Menyelamatkan Diri

1157 Kata
Zam mengetahuinya sekarang. Siapapun di balik kabut itu, tidak membunuh secara acak. Siapapun yang berada dalam kabut itu tidak membunuh secara acak. Mereka hanya mengincar jantung orang yang memiliki mata beriris emas, tidak peduli tua ataupun muda. Entah apa alasannya. Tapi pasti mereka memiliki alasan yang kuat hingga mengambil jantung oorang lain. Dan yang Zam baru sadari adalah jika sebenarnya nyawanya sendiri juga terancam. Ia harus kabur dari penjara ini secepatnya. "Kau harus membantuku agar bisa keluar dari sini," pinta Zam. Arro menggaruk pelipisnya kebingungan. "Aku tidak tahu caranya, Tuan. Aku datang ke sini saja dengan mengendap-endap." Zam mengulum bibirnya ke dalam sambil berpikir. "Apa kau sungguh percaya bahwa aku adalah perantara Dewa?" Arro mengerutkan dahinya, sedikit tersinggung dengan ucapan Zam. "Tentu saja. Aku percaya bahwa Tuan adalah perantara baik Dewa untuk kami." Zam tersenyum lebar penuh arti. "Apa di luar sana masih banyak yang percaya akan hal itu?" "Beberapa penduduk dan orang dalam istana sudah tidak percaya lagi dengan perantara dewa, Tuan. Tapi aku rasa jumlahnya masih lebih banyak dibanding yang tidak." Zam masih tersenyum lebar. Lalu ia berkata, "Bisakah kau meminta seseorang yang mempercayaiku sebagai perantara Dewa agar bisa membantumu mengeluarkanku dari penjara ini?" Arro mengangguk spontan. Wajahnya yang lugu itu menatap yakin pada Zam. "Tentu. Aku akan segera memanggil orang-prang untuk membantu Tuan." Tanpa berpamitan, Arro langsung berlari menjauh dari jendela penjara. Zam menelan salivanya kelat yang terasa mengganjal kerongkongannya. Ia harus secepatnya pergi dari penjara dan menjauh dari tanah Kerajaan Zhuro. Ia pikir ia akan bisa hidup makmur di tanah ini. Tapi rupanya malah sebaliknya. Ia bisa saja terbunuh setiap kabut datang. Zam tidak mau hal itu sampai terjadi. *** Setelah menunggu beberapa saat, beberapa orang yang dibawa oleh Arro berhasil mengeluarkannya dengan memanjat atap penjara. Mereka mengeluarkannya dengan tali yang dililitkan ke tubuh lalu ditarik keluar. "Aku akan pergi sekarang. Terimakasih, Arro." Zam mengangguk sekali pada pemuda-pemuda yang berdiri di belakang Arro. Saat Zam melangkah, suara Arro menghentikannya. "Lalu bagaimana dengan kami, Tuan? Bukankah kau seharusnya menyelamatkan kami dari hantu kabut?" Pertanyaan yang polos itu meluncur bebas dari Arro yang masih menatap punggung orang yang dihormatinya itu. Napas Zam tercekat. Ia tidak bisa tinggal di tanah ini. Tapi ia juga tidak tega meninggalkan Arro dan penduduk lainnya yang dalam bahaya. Mengapa susah sekali menjadi perantara Dewa? Ingin rasanya Zam berteriak agar Arro meminta bantuan saja pada para Dewa yang mereka sembah. Dewa kan tidak bisa mati. Tapi dirinya bisa. Dengan sabar, Zam berbalik dan menatap wajah-wajah lugu penuh harap padanya. "Aku pergi untuk mencari cara agar kalian selamat. Aku akan meminta pertolongan para Dewa di suatu tempat yang jauh dari sini," alibi Zam. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain berbohong? Ia tidak mungkin mengatakan pada mereka bahwa sebenarnya Zam takut menjadi korban hantu kabut malam ini, kan? "Apa tempatnya sangat jauh hingga kau terburu-buru?" tanya anak kecil yang berada di antara mereka. Usianya mungkin masih sekitar tujuh tahun. Saat mata Zam menuruni ke arah tangannya, Zam merasa terenyuh. Hatinya dirundung perasaan bersalah. Anak kecil itu kehilangan sebelah tangannya. Zam menahan napasnya. Sesak di dadanya malah makin menjadi. Sementara ia berusaha melarikan diri, anak-anak di sini berusaha agar tetap hidup. Betapa pengecutnya dirinya. "Aku akan menemui Pangeran Baylord lebih dulu." Zam enggan menjawab. Ia memilih untuk bertemu dengan sang pangeran lebih dulu. Setidaknya ia bisa menitipkan anak-anak ini pada Pangeran Baylord selagi ia menjauh dari Kerajaan Zhuro. Zam menemui Pangeran Baylord secara sembunyi-sembunyi. Pewaris tahta Kerajaan Helvantica itu terlihat sedang berbicara serius dengan Raja Syke. Zam memutuskan untuk menunggu sampai mereka selesai