Zam menyesali tindakannya yang terlalu tiba-tiba. Kini sakit di kepalanya semakin bertambah.
Telinga Zam kembali berdenging. Pandangannya kabur. Zam memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Menekan sisi samping keduanya untuk mengurangi nyerinya.
Hal itu tidak luput dari pengawasan Que, Leah, dan Kalu.
"Berbaring lagi saja, Anak Muda," saran Que.
Zam menggeleng. Bukan hanya sekedar untuk menolak saran dari Que, tapi juga untuk mengusir rasa sakitnya.
"Aku sungguh melihat mereka. Kau bisa melihatnya dari atas pohon seperti yang kulakukan," sanggah Zam ketika melihat keraguan pada wajah Que dan Leah.
Kalau wajah Kalu tidak perlu diperhatikan lagi. Zam sudah bisa menebaknya. Wajah memberengut yang membuatnya terlihat beberapa tahun lebih tua.
"Tidak ada orang hidup yang pernah melihat hantu kabut, Anak Muda. Kalau pun ada, kondisinya sudah tidak tertolong lagi. Bahkan hanya untuk sekedar bercerita sekalipun" papar Leah.
Zam mengerutkan dahinya. "Apa yang ada di hadapan kalian saat ini bukan mahluk bernyawa? Mungkin aku sudah menjadi bagian dari hantu kabut," sindir Zam tajam.
"Kau hanya beruntung bisa lolos dari kabut," sanggah Kalu.
"Aku saksi matanya!" balas Zam bersikukuh.
"Kau terbentur, Nak."
"Aku memang terbentur tapi aku tidak buta!" pekik Zam.
Zam mengeraskan rahangnya. Rasa sakit di kepalanya menusuk semakin dalam. Namun, ia belum ingin mengalah.
"Apa kau punya bukti?" tanya Que. Tangannya bergerak lugas mengikuti kalimat tanyanya.
"Panjat saja pohon yang ada di tanah ini."
"Dan membiarkan diriku masuk ke dalam kabut seperti yang kau lakukan dengan pemuda lainnya?"
Sindiran Que menohok hati Zam. Untuk sesaat tadi ia sempat melupakan tentang Arro dan pemuda lainnya yang menjadi korban karena strategi bodohnya.
"Jika jadi kau, aku tidak akan melakukannya, Anak Muda. Kau tidak tahu apa yang kau hadapi. Lebih baik kau menjaga dirimu sendiri lebih dulu sebelum membantu orang lain," sahut Leah.
Kepala Zam tertunduk. Hatinya pilu mengingat ingatan terakhirnya sebelum jatuh pingsan.
"Bagaimana dengan anak-anak di kuil?" tanya Zam lirih.
"Mereka ... yah, seperti yang kau tahu. Nasib mereka sama seperti pemuda yang menjadi korban di perbatasan," jawab Que.
"Kau bertanggung jawab penuh akan nyawa mereka, Zam," ujar Kalu ketus, dingin, dan tajam.
Zam menuduk lagi. Rasa bersalah menyelubungi hatinya. Memang dia kan yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian para pemuda.
"Kini kau mungkin bukan hanya di penjara saja atas sebuah kebohongan yang kau ucapkan. Tetapi juga hukuman gantung karena melalaikan nyawa orang lain," jawab Kalu seolah ia-lah yang paling tahu hukum di tanah Zhuro.
"Kau berkata seolah kau adalah bagian dari dewan hukum di Kerajaan Zhuro," sindir Zam.
Kalu mengetatkan rahangnya. Urat di pelipisnya menonjol saat menahan geram. Andai mereka berada di tanah Helvantica, Kalu tidak akan segan-segan untuk menjebloskannya ke penjara bawah tanah dan mendapatkan hukuman keji di sana.
Kalu sudah hendak maju menghajar Zam yang masih terlihat pucat saat Leah menahan pria itu dengan meletakan tangan kanannya pada bahu Kalu.
"Kau perlu beristirahat, Zam. Malam ini tidak akan ada kabut," kata Leah menengahi.
Ia yakin jika terjadi baku hantam, Kalu yang akan memenangkannya. Dan Zam sudah pasti akan kembali terbaring di ranjangnya saat ini.
'Hah, anak muda dan egonya,' batin Leah penuh pemakluman.
Leah dan Que sudah mengenal lama Kalu. Mereka sudah sering bertemu saat pertemuan antar kerajaan. Dan mereka berdua juga sudah hapal betul sifat dari Kali yang sulit sekali menahan emosi dan mudah tersinggung.
Oh, jangan lupakan mulutnya yang pedas itu.
"Kau tahu dari mana?" tanya Zam dengan mendongakan dagunya.
Leah yang lebih tua dan banyak pengalaman menghadapi orang-orang seperti Zam pun tersenyum. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Zam yang kurang ajar.
"Aku ahli strategi perang, Zam."
"Lantas?"
"Aku tahu kapan kabut datang hanya dengan melihat langit siang ini," jelas Leah dengan kalem.
Zam mengangkat sebelah alisnya.
"Ada apa? Apa kau tidak percaya?" tanya Leah menanggapi ekspresi ragu di wajah Zam.
Zam mengangkat bahunya ringan. Lalu berkata, "Tidak. Aku hanya baru tahu jika ada yang bisa memprediksikan cuaca seperti itu."
Bukan Leah yang menanggapi ucapan Zam, melainkan Kalu yang tersenyum miring mencemooh.
"Tentu saja kau tidak tahu. Selama ini yang kau tahu hanya pergi ke pasar untuk mencuri," ejek Kalu.
"Sudahlah, Kalu. Kau lebih tua darinya. Jangan terus-terusan memancing ego anak muda," bela Que pada Zam.
Zam mengepalkan tangannya. Bibirnya terkatup rapat. Tidak ada satu kalimat pun yang terucap dari mulutnya.
"Beristirahatlah, Zam," kata Leah.
Kemudian ia mendorong bahu Kalu agar pergi meninggalkan Zam. Que tersenyum tipis dan melambaikan tangan.
"Apa benar tentang berita itu?" tanya Zam setelah ketiga pria itu sampai di ambang pintu.
Que berbalik. Kedua alisnya terangkat bersamaan. "Apa?"
"Berita mengenai anak-anak Suku Silk di kuil. Apa benar ... mereka sudah ...?" tanya Zam terbata.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada mereka saat kabut datang kemarin malam.
Que mengangguk pelan, sorot matanya berubah sendu. Kemudian ia menjawab, "Kau pasti sudah bertemu mereka sebelumnya. Dan, ya, kau tahu bagaimana nasib mereka sekarang."
Setelah mengatakannya, ketiga pria dewasa itu berlalu meninggalkan Zam di kamarnya. Jantung Zam berdegup cepat. Napasnya sesak seolah tengah diganjal sesuatu yang amat besar dan menyumbat pasokan oksigennya.
Mata Zam bergerak mengamati sekelilingnya dengan genangan air mata di pelupuk. Lalu rasa sedih itu, berubah menjadi sebuah amarah yang berkecamuk di hatinya.
Andai Pangeran Baylord mempercayai ucapannya, tentu hal ini tidak akan terjadi. Pangeran muda yang dingin itu pasti akan memikirkan strategi yang tepat untuk mencegah semua ini terus berlanjut.
Seharusnya begitu.
Bukankah rombongan Pangeran Baylord datang ke Kerajaan Zhuro untuk menuntaskan masalah ini?
***
"Aku ingin bertemu dengan Pangeran Baylord," kata Zam pada pengawal di depan pintu kamar Pangeran Baylord.
"Pangeran sedang tidak bisa ditemui," jawab pengawal itu dengan muka datar. Dia adalah anak buah Kalu yang Zam tidak tahu namanya.
Dan Zam juga tidak berniat mencari tahu dengan berkenalan padanya.
Alis Zam menyatu ke tengah. Matanya berbias tidak suka. "Kenapa dia tidak bisa ditemui?"
Sang pengawal tidak menjawab. Wajahnya kaku seperti topeng kayu yang dijual di pasar Helvantica. Karena tidak mendapatkan jawaban, Zam mencoba menerobos masuk. Namun, tombak yang dibawa pengawal itu langsung menghalangi langkahnya.
"Kau dilarang masuk."
"Ada hal penting yang ingin kukatakan pada Pangeran," desis Zam. Ia tidak bisa terus-terusan hanya menuruti perkataan orang lain.
Ia harus bisa bergerak atas inisiatifnya sendiri. Jika tidak segera memberitahu sang Pangeran, akan jauh lebih banyak korban berjatuhan. Mungkin saja besok saat kabut datang, nyawa Pangeran Baylord atau Zam yang terancam.
"Sudah kukatakan kau tidak bisa menemuinya," sahut pengawal.
Tangannya mendorong bahu Zam dengan keras hingga Zam melangkah mundur, nyaris terjatuh.
“Apa-apaan kau ini?” kata Zam sengit. Bahunya yang lebam kembali berdenyut.
“Sudah kukatakan Pangeran Baylord sedang tidak bisa ditemui. Jangan memaksa.”
“Kau tidak tahu apa-apa. Jadi sebaiknya diam saja,” sanggah Zam.
Pemuda itu kembali melangkah hendak masuk. Dan sekali lagi langkahnya juga ditahan oleh pengawal berbadan kekar.
“Jika kau terus seperti ini, aku tidak akan segan-segan memasukanmu ke dalam penjara karena menggangu kenyaman Pangeran Baylord,” ancamnya.
“Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu sebelum pergi dari sini,” gertak Zam.
Kepala pengawal itu menggeleng kaku. Lalu ia berkata, “Jika Pangeran sedang tidak mau diganggu, maka tidak ada yang boleh mengganggu.”
Zam berdecih. Bibirnya mencebik mencemooh sikap kaku pengawal. “Aku jadi ingin lihat. Apa kau juga bisa setegas ini pada hantu kabut? Atau malah kau lari terbirit-b***t,” ejek Zam.
Mata pengawal menyipit tajam dan menusuk. “Apa kau menyebutku pengecut?”
Zam mengedikan bahunya ringan. “Aku tidak mengatakannya. Tapi kalau merasa seperti itu, namanya sadar diri.”
Pengawal maju dan mencengkram kerah pakaian Zam. Matanya semakin tajam menatap manik emas Zam yang berkilauan tanpa rasa takut.
“Jangan sampai aku menambahkan luka di tubuhmu, Pencuri Cilik. Aku tidak akan segan-segan membenturkan kepalamu ke dinding belakangmu hingga wajahmu tidak lagi berbentuk,” desisnya penuh ancaman.
Sebenarnya Zam takut. Tapi persetan dengan pengawal ini. Dia lebih takut pada hantu kabut yang tidak terdeteksi keberadaannya.
“Cih. Coba lakukan saja selagi kau masih memiliki kedua tanganmu,” tantang Zam balik.
Terdengar suara gertakan pada mulut pengawal di depannya. Suara yang begitu mengintimidasi jika disandingkan dengan kondisi dan ekspresi si pengawal.
‘Pasti gigi-giginya sangat kuat hingga digertakan begitu saja ia tidak merasakan sakit,’ batin Zam mencoba menenangkan diri.
Tiba-tiba tubuh Zam dibanting ke lantai marmer istana. Punggungnya langsung menyentuh lantai mengkilap itu dengan suara berdebum keras. Pengawal tadi sudah siap melayangkan tinjunya saat tiba-tiba pintu kamar sang Pangeran terbuka.
Sosok yang dicari Zam muncul dari dalam dengan ekspresi yang sulit diartikan. Kemudian Pangeran Baylord berkata dengan suara serak yang membuat ringisan kesakitan Zam berubah heran.
“Biarkan dia masuk, Kloz.”