Sesosok Wanita

1252 Kata
Raja Syke kembali mengangkat tangannya mencegah pengawal dari Kerajaan Helvantica itu membawa pergi Zam. Anak buah Kalu langsung menghentak kasar tangan Zam, hingga pemuda itu nyaris jatuh tersungkur ke depan. Zam melirik kesal diiringi dengan dengusan. Raja Syke tidak menghiraukan ekspresi Zam. Ia justru lanjut bertanya, "Apa rencanamu, Zam?" Zam berdiri tegak kembali. Ditanyai seperti itu, ia jadi salah tingkah. Bagaimana jika Raja Syke tahu ia berbohong? Bisa-bisa langsung dipenggal kepalanya. Tanpa sadar Zam menyentuh lehernya sendiri dengan ngeri. "Ehem." Dehaman keras dari Kalu menyentak Zam kembali ke dunia nyata. Ia mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk. "Menurut panglima perang Kerajaan Zhuro, hari ini tidak akan ada kabut," ucap Zam asal. Karena menurut otak cerdas Zam yang bekerja saat itu lebih baik ada kalimat yang terucap dari bibirnya. Masalah bagaimana eksekusi dari rencananya, bisa ia pikirkan nanti. Raja Syke menaikan kedua alisnya, "Lalu?" Zam mengepalkan tangannya gugup bercampur cemas. "Kita bisa menyusun rencana pembalasan pada mereka," jawab Zam ragu dengan suara semakin memelan di bagian akhirnya. Ia tidak yakin bisa membalas hantu kabut. Dia hanya manusia biasa. Dia tidak seberani itu untuk membalaskan dendam pada manusia yang memiliki kekuatan khusus seperti mereka. Raja Syke menyipitkan matanya. Namun, bukan dirinya yang angkat bicara. Melainkan Pangeran Baylord. "Balas dendam? Bagaimana caranya?" Sial. Zam salah bicara. Dia tidak tahu kalau asal berbicara di hadapan dewan, pangeran, dan raja akan berbuntut panjang dan mendetail seperti ini. Dalam hati, Zam mengutuk dirinya sendiri. Mata Zam memandang sekitarnya. Mendapati arti tatapan yang sama dari seluruh orang di ruangan itu membuat keringat dingin mengalir di punggungnya. "Kita ... bisa memanjat ... pohon," jawab Zam terbata. "Kau ingin membunuh kami semua?" sindir Pangeran Bayord. Zam bisa merasakan dari balik punggungnya jika saat ini Kalu tengah mencemooh dirinya dengan senyuman mengejek. Zam menggeleng cepat. "Tentu tidak. Aku hanya ingin menunjukan pada kalian bagaimana rupa mereka. Dan kalian akan bisa menilainya sendiri. Lalu kita akan bisa membalas mereka setelah melalui proses pengamatan." Zam menelan salivanya yang terasa mengganjal. Tentu jawabannya tidak bisa meyakinkan semua orang yang ada. "Aku rasa itu bukan rencana yang bijak, Kawan," sahut Leah dengan sebelah tangan menyangga dagunya. Otak Zam langsung berpikir cepat. Seolah diberi sebuah pencerahan dari dewa untuk bisa menyelematkan diri dari pembicaraan yang menegangkan ini. Untuk bisa menyelamatkan kepalanya. "Benar sekali, Leah. Maka dari itu, mohon pada Yang Mulia untuk berkenan memberikanku waktu agar mematangkan rencana yang ada," ujar Zam sembari tersenyum manis. Senyumnya masih terus terpatri di wajahnya sampai melihat Raja Syke berniat membuka mulutnya untuk menjawab. "Aku akan memberikanmu waktu, Zam. Hanya sampai besok pagi." "Kenapa hanya dua hari?" protes Zam. Dua hari tidak akan cukup baginya untuk memikirkan rencana yang matang. Ia tidak mau membawa pasukan ke medan perang hanya untuk misi bunuh diri. Terlebih lagi kemungkinan Leah akan turun tangan langsung saat eksekusinya. Zam yakin jika ia salah langkah dalam menyusun rencana dan mengakibatkan Leah meninggal, nyawanya akan ikut direnggut dari tubuhnya. "Karena menurut perkiraanku, hanya sampai besok pagi saja kabut itu tidak ada. Kau bisa menggunakan waktu dua hari penuh untuk menyusun rencana sebelum kabut datang. Dimulai dari hari ini," papar Raja Syke. Zam menarik napasnya dalam. "Apa aku akan dibantu oleh seseorang dalam menyusun rencana ini?" "Jika kau butuh bantuan, aku akan dengan senang hati membantumu," timpal Leah. Que mengangguk. Begitu pula dua orang lainnya yang berada di sebelahnya yang belum diketahui namanya oleh Zam. "Nah, Zam. Kau bisa memulai semuanya dari hari ini. Pastikan rencananya benar-benar bisa memberikan hasil yang maksimal," kata Raja Syke seolah memberi titah pada Zam secara tersirat. Alis Zam menyatu ke tengah. Merasa ada yang ganjil dengan kalimat sang Raja. "Tapi dalam perang tidak ada yang sempurna. Hasil yang maksimal tentunya juga membutuhkan banyak pengorbanan yang lebih besar lagi," sanggah Zam. Raja Syke berdiri. Dia tampak gagah di balik jubahnya dan tongkat di tangan kanannya. "Seberapa besarnya pengorbanan yang dibutuhkan, akan aku berikan. Asalkan kau bisa menjamin rencanamu bisa membalaskan dendam kematian Puteri Sylvia," balas Raja Syke dengan mata bersorot penuh kemarahan. Zam terhenyak. Matanya melirik ke kursi di sisi Raja di mana Pangeran Baylord berada. Bias kedua maniknya juga sama tajamnya dengan Raja Syke. Kini Zam tahu apa yang membuat Pangeran Baylord murung beberapa waktu yang lalu. Dan dengan mudahnya mau membawa Zam ke dalam pertemuan penting seperti sekarang. Calon isterinya, Puteri Sylvia, mati di tangan hantu kabut. *** "Ke mana aku harus mencari cara? Melihat mereka saja aku sudah bergetar ketakutan," kata Zam bermonolog. Zam menendang batu kerikil di dekat kakinya. Batu itu memantul ke batu yang lebih besar di dekat sebuah sungai yang jernih. Zam berjalan lesu menuju batu besar itu. Kemudian ia mendudukan dirinya di atasnya sambil terus berpikir. Hanya dua hari. Dan ia baru saja kehilangan satu harinya hanya untuk berkeliling desa dengan memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa yang tengah ia pikirkan. Sial. Waktu Zam terbuang percuma. Zam melepas sepatunya dan mencelupkan kakinya ke dalam air dingin di depannya. Rasa dinginnya lumayan bisa menyalurkan ketenangan pada isi kepalanya yang begitu penuh. Padahal biasanya isi kepalanya selalu kosong. Kali ini otaknya dipaksa bekerja keras dua kali lipat dibanding biasanya. Luar biasa sekali Raja Syke bisa membuatnya berubah begini. “Dia datang tanpa suara. Dia datang tanpa rasa,” gumam seseorang di kejauhan. Mulanya suara itu begitu pelan terdengar. Namun, semakin lama semakin keras seiring langkahnya yang mendekat. Kalimat yang diucapkan orang itu sama. Kepala Zam berputar mencari ke arah sumber suara. Hingga akhirnya matanya tertuju pada sesosok perempuan dengan pakaian compang camping dan rambut awut-awutan. Wanita itu membawa sebuah kerajaan kosong di tangan kanannya. Zam mengerjap cepat. Di saat ia sedang banyak pikiran begini, mengapa harus bertemu dengan orang gila? Zam bangkit dari duduknya, bersiap pergi. “Kau sedang mencari dia, bukan?” kata perempuan gila itu. Zam bergeming. Dia tidak menjawab. Jika ia menjawab, bukankah ia akan sama gilanya dengan perempuan itu? Perempuan itu berjalan mendekati Zam. Wajahnya pucat tapi jelas masih menyisakan kecantikan di balik penampilannya yang kumuh. “Siapa kau?” Akhirnya Zam tidak kuasa menahan keinginan bertanyanya. Perempuan ini terlalu cantik untuk menjadi sosok yang tidak waras. Bukannya menjawab, si wanita malah menunjuk ke arah pohon besar di belakang Zam. Lalu ia berkata, “Dia datang tanpa suara. Dia datang tanpa rasa.” Zam menaikan sebelah alisnya, “Baiklah. Memang aku yang tidak waras.” Zam berbalik hendak pergi. Lebih baik ia mengajak bicara Ormanza dari pada wanita ini. “Jika kau ingin mengalahkannya, cari pemimpinnya. Dia tidak datang sendiri,” ujar wanita itu. Jujur saja, Zam sedikit merinding mendengar penuturannya. “Cari pemimpin mereka di sarang mereka.” Zam memberikan atensi penuh lagi pada si wanita. Wanita itu tidak memperhatikan dirinya. Kepalanya justru berputar sambil menunjuk langit dengan sebuah tatapan yang sulit diartikan oleh Zam. “Dia hidup dalam tubuh mahluk hidup.” Tiba-tiba saja wanita itu menoleh pada Zam sambil tersenyum, “Cari dia. Cari dia dan semua akan selesai.” Wanita itu tertawa setelah mengatakannya. Zam tidak tahu apa yang didengarnya barusan adalah sebuah informasi atau malah hanya lelucon yang diucapkan orang tidak waras. Jadi untuk memastikannya, Zam pun bertanya pada wanita itu sebelum ia pergi. “Siapa kau? Mengapa kau mengatakan demikian?” “Aku adalah ia yang mereka lupakan. Yang mereka kira tak waras. Sama seperti yang kau pikirkan juga,” jawabnya dengan melompat-lompat riang. Zam mendecih. “Dasar tidak waras,” ucapnya. Lalu sekonyong-konyong wanita itu berlari ke arah Zam. Menubruk tubuh Zam hingga pemuda itu jatuh. Sorot mata wanita itu berubah ngeri dan dipenuhi teror. “Kau boleh menganggapku gila. Tapi kau harus tetap mencari dia!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN