“Justru aku yang ingin bertanya, kenapa beberapa bulan ini kau membuntutiku? Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Aaric. Alih-alih gemetar, Aaric justru mencercar Sang Ajudan. “Kau salah sangka,” jawabnya. “Lalu apa? Kau selalu muncul di semua tempat yang aku sambangi, kau pikir aku tak menyadari?” tanya Aaric. “Hanya kebetulan,” “Tak ada yang kebetulan,” balas Aaric lugas. “Baik, Nak. Aku akan menjelaskan semua yang mau kau tahu. Aku mengundangmu untuk minum teh, itupun jika kau tak keberatan,” ucap Sang Ajudan. Aaric mengangguk. Sang Ajudan kemudian mengajak Aaric masuk ke rumahnya. Sebuah rumah tua, yang kebanyakan interiornya terbuat dari kayu. Mendadak Aaric jadi teringat rumah kakeknya di Ramsau. “Duduklah, Nak!” ucap Sang Ajudan. Sambil menyiapkan teh hangat. Tak lama ia meny

