Senjatanya

1229 Kata

“Kau … senjatanya?” Zam terbata saat mengajukan kalimat pertanyaan itu. Ketakutannya makin bertambah. Rasa dendam dalam hatinya mulai pupus secara perlahan. Zam tidak akan malu mengakui jika ia memang ketakutan. Coba saja orang lain yang ada di posisinya. Tentu orang itu juga akan ketakutan saat berhadapan dengan pria tua ini. Garis wajahnya yang dipenuhi keriput, mata alis yang ditutupi kain, jenggot yang panjang, dan, ya, jangan lupakan jubah besarnya dengan tudung menyelubungi nyaris sekepalanya. Ditambah dengan senyuman dan kata-kata pria itu. Wajar saja jika Zam jadi ketakutan. Apalagi ini pertama kalinya ia bertemu dengan orang semacam ini. Pria yang tidak diketahui namanya itu berjalan dengan begitu tenang ke depan Zam yang masih berjarak dari tempatnya berdiri sebelumnya. Tang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN