Pertemuan

1365 Kata
Zam menelan salivanya kelat. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan orang-orang penting di suatu kerajaan. Dia datang bukan untuk diadili dan diberi hukuman, melainkan untuk dimintai keterangan. Wah. Mata Zam menatap terpana pada orang-orang di sekitarnya. Jubah mereka sungguh mewah. Dan jangan lupakan wajah-wajah angkuh yang kurang ramah itu. Hanya Leah yang tersenyum melihat dirinya sembari mengangguk ringan. Zam mencibir dalam hati. Padahal kemarin saja ia meragukannya. Tapi sekarang seolah pria tua itu mendukungnya penuh. "Apa yang bisa kau bagi pada kami, Anak Muda?" tanya Raja Syke dengan nada rendah penuh wibawa. Zam mengalihkan atensinya pada sosok Raja Syke. Pria dengan jubah hijau tua yang mewah bertabur berlian di ujung kerahnya begitu memukau indera penglihatan Zam. Zam menggeleng sekali. Ia harus fokus pada pembicaraan mereka hari ini. Zam harus bisa meyakinkan mereka semua kalau Zam berkata yang sebenarnya. "Panggil saja aku Zam, Yang Mulia," sahut Zam dengan sopan. Mata teduh sang Raja melengkung saat tersenyum. Zam bisa merasakaan kelembutan di dalam diri Raja Syke. Ini pertama kalinya ia melihat langsung Raja Syke. Raja yang terkenal sebagai ahli strategi perang dan bersahabat dengan Raja Helvantica XII. "Baiklah, Zam. Apa yang ingin kau sampaikan pada kami?" Zam berdeham sekali. Lalu menarik napas dalam. "Aku bisa melihat hantu kabut. Baik di dalam maupun di luar kabut," jawab Zam dengan nada tenang dan wajah datar. Ia harus terlihat meyakinkan, kan? Semua wajah di ruang pertemuan itu menegang kaku. Kecuali Pangeran Baylord, Kalu, Leah, dan Que. Mereka sudah mendengar hal itu berulang kali. Tidak ada alasan yang bisa membuat mereka terkejut untuk yang kedua kalinya. "Kau bisa melihat hantu kabut?" tanya Raja Syke dengan dahi berkerut. Zam mengangguk, "Ya. Aku melihat mereka datang bergerombol bersamaan dengan kabut." Terdengar suara desas-desus di dalam ruangan. Para dewan sibuk berbisik. Ada yang mempertanyakan kebenaran dari perkataan Zam. Ada juga yang langsung membantah mentah-mentah informasi yang mereka dapatkan. "Hantu tidak bisa dilihat, Zam," sanggah Raja Syke. Zam mengangguk lagi. "Tapi aku bisa. Entah mengapa aku bisa melihat mereka di saat yang lain tidak," balas Zam. "Kau yakin itu bukan sekelompok pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk meneror Kerajaan Zhuro?" tanya salah satu dewan yang mengenakan jubah berwarna biru muda. Wajahnya terlihat garang dengan mata menyipit menyelidik saat mengajukan pertanyaan. Zam tahu ia sedang diintimidasi oleh dewan-dewan dengan tatapan mereka yang dingin, tajam, dan penuh selidik. Ah, ditambah dengan tatapan mencela juga. Zam mendengkus geli. "Jika mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dikirim untuk meneror Kerajaan Zhuro, mengapa harus ada jantung manusia yang diambil oleh mereka?" Suara Zam memelan diakhir. Ia teringat dengan anak-anak bermata emas dengan jubah yang berwarna senada. Zam tidak bisa membayangkan ketakutan di mata mereka sesaat sebelum jantungnya direnggut paksa oleh hantu kabut. “Kalau itu bukan kelompok pembunuh bayaran, lalu apa mereka?” tanya pria tadi lebih lanjut. “Aku … berasumsi jika mereka bukan hantu atau sekelompok pembunuh,” jawab Zam ragu. “Jadi?” desaknya tidak sabaran. Zam mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk. “Aku kira mereka adalah sekelompok manusia dengan kemampuan khusus.” Zam sudah memikirkannya semalaman. Hantu tidak bisa dilihat, tentu saja. Zam tahu itu. Zam bukan peramal yang bisa menatap mahluk gaib seperti hantu dan sejenisnya. Jika Zam bisa melihatnya, yang mana ada kemungkinan Arro juga sempat melihat mereka sebelum terbunuh dan bisa mendengar suaranya dalam kabut, maka sudah pasti itu adalah manusia. Bukan manusia biasa tentunya. Tapi benarkah Arro juga bisa melihat mereka? Apa setiap yang akan dibunuh oleh hantu kabut itu diberi kesempatan untuk bisa melihat mereka? Sekali lagi semua punggung di ruangan itu menegak kaku. Lalu sedetik kemudian para dewan kembali riuh dengan pendapatnya masing-masing. Tangan Raja Syke terangkat ke atas. Seketika semua suara berbisik yang saling bersahutan itu lenyap digantikan hening. “Bukan manusia biasa?” tanya sang Raja. “Ya. Kurasa begitu. Karena mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia normal.” Semua mata memandang Zam dengan sorot yang sama. Menuntut penjelasan lebih jauh. “Mereka bisa bergerak cepat. Mereka bisa memanjat pohon lebih cepat daripada seekor tupai. Mereka bisa menyaru dengan kabut tanpa suara, tanpa aroma, tanpa bayangan. Tidak ada manusia normal yang bisa melakukannya,” jelas Zam. Sebelah alis Pangeran Baylord terangkat. Wajahnya jelas menunjukan keraguan. “Apa kau pikir kami bisa percaya begitu saja pada ucapanmu itu?” Zam mendesah lelah. Bahunya bergerak turun. “Harus bagaimana lagi caraku meyakinkan orang-orang kalau aku tidak berbohong.” Tidak ada jawaban. Semua hanya menatap Zam tanpa suara. Zam mengangkat tangannya. Ia menyerah. Lelah menjelaskan hal yang sama berulang kali. “Baiklah. Terserah pada kalian. Setidaknya aku sudah menyampaikan semua yang kutahu. Selebihnya urusan kalian,” kata Zam dengan wajah kecewa. Jika tahu sepercuma ini menjelaskan semuanya, ia tidak akan datang. Sudah lelah menjelaskan, tapi tetap saja ia dianggap pembohong. Zam berbalik hendak pergi. Dan saat itulah tatapannya bertemu dengan tatapan Kalu yang mencemooh dirinya. Bibirnya tersenyum miring yang di mata Zam terlihat bukan hanya sinis. Namun, juga menambahkan tingkat kerutan di wajahnya. “Senjata apa yang mereka gunakan?” tanya Pangeran Baylord mencegah langkah Zam yang baru berjalan satu langkah. Zam berbalik lagi dengan cepat. Kedua alisnya terangkat. “Jika benar mereka adalah manusia yang memiliki keahlian khusus, bagaimana cara mereka melukai? Dengan senjata apa?” cecar Pangeran Baylord. Zam menggigit pipi dalamnya. “Mereka menyerang menggunakan sesuatu yang tipis tapi kuat. Semacam kawat. Berdasarkan pengalaman yang kualami malam itu, kakiku tertarik oleh kawat itu hingga jatuh. Aku yakin pemuda yang ikut bersamaku ikut terjatuh karena kakinya terjerat oleh benda itu,” papar Zam tenang. Pangeran Baylord menyipitkan matanya mencari kebohongan dari bahasa tubuh Zam. Tapi sikap Zam yang tenang tidak terintimidasi dengan sekitarnya, mau tidak mau membuat Pangeran Baylord mengamini ceritanya. Setidaknya untuk saat ini, hingga nanti Zam bisa membuktikannya. “Apa yang mereka incar saat melakukan penyerangan?” lanjut Pangeran Baylord. Zam yang mendengar pertanyaannya, memucat. Wajahnya pias, tubuhnya sedikit bergetar saat mengingat benda tajam di tangan salah satu hantu kabut itu. Secara refleks, Zam menyentuh dadanya yang terluka dan sudah dibebat oleh kain perban. Hal itu tidak luput dari pengamatan mata tajam si Pangeran. “Dia mengincar d**a manusia?” Zam mengerjap. Bias matanya bersorot ngeri saat menjawab. “Jantung. Mereka mengincar jantung manusia bermata emas.” Suasana kembali riuh. Kali ini para dewan bersuara lebih keras lagi. Bahkan ada di antara mereka yang menuding Zam. Tapi Zam tidak bisa menangkap dengan jelas kalimat yang diucapkan oleh orang-orang itu. “Jantung?” “Aku tidak tahu pastinya. Tapi berdasarkan informasi yang kuketahui, mayat orang bermata emas selalu kehilangan bagian tubuh yang sama yaitu jantung mereka.” Salah satu dewan dengan janggut putih dan rambut abu-abu ikut angkat bicara setelah dari tadi hanya diam memperhatikan jalannya pertemuan. “Benar, Yang Mulia. Aku melihat sendiri mayat- mayat mereka. Dan yang terakhir adalah anak-anak di kuil yang sengaja kita asingkan. Mayat mereka semua kehilangan jantung dengan pembedahan yang sempurna. Garis yang mereka buat begitu halus. Bahkan para tabib istana pun sudah pasti kalah,” bebernya membenarkan ucapan Zam. Raja Syke menatap kembali Zam. Dahinya berkerut semakin dalam. “Untuk apa mereka mengincar jantung orang bermata emas?” Zam menggeleng pelan. Ia sendiri tidak tahu. Raja Syke diam. Dia tampak sedang berpikir. Mulut Zam sudah terbuka, siap untuk bersuara. Namun, belum sempat bertanya mengenai pengasingan anak-anak bermata emas di kuil itu, Raja Syke sudah mendahuluinya berbicara. “Jika kau benar, apa kau tahu cara menghentikan tindakan mereka?” Zam menggeleng. “Jika kau tidak tahu apa yang harus dilakukan, lalu mengapa kau berani mengatakan semua itu?” “Karena aku yakin dengan yang aku alami!” kata Zam dengan suara meninggi. Sudah habis kesabarannya. Selesai mengatakan itu, Kalu dan anak buahnya segera meringkus Zam. “Biar aku yang mengurusnya, Yang Mulia. Ia memang sudah tidak waras. Seeenaknya saja saat berbicara,” kata Kalu menohok hati Zam. “Kau yang tidak waras!” Kalu mengedikan dagunya, memberi kode pada anak buahnya. Kedua anak buahnya mengangguk dan bersiap menyeret Zam. Zam tahu ia akan dimasukan lagi ke dalam penjara. Jika ia masuk ke sana lagi, tidak menutup kemungkinan ia akan mati di dalam penjara. Jika bukan karena hantu kabut yang mengambil jantungnya, tentu karena siksaan para pengawal. Zam buru-buru memutar otak. “Aku memiliki rencana, Yang Mulia. Rencana yang baru saja terpikirkan olehku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN