Sang Peramal

1174 Kata
Zam mendorong tubuh wanita di atasnya. Dengan cepat ia bangkit. Begitu pula wanita awut-awut itu. Matanya berwarna hijau tua. Zam merasa pernah melihat warna mata itu di suatu tempat. Namun ia tidak yakin di mana. Wanita itu lekas mengambil keranjangnya yang berguling ke sisi yang lain dengan tertatih. Kemudian ia menunduk dengan bahasa tubuh seperti seorang perawan desa yang malu berhadapan dengan seorang pemuda. Melihat hal itu, Zam jadi merasa bersalah padanya. Tapi ia melakukannya hanya karena sebagai sebuah tindakan refleks. Siapa yang tidak akan melakukan itu jika mereka sedang terkejut? “Kau harus menemukan dia. Serang pemimpinnya. Dan semua akan kembali seperti semula,” katanya lagi. Suaranya begitu lirih dan pelan. Karena di sekitar mereka sunyi, Zam beruntung bisa mendengarnya dengan jelas. “Kau selalu mengatakan dia, dia, dan dia. Siapa yang kau maksud sebenarnya?” Wanita itu mengintip dari balik rambutnya yang menutupi wajahnya. “Kau akan percaya jika aku mengatakannya, kan?” Zam berkacak pinggang. Lelahnya bertambah dua kali lipat. Emosinya teraduk bercampur menjadi satu. Tidak di istana, tidak pula di sungai ini, semuanya membuat Zam ingin membeturkan kepalanya ke atas batu. “Apa kau bisa dipercaya?” tanya Zam setelah lama terdiam. Ia ingin pergi dari tempat ini secepatnya tapi entah mengapa hatinya begitu penasaran dengan yang dimaksud oleh sang wanita. Kepala wanita tua mengangguk cepat. Lalu ia berjalan mendekat. Saat melihat Zam melangkah mundur, ia berhenti melangkah, memberi jarak di antara mereka. “Kau harus percaya padaku.” “Kenapa begitu?” “Karena akulah yang meramal kedatangan mereka.” Mendengar itu, Zam langsung terkejut bukan main. Dia … seorang peramal? Mata emas Zam yang tajam menelisik penampilan perempuan itu. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Zam tidak percaya ada seorang peramal yang bernampilan seperti ini. “Kau yakin kau seorang peramal?” tanya Zam memastikan. Sebenarnya ia sangat ragu pada wanita ini. Bisa saja ia benar-benar orang tidak waras yang kebetulan bertemu dengannya. Sungguh, kebetulan yang kurang menyenangkan. Lawan bicaranya tidak menjawab pertanyaan Zam. Ia justru melebarkan kedua matanya sambil menggenggam tangan Zam yang hangat. “Kau harus menemukannya. Kau bisa mencari dia di tempat mereka berada. Mereka hidup di tubuh mahluk hidup. Seperti parasit,” cetusnya. Mata hijaunya menyipit seolah ingin meyakinkan Zam dengan semua perkataannya. Bibirnya yang keriput menipis setelah mengatakannya. Zam melepaskan genggaman tangannya. Kali ini dengan lebih lembut karena Zam melihat beberapa luka goresan di punggung tangan wanita itu. Zam ingin meminta maaf karena telah berlaku kasar. Tapi apa wanita ini akan mendengarkannya? Pertanyaannya sebelumnya saja tidak dijawab olehnya. “Aku tidak mengerti maksudmu. Aku harus pergi sekarang,” pamit Zam. Ia meletakan tangannya ke depan d**a lalu menunduk memberi hormat. Setidaknya ia harus bersikap hormat pada yang lebih tua. Dan seperti inilah yang diajarkan oleh orang tua angkatnya dulu saat ia kecil. Zam berbalik. Sebenarnya ia ingin berlari agar secepatnya bisa menjauh dari tempat ini. Namun, langkahnya kembali tertahan mendengar ucapan wanita tak dikenal tersebut. “Kau sedang mencari cara untuk menghentikan ini semua. Maka ikutilah petunjukku. Kau tidak memiliki banyak waktu. Raja sudah menunggumu. Begitu pula dengan Pangeran Baylord,” ujarnya. Tangannya terangkat ke depan saat mengatakannya. “Jika kau gagal, mereka yang akan jadi korban berikutnya.” Dia menghentikan ucapannya sebentar. Kemudian menurunkan tangannya dan menatap tajam pada Zam. “Atau kau yang akan jadi korban berikutnya, Zam.” Dan saat wanita tadi menyebutkan namanya, Zam kini yakin jika yang ia temui memanglah seorang peramal. *** “Kau sudah menemukan caranya?” Begitu Zam melewati gerbang kerajaan dengan kepala sedikit menunduk dan pandangan melamun, pertanyaan Kalu membawanya kembali pada dunianya saat ini. Zam menarik napas dalam. Hari ini dia sudah mengalami banyak hal tidak menyenangkan. Dan melihat wajah Kalu, menambah daftar hal tidak menyenangkan miliknya. “Ya.” Zam sudah memutuskannya. Ia akan memakai saran dari peramal yang ditemuinya di hutan. Lebih baik dia mengemukakannya nanti di hadapan sang raja dibanding ia yang kembali tanpa kejelasan rencananya. Kalu tersenyum miring. Zam melewatinya begitu saja. Ia tidak boleh membuang tenaga untuk membalas Kalu malam ini. Ia harus menyimpan tenaganya untuk hari esok. “Kau sudah menemukan rencana yang tepat, Zam?” tanya Sang Raja begitu Zam meminta bertemu. Zam menemui Raja Syke di ruang baca istana. Zam mengangguk. “Ya, Yang Mulia. Aku sudah memikirkan rencana seperti yang kukatakan saat pertemuan sebelumnya.” Raja Syke meletakan kedua tangannya di atas meja dan saling terjalin satu sama lain. Atensinya penuh pada Zam yang berdiri lemas di depannya. “Apa kau memikirkannya seharian hingga kau terlihat begitu lelah?” tanya Raja Syke lagi. Zam tersenyum tipis. Lelahnya tidak begitu berarti selama ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari tanah Zhuro ini. Raja Syke yang melihatnya mengangguk. Memang sudah sepantasnya ia terlihat lelah. Karena dirinya sendiri juga akan begitu kelelahan saat memikirkan strategi perang bersama Leah semalaman. “Kalau begitu kau bisa mengatakannya sekarang, Zam.” Zam berdeham sekali agar suaranya tidak begitu serak saat didengar. “Aku berpikir kita akan ke perbatasan lagi besok pagi saat kabut tidak ada.” Kepala Raja Syke meneleng sedikit. Lalu beliau bertanya, “Untuk apa?” Zam tidak ingin mengulang lagi pembicaraan sebelum dan saat pertemuan yang menyalahkan dirinya terus-terusan karena mengorbankan nyawa banyak orang untuk dibawa ke perbatasan. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain. “Untuk mencari korban mereka yang lain. Sebelum aku tidak sadarkan diri, aku sempat mendengar seorang anak kecil menjerit histeris di salah satu rumah.” “Bukankah kau sudah meminta mereka mengungsi ke dekat kuil saat itu?” cecar Sang Raja. “Benar, Yang Mulia. Tapi tidak semua penduduk pergi. Ada satu atau dua kepala keluarga yang mimilih tetap bertahan di rumah mereka. Dan aku yakin suara anak kecil itu berasal dari salah satu rumah di sana,” jelas Zam dengan suara yakin dan begitu tenang. Raja Syke tampak diam sebentar memikirkan jawaban Zam. “Dan apa hubungannya dengan rencanamu ke perbatasan? Aku yakin anak kecil itu sudah dievakuasi ke tempat yang lebih aman oleh pengawal kerajaan,” balas Raja Syke. Zam mengangguk sekali, kemudian ia menjawab, “Ya, Yang Mulia. Aku yakin mereka melakukannya dengan sangat baik. Tapi yang mereka selamatkan adalah korban yang masih hidup dan terluka. Sedangkn mayat-mayat yang bergelimpangan membutuhkan waktu hingga tiga hari sebelum akhirnya dibakar di tempat. Apalagi penyerangan terakhir hantu kabut membuat korban yang jatuh dua kali lipat lebih banyak.” Zam mengabaikan rasa bersalah dalam hatinya. Seperti yang ia katakan sebelumnya pada Leah dan Que bahwa jika ini peperangan maka mereka harus bisa memenangkannya. Dan dalam perang tidak ada yang salah karena sudah mengorbankan nyawa orang lain. Setidaknya itu yang dikatakan Zam pada dirinya sendiri agar bisa tetap tenang di hadapan Raja Syke. Raja Syke terlihat berpikir lagi. Dari sorotnya, Zam bisa menebak kalau Raja Kerajaan Zhuro itu tengah meragu. “Percaya padaku, Yang Mulia. Mereka pasti meninggalkan sesuatu saat melakukan serangan. Bukankah dalam peperangan pasti ada sisa senjata lawan yang tertinggal di medan perang?” Raja Syke menatap Zam penuh perhitungan sebelum menjawab. Setelah beberapa waktu berlalu, Raja Syke akhirnya mengambil keputusan. “Berapa banyak orang yang kau perlukan untuk menemanimu ke sana, Zam?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN