Bab 05. Sama-Sama Tidak Tahu Diri

1142 Kata
Devan terpaku, matanya membelalak menatap sosok yang berdiri di depannya. Wilona, bersinar dengan pesona yang sebelumnya tersembunyi rapat, seolah wajah dan sikap istrinya itu memancarkan cahaya baru yang menggoda dan penuh misteri. "Bagaimana penampilanku sekarang?" tanya Wilona, suaranya mengandung rasa ingin tahu dan sedikit cemas. Devan sama sekali tak mengalihkan pandangannya, senyum kecil yang tak terduga mengambang di sudut bibirnya. "Cantik," jawabnya singkat, tapi lirikan matanya mengungkapkan lebih dari sekadar kata-kata. Wilona mendekat, suara penuh ragu tapi ingin memastikan," Serius? Aku nggak salah dengar, 'kan?" Devan tersentak, seakan baru terbangun dari lamunannya. Tatapannya berubah datar. "Memangnya aku mengatakan apa? Tentu saja kamu mengalami perubahan besar. Aku sudah membayar mahal untuk ini." "Ck, iya aku juga tahu salon ini nggak murah. Jelas-jelas tadi kamu bilang aku cantik. Gengsi banget mau jujur," cibir Wilona pelan. Devan hanya diam, menatap Wilona seperti mencoba mengukir setiap detail keindahan dalam ingatannya tapi enggan mengakui. Tanpa berkata-kata lagi, dia menggandeng tangan Wilona dan menarik istrinya keluar dari tempat itu. *** Akan tetapi, perjalanan mereka belum berakhir sampai di situ. Bukannya pulang ke rumah, Devan membawa Wilona ke salah satu mall terbesar di kota tersebut. "Sekarang apa lagi, Devan?" tanya Wilona, suara penuh rasa penasaran dan bingung tak mengerti. Devan menatap Wilona dengan senyum samar, seolah ada kejutan yang siap terungkap, membuat udara di antara mereka mendadak penuh dengan janji dan kemungkinan. "Aku sudah memberimu uang bulanan seratus juta. Aku mengerti kalau kamu tidak mau menggunakannya, mungkin untuk menabung. Tapi, bagaimana dengan kartu kredit tanpa batas limit yang aku berikan? Kenapa sampai sekarang aku belum menerima satu pun notifikasi kalau kamu sudah menggunakannya? Apa kamu ini bukan perempuan yang hobi belanja?" Devan bertanya, alisnya berkerut tak percaya. "Mana ada perempuan yang nggak pernah terbuai godaan diskon atau barang baru?" jawab Wilona jujur, mencoba tetap tenang meski sedikit terganggu. "Hanya saja aku nggak suka terlalu boros, semua kebutuhanku juga sudah kamu penuhi. Tapi jujur saja, sebenarnya aku juga mau belanja tadi sama sahabatku. Tapi tiba-tiba kamu datang dan menculikku," ucapnya dengan nada bercanda tapi penuh arti. Devan menatap istrinya, seolah tak percaya. "Menculik? Kamu pikir aku ini penjahat? Dan untuk apa juga aku harus menculik kamu yang sudah pasti menurut ke mana pun akan aku bawa?" Wilona mengangkat bahu, menyembunyikan rasa kesalnya. "Oke, oke, kamu menang kali ini. Aku malas untuk berdebat. Kalau memang tidak ada urusan di sini, lebih baik kita pergi." "Tunggu dulu. Kata siapa kita tidak ada kepentingan?" Devan memegang tangan Wilona kembali, menarik wanita itu masuk ke dalam salah satu toko perhiasan mewah, di mana harga bertaburan seperti bintang di langit, fantastis dan menggoda. "Ada yang bisa saya bantu, Pak, Bu?" Pelayan menyapa dengan senyum ramah, suaranya begitu lembut namun penuh perhatian. Devan mengangguk singkat. "Keluarkan perhiasan terbaru kalian, yang paling mahal dan mewah untuk istri saya," pesannya tegas, tapi ada getar harapan di balik suara dinginnya. "Baik, Pak," jawab pelayan itu sambil segera menyiapkan barang-barang berharga seperti yang diminta. Tiba-tiba, ponsel Devan bergetar di saku. Ia menatap layar dengan raut serius. Panggilan penting dan tak bisa diabaikan. "Wilona, aku jawab telepon dulu. Kamu lihat-lihat saja, kalau ada yang kamu suka, langsung bilang saja ke pelayannya," katanya, suaranya tenang. Wilona mengangguk, lalu Devan pun berbalik, melangkah menjauh untuk menjawab telepon itu. Tak lama kemudian, pelayan mengeluarkan sebuah set perhiasan yang memukau. "Ini, Bu perhiasannya. Limited edition, hanya ada satu di Indonesia," katanya sambil menatap Wilona yang langsung terpaku pada kilau berlian itu. Namun, ketenangan itu segera pecah ketika sebuah tangan tiba-tiba merampas perhiasan