Kedua bola mata milik Arro dan Zam saling berbinar.
“Apa rencananya?”
Arro bertanya dengan semangat dan perasaan antusias yang berlebihan. Anak muda itu bahkan langsung melompt cekatan dari tempatnya duduk dan kemudian berdiri tepat di hadapan Zam.
Zam tersenyum penuh arti. Lalu ia memanjat pohon di mana pemandangan desa terluar Kerajaan Zhuro dapat terlihat.
Arro mengikuti Zam. Ia juga memanjat pohon setelah Zam berada di atas.
“Kau kihat desa itu, Arro?”
Zam menunjuk sebuah desa yang tidak banyak rumah penduduknya. Arro mengangguk.
“Apakah di sana masih dihubi oleh penduduk Kerajaan Zhuro?”
Arro kembali mengangguk, “Ya. Tapi hanya tinggal beberapa orang saja. Mereka sama seperti penduduk yang lain.”
Zam tidak perlu mempertegas maksud Arro. Sebab ia sudah tahu maksud dari kata sama seperti penduduk lainnya.
“Kita akan mulia dari sana.”
Arro mengerutkan kening. Ia bersiap menyanggah ucapan Zam.
“Untuk apa kita pergi ke sana, Zam?”
“Tentu saja untuk melaksanakan rencana kita,” kata Zam penuh semangat.
“Untuk apa kau menyusun rencana bagi penduduk di desa itu, Zam?”
Zam menoleh kesal pada pertanyaan Arro. Matanya melirik tajam. “Tentu saja untuk menyelamatkan mereka. Aku kan perantara Dewa,” balasnya.
Arro menggaruk bagian belakang kepalanya. Lalu ia berkata, “Hm, sebenarnya kau terlambat kalau ingin menyelamatkan mereka, Zam.”
“Maksudnya?”
Zam kembali menoleh pada desa di kejauhan sana. Dalam benaknya sudah tersusun rencana yang sangat rapi dan matang. Jangan sampai gagal.
“Jika kau ingin menyelamatkan mereka, seharusnya kau datang sebelum hantu kabut menyerang desa itu.”
Perkataan Arro membuat Zam menaikan sebah alisnya. “Bisakah kau berbicara dengan jelas? Aku tidak paham maksud perkataanmu.”
Arro menghela napasnya sebelum menjawab. Sepertinya perantara Dewa yang satu sedikit kurang pintar dalam memahami ucapan seseorang.
“Begini, Zam. Jika kau menyusun rencana untuk desa itu, sebenarnya kau tidak perlu melakukannya. Hantu kabut tidak akan menyerang desa yang sama dua kali. Terlebih lagi di desa itu hanya tinggal dihuni beberapa penduduk yang tak utuh.”
Zam mencoba menelaah kalimat Arro. Lalu ia menimpali, “Jadi, kau ingin mengatakan kalau desa terluar itu tidak akan lagi diserang?”
Arro mengangguk. Zam menggeram merasa kesal sendiri karena baru tahu informasi semacam itu.
“Lalu desa mana yang akan diserang oleh hantu kabut malam ini, menurutmu?”
Arro tidak langsung menjawab. Ia juga tidak tahu desa mana yang akan diserang hantu kanut malam ini. Memangnya ia peramal yang bisa menebak dengan tepat.
“Aku tidak tahu, Zam. Tapi sudah berbulan-bulan desa paling dekat dengan Istana Zhuro-lah yang diserang. Mingkin kita bisa melaksanakan rencanamu di sana.”
Zam menyipitkan matanya. “Apa kau tahu apa rencanaku?”
“Tentu saja tidak. Kau kan belum mengatakannya.”
“Aku berencana untuk mengungsikan penduduk ke kuil di sana,” jari telunjuk Zam menunjuk kuil di samping pohon, “Mereka akan berada di sana sampai kabut pergi.”
“Untuk apa? Kuil itu sudah tidak lagi dipakai dan hanya diisi oleh beberapa anak Silk,” kata Arro sambil mengedikan bahunya ringan.
“Kuil ini jauh dari istana. Aku rasa ini adalah tempat paling aman untuk saat ini.”
Arro menoleh pada kuil lalu menatapnya lama. Kuil itu sudah lama tidak dipakai untuk memuja.
Mungkinkah Dewa ingin mereka kembali menyembah Mereka agar bisa selamat dari hantu kabut?
Setelah memantapkan hati, rasanya tidak ada salahnya penduduk dibawa ke sana untuk sementara. Sedangkan dia sendiri akan membantu Zam dengan menjalankan rencananya.
Arro menoleh pada Zam.
“Apa yang harus aku lakukan, Zam?”
***
“Aku rasa ada yang salah dari rencana ini," kata Zam sedikit ragu.
Mereka semua sudah bersiap di perbatasan, di atas pohon tempat Zam beberapa hari yang lalu melihat hantu kabut itu pertama kali. Arro yang berdiri di seberang dahan bersama Zam, menoleh.
"Apa maksudmu, Zam?"
Zam menatap kabut di kejauhan yang bergerak mengikuti laju angin sore ini. Kemudian ia menoleh pada Arro.
“Aku memang berada di sini saat pertama kali melihat hantu kabut itu datang. Mereka tidak menyadari kehadiranku di atas pohon sampai aku melepaskan salah satu anak panahku pada mereka. Menurutmu mengapa mereka baru menyadarinya setelah aku melakukan itu?"
Zam menelan salivanya kelat. Ia harap Arro memiliki pendapat lain dari yang ia khawatirkan dan ia terka dalam benaknya. Arro terdiam sebentar, mencerna maksud dari perkataan Zam.
"Maksudmu, kau ingin mengatakan jika mereka tidak menyadari kehadiranmu karena mereka tahu ada orang-orang di bawah sana?"
Tepat setelah Arro mengatakan pemikirannya, sebuah tali kawat menembus kabut dan melekat ke kaki salah satu pemuda. Kawat itu menarik ke bawah kaki sang pemuda di atas pohon hingga tubuhnya itu hilang dalam pekatnya kabut diikuti dengan pekikan.
Manik Zam tidak tahu di pohon sebelah mana pemuda itu berada sebelumnya. Zam hanya mendengar suara halus dari lecutan kawatnya. Jantung Zam berdetak cepat ketika mendengar suara berdebum keras dari atas tanah. Begitu pula dengan Arro yang spontan melihat ke bawah, ke dalam kabut tebal.
"Argh!!!" Teriakan dari pemuda itu terdengar menyayat dan memilukan. Entah apa yang terjadi padanya. Zam bergerak melepaskan busur yang ia bawa di punggungnya dan mengambil anak panah.
Zam melesatkan anak panahnya. Dalam hal ini, ia bertaruh dengan nyawanya sendiri karena secara tidak langsung ia memberi tahu sosok di balik kabut itu lokasi keberadaannya. Zam menunggu dengan punggung menegang kaku.
Lalu dari dalam kabut, sebuah kawat terlontar dan membelit ke dahan yang ia pijak. Zam dan Arro yang mengetahui jika mereka dalam bahaya langsung berlari ke dahan sebelahnya lalu melompat, berpindah ke pohon di sisi lain.
"Apa yang kau lakukan barusan, Zam?" tanya Arro masih terus berusaha berlari di antara batang pohon.
"Ini yang kulakukan ketika aku melihat mereka pertama kali. Awas kakimu!" Zam menarik Arro mendekat ke arahnya saat ia mendengar samar suara desingan kawat. Zam tahu hantu kabut atau apapun itu, sedang mendekat dan memanjat pohon-pohon.
Suara berdebum dan teriakan kembali menghiasi malam di lembah ini. Zam sudah tidak setakut saat pertama kali mendengarnya. Tetapi ia tetap saja merasa khawatir akan tertangkap hantu kabut.
Zam berhenti melangkah dan melompat saat dahan pohon berikutnya memiliki dahan yang lebih kecil. Zam tidak bisa melompat ke sana. Akan sangat beresiko jika ia tetap melompat ke atas dahan itu. Zam menoleh sekilas ke belakang di mana Arro baru saja melompat ke atas dahannya. Samar-samar ia bisa melihat gerakan dalam kabut di belakang pemuda itu. Tidak ada waktu lagi. Zam memutuskan untuk turun.
"Zam!!!"
Tidak ada jawaban. Arro bimbang harus mengikuti Zam atau tetap berada di atas pohon. Sebuah kawat tipis melesat ke depan wajahnya, menggores pipinya. Tanpa pikir panjang lagi, Arro mengikuti langkah Zam turun dari atas pohon. Sesampainya di bawah, Arro tidak menemukan Zam. Sekelilingnya dipenuhi kabut sangat tebal. Dan yang lebih membuatnya takut adalah ketenangan dalam kabut itu. Padahal jelas-jelas ia sempat mendengar suara teriakan ketika berada di atas pohon.
"Zam?" panggil Arro. Tubuh Arro bergetar kala ia menyadari kabut memisahkan mereka. Arro berjalan perlahan. Dia berusaha sepelan mungkin untuk meminimalisir suara. Enggan membuat gaduh ketenangan ganjil itu.
Kepalanya menoleh ke kiri kanan untuk mencari gerakan Zam. Tangannya yang memegang busur dan anak panahnya terasa membeku. Udara dingin dalam kabut ini, bukan dingin biasa. Dingin dalam kabut ini terasa mencekam.
Arro terus berjalan perlahan. Dia menghela napas lega saat melihat bayangan samar dari jubah merah Zam. Arro mempercepat langkahnya. Ia tidak boleh berjauhan dari Zam untuk saat ini.
"Zam!!!" teriak Arro. Arro tidak menyadari itu adalah sebuah kesalahan besar.
Zam yang mendengar Arro memanggil namanya menoleh ke belakang. Zam melihat Arro yang tersenyum sambil melambai ke arahnya. Zam berlari menghampiri Arro dengan panik.
"Di belakangmu, Arro!"
Arro menoleh ke belakang. Terlambat. Belum sempat ia mengerti apa yang ada di belakangnya, sebuah kawat melilit lehernya dan menariknya masuk ke dalam kabut.
"Tidak. Arro!!!" Zam semakin panik dan ketakutan menguasainya. Arro sudah menghilang dalam kabut tanpa suara. Hanya bau anyir yang kemudian tercium di indera penciumannya.