Semangat Devan yang tadinya berkobar tiba-tiba padam, terkoyak oleh kesalahpahaman yang tajam dan menusuk hatinya. Ia ingin segera merangkai kata, menjelaskan niat tulusnya mengajak Wilona makan malam kali ini, tetapi rasa amarah muncul menggantikan hasrat itu, membakar dadanya seperti api yang tak terpadamkan. "Apa kamu ini sama sekali tidak bisa berpikir baik tentang aku?!" Suara Devan pecah, menahan rasa sakit yang menggunung di d**a. Wilona membalas dengan tatapan dingin, penuh curiga, "Berpikir baik? Bagaimana bisa? Dari awal, kamu hanya diam saja. Kenapa kamu tidak mau menjelaskan apa pun? Dan sekarang, kamu diam saja membiarkan aku seperti ini. Benar, 'kan? Kamu memang ingin mengakhiri kontrak pernikahan kita secepatnya! Kenapa, Dev? Apa salahku? Atau, kamu benar-benar sudah tidak