tersebut. "Wow, bagus banget. Aku mau yang ini ya, Sayang." Suara wanita itu manja tapi penuh kepemilikan, diiringi tawa ringan yang menusuk. Wilona terkejut, dadanya sesak. Namun yang membuatnya semakin terkejut adalah saat ia menangkap sosok wanita yang dikenalnya itu, berdiri di samping pria yang tak asing baginya pula. "Dimas, Clara?" gumamnya, seakan tak percaya. Dimas, mantan kekasih Wilona, matanya melebar penuh keterkejutan. "Wil-Wilona?" gumamnya, suaranya nyaris tersendat. Wilona menatap tajam, d**a berdebar tidak menentu. Pria itu bukan hanya kekasih lama, melainkan luka lama yang tiba-tiba menganga kembali. Clara melangkah dengan senyum sinis, suaranya menusuk, "Oh, ternyata ini mantan kekasihmu, Sayang? Perempuan miskin yang hanya bekerja sebagai perawat, tapi berani-beraninya muncul di toko perhiasan mewah, bahkan berniat membeli barang mahal? Nggak tahu diri banget!" ujarnya dengan angkuh. Menahan amarah, Wilona membalas dengan dingin namun menusuk, "Oh, jadi kamu merasa paling kaya dan paling berhak di sini, ya?" Sebelum Clara menjawab, dia melanjutkan dengan nada mengejek, "Ya, aku ingat betul waktu SMA kamu selalu membanggakan dirimu adalah orang terkaya hanya karena orang tuamu pejabat. Tapi itu bukan segalanya!" Teguran itu menggantung di udara, meninggalkan ruang sunyi penuh ketegangan dan luka lama yang belum sembuh. Tiba-tiba, Clara tersenyum penuh kesombongan, sorot matanya menyimpan kebanggaan yang menyakitkan. "Memang kenyataannya 'kan, seperti itu? Tidak seperti kamu, Wilona! Orang tuamu hanya punya toko kelontongan di kampung. Dan sekarang, kamu berdiri di sini, di tempat yang seharusnya hanya dikunjungi orang-orang kaya. Walaupun pakaianmu terkesan mewah, tapi jelas-jelas KW," ucapnya dengan nada sinis yang menusuk hati. Kesombongannya melebur jadi duri yang menyayat. "Sudah cukup, Clara. Ayo kita pergi dari sini," ajak Dimas seraya menarik tangan Clara. Akan tetapi, Wilona tak mau melewatkan kesempatan. Dia tersenyum sinis. "Kenapa, Dimas? Kamu takut? Jangan lupa, kamu punya hutang padaku. Sekarang pacarmu orang kaya, 'kan? Minta saja dia yang membayarnya." Clara merasa terkejut. Ia menggeleng tak percaya, seolah mendengar omong kosong. "Jangan asal bicara! Mana mungkin Dimas punya hutang. Dia baru saja memenangkan tender besar dan bahkan berencana membelikanku perhiasan mahal di sini. Sedangkan kamu? Apa yang bisa kamu lakukan? Atau jangan-jangan, kamu mau mencuri? Kamu tidak akan pernah selevel denganku, perempuan kampung!" Kata-katanya tajam, menusuk seperti pedang yang dihunus tanpa ampun. Ada kebencian dan tantangan yang mengambang dalam udara di antara mereka, menegaskan jurang yang tak mungkin dijembatani. Wilona mendengus, "Cih, jadi sekarang kamu sudah punya uang, Dimas? Kalau begitu, kembalikan uangku! Aku yang selama ini dikejar-kejar hutang karena ulahmu dan aku juga yang membayar semua hutang-hutangmu itu!" Dia menatap tajam, suaranya bergetar penuh kemarahan. Dimas terkejut, penuh kebingungan dan tak percaya. "Apa? Kamu bayar hutang itu? Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu, Wilo?" Wilona membalas dengan nada dingin dan penuh dendam. "b******k! Bukan urusanmu dari mana aku dapatkan uang itu. Yang jelas, aku tidak akan membiarkan kamu lepas begitu saja. Kamu sudah mengorbankan namaku untuk berhutang, lalu kabur begitu saja. Sekarang, kamu malah santai dengan pacar barumu seperti tidak pernah terjadi apa-apa! Kalian berdua benar-benar sangat cocok. Sama-sama tidak tahu diri!" Amarah Clara seketika membara. "Kurang ajar!" teriaknya, lengan kanannya terangkat hendak menampar Wilona. Namun, sebelum tangan itu menyentuh pipi mulus Wilona, sebuah tangan kekar dan tegap merenggutnya dengan kekuatan mengejutkan. Clara terdiam, matanya melebar, menatap sosok pria gagah dan tampan yang kini berdiri di antara mereka, membendung amarah yang hampir meledak. Udara seketika terasa mencekam, pertarungan tak terucapkan tengah berlangsung di antara keempat mata yang saling menantang. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN