Bab 08. Malam Pertama

1077 Kata
Kini, Wilona dan Devan sudah berada di dalam kamar mereka. Keduanya sama-sama terjebak dalam keheningan yang tak biasa, masing-masing merasakan gelombang panas liar menjalari d**a mereka. Wilona dengan tergesa berlari ke kamar mandi, kepanikan membara dalam benaknya. Tubuhnya terasa terbakar dari dalam, panas yang tak pernah ia rasakan sebelumnya membakar setiap serat dirinya. Ia membasuh tubuhnya berulang kali di bawah derasnya air shower, berharap api itu padam, namun sia-sia. Dengan langkah gemetar, ia memutuskan berendam dalam bathtub, hanya berbalut pakaian dalam, berharap air dingin menenangkan badai di dalam hatinya. "Kenapa ini? Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa aku merasa panas seperti ini?" bisik Wilona penuh kebingungan, tangan gemetar memeluk tubuhnya sendiri yang berdenyut, gerah. Sementara itu, di luar kamar mandi, Devan menahan napasnya yang kian berat, ketidaksabaran menggerogoti dirinya. Tok, tok, tok! "Wilona, apa kamu masih lama di dalam?" Sambil mengetuk pintu, Devan memanggil dengan suara parau, seolah menahan badai emosi yang mengancam pecah. Namun, pintu tetap tertutup, meninggalkannya dalam kesunyian yang semakin menyesakkan d**a. Keheningan itu membunuh. Devan berdiri di ambang pintu, napasnya tersengal, tatapannya kosong menatap pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka. Tak ada pula sepatah kata pun yang keluar dari dalam sana, entah Wilona mendengarnya atau tidak, dia pun tak tahu. Devan akhirnya kembali ke kamar dan duduk di atas ranjang. Putus asa menggerogoti setiap sudut jiwanya, membuatnya hampir hilang kendali. Dengan tangan gemetar, ia melepaskan kancing bajunya, lalu membuang kemeja itu begitu saja ke sembarang tempat. "Syit! Aku yakin, Oma sudah mencampurkan sesuatu ke dalam s**u tadi," bisiknya lirih. Bayangan masa lalu menghantui pikirannya, saat jebakan licik musuh yang dulu pernah menjebloskannya ke jurang kegilaan yang sama seperti ini. Hanya saja, waktu ia berendam di kamar mandi mampu menenangkan badai dalam dadanya, meski butuh waktu berjam-jam untuk kembali stabil. Tapi kali ini? Kamar mandi itu terkunci bagi kedamaiannya. Jika dia keluar, takut akan menimbulkan kecurigaan sang nenek. Sementara itu, di balik pintu itu, Wilona pun tersiksa dalam keheningan yang sama, tersembunyi oleh rahasia yang tak mampu mereka bagi. Dengan napas tercekat, Devan mengetuk pintu kamar mandi untuk kedua kalinya, kali ini dengan suara yang lebih keras, memecah sunyi malam. Tok, tok, tok! "Wilona, cepat buka pintunya! Kamu mandi atau tidur?!" teriak Devan dengan suara penuh emosi. Namun, yang ia harapkan, jawaban tak kunjung datang, hanya keheningan menyelimuti kamar mandi itu. Jantung Devan tiba-tiba berdegup semakin cepat, pikirannya berkelana. "Apa jangan-jangan, Wilona juga mengalami hal yang sama?" gumamnya panik. Ia menggenggam handle pintu, memutarnya berulang kali, tapi pintu kamar mandi tetap terkunci rapat. Putus asa, Devan akhirnya mendobrak pintu itu dengan segenap tenaga. BRAKK! Pintu terjebol dan terbuka lebar. Matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat darahnya membeku. Wilona terdiam, tubuhnya masih tenggelam dalam bathtub, raut wajahnya kosong, seperti terkendali oleh bayangan yang tak kasat mata. Wilona menggeliat. "Devan, tolong bantu aku, Dev …." Suara seraknya menggema di telinga Devan, meluluhlantakkan hati pria itu. Devan cepat melangkah maju, mencoba meraih istrinya. "Apa yang terjadi denganmu, Wilona?!" Suaranya bergetar antara takut dan bingung. Wilona bangkit, hanya terbalut dalaman yang basah serta memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi dengan jelas. Seketika, membuat mata Devan melebar penuh keterkejutan. Tanpa pikir panjang, ia mencampakkan handuk ke tubuh istrinya. "Cepat, pakai handuknya!" Wilona melemparkan handuk itu ke lantai yang basah, seolah membuang beban yang menyesakkan dadanya. Tanpa sepatah kata, dia melangkah tegap menghampiri Devan, kemudian merangkul suaminya erat hingga jarak mereka sedekat napas yang tercekat. Jantung Devan berdetak tak karuan, beradu cepat seperti mencoba melarikan diri dari dadanya sendiri. "Apa yang kamu lakukan? Menjauh dariku, Wilona!" "Dev ... aku ... aku benar-benar nggak bisa menahan ini lagi," desah Wilona, suaranya bergetar dan napasnya memburu. Devan menatap istrinya dengan penuh tanya, suara kecilnya hampir tak terdengar, "Apa yang terjadi padamu, Wilona?" "Aku nggak tahu ... tapi rasanya gerah dan aku nggak sanggup," sahut Wilona lirih, seolah sedang terperangkap dalam badai yang tak berujung. Akhirnya Devan pasrah, menatap istrinya yang kini terjebak dalam amukan emosi yang liar, sama seperti dirinya. Tanpa ragu, ia menarik Wilona ke bawah guyuran air shower, menyiramnya berulang kali dengan air dingin, mencoba menyiramkan ketenangan. Tapi alih-alih mereda, api dalam diri mereka justru menyala makin ganas. Kini Devan juga terhanyut dalam hasrat yang semakin menjadi-jadi. Dia tak kuasa melawan agresivitas Wilona yang terus merangkulnya, mata wanita itu tenggelam dalam tatapan penuh gairah yang menusuk ke relung hati terdalamnya. Tiba-tiba, Wilona mencium bibir Devan lalu melumat dengan nafsu yang membara. Napasnya terengah dalam keintiman yang membakar. Devan merasa terkejut, namun ia masih mencoba mengendalikan dirinya. "Wilona, kendalikan dirimu atau kamu akan menyesal!" ujarnya dengan suara serak, berusaha meredam badai yang tengah meluap di antara mereka. Namun, benarkah ia mampu menahan gelombang emosi yang sekarang telah menjadi badai tak tertahan? "Sudahlah, Dev … kita ini suami istri," bisik Wilona dengan suara yang hampir pecah, seolah menahan amarah dan gelora panas sekaligus. Mendengar itu, Devan seperti tercekik di dalam d**a. Segala pengendaliannya luluh lantak, terbakar oleh gelombang panas yang menuntut untuk meledak. Matanya menatap Wilona penuh bara, lalu berkata lirih, "Oke. Aku harap kamu tidak akan menyesal." Tanpa menunggu jawaban, tangan Devan meraih wajah Wilona, menyambar bibir wanita itu dengan ciuman yang membakar semua keraguan. Air shower menghujani mereka, menciptakan tirai deras yang memecah keheningan dengan gemuruh. Wilona membalas ciuman itu dengan tak kalah liar. Dalam pelukan yang semakin erat, gairah mereka menyala, menjalar dalam setiap sentuhan. Jari-jari keduanya menjelajah tanpa ragu, mengukir keintiman di setiap lekuk tubuh pasangan masing-masing. Waktu seolah berhenti sejenak ketika Devan menggendong Wilona ala koala, membawa istrinya tanpa kata menuju ke ranjang, tempat di mana seluruh dunia hanya milik mereka berdua dan gairah yang menggelora tidak lagi bisa ditahan. Setelah tubuh Wilona terkulai di atas kasur, Devan menarik napas panjang sebelum kembali menyalakan api yang membara di antara mereka. Gelora asmara yang selama ini mereka coba tahan, kini meledak tanpa sisa, saling melahap hasrat, menumpahkan rindu yang terpendam dalam kesunyian janji pernikahan kontrak. Mereka, yang dulu berikrar takkan pernah melewati batas seperti berhubungan suami istri, kini terjebak dalam malam pertama yang seharusnya terjadi sebulan lalu, terombang-ambing di antara kesadaran dan kehilangan kendali. * Sementara itu, di balik pintu kamarnya, Dahlia tersenyum, bibirnya melengkung penuh kemenangan. "Aku yakin, kali ini Wilona dan Devan pasti akan benar-benar memberikanku cicit," gumamnya dengan penuh harap. "Maafkan, Oma. Tapi, ini demi masa depan kalian berdua. Oma tidak akan membiarkan kepura-puraan kalian terus berlanjut. Oma hanya tidak mau kalian terus mempermainkan pernikahan." Hatinya membara, penuh tekad untuk menggulung rahasia gelap di balik kebohongan cucu dan cucu menantunya itu. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN