Bab 07. Menjaga Kemesraan

1143 Kata
Tak pernah terlintas di benak Wilona bahwa suaminya akan memberikan hadiah semewah itu, begitu indah, begitu berharga. Jika saja pernikahan mereka bukan pernikahan kontrak, dia pasti merasakan kebahagiaan yang jauh lebih utuh, bukan hanya sekelumit senyum yang terlukis samar di wajahnya. Namun bukan berarti dia tak merasa bahagia. Ada getar dalam d**a, sebuah kegembiraan yang bercampur rasa sungkan dan ragu. "Kamu yakin memberikan ini untukku? Atau nanti, setelah kontrak kita berakhir, kamu akan menariknya kembali?" Suara Wilona nyaris bergetar, menahan gelombang ketidakpastian yang mengaduk hatinya. Devan membuka mulut, ingin menjawab, tapi tak jadi karena Wilona kembali berbicara. "Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik," ucap wanita itu. Akhirnya, Devan hanya berkata dengan nada datar, "Ya, kamu memang harus menjaganya." Namun, ucapan itu menyimpan arti lain, rahasia yang tak diungkapkan, bayang-bayang yang hanya ia yang tahu. Sementara Wilona terpaku, tak mampu menyelami maksud di balik kata-kata tersebut. Devan enggan melanjutkan, memilih diam daripada menambah luka di ruang hampa yang belum bisa mereka jembatani. Diam mereka menjadi dunia tersendiri, penuh tanya tanpa jawaban, seperti hadiah itu sendiri, indah, mahal, tapi sepi makna. "Ternyata benar, semua ini hanya sekadar pemberian sementara. Karena bagaimanapun juga, aku adalah istrinya. Tapi setelah semuanya berakhir, semua ini akan aku kembalikan. Wilo … Wilo, kamu yang terlalu berpikir berlebihan. Devan cuma mau kamu tampil lebih baik, supaya sejajar dengannya. Seharusnya kamu sadar diri!" Wilona mengutuk dirinya sendiri dalam hati. "Sekarang, kita pergi dari sini," ajak Devan seraya memberikan lengannya. Wilona yang mengerti segera merangkul suaminya, menjaga kemesraan mereka di depan umum. Meski kontrak, tapi pernikahan mereka bukan rahasia, bisa saja mata-mata sang nenek mengintai, siap mengabarkan setiap gerak-gerik mereka. Keduanya harus tetap waspada, berhati-hati seperti pemain catur yang tahu langkah lawan. * Wilona mengira semuanya sudah selesai. Tapi nyatanya, Devan malah mengajaknya berkeliling mall. masuk ke butik, toko tas, sepatu, sandal, dengan label harga yang membuat kepalanya pusing. Entah berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan Devan hari itu, namun suaminya tersebut sama sekali tak peduli. Dengan enteng, dia membayar tanpa mengedipkan mata, seolah harga-harga itu hanyalah debu di jalan. Berbeda dengan Wilona, yang baru pertama kali memegang barang mewah seumur hidupnya, harganya yang fantastis terasa seperti beban berat menjerat d**a. "Sudah selesai, 'kan?" tanya Wilona dengan suara pelan, lelah dan seolah menahan gejolak di dalam hatinya. Devan mengangguk. "Ya. Tapi ini sudah hampir malam, kita makan dulu sebelum pulang." Tatkala Wilona menatap jam di pergelangan tangannya, jarum menunjuk tepat pukul 18.30 WIB. Dari siang hingga sore, waktu telah berlalu begitu cepat, pantas saja perutnya sudah keroncongan seperti sedang berontak menuntut perhatian, membuatnya sadar betapa lapar dan letih dirinya. Tanpa banyak bicara, keduanya segera meninggalkan gemerlap mall itu dan melangkah menuju restoran terdekat, berharap makanan bisa meredam lapar dan menghapus penat sebelum mereka mengakhiri hari yang panjang. *** Di sisi lain, Dimas dan Clara sudah bebas. Tapi, kebebasan itu terasa pahit, terbatasi oleh hutang yang harus Dimas bayar dengan susah payah dan berkat sedikit bantuan dari Clara yang setengah terpaksa menyerahkan uangnya. Sepanjang perjalanan pulang, Clara tak henti-hentinya meluapkan kemarahan. Suaranya tajam, penuh kecewa dan rasa malu yang menggunung. "Kamu benar-benar memalukan, Dimas! Tujuanku cuma satu, buat Wilona kesal karena dari SMA dia selalu jadi saingan aku. Tapi kamu malah bikin aku kehilangan muka, bahkan sampai harus bayar hutang-hutang kamu. Kenapa sih, kamu nggak pernah cerita Soal ini?!" Dimas mengatupkan rahang, telinganya bergetar mendengar omelan Clara yang berapi-api. Dengan suara yang mulai meninggi, dia mencoba membela diri, "Sudahlah, Clara. Semua sudah lewat! Kamu juga sudah tahu masalahnya, 'kan? Hutangku sudah lunas. Aku janji, uangmu akan aku bayar lunas. Memang sekarang uangku sudah habis, tapi aku akan cari tender lain." Namun, kata-kata itu seperti angin lalu di telinga Clara yang masih tenggelam dalam amarah dan kecewa. Rasanya, kepercayaannya sudah terkoyak dalam-dalam dan perjalanan pulang itu berubah jadi siksaan yang tak berujung. Dengan sangat emosi, Clara kembali berbicara, "Awas saja kalau sampai kamu nggak ganti uang aku, kita putus!" ancamnya. "Aku yakin, Dimas pasti nggak mau putus dan aku juga nggak bisa kehilangan dia sekarang. Bagaimanapun juga, Dimas adalah laki-laki yang sangat dicintai Wilona waktu itu. Aku nggak percaya kalau Wilona sudah melupakan Dimas begitu saja," batinnya. Mata Dimas membelalak, penuh kecemasan yang tercekat di d**a. "Tidak! Aku tidak boleh kehilangan aset berhargaku saat ini," gumamnya dalam hati, merasa khawatir. "Sayang, jangan seperti itu lah. Aku janji akan ganti uangmu, aku benar-benar minta maaf atas semua ini." Clara menatap tajam, suaranya dingin menampar, "Ya sudah, kali ini aku maafkan. Tapi awas saja, kalau kamu buat aku malu lagi seperti itu. Ini bukan soal uang. Tapi, aku nggak terima kalah dari Wilona. Kamu bilang, sejak kalian berpisah, hidup Wilona menderita. Tapi lihat dia sekarang. Hidup mewah, menikah dengan laki-laki kaya dan berkuasa seperti orang tadi. Siapa dia sebenarnya?" Dia bertanya dengan nada penuh penasaran. "Aku juga nggak tahu. Aku pun nggak percaya Wilona bisa mendapatkan pria sekelas itu. Terakhir kali, dia memang dikejar-kejar hutang," jawab Dimas lirih, seperti menelan sesuatu yang pahit. Clara menyipitkan mata, tajam seperti duri yang menembus perasaan. "Oh, jadi itulah alasan kamu kabur dari Wilona dan mengejarku?" Dimas menghela napas dalam, mencoba mengendalikan kegelisahan yang menggelegak. "Sudahlah, Sayang. Yang penting, kamu tahu aku menyukaimu. Aku tinggalkan dia demi kamu. Bukankah itu yang seharusnya kita fokuskan sekarang?" Dengan cepat, dia mengalihkan pembicaraan. "Ya, kamu benar. Tapi, aku nggak mau tahu, kita harus membalas semua perbuatan Wilona dan laki-laki itu!" kata Clara dengan penuh dendam. "Iya, kamu tenang saja ya, Sayang," sahut Dimas seraya menggenggam erat tangan Clara. *** "Kalian berdua sudah pulang? Ayo sini." Dahlia memanggil dengan suara lembut namun penuh harap, saat melihat cucu dan cucu menantunya melangkah masuk ke rumah. Mata yang sayu itu tampak tak sabar, seakan menyambut mereka dengan rindu yang tak pernah padam. Wilona menunduk, menyesal dalam hati. "Oma kenapa belum tidur? Maaf ya, Oma, aku kelamaan perginya." Suaranya lirih, terbungkus perasaan bersalah yang sulit disembunyikan. "Tidak apa-apa, Sayang. Oma tahu, kamu pergi bersama Devan. Justru, Oma ingin kalian sering-sering seperti ini," balas Dahlia dengan senyum hangat yang membuat hati Wilona sedikit terobati. "Oma, sekarang Oma masuk kamar dan istirahat, ya?" Suara Devan terdengar lelah tapi penuh hormat. "Kenapa Oma malah menunggu kami pulang?" "Ah, ini baru jam berapa. Kebetulan Oma juga belum bisa tidur," jawab Dahlia sambil mengedipkan mata penuh rahasia. "Oh iya, sebelum tidur, kalian minum s**u ini dulu, ya." Wanita tua itu menunjuk dua gelas berisi s**u hangat di atas meja. "Ini khusus Oma yang buat untuk kalian berdua." Devan dan Wilona saling berpandangan, bingung merayap di wajah mereka. Tapi sebelum mereka sempat berkata apa-apa, Dahlia menegaskan, "Sudah, jangan banyak berpikir. Ini Oma yang buat, Bi Jum juga bantu. Minum sekarang!" Mereka tak mau mengecewakan nenek tersayang. Tanpa curiga sedikit pun, s**u itu langsung ditenggak habis, menimbulkan kehangatan aneh di d**a mereka. Di sisi lain, Dahlia menyunggingkan senyum misterius. "Sepertinya, malam ini rencanaku akan berhasil," bisiknya dalam hati, penuh kemenangan. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN