Zam rasa ada yang salah dengan dirinya. Terkadang ia bisa melihat dan mendengar dalam kabut. Seperti tadi saat Arro memanggilnya dan berlari ke arahnya.
Untuk sesaat Zam berani bersumpah jika ia bisa melihat hantu kabut di belakang pemuda itu. Dan kini ia bisa mendengar suara lecutan kawat meski sangat pelan dan terasa sangat jauh.
Zam mencoba memfokuskan diri pada suara itu. Bukannya mendengar dengan lebih jelas, kepalanya justru terasa sakit karena lukanya belum sembuh benar.
Zam membuka matanya. Ia masih berada di tengah kabut. Zam tahu ia tidak bisa terus berada di dalam kabut ini jika ingin selamat.
Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri sebelum menyelamatkan orang lain.
Zam pun berlari. Entah ke arah mana. Yang penting ia harus keluar dari kabut. Dia harus menemukan pohon dan mengkoordinasikan kembali pemuda yang masih berada di atas pohon.
Saat Zam berlari, Zam tidak menyadari ada sebuah kawat tipis bergerak menembus kabut dengan gerakan gemulai menjerat kakinya. Zam terjatuh.
Tubuhnya terjungkal ke depan.
"Argh. Sial," hujat Zam.
Baru saja tangan Zam hendak menarik balik kawat itu, Zam lebih dulu ditarik dengan kencang. Zam berteriak keras menembus kabut. Tapi ia tahu tidak akan ada yang membantu dirinya.
Ia semakin dalam ke tengah kabut. Makin jauh dari pinggiran pohon tempatnya membuat jebakan, makin jelas bau anyirnya.
Zam terlempar menabrak sebuah batu besar. Kepalanya membentur ujung batu yang sedikit runcing. Lukanya yang belum sembuh, kini bertumpuk dengan luka baru.
Zam meringis kesakitan. Penglihatannya mulai tidak jelas. Saat Zam mengerjapkan matanya sekali lagi untuk memfokuskan penglihatan, hantu kabut itu muncul di depannya.
Mata Zam nyalang melihat benda yang ada di tangan hantu kabut itu. Bukan, bukan kawat tipis yang digenggam olehnya, tapi sebuah pisau.
"Apa yang kau mau, Sialan?" tanya Zam panik.
Zam tahu apa yang diincar oleh hantu kabut. Tapi ia menolak untuk mengakuinya. Dia ... menolak untuk tahu apa yang akan dilakukan hantu kabut padanya.
"Detak," jawab hantu kabut.
Hantu kabut itu tidak menggerakan sedikit pun bibirnya. Zam yakin. Kepala hantu kabut itu tertunduk ke bawah dan diselebungi dengan tudung besar berwarna putih. Bagian mulutnya terlihat di mata Zam.
Zam yakin ia mendengar hantu itu menjawab pertanyaannya.
'Aku rasa aku sudah tidak waras karena terbentur dua kali,' batin Zam.
Zam hampir saja lengah saat hantu kabut itu mengayunkan pisau runcing nan tajam ke arah dadanya. Zam berkelit.
Ia langsung bangkit dan menjauh dari hantu kabut, mengabaikan sakit di kepala dan tubuhnya. Sial, bagaimana hantu kabut bisa tahu dirinya memiliki mata emas? Bersitatap saja tidak.
"Sialan," geram Zam.
Zam mengambil anak panahnya yang tersisa dari tasnya. Saat anak panahnya sudah terarah pada hantu kabut, hantu itu sudah hilang.
Zam celingukan. Luka di kepalanya begitu menyiksa. Zam menepis sakitnya. Ia harus bisa melukai hantu itu.
Itu pun kalau hantu kabut bisa dilukai.
"Di mana dia berada?"
Rahang Zam mengeras. Ketika akan melangkah, kaki Zam sekali lagi ditarik. Tubuh Zam terpelanting ke tanah dengan keras.
Zam meronta. Ia berusaha melepaskan kawat di kakinya. Kawat itu tidak boleh terus-terusan berada di kakinya. Dia bisa saja kehilangan salah satu kakinya.
Zam berusaha menggapai sesuatu untuk membantunya menahan tarikan di kakinya.
Berhasil.
Zam meraih sesuatu di tangannya. Zam pikir yang ia raih adalah batang pohon yang besar. Namun, rupanya bukan. Matanya mendelik ngeri melihat tubuh seorang pemuda tanpa kepala yang mati terduduk.
"Argh!" teriak Zam.
Zam buru-buru menyingkirkan tubuh itu dari dirinya. Saat tarikan itu berhenti, Zam terbaring lemah dan lemas di bawah hantu kabut.
Bukan hanya satu. Tapi beberapa hantu kabut datang mengelilinginya. Zam yang sudah tidak kuat lagi untuk melawan, akhirnya memilih pasrah.
"Biar aku yang melakukannya," kata salah satunya.
"Kau terlalu lamban. Dia akan kabur lagi nanti," jawab yang lainnya.
"Tidak. Aku yang menemukannya. Harus aku yang mengambil detaknya."
Mereka saling berebut untuk mulai membedah tubuh Zam. Zam tidak tahu apakah mereka ini sungguhan berbicara satu sama lain atau hanya khayalannya saja.
Zam yang menengadah menatap langit gelap, mengerjap pelan. Sulur matahari mulai menembus kabut saat salah satu di antara mereka berhasil merobek pakaian Zam.
Pisau itu sempat menyayat kulit Zam. Lalu seperti dikomando tanpa suara, mereka perlahan mundur dari hadapan Zam bersama kabut.
Matahari sudah terbit. Matahari sudah menghapus kabut. Zam tidak bisa lagi menahan beban berat di matanya.
Zam semoat menileh menatap sekitarnya. Pemandangan yang Zam lihat sebelum tak sadarkan diri adalah tubuh-tubuh tak bernyawa yang terpisah dari anggota tubuhnya.
Dan Zam melihat mayat Arro tergeletak tak jauh darinya. Kedua tangan dan kakinya hilang.
Lalu kegelapan menelan Zam.
***
"Dia selamat lagi? Bukankah ini suatu keajaiban?"
"Antara keajaiban atau sekedar keberuntungan."
"Aku yakin Suku Silk masih memiliki kekuatannya."
"Kau masih percaya? Mereka tidak benar-benar memiliki kemampuan. Lihatlah anak-anak di kuil yang sudah tak bernyawa itu."
Zam samar-samar bisa mendengarkan percakapan di sekitarnya, meski belum bisa mencerna secara utuh. Saat para perawat itu berjalan menjauh, Zam mencoba menggerakan tangannya.
Sekujur tubuhnya terasa kebas. Ia kesulitan menggerakan anggota tubuhnya. Namun, Zam yakin bagian tubuhnya masih berada di tempatnya.
Suara pintu terbuka mengejutkan Zam. Kalu dan dua orang anggota kerajaan Zhuro muncul di balik pintu itu. Entah untuk alasan apa, Zam malah kembali menutup matanya.
"Dia masih tidak sadarkan diri," kata Kalu.
"Tentu saja ia tidak bisa langsung sadarkan diri. Dia terbentur dua kali berturut-turut," sanggah seseorang bersuara bariton.
"Ya. Tapi dia cukup kuat rupanya. Lebih kuat dibanding dirimu, Que," kata suara lainnya yang lebih serak.
"Hm. Tapi dia tidak cukup cerdas untuk mengatur strategi, Leah," balas Que.
"Dia masih harus banyak berlatih," sahut Leah.
"Dia hanya seorang pencuri tak berpendidikan dan beretika," timpal Kalu.
Lalu Que dan Leah tertawa. Sebuah tawa yang ditangkap Zam sebagai tawa mengejek. Zam jadi ingin ikutan tersenyum.
"Tentu saja, Kalu. Tidak ada pencuri yang berpendidikan dan beretika. Jika ia pintar dan bermoral, ia sudah pasti akan menjadi seorang pangeran," kata Que.
Zam sebenarnya tersinggung. Tapi ia juga cukup
terhibur dengan ucapan Leah yang mencela balik ucapan Kalu.
Yah, setidaknya ada yang sudah membalaskan kekesalannya pada Kalu.
Kalu mendengkus keras. Zam bisa membayangkan wajah kepala pengawal yang sinis itu. Sudah pasti merah padam dengan sorot kesal menusuk pada lawan bicaranya.
“Jadi, menurutmu dia yang mengerahkan anak-anak muda di sini ke perbatasan?”
Leaha menaikan kedua alisnya dan menatap intens pada Kalu yang menatap tajam pada Zam.
“Ya, Leah. Aku yakin sekali. Karena aku ingat betul ia tengah di penjara siang sebelumnya.”
“Dan kenapa dia bisa ada di penjara, Kalu?”
“Karena dia menyebarkan berita bohong yang mempengaruhi pikiran orang lain. Aku khawatir ia akan membuat panik penduduk di sini,” jawab Kalu tegas dan mantap.
Leah dan Que saling berpandangan. Lalu Que yang melempar pertanyaan berikutnya pada Kalu.
“Apa yang dia ucapakan hingga kau berpikir dia menyebarkan sebuah kebohongan?”
Kalu bersedekap. Wajahnya terlihat muram.
“Dia bilang dia bisa melihat sosok hantu kabut.”
Suasana menegang seketika. Que dan Leah terdiam. Lalu keduanya bersamaan menatap pada Zam yang masih berpura-pura terbaring untuk mencuri dengar.
“Bagaimana rupanya?” desak Leah.
Kalu mengangkat bahunya ringan.
“Dia bilang hantu itu mengenakan jubah putih atau semacamnya. Aku yakin itu hanya khayalannya saja mengingat ia sempat tidak sadarkan diri.”
Leah menggigit pipi dalamnya. Matanya terlihat sedikit ragu. Begitu pula dengan Que yang merasa ada sesuatu yang ganjil pada sosok Zam.
Akhirnya Leah mengangguk, “Ya. Tidak pernah ada yang hidup setelah melihat hantu kabut. Sudah pasti pemuda ini hanya berimajinasi.”
“Kepalanya terbentur. Jelas itu tidak benar adanya,” timpal Que mendukung pernyataan Leah.
Zam langsung bangkit begitu ia disebut sebagai pembohong. Ia memang pencuri tapi bukan pembohong.
“Aku tidak berbohong. Aku sungguh melihatnya. Aku bisa melihat mereka datang bergerombol bersama kabut.”