tiba-tiba datang. Sejak awal muncul, wajah bokap dihiasi aura kemarahan. Gue gak tahu pemicunya apa. Gue coba ajak ngeteh sebentar, bokap memilih pergi ke balkon. Gue ikuti. Gue tahu ada hal penting yang ingin dia sampaikan ke gue. “Ayah kandung Keyfa udah bebas, Nu?” Bokap memulai obrolan. “Udah, Pi.” “Papi lihat di kantor tadi.” Papi mereguk kopinya. Tanpa bokap bilang pun, gue udah tahu. Bokap menggunakan koneksinya di kantor buat mendeteksi keberadaan Pak Faruq. Bukannya gue enggak sadar kalau bokap juga menyuruh karyawan di kantor mengawasi gue secara diam-diam setelah Pak Faruq datang ke kantor untuk pertama kalinya. Cuma gue milih diam karena takut Keyfa akan curiga. “Oh, iya. Kenapa emangnya, Pi?” Gue m

