“Zam, dengarkan kata ibumu. Ibu tidak mungkin melarangmu jika tak ada akibatnya,” tegur sang ayah menahan sabar. Anak tunggalnya itu memang memiliki sifat keras kepala dan pintar sekali mencari alasan. Seperti dirinya. Zam kecil semakin menekuk wajahnya. Masih tidak bisa menerima larangan yang diberikan oleh orang tuanya. Ia ingin makan manis hanya untuk satu kali lagi. Tapi mengapa ayah dan ibunya bersikap seolah Zam akan menghabiskan seluruh perjamuan yang ada? Sang ayah duduk di sisi yang kosong. Kini Zam kecil berada di antara kedua orang tuanya yang menatap penuh kasih sayang kepadanya. Tangan hangat Ayah mengusap puncak kepala Zam kecil dengan lembut. “Kau tidak dilarang untuk menghabiskannya, Zam. Hanya saja kau diberi jatah maksimal untuk memakannya.” Zam kecil menunduk. Ia ti

