Kartu 81

1136 Kata

“Aku membenci takdirku. Terkadang aku selalu menyesali diri, karena kita tidak bisa memilih harus terlahir dari orang tua yang seperti apa,” ucap Christina. Ia memandang lurus ke depan. Tampak dari atas balkonnya dua menara gereja kembar di Marienplatz. “Mengapa kau berkata begitu? Biar aku tebak, apa kau belum berbaikan dengan ibumu?” tanya Aaric. “Entahlah,” jawab Christina. “Kau jangan begitu, Christy, bagaimana pun dia adalah ibumu,” komentar Aaric. “Meskipun ia penyihir?” tanya Christina. “Ya, sekali pun ia adalah penyihir,” jawab Aaric. Aaric sama sekali tak berpikir apa-apa. Apa lagi menganggap Elli adalah penyihir sungguhan seperti yang dikatakan Christina. Padahal Christina sedang mengatakan hal yang sebenarnya. Christina melirik ke arah Aaric. “Kau tak takut pada penyih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN