Zam memasuki kamar mewah Pangeran Baylord setelah diberi ijin oleh si empunya.
Pengawal yang tadi mencegah Zam pun akhirnya memberi akses bagi Zam untuk masuk meski dengan setengah hati ia melakukannya.
‘Memangnya ini kamar miliknya apa? Mengapa yang menjaga malah lebih galak dibanding yang punya?’ cibir Zam dalam hati.
Ketika masuk ke dalam kamar sang Pangeran, indera penglihatan Zam begitu dimanjakan dengan benda-benda menakjubkan.
Mata Zam melebar penuh binar melihat benda-benda mewah yang memenuhi ruangan itu. Kamar Pangeran Baylord lebarnya lima kali rumah kayu Zam di dalam pinggiran kerajaan Helvantica.
Seandainya Zam yang memiliki kamar sebesar ini, ia akan sering latihan memanah di kamarnya, bukan di tanah lapang seperti biasanya. Dan jangan lupakan juga kudanya.
Zam akan bisa membawa Ormanza masuk untuk menemaninya tidur! Selama ini kan kuda kesayangannya itu selalu tidur di luar. Jadi, Ormanza pasti senang jika bisa tidur di kamar sebesar ini.
Zam menatap berkeliling.
Bah! Kamar seluas ini seharusnya dipenuhi oleh banyak wanita. Jika hanya dipenuhi barang-barang seperti ini memangnya bisa memuaskan Pangeran Baylord? Begitu pikir Zam saat mengamati sekitarnya dengan pandangan takjub.
Zam mendekat pada salah satu keramik vas bunga di atas meja marmer putih yang mengkilap. Vas itu berisi bunga yang sangat harum yang Zam tidak tahu namanya.
'Wangi bunganya saja lebih harum dibanding sabun yang kugunakan,' batin Zam keki.
Zam berpindah tempat. Ia mengamati sisi lain kamar Pangeran Baylord dengan tangan yang tak berhenti menyentuh benda-benda atau hidungnya yang membaui aroma bunga-bunga.
Zam tidak sadar jika sedari tadi Pangeran Baylord mengawasinya dengan mata tajam yang bersorot lesu. Mata yang biasanya terlihat dingin, kini terlihat muram.
Zam lari ke sisi yang lain di kamar itu. Ada sebuah patung kecil yang terbuat dari emas.
Patung berbentuk pohon dengan daun yang rimbun. Benda itu sudah pasti milik Istana Zhuro.
Mata Zam berbinar melihatnya.
'Ini bisa ditukarkan dengan sebuah rumah dan seekor kuda. Aku akan bisa menjadi peternak kuda yang baik dengan merawat anak-anak Ormanza nantinya,' pikir Zam dengan diiringi senyum berbinar senang.
Pencuri akan tetap menjadi pencuri. Tapi setidaknya tingkatan pencuri Zam naik setingkat dibanding dulu. Jika biasanya ia mencuri benda-benda di pasar, kini ia bisa berpikir untuk mencuri patung emas ini.
Dan tentunya benda lain juga. Masih banyak benda di kamar ini yang bisa ia ambil. Zam yakin baik Pangeran Baylord maupun Raja Syke tidak akan menyadarinya.
"Kau sudah selesai mengamati? Atau kau sedang menyusun rencana untuk mengambil patung itu?" tanya Pangeran Baylord dengan nada yang pelan dan memantul di seluruh dinding kamar.
Sindiran itu menyentak Zam kembali ke kenyataan. Pikirannya yang sudah dipenuhi dengan harga nilai jual dari benda-benda incarannya, buyar seketika.
Zam mengerjap tersadar. Ia hampir lupa tujuannya datang ke sini karena begitu dimanjakan oleh benda-benda mahal. Tangannya meletakan kembali patung itu ke posisi semula.
Kemudian Zam berbalik dan menoleh menatap Pangeran Baylord yang berdiri dengan bersedekap.
Zam berdeham sekali. Wajah itu terlihat berbeda hari ini. Zam tahu. Maka dari itu ia menanyakannya.
"Apa kabar, Pangeran?" tanya Zam untuk mencairkan suasana. Setidaknya ia penasaran dengan yang dipikirkan oleh Pangeran Baylord.
Dan juga karena ia bingung bagaimana harus memulai pembicaraan serius ini. Padahal ketika di luar tadi ia begitu rapi merangkai kalimatnya.
Namun, saat masuk dan teralihkan dengan benda-benda yang menawan itu membuatnya lupa akan kalimat yang sudah ditata.
Pangeran Baylord mengangkat sebelah alisnya. Kemudian dia menggerakan tangannya ke arah pintu.
"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan, lebih baik kau pergi saja," kata Pangeran Baylord dengan nada yang kembali terdengar dingin.
Pangeran mengusir halus Zam dari kamarnya.
Zam mengerjap. Apa menanyakan kabar seseorang itu bukan hal penting? Yang benar saja. Zam paling suka ditanyai kabarnya. Karena setelah itu ia bisa memelas meminta sesuatu pada orang lain.
Sudah banyak orang yang ia temui di pasar yang bersedia dimanfaatkan olehnya setelah bertanya kabar masing-masing sebelum ia berubah pekerjaan menjadi seorang pencuri.
"Jika kabar Pangeran tidak sepenting itu, tentunya hal yang ingin kusampaikan jauh lebih tidak penting lagi," sahut Zam datar.
Pangeran Baylord yang sudah berjalan ke arah kasurnya pun menghentikan langkahnya.
"Kalau kau sudah menyadarinya, maka lekaslah keluar. Aku butuh beristirahat," ujar Pangeran Baylord tak kalah datar dan juga ... santai.
Zam mengernyit tak suka dengan sikap Pangeran Baylord. Sementara itu, pria berwajah kaku itu merebahkan dirinya di atas ranjang dengan gerakan anggun.
"Kau akan terus berdiri di situ dan melihatku tidur?" sindir Pangeran Baylord dengan mata terpejam.
Tepat setelah itu, Zam naik pitam. Tangannya mengepal erat. Rahangnya menegang kaku. Sorotnya tajam menatap tubuh sang Pangeran.
Secara tidak langsung sikap dan kalimat yang diucapkan oleh Pangeran Baylord adalah untuk mengusirnya. Mengusir tanpa mau mendengarkan.
"Jika kau menatapku seperti itu terus, kau bisa dicurigai memiliki niat jahat padaku, Zam. Bersikaplah sesuai tingkatanmu."
Perkataan Pangeran Baylord yang angkuh, merendahkan, dan menghina dirinya itu menyulut api amarah Zam yang tadi coba ia kendalikan mati-matian.
"Oh, tentu saja aku harus bersikap sesuai tingkatanku. Aku harus bekerja keras sementara pemimpinku sedang berbaring di ranjangnya yang mewah," sindir Zam balik.
Sindiran itu telak mengenai hati Pangeran Baylord. Si Pangeran merasa tersinggung. Ia bangun dengan posisi duduk dan menatap Zam dingin dan tajam.
Memberikan peringatan tersirat pada Zam jika sikapnya sudah terlalu berlebihan untuk sekedar orang biasa yang berbicara pada seorang pewaris tahta.
"Seorang pencuri memang harus bekerja keras agar tidak tertangkap."
Pangeran Baylord bisa saja langsung menyuruh pengawal di luar kamarnya untuk menyeret dan memukul Zam keluar. Tapi ia tidak mau menambah luka di tubuh kurus pemuda itu.
Bisa-bisa dia mati karena dihabisi oleh anak buahnya, bukan karena hantu kabut.
Zam menelengkan kepalanya. Sial. Kenapa profesinya selalu dijadikan bahan sindiran? Padahal Zam menjadi pencuri karena tidak ada pilihan.
Memangnya seorang pangeran seperti Pangeran Baylord mau melihat keadaan penduduk miskin dan terpencil seperti dirinya?
"Dan pencuri ini yang berhasil selamat dari hantu kabut. Terimakasihku untuk profesi yang tidak diminati banyak orang ini. Karena menjadi pencuri membuatku bisa dengan lincah menyelamatkan diri," jawab Zam menahan geramannya.
Pangeran Baylord menarik napas dalam. Hidungnya kembang kempis. Mukanya memerah.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
"Apa Pangeran lihat yang terjadi di balik kabut?"
"Tidak ada yang bisa melihat di dalam kabut?"
"Tapi aku bisa."
"Karena kepalamu terbentur."
"Itu bukan khayalan!" pekik Zam. Ia sudah tidak tahan lagi disangka berimajinasi melihat sosok hantu kabut.
Jika tidak ada yang pernah melihatnya, bukankah ceritanya patut untuk dipercayai?
"Kau bisa buktikan?"
Dengan rahang yang terbuka sedikit saat berbicara, Zam menjawab, "Bagaimana aku bisa membuktikan jika tidak ada satu pun yang mempercayai ucapanku?"
Pangeran Baylord menggigit pipi dalamnya. Ia tidak pernah melihat seseorang sampai sekeras ini hanya untuk membual. Dan karena kekeras kepalaan Zam itu rupanya mampu sedikit mengubah keputusan Pangeran Baylord.
"Baiklah. Kau bisa membuktikannya di depan pertemuan nanti."
Zam bergeming. Pertemuan? Pertemuan apa? Apa ia akan disidang karena dianggap sebagai penghasut seperti yang dikatakan oleh Kalu?
Melihat kegundahan Zam, Pangeran Baylord pun menambahkan, "Ini pertemuan antara para dewan. Kau tidak perlu memikir hal yang tidak-tidak."
Zam masih bergeming di tempatnya. Menerka maksud Pangeran Baylord. Melihat itu, Pangeran Baylord yang ingin beristirahat setelah melewati hari yang panjang pun kembali bersuara.
"Sekarang keluarlah dari kamarku!" titah sang Pangeran tegas tak terbantah.
Dan setelah itu, mau tidak mau, Zam langsung pergi dari sana. Setelah meraih patung emas yang ia incar tentunya.