Arka berdiri terpaku, hatinya bergejolak antara bingung dan was-was. Di satu sisi, bosnya, Devan, terguncang dalam mabuk yang dalam, suaranya parau terus meracau memanggil nama sang istri dengan penuh kepedihan. Di sisi lain, Wilona, istri Devan, yang sudah ia hubungi berulang kali, seakan menutup diri rapat-rapat. Tak mau menjawab teleponnya, bahkan menghindar tanpa alasan yang jelas. Arka yakin betul, ada masalah berat di antara mereka dan dia hanya bisa merasakan ketegangan yang semakin mencekam. Dia berusaha menenangkan diri, menolak untuk ikut campur dalam masalah yang bukan urusannya. Namun bagaimana mungkin dia bisa bersikap acuh saat sang bos, orang yang dikenalnya dengan baik, terpuruk dalam kesendirian yang amat memilukan? Pada akhirnya, dengan membuang rasa malu dan tak peduli

