Sebenarnya, Wilona tahu persis siapa wanita yang saat ini berdiri di samping suaminya. Dia adalah Karin Anindita, penyanyi terkenal dengan tubuh seksi dan penampilan yang selalu mencuri perhatian. Bukan hanya Wilona, semua orang pun tahu betapa memikatnya Karin dibanding dirinya yang biasa-biasa saja.
Tanpa ragu, Wilona langsung melangkah mendekat, merenggut Devan dari cengkeraman Karin. Namun, dirinya sendiri bingung, apa yang sebenarnya mendorongnya untuk bertindak seperti itu, padahal pernikahan mereka hanya kontrak semu yang tak pernah lebih dari sekadar kesepakatan kosong.
Di sisi lain, Karin menatap tajam Wilona dengan penuh sinisme. "Jadi, ini istrinya Devan? Manis sih, tapi penampilannya terlalu biasa," gumamnya dalam hati, dia tak percaya Devan sanggup berpaling hanya untuk wanita seperti itu. Matanya menantang, dingin dan tak kenal ampun.
Wilona menggertakkan gigi, suaranya lirih tapi penuh tekad, "Mbak, jangan bengong. Sudah cukup ya, jangan tarik-tarik tangan suamiku lagi." Dia menatap Karin tanpa takut. "Padahal Mbak itu 'kan, cantik. Kalau mau gatal sama laki-laki lain, silakan. Tapi jangan sekali-kali mengganggu suamiku!"
Di balik tatapan itu, ada bara kemarahan yang siap meledak kapan saja, karena hatinya menolak kalah dalam pertarungan yang tak pernah mereka inginkan ini.
Karin meradang mendengar ucapan Wilona yang menusuk hatinya. "Diam! Kamu yang perempuan gatal! Kamu seharusnya sadar diri, kamu sama sekali tidak pantas untuk Devan!" Suaranya bergetar, tajam seperti pisau. "Penampilan biasa saja, kucel. Berani sekali kamu bicara seperti itu tentang aku. Kamu benar-benar tidak tahu siapa aku?"
"Nggak penting! Tapi kenyataannya, sekarang aku istri Devan. Dan kamu siapanya, hah? Bukan siapa-siapa, 'kan?" tantangnya dengan santai.
Emosi Karin meledak, tangannya seketika terangkat hendak menampar Wilona. Tapi sebelum itu terjadi, tangan Devan tiba-tiba menyambar, menahan pukulan yang hendak mendarat di pipi mulus itu.
Mata Devan menyipit tajam, suaranya bergetar penuh ancaman, "Jangan pernah sakiti istriku!"
"Astaga! Apa aku benar-benar nggak salah dengar ini?" pikir Wilona dalam hati, matanya membelalak. "Devan bilang aku istrinya, di depan mantan kekasihnya?"
Mendengar hal itu, amarah Karin semakin membara bak kobaran api, rasa tak terima merayapi setiap nadinya. "Lepaskan tanganku, Devan! Kamu menyakiti aku!" Suaranya pecah, setajam duri.
Akhirnya, Devan melepas cengkeramannya, tapi dengan kasar ia menghempaskan tangan Karin, meninggalkan luka yang tak hanya terasa di kulit, tapi juga di dalam d**a Karin yang remuk redam.
"Kamu benar-benar berubah, Dev. Padahal aku menemui kamu bukan untuk main-main. Aku datang untuk meminta maaf, aku menyesal sudah meninggalkanmu waktu itu. Sekarang aku sudah siap. Aku mau menikah sama kamu," rengek Karin, suaranya pecah penuh harap.
Tapi Devan hanya menatap dingin, seakan segala penyesalan itu sia-sia. "Sudah terlambat. Kamu lihat sendiri, aku sudah punya istri. Jadi, jangan pernah menggangguku lagi!" ucapnya tegas tanpa ampun.
Tangan Devan merenggut lengan Wilona, lalu ia membawa istrinya itu menjauh, memisahkan Karin dari mimpi-mimpi yang hancur berkeping.
Karin terpaku, terkejut dan terluka. Matanya menyusuri punggung Devan yang menjauh, sementara sosok Wilona ikut menghilang dalam keramaian. Sebelum lenyap, Wilona menoleh, melemparkan senyum penuh kemenangan yang menusuk jiwa Karin seperti belati.
"Kurang ajar. Aku tidak bisa terima ini. Lihat saja, Devan tidak boleh menjadi milik siapa-siapa selain aku!" gumam Karin dengan api dendam yang berkobar di d**a.
***
Di perjalanan, suara Devan memecah keheningan, dingin dan menusuk, "Sebenarnya, kamu tahu 'kan, siapa perempuan tadi? Apa maksudmu?
"Ya, itu memang benar. Aku tahu kok, dia mantan kamu. Tapi, hanya mantan, 'kan? Itu sama sekali nggak penting! Yang terpenting adalah, hubungan kita sekarang!" sahut Wilona dengan tegas.
Seketika, udara di sekitar mereka seolah membeku dalam diam yang menyesakkan. Kedua sosok itu terpaku, hanya napas yang terdengar berat, sebelum Wilona akhirnya memecah keheningan dengan suara bergetar.
"Tapi, kamu jangan sampai kegeeran dulu," ucapnya pelan. "Aku sengaja melakukan itu supaya pernikahan kita tetap bisa terjaga, walaupun hanya pernikahan kontrak. Kalau sampai ada orang luar tahu kamu masih berhubungan dengan mantan, padahal kamu sudah punya istri, bagaimana? Kasihan kalau oma mendengarnya. Oma baru saja sembuh. Jangan sampai hal ini memperburuk kesehatan oma lagi. Kamu juga nggak mau 'kan, hal itu terjadi?"
Kata-kata itu menggantung berat di udara, menusuk Devan lebih dalam dari yang ia duga. Dalam hati, dia bermonolog dengan dirinya sendiri, "Masuk akal juga, jadi ini hanya tentang oma."
"Aku juga meminta Karin untuk tidak menggangguku lagi, itu demi oma. Bagaimanapun juga, aku sudah punya istri kontrak," balas Devan, dia menekankan ujung kalimatnya, menutup ruang untuk perdebatan.
Wilona hanya mampu terdiam, memaksa diri menerima kebenaran yang pahit itu. Meski hatinya meronta-ronta, sebuah kesadaran mengiris sadar bahwa ucapan Devan memang tak bisa dipungkiri. Ada luka yang diam-diam tumbuh, luka yang tak ingin ia akui.
***
Devan menghentikan mobilnya di depan butik dan salon yang megah, membuat Wilona bingung bukan main. Baru tadi, suaminya itu bersikeras mengatakan jika mereka akan pulang ke rumah, tapi kenapa justru berbelok ke sini? Apa sebenarnya rencana Devan? Wilona merasa seolah semua jawabannya terkunci rapat, tak mampu dia baca.
"Ayo, masuk," ajak Devan singkat, saat mereka melangkah keluar dari mobil dan berdiri di depan butik itu.
Wilona menatap tajam, suara gemetar keluar dari bibirnya, "Kamu mau apa sebenarnya?"
"Sudah sebulan kamu menjadi istriku. Kamu juga tahu, aku ini siapa. Kamu sebagai seorang istri, harus selalu siap berada di sisiku, menghadiri pertemuan dan acara penting," ujar Devan, berharap Wilona mengerti.
Namun nyatanya, dahi Wilona mengkerut, bingung. "Lalu, kenapa kamu tiba-tiba bawa aku ke sini? Apa hubungannya?"
Devan menatap dalam ke mata istrinya, nada suaranya berwibawa, "Sebagai istri dari orang nomor satu di kota ini, kamu harus mulai berubah, Wilona. Penampilanmu kurang cocok untuk dunia yang kamu jalani saat ini!"
Mata Wilona membesar, hati dan pikirannya berserakan. "Jadi, maksudmu selama ini aku jelek? Atau ... aku kalah cantik dari mantanmu itu?!" Suaranya nyaris pecah. Wilona menggenggam erat kata-katanya sendiri, "Tapi itu wajar, 'kan? Dia seorang penyanyi yang memang harus memperhatikan penampilannya. Sedangkan aku? Aku cuma perempuan biasa, Devan!"
Devan menarik napas panjang, suara dan gerak tubuhnya mulai menandakan ketidaksabaran, "Sudahlah, jangan banyak bicara!"
Tanpa menunggu jawaban, ia menggenggam tangan Wilona dengan kuat, menarik istrinya itu masuk ke dalam butik, meninggalkan kebingungan dan luka yang tiba-tiba mengoyak jiwa Wilona.
Begitu berada di dalam, keduanya langsung disambut oleh pelayan dengan ramah. "Selamat datang Pak Devan dan Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
"What? Ibu, memangnya aku kelihatan sudah tua, ya? Panggil Wilona saja," protes Wilona kesal.
Devan segera menyela, "Jangan dengarkan ocehannya. Ubah penampilan istri saya menjadi yang terbaik!"
"Baik, Pak," jawab pelayan dengan nada resmi sebelum segera memalingkan badan. "Mari, Bu Wilona, ikut saya."
Tanpa menunggu lama, Wilona diantar menuju salon, tempat di mana hidupnya akan berubah selamanya. Pertama, ia menjalani perawatan dengan tangan-tangan terampil yang membentuk kembali penampilannya. Rambut yang dulu biasa kini bergelombang indah dan riasan yang sempurna mempertegas setiap lekuk wajahnya. Kemudian, datanglah momen magis itu. Gaun pendek selutut dengan potongan d**a yang memikat membalut tubuh Wilona, sempurna, memukau dan jauh dari bayangan dirinya yang dulu.
Wilona menatap dirinya di cermin dengan mata membelalak, tidak percaya pada pantulan yang memandang balik. "Ternyata, uang memang bisa mengubah segalanya," bisiknya pelan, namun senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Mari, Bu, waktunya bertemu Pak Devan," ujar pelayan, matanya bersinar penuh arti.
Langkah mereka mengarah ke ruang tunggu depan, di mana sosok Devan duduk menunggu, asyik dengan ponselnya.
"Pak Devan, Bu Wilona sudah selesai," ujar pelayan dengan antusias.
Saat kepala Devan terangkat, matanya langsung terkunci pada Wilona, seolah waktu terhenti. d**a pria itu sesak, dia meneguk salivanya secara kasar, tak mampu mengekspresikan apa yang tiba-tiba menguasai hatinya. Wilona, yang selama ini hanya berpenampilan biasa saja, kini memancarkan kecantikan yang seolah tersembunyi, tak terelakkan, menyihir tanpa kata, menghancurkan pertahanan sekaligus mengguncang jiwa Devan.
Bersambung …