Library with Wilson

1085 Kata
Setelah makan siang, aku mengirimkan pesan lewat secarik kertas pada Ruben. Kabar tentang companions harus kami sampaikan. Hugo membisikkan sesuatu padaku tentang berhati-hati pada Wilson, tapi tidak tuntas, karena Wilson terlanjut muncul dan lewat. Hanya pandangan mata Hugo yang memberitahu tentang kewaspadaan. Aku menelan ludah dengan gugup. Semoga ini berjalan dengan baik. "Silahkan, Bennet. Kamu terlihat sibuk sekali hari ini," seru Wilson yang ternyata lebih dulu duduk di meja dekat dengan rak buku filsafat. "Hanya menikmati masa remaja yang terlambat, Mr. Wilson," jawabku diplomatis. "Cerdas. Kamu benar-benar berbakat dalam bermain kata. Politikus sangat cocok untukmu," balas Wilson dengan ceria. Aku mengucapkan terima kasih. "Baiklah. Bagian sejarah politik mana yang ingin kamu ketahui?" tanya Wilson. "Mengenai rumusan Aristoteles. Aristoteles bersikap moderat untuk mendapatkan konstitusi yang ideal. Dalam mengemukakan konsep konstitusi, ia mengkritik beberapa model konstitusi yang ada pada Yunani kuno waktu itu. Menurutnya jika kota memakai konstitusi yang berbentuk monarki, bentuk monarki akan menyimpang menjadi tirani. Jika konstitusi berbentuk aristrokasi dia akan sampai kepada oligarki. Dengan demikian syarat menduduki jabatan publik ukurannya adalah harta benda. Betulkah hal tersebut?" Wilson mengangguk dan tersenyum. "Jika kamu memiliki kekuasaan, konstitusi mana yang akan kamu pilih?" "Apakah penting, Mr. Wilson? Saya justru melihat penjabaran politik ini sangat membuat saya kecewa," jawabku. "Oh ya? Kenapa?" "Konstitusi yang baik adalah konstitusi yang dapat mengikat semua golongan, dan konstitusi yang baik adalah konstitusi demi kepentingan umum. Konstitusi yang menyimpang dapat memengaruhi kehidupan sosial masyarakat juga. Saya bukan penganut paham yang menindas demi keuntungan," jawabku dengan cepat. "Benar. Jadi menurutmu, Negara konstitusional adalah yang terbaik?" "Ya, saya berpikir penyatuan semua unsur kelas dalam kota demi tujuan kebaikan umum itu sangat penting dan kunci sukses. Pemenuhan jabatan publik dapat diisi oleh siapa saja dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Dengan begitu akan merata. Jika tidak, maka akan terjadi harmonisasi tidak akan tercapai karena hanya sebagian unsur masyarakat saja yang dapat memerintah. Untuk itu negara konstitusional adalah paling baik bagi Inggris," sahutku dengan lengkap dan detail.  "Kamu mungkin akan menjadi pengikut pamanmu, Cedric!" "Entahlah, saya tidak bertemu dengannya atau mengenal baik. Saya terasing cukup lama," jawabku datar tanpa emosi. "Menurutmu mencapai perataan kesejahteraan adalah dasar dari konstitusi yang tepat untuk negara yang sukses?" "Ya. Betul, Mr. Wilson." "Tahukah kamu, Bennet? Fratrem sedang menuju ke sana. Tapi sayangnya Osirus lebih terdepan," cetusnya dengan bergerak cepat. Pancinganku berhasil. "Rencana mereka ingin semua negara di bawah satu bendera dan satu penguasa. Ini sangat baik dan mungkin menarik minat golongan tertentu, seperti keluarga para bangsawan," jawab Wilson tampak antusias menjelaskan pencapaian Osirus. "Apakah Fratrem juga?" tanyaku. "Awalnya kupikir Fratrem menganut visi yang baik. Tapi ternyata Osirus menawarkan lebih," jawab Wilzon dengan mata masih bergerak cepat. "Apakah penawaran Osirus, Mr. Wilson?" Dadaku berdegup kencang sementara benakku penuh dugaan liar. "Kemuliaan dan keabadian," balasan itu cukup melemaskan lututku. "Maksudnya, Mr. Wilson? Seluruh pengikut akan hidup abadi?" "Setelah upacara penobatanmu, Bennet. Kami semua akan menerima anugerah tersebut." Wajahku memanas ketika mendengar jawabannya. "Mr. Wilson, apakah dengan membunuhku?" Wilson tampak berubah menjadi sedikit gugup, seperti tersadar akan kelepasan bicara. "Ya, tapi tidak membunuh seutuhnya! Karena kamu akan bangkit kembali dan menjadi abadi sebagai putra Osiris," jawabnya. "Dan menjadi makhluk kegelapan," timpalku. "Mulia, makhluk mulia. Kegelapan tidak cocok," sanggahnya. "Omong kosong yang menakutkan, Mr. Wilson. Benarkah itu semua, atau hanya isapan jempol belaka?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Wilson menatapku dengan tajam dan menyelidik. Ruben dan Albert pernah mengatakan padaku jika pengikut Osirus memiliki mata yang berwarna hijau dan bengis. Aku bersumpah,  sekilas aku melihat mata Wilson sekilas berubah menjadi hijau retinanya. "Itu semua ramalan yang kita semua belum tahu kebenarannya. Sudah lupakan. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" jawab Wilson kemudian mengalihkan topik. "Aku gentar dan takut, Mr. Wilson. Semua ramalan yang selalu berdengung di sekitarku membuatku tidak nyaman," sahutku dengan suara bergetar. Wilson menatapku dengan mata sedikit curiga, namun akhirnya meredup. “Apa yang membuatmu takut, Bennet?” tanya Wilson. Mungkin ini waktu yang tepat menundukkan musuh dengan cara halus dan menarik simpati. Apakah akan berhasil? Aku harus mencoba! “Semua ramalan mengarah pada kematianku dan menjadi tumbal. Apakah itu layak aku terima?” tanyaku dengan suara lirih. Wilson melengos dan menutup buku dengan pelan. “Jika imbalannya adalah kemuliaan, kenapa tidak?” tantangnya seakan yang dia yakini adalah benar. “Menurut, Mr. Wilson, berada pada ambang kematian dan kemudian benar-benar disiksa dalam keadaan sadar, darah kita dikuras secara perlahan. Itu setimpal dengan kemuliaan?” tanyaku kembali. Wilson menelan lidahnya dengan gelisah. “Aku belum pernah dalam posisi itu, Bennet,” sahutnya melemah. “Belum pernah ada yang berada pada situasi menakutkan tersebut memang. Jika pernah, kita tidak akan berada di sini,” tukasku menanggapi kalimatnya. “Aku hanya seorang remaja yatim piatu, yang kebetulan terlahir untuk menjadi tumbal dan tidak sempat mengalami hidup normal sebagai manusia seperti yang lain.” Ucapanku membuat Wilson tertekan dan makin tampak gusar. Dia membereskan buku-buku dan memasukkan semua ke dalam tasnya. “Cukup hari ini, Bennet. Senang bertukar pikiran denganmu,” pamitnya dan tanpa menunggu jawaban, dia melesat terburu-buru meninggalkan aku di perpustakaan sendiri. ☆☆☆ Ruben menyambutku tergopoh-gopoh. Dia menunjukkan kertas dengan wajah penasaran. Aku bisa mendengar dengung pertanyaan yang berputar di kepalanya. “Berhenti membaca pikiranku, Bennet! Tidak sopan!” seru Ruben. Aku terkejut dan tidak menyangka dia bisa mengetahuinya. “Maaf, Ruben,” sesalku. “Kita ketemu di kamarmu,” ajak Ruben. “Makan malam?” tanyaku dengan perut mulai berbunyi. “Semua akan terhidang di sana. Kumpulkan semua companions-mu dan aku akan memanggil protectors!” perintah Ruben dengan cepat. Pria itu meninggalkan aku yang masih tertegun di depan ruang makan. “Cepat, Bennet! Jangan melambat!” seru Ruben dari kejauhan. Aku segera sadar dan bergegas mengumpulkan keempatnya. Reese masih terheran-heran ketika kami berkumpul di kamar. Leane duduk di ujung meja dengan kepala tertunduk. “Dia juga?” tanya Reese. Flint dengan cepat menjelaskan dan Reese segera meledak. “Lagi-lagi aku tertinggal,” protesnya dengan marah. “Tadi terjadi di luar rencana, Reese,” Ed membela diri. Reese melipat tangan di dadanya dengan wajah cemberut. Kelima guruku masuk dan Ron segera mengayunkan tangannya dan tambahan kursi muncul dengan ajaib. Aku menyukai gaya elegan Ron saat melakukan sihir. Sebagai alkemis, Ron adalah alkemis terkuat saat ini. “Panjangkan meja, Ron,” pinta Ruben, Ron segera melakukan dengan cepat. Seiring itu, ketukan terdengar di pintu. Ruben mengayunkan tangan dan pintu terkuak dengan sendirinya. Pelayan dari dapur muncul dan berduyun-duyun menyajikan makan malam yang terlihat mengugah selera. “Bennet, kamu siap bercerita?” tanya Ruben setelah semua siap dan pelayan tersebut pergi. Aku mengangguk dan menarik napas kuat-kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN