Bab 06. Hadiah Dari Suami

1135 Kata
"Siapa laki-laki tampan ini? Sosoknya memancarkan aura kekayaan dan kekuatan yang sulit disangkal. Tapi, kenapa dia malah membela Wilona?" Pikiran Clara bergejolak, menolak menerima kenyataan itu. Ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria tersebut, tetapi tangan yang kuat itu mengekangnya dengan tak terduga. "Lepaskan tanganku!" rintih Clara, lidahnya kelu sementara d**a bergejolak menahan sakit yang menyiksa. Suara pria itu berat menggelegar, "Berani sekali kamu menyentuh wanitaku! Apa kamu sudah bosan menggunakan tanganmu ini?" Pria yang tak lain adalah Devan itu, berdiri tegak dengan sorot mata yang membara, mengusir siapa pun yang berani melawan. "Dev, lepaskan dia." Wilona bersuara, tegas meski ada getar ketegangan di dalamnya. Akhirnya, meski kesal tapi Devan melepaskan tangan Clara dengan kasar. "Siapa kamu? Berani sekali kamu bertindak kasar seperti itu, padahal kamu tidak tahu apa-apa!" Clara menatap Devan dengan keberanian yang menyala-nyala, menantang pria itu meski ada rasa gentar dalam hatinya. Devan membalas dengan suara lantang penuh kewibawaan, "Jaga ucapanmu! Kalian hanya sampah yang tidak pantas menghina atau memperlakukan istriku dengan buruk!" Dengan satu tarikan tangan yang kuat, ia meraih Wilona ke dalam rangkulannya, seolah ingin memastikan tidak ada yang berani mengusik wanitanya lagi. Jantung Wilona berdetak lebih kencang dari biasanya. Terkejut, gelisah, namun anehnya, dia juga tak berontak. Diamnya itu malah menambah misteri dalam pelukan yang menghangatkan sekaligus membingungkan itu. "Apa? Istri? Jadi kamu … suami Wilona?" Dimas terkejut, suaranya bergetar tak percaya. "Tidak! Itu tidak mungkin! Wilona, bilang sama aku kalau itu tidak benar, 'kan? Siapa dia sebenarnya, Wilona? Atau kamu sengaja menyewa orang untuk besandiwara, sengaja mau membuatku cemburu?" Tatapannya penuh selidik dan curiga. Wilona menatap dingin, senyum tajam menghiasi bibirnya. "Cih, kamu terlalu percaya diri. Untuk apa, aku harus membuatmu cemburu? Memangnya kamu siapa? Hanya lelaki busuk yang tidak tahu diri!" Suaranya penuh amarah. "Apa kamu pikir, kamu pantas diperlakukan seperti itu? Sama sekali tidak!" Tiba-tiba Devan memotong, nada suaranya penuh cemooh, "Oh, jadi dia ini mantan kekasihmu yang sudah memakai namamu untuk berhutang, lalu kabur begitu saja?" Wilona mengangguk pelan, mata bersinar dengan tekad yang membara. "Ya, dia orangnya. Orang yang tidak bertanggung jawab. Dan sekarang, aku tidak akan membiarkannya bebas begitu saja. Dia harus membayar semua hutang yang sudah aku lunaskan!" Devan mengangguk mantap. "Baiklah, aku akan mengurus semuanya." Dimas tertawa sengit, meledek dengan enteng, "Mau apa kalian? Hutang itu juga sudah lunas, 'kan? Jadi, untuk apa dibahas lagi?" Namun, di balik tawa sinisnya, udara terasa semakin panas. Perseteruan ini bukan sekadar soal hutang, melainkan luka yang terlalu dalam untuk disembunyikan. Wilona menatap tajam, Dimas meremas genggaman tangannya dan Devan berdiri kokoh siap menghadapi badai yang akan datang. "Cukup, Wilona! Berhentilah bersandiwara. Hampir saja aku tertipu dengan semua kebohonganmu ini. Kamu hanya perempuan miskin dari kampung, mana mungkin tiba-tiba menikah dengan laki-laki kaya. Pasti ini hanya akting, kamu menyewanya, 'kan?" Suara kasar Clara menusuk telinga Wilona seperti cambukan. "Sudahlah, Wilona. Sadar diri! Dari mana kamu dapatkan uang untuk membayar orang sewaanmu ini? Atau jangan-jangan … kamu jual diri sama laki-laki hidung belang?" hinanya tanpa beban, tak peduli efek kata-katanya. PLAK! Hingga tiba-tiba, tamparan keras mendarat di pipi Clara. Bukan dari Wilona, melainkan Devan. Pria itu berdiri tegap, melindungi istrinya dengan kemarahan yang menyala-nyala. Wilona terdiam, terkejut hingga terperangah. Ia tak menyangka Devan akan bertindak sekeras itu untuk membelanya, padahal hatinya sendiri perih, bergejolak menahan amarah yang hampir meledak. Namun mengapa justru Devan yang maju terlebih dulu? Kemarahan Clara membuncah, matanya menyala penuh luka. Dia memegangi pipinya yang terasa perih, bekas tamparan itu. "Dimas, kamu diam saja melihat aku diperlakukan seperti ini?" Ia membentak, d**a sesak tak tertahankan. Dimas mencoba meredakan, "Sudahlah, lebih baik kita pergi. Jangan buat masalah semakin besar." "Kamu benar-benar pengecut, Dimas!" Clara menepuk d**a Dimas, napasnya memburu. "Ini semua hanya sandiwara. Kamu percaya, Wilona nikah sama orang kaya? Jangan bodoh! Mereka hanya tukang tipu!" Suaranya pecah, tapi tatapannya membakar, menantang langit. Dimas hanya menunduk, kata-kata Clara menghujam tanpa jawaban. Devan melangkah maju, suaranya memerintah pada pelayan toko, "Panggil manajer kalian sekarang juga!" Tak membutuhkan waktu lama, sosok sang manajer muncul, tanpa basa-basi langsung menghampiri Devan. "Maaf, Pak Devan. Ada apa sampai Anda marah seperti ini?" tanyanya, nada suaranya sarat ketakutan. Devan melotot tajam, menunjuk ke arah Clara dan Dimas. "Jika dua sampah ini masih ada di sini, saya tidak akan pernah berbelanja lagi di sini!" Manajer menghela napas panjang, mencoba menenangkan. "Baik, Pak. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini." Ia segera menghubungi satpam tanpa jeda. Dengan kasar, Clara dan Dimas diseret keluar, bukan sekadar diusir, melainkan dipermalukan di hadapan banyak orang. Namun, itu belum akhir dari pertarungan ini. Masalah mereka baru saja dimulai. "Lepaskan …! Lepaskan aku, Wilona! Awas saja, kamu. Aku tidak akan tinggal diam, aku akan balas perbuatanmu ini!" teriak Clara yang merasa sangat emosi. Sementara Dimas hanya bisa pasrah, tapi pikirannya berkecamuk tanpa henti tentang Wilona. Mantan kekasihnya kini berubah drastis, bukan hanya dari penampilan tapi seluruh aura perempuan itu, menghantui setiap sudut benaknya. Apa benar Wilona sudah menikah dengan pria kaya? Tapi, bagaimana mungkin segala sesuatunya bisa terjadi begitu cepat, tanpa jejak dan tanpa penjelasan? Dimas merasa tenggelam dalam kebingungan dan rasa penasaran yang membara. "Terima kasih sudah menolongku tadi," bisik Wilona lirih, suaranya melembut di antara hiruk-pikuk keramaian. Devan menjawab dengan nada datar, "Aku hanya tidak suka ada yang mengganggu orang-orangku. Selagi kamu menjadi istriku, melindungimu adalah tugasku." Meski suara Devan terdengar ketus, Wilona tak kuasa menolak. Ada kehangatan samar dalam kalimat itu yang membuatnya terdiam, terbungkam oleh rasa syukur yang tak terucap. "Apa kamu sudah menemukan perhiasan yang kamu inginkan?" tanya Devan, sedikit mengalihkan pembicaraan. Wilona menatap sendu, suaranya penuh keyakinan, "Aku nggak mau. Apalagi, perhiasan di sini harganya sangat mahal." Akan tetapi, Devan tak mau mendengar penolakan itu. Dia meminta pelayan untuk mengeluarkan beberapa set perhiasan termewah dan termahal di toko tersebut. Devan menarik napas dalam-dalam, matanya menyala penuh tekad saat mengeluarkan Black Card miliknya, kartu istimewa dengan limit tak terhingga, yang hanya dimiliki oleh kalangan elit terpilih. Karena Wilona tak mau memilih, dia sendiri yang memilih dan langsung membayarnya. "Ini untukmu," kata Devan pelan, seraya menyodorkan perhiasan itu. Wilona terdiam, dadanya berdebar hebat. "Aku nggak bisa menerima ini. Harganya terlalu mahal. Bagaimana aku bisa membalasnya?" ucapnya terbata, terasa hina menerima sesuatu yang begitu mewah. Devan menatap dalam. "Aku memberikannya untukmu, bukan untuk dipinjam atau dihutangkan. Jangan pikirkan untuk membalasnya. Anggap saja ini hadiah dari suamimu," ucapnya tenang. Tanpa aba-aba, Devan berdiri di belakang Wilona, kedua tangannya cekatan mengalungkan berlian indah itu di leher sang istri. Kilau berlian itu menambah aura baru dalam diri Wilona, cantik, mempesona, memancarkan kemewahan yang tak pernah ia bayangkan bisa melekat pada dirinya yang sederhana. Jantung Wilona berdegup kencang, suara dunia seolah mereda. Ia tahu, sejak saat itu, hidupnya tak akan sama lagi. Barang mewah yang dulu hanya dianggapnya terlalu mustahil untuk dimiliki dan tak pantas, kini menjadi bagian dari dirinya, sebuah tanda bahwa takdirnya telah memilih jalan lain. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN