Zam memantapkan hatinya untuk pergi dari Kerajaan Zhuro saat itu juga. Ia tidak akan menjelaskan pada yang lain apa yang ia lihat di dalam kabut.
Persetan dengan yang lainnya. Persetan dengan Arro dan kawan-kawannya.
Ia bukan Dewa.
Kalau mereka ingin selamat, biarkan saja mereka lenagsung meminta pada para Dewa di atas langit sana.
"Lemparkan bolanya ke sini!"
Suara teriakan dari seorang anak kecil membuatnya menghentikan langkahnya. Saat ia menoleh ke samping, ia bisa melihat sekelompok anak kecil tengah bermain bola bersama.
"Lamprkan bolanya ke sini, Tuan," ulang anak itu lagi dengan jari telunjuk menunjuk pada bola yang ada di bawah kaki Zam.
Zam tidak tahu kalau tadi ada benda yang mengenai kakinya karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia pun meraih bola berwarna abu-abu.
Kemudian pemuda itu mendekat pada anak-anak yang tengah bermain. Anak-anak ini menggunakan pakaian yang seragam. Baju putih dengan jubah emas yang tersampir di bahunya.
"Ini bola kalian," Zam mengangsurkan bola itu pada salah satu dari mereka.
Saat melihat dari dekat barulah Zam menyadari sesuatu. Anak di depannya ini memiliki warna iris mata yang sama seperti dirinya.
Emas.
Inilah kaum Silk yang disebutkan Arro kemarin. Tapi mengapa kaum Silk hanya terdiri anak-anak kecil?
"Siapa namamu?" tanya Zam.
"Quinta," jawabnya singkat.
Anak itu merebut bola di tangan Zam dan mulai kembali melanjutkan permainan dengan teman-temannya.
Zam tertegun mendengar tawa mereka saat saling berebut bola itu. Tawa mereka begitu lepas tanpa beban. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa nyawa mereka sebenarnya tengah terancam saat kabut tiba.
Andai mereka tahu, apa mereka masih tertawa lepas seperti saat ini?
Bola yang dilemparkan oleh salah seorang dari anak-anak itu mengarah kepada Zam. Zam menangkapnya dengan gesit.
"Hei, boleh aku ikut bermain bersama kalian?" tanya Zam.
Jika memang ini adalah kali terakhir anak-anak Silk bisa bermain bola bersama, Zam rasa mereka memang tidak perlu tahu bahaya di balik kabut itu.
"Tentu saja, Tuan," jawab salah satunya.
Zam mengikuti peraturan permainan yang dijelaskan. Lalu ia larut dalam kesenangan itu.
Beberapa kali matanya terpaku pada tawa renyah dan senyum ceria anak-anak. Zam tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya mereka saat malam menjelang, saat kabut datang.
"Apa kalian tidak takut pada hantu kabut?" tanya Zam saat mereka beristirahat.
Salah satu anak yang berambut plontos menjawab, "Tentu saja kami takut. Maka dari itu kami berlindung di kuil para Dewa ini."
Zam mengamati kuil yang ditunjuk oleh si plontos. Kuil itu tidak bisa disebut kuil. Apalagi kuil Dewa.
Kuil itu tidak terurus. Beberapa bagian atapnya bahkan sudah roboh. Dan Zam bisa menebak jika pencahayaannya pun juga pasti kurang.
"Bagaimana kuil seperti ini bisa melindungi kalian?" tanya Zam sangsi.
Anak-anak itu mengedikan bahunya bersamaan.
"Entahlah. Kami hanya diberi tahu oleh pihak kerajaan untuk tetap berada di dalam kuil saat kabut datang hingga pagi esok harinya."
Zam berpikir sesaat. Bukankah jika seperti itu sama saja dengan menumbalkan anak-anak ini untuk menjadi korban dari hantu kabut?
Mengapa pihak kerajaan tidak membawa mereka agar berlindung di tempar lain dan bukannya di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini?
"Di mana orang tua kalian?"
"Entah. Kami sudah lama tidak memiliki orang tua. Kami bahkan lupa apakah mereka masih hidup dan membuang kami atau mereka sudah mati oleh hantu kabut."
Zam merasa sudah salah bertanya. Maka dari itu ia akhirnya memilih diam.
Namun, dalam hatinya mulai bertanya. Adakah yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkam anak-anak ini dari serangan hantu kabut?
***
Zam berjalan mondar mandir di dekat kuil. Kepalanya terus berputar mencari cara agar bisa melindungi anak-anak itu bisa tetap hidup dan terlindungi.
Syukur-syukur ia juga bisa membantu menyelamatkan nyawa penduduk lainnya yang akan menjadi korban.
“Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan?”
Pertanyaan Arro mengejutkan dirinya. Tubuh Zam tersentak ke belakang. Jantungnya berdegup kencang.
“Arro! Kau mengejutkanku,” kata Zam dengan nada sedikit tinggi.
Sudah dua kali anak muda itu mengejutkannya. Zam rasa Arro juga bisa menjadi bagian dari hantu kabut. Ia akan dengan mudah mengambil jantung Zam yang meloncat keluar.
Arro terkekeh salah tingkah. Tangannya menggaruk pelipisnya.
“Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud begitu,” ujarnya dengan perasaan bersalah.
Zam berkacak pinggang, kemudian ia berkata, “Sudah kukatakan jangan memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’. Cukup panggil saja aku dengan namaku.”
“Baiklah, Zam,” gumam Arro pelan.
“Begitu lebih baik.”
Arro melangkah mendekat pada Zam dengan wajah manis menyiratkan kebingungan.
“Apa yang kau pikirkan, Zam? Apa kau sudah bertemu dengan Dewa?”
Mata Arro membeliak saat menanyakan hal itu. Ia merasa sangat tertarik dan penuh rasa penasaran.
Ah, Dewa. Apanya yang bertemu dengan Dewa? Yang ada dirinya bertemu dengan mahluk-mahluk tak berdosa incaran mahluk bengis.
“Tidak. Para Dewa tengah tertidur. Aku tidak berani mengganggu mereka,” jawab Zam sekenanya.
Bahu Arro langsung bergerak turun. Mendesah lesu karena jawaban Zam yang tidak sesuai harapannya.
“Kukira kau kebingungan karena telah bertemu dengan para Dewa,” pungkas Arro lugu dan polos.
“Jika aku sudah bertemu dengan Dewa, aku tidak akan kebingungan. Aku justru akan berwajah cerah,” timpal Zam.
Arro mengangguk lemah. Kemudian ia duduk di batu pbesar di dekat Zam. Zam kembali berjalan mondar-mandir mencari jalan keluar.
“Apa kau tahu, Zam? Saat kabut datang di mana aku bersembunyi?”
Zam tidak menanggapi pertanyaan Arro. Ia masih sibuk sendiri. Masih sibuk dengan urusannya sendiri. Entah mengapa ia merasa yakin bisa menyelamatkan nyawa banyak orang andai ia sudah menemukan cara yang tepat.
“Biasanya aku bersembunyi di kolong tempat tidur. Aku tidak tahu apakah hal itu bisa mencegah hantu kabut menemukan atau tidak. Tapi saat aku berada di kolong tempat tidur, aku merasa aman,” imbuh Arro.
“Hantu tetap akan bisa menemukan sekalipun kau bersembunyi, Arro,” pungkas Zam.
“Ya. Tapi anehnya seumur hidup aku berada di bawah kolong tempat tidur, mereka tidak oernah menemukanku.”
Arro mengatakannya dengan senyum ceria dan dagu terangkat bangga. Ia sangat suka dengan idenya yang bersembunyi di bawah tempat tidur itu.
“Kau hanya beruntung. Tinggal tunggu waktu saja sampai mereka menemukanmu. Siapa yang tahu mungkin malam ini hal itu akan terjadi.”
Arro terdiam. Memikirkan ucapan Zam barusan yang terlontar tanpa perasaan itu. Rasa bangganya langsung musnah berganti ketakutan dan kekhawatiran.
Zam baru menyadari ia salah berucap saat keheningan terlalu lama membentang di antara mereka. Saat menoleh, ia mendapati wajah Arro yang sudah berubah lesu dan tidak sesemangat sebelumnya.
“Hm, maksudku, idemu sangat cerdas. Hantu kabut mungkin memang bisa menemukanmu malam ini. Tapi jika kau bisa kabur dari sini, kau sudah pasti akan selamat,” ralat Zam.
“Kabur?” beo Arro.
“Ya. Kau hanya membutuhkan sebuah strategi untuk bisa menyematkan diri. Anggap saja kau sedang berlatih perang.”
Manik Arro berbinar penasaran. Perang? Ia sangat ingin menjadi salah satu prajurit Kerajaan Zhuro. Itu pun jika anggota tubuhnya masih utuh. Jika tidak, maka pupuslah sudah.
Dan sepertinya Zam baru saja akan membukakan jalan itu untuknya.
“Apa kau memiliki strategi, Zam? Jika iya, aku siap menjadi bagian dari strategi yang kau susun,” imbuhnya bersemangat.
Zam mengerjap. Bukan, bukan itu yang ia maksud. Itu hanya sebuah kiasan. Tapi sedetik kemudian Zam berpikiran lain. Sepertinya ia bisa menyusun strategi.
“Apa para penduduk biasanya bersembunyi seperti yang kau lakukan saat kabut datang, Arro?”
“Ya. Tentu saja. Kami kan tidak ingin mati,” jawabnya mantap.
“Di mana?” sambung Zam cepat.
“Di mana saja. Biasanya mereka akan bersembunyi di tempat-tempat rahasia di rumah mereka.” Arro mengangkat bahunya ringan lalu melanjutkan, “yah, meski tetap saja mereka ketahuan oleh hantu kabut.”
Zam berpikir lagi. Lalu jarinya menjentik keras saat sudah menemukan cara yang bisa ia coba. Setidaknya jika ia berhasil melakukan rencananya malam ini, ia bisa menyelamatkan beberapa nyawa sekaligus.
“Arro, sepertinya aku memiliki rencana.”