berbicara. Matanya menatap sekitar mencari sosok Kalu. Kepala pengawal kerajaan itu berdiri tidak jauh dari tempat Pangeran Baylord berada. Setelah beberapa saat bersembunyi sembari menilai keadaan sekitarnya, akhirnya Pangeran Baylord pergi dari sana dan berjalan ke arah kamar calon istrinya. Zam mengikutinya tanpa suara. Saat Zam akan berbelok, bahu Zam langsung didorong hingga menghantam tembok marmer dengan keras. Zam meringis kesakitan. "Mengapa kau mengikutiku?" tanya Pangeran Baylord dengan nada dingin dan tidak bersahabat. Zam berusaha memberontak. Tapi tenaga Pangeran Baylord yang sudah terbentuk oleh tempaan pelatihan ala kesatria di Kerajaan Helvantica, membuatnya kesulitan. Bergerak sedikit pun tidak. 'Mengapa semua orang suka sekali meringkusku sih?' batin Zam kesal. Zam berhenti melawan saat usahanya sia-sia. Kepalanya yang diperban juga bertambah sakit. Zam menghela napas panjang dari mulutnya. "Pangeran, ada yang ingin kusampaikan. Ini sesuatu yang sangat penting." Pangeran Baylord menyipit kedua bola matanya curiga. Setelah itu ia melepaskan Zam. "Apa yang ingin kau sampaikan?" Zam menyentuh kepalanya saat Pangeran Baylord menghentak dirinya begitu saja. Telinganya sedikit berdenging secara tiba-tiba. Zam menggeleng pelan. "Aku ingin memberitahu Pangeran apa yang ada di balik kabut itu." Pangeran Baylord tidak menjawab. Ia menunggu sampai Zam melanjutkan ucapannya. Zam yang merasa diberi kesempatan pun kembali melanjutkan penjelasannya. "Ada sesuatu di balik kabut itu yang sungguh nyata. Hantu kabut itu nyata, Pangeran. Anda tidak akan bisa melihatnya saat berada di dalam kabut itu." Pangeran Baylord memberikan pandangan mencemooh pada Zam. Tangannya bersedekap dengan dagu yang terangkat. "Aku melihatnya. Mereka membunuh satu per satu penduduk di sini. Aku mendengar suara teriakan para korban dari atas pohon. Aku bahkan sempat dikejar oleh hantu kabut itu sebelum akhirnya terjatuh dari pohon dan masuk ke dalam kabut. Lalu semuanya hening." Zam menjelaskan semua yang ia ketahui dengan bersemangat. Ada harapan agar si pangeran mempercayainya. "Lalu bagaimana caramu selamat dari hantu kabut itu?" Dalam hati Pangeran, ia memang membenarkan beberapa fakta dari penuturan Zam. Ia sendiri juga tidak bisa melihat dan mendengar saat kabut mulai menyelimuti. Ia seakan menjadi tuli dan buta dalam semalam. Namun, ia enggan mengatakannya pada Zam. Karena ia rasa saat ia menjadi tuli dan buta sesaat itu adalah karena yang setengah sadar saat terjaga. Mungkin karena ia lelah, Pangeran Baylord jadi kurang berkonsentrasi. "Aku tidak tahu bagaimana caranya. Terakhir yang kuingat, saat matahari terbit di ufuk timur dan kabut mulai surut, mereka menghilang. Mereka menghilang seiring kabut yang surut." Zam merasa ngeri membayangkan sosok di balik kabut itu. Bulu kuduknya bahkan sampai meremang. "Apa kau bisa membuktikan bahwa mereka sungguhan ada dan bukannya sekelompok orang yang meneror?" Zam mengerjap cepat. "Maaf?" "Tidak ada hantu. Yang ada hanya sekelompok pembunuh bayaran yang meneror penduduk dengan cara paling keji sepanjang sejarah umat manusia." Zam menggeleng, "Tidak. Mereka sungguhan ada, Pangeran. Mereka —" "Jika kau sangat yakin mereka ada, maka buktikan lah." Pangeran Baylord mengakhiri pembicaraan mereka begitu saja dan berlalu melewati Zam. Tangan Zam mengepal. Amarah semakin bergejolak di dalam hatinya. "Bukankah sudah ada buktinya, Pangeran?" Zam menatap punggung Pangeran Baylord tajam. "Kau melihat sendiri semua mayat dan ceceran potongan tubuh. Bagaiman situasi ini bisa terjadi kalau hantu kabut itu hanya cerita dongeng?" "Seperti yang kukatakan tadi. Buktikanlah dan aku akan percaya." Rahang Zam mengeras. Urat di dahinya berkedut. Wajahnya memerah padam. Zam kembali melanjutkan tujuan awalnya. Kabur. Menyelamatkan diri. Tidak perlu peduli dengan yang lain. Jika tidak ada yang mempercayainya, maka ia juga tidak berkewajiban untuk membantu penduduk di Kerajaan Zhuro. Zam bukan perantara Dewa. Ia hanya manusia biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN