Keesokan paginya aku berangkat sekolah lebih awal. Kedua buku yang kupinjam dari Wilson ingin kukembalikan secepatnya.
Sesuai dengan pesan dan rencana kami, aku harus memikat Wilson dan memancingnya untuk menjadikan diriku sebagai murid kesayangannya.
Begitu memasuki ruang guru, Wilson baru bersiap ingin berjalan keluar.
"Bennet!" sapanya ceria. Aku mengangguk hormat dan mengeluarkan buku yang aku pinjam.
"Sudah selesai, Mr. Wilson. Sangat menyenangkan membaca buku ini," jawabku dengan sedikit gugup. Semoga dia tidak mencium niat burukku.
"Mengesankan! Kamu sama persis seperti dia," pujinya dengan mata berbinar.
"Jika ada waktu, saya ingin diskusi dengan anda, Mr. Wilson. Beberapa paham dan strategi politik yang ada di buku cukup menarik untuk saya ketahui lebih dalam," ucapku dengan lancar. Wilson mengernyitkan alisnya.
"Kau tidak sedang mencoba menghasutku kan?" tanyanya dengan mata terpicing. s**l, aku mendadak panik. Ini bahaya! Mungkinkah dia mencurigaiku?
"Ti-tidak! Buat apa? Sa-saya tidak ada kepentingan apa pun. Hanya ...,"
"Bercanda, Bennet! Hahaha ... kau jangan gugup begitu anak muda. Sangat polos dan lugu, aku menyukaimu. Kita diskusi setelah makan siang di perpustakaan?" potongnya dengan tawa terurai. Aku mengangguk dengan lega.
"Ba-baik," jawabku sambil membungkuk dan segera permisi.
Langkahku terasa cepat meninggalkan dia di depan ruang guru. Semoga dia tidak mencurigaiku.
☆☆☆
Begitu masuk kelas, Leane tiba bersamaan denganku. Gadis berwajah oriental tersebut duduk di depanku dan Flint mulai melemparkan pandangan menggoda. Aku tidak paham apa maksudnya.
Akhirnya, pelajaran dimulai dan kami konsentrasi penuh pagi itu.
☆☆☆
Sepulang sekolah, sebelum makan siang, aku mengajak Flint dan Ed mengunjungi taman. Keduanya mengikuti dengan bingung.
"Ada apa? Kenapa rahasia begini?" tanya Flint.
"Jangan menoleh, tapi coba kalian nanti lihat ke arah ruang guru. Meja Wilson tepat berada di jendela yang menghadap ke taman, juga ke ruang kantor Wester yang ada di gedung seberang."
Ed dan Flint mendengarkan dengan seksama.
"Menurutku, kenapa Wester kantornya sangat jauh dari ruang guru? Di lantai dua lagi. Ruang guru saja di sebelah ada ruang administrasi yang cukup luas untuk ukuran kantor yang hanya berfungsi menerima uang pembayaran. Ada ide, Flint?"
Flint masih berpikir sementara Ed masih mencerna.
"Kenapa kamu membahas tentang posisi kantor? Ini tidak ada hubungannya dengan apa pun yang saat ini sedang kita kejar, Bennet," ucap Ed masih belum paham ternyata. Flint mulai terlihat cerah wajahnya.
"Kupikir Wester yang mencoba mengawasi gerak-gerik Wilson. Ini ada hubungannya tentang kecurigaan dia sebagai agen ganda kan?" tanya Flint.
"Pertama aku juga berpikir demikian. Tapi ternyata salah. Jendela Wester tidak memberi akses pada ruang guru dan jendela Wilson. Ini berarti yang terjadi sebaliknya. Wilson yang mengawasi Wester," sanggahku. Flint menggelengkan kepala.
"Aku ralat. Ya, Wilson memang mengawasi Wester, tapi bukan tentang gerak geriknya. Melainkan hal lain," sambar Flint tampak mulai memiliki pemikiran lain.
"Kalian semua salah!" Sebuah suara anak perempuan terdengar dari balik semak bunga mawar di belakang kami.
"Tidak usah mendatangiku, Wilson sedang mengawasi kita. Mungkin kamu tepatnya, Bennet. Aku beritahu dugaanku. Wilson memilih tempat itu karena dia bisa menyelundupkan beberapa barang keluar dan langsung terbuang di pintu menuju basement bawah yang tidak terpakai!"
"Leane?" seruku.
"Ya. Ini aku," jawabnya.
Kami terhenyak.
"Kalian lihat nanti, tepat di bawah jendela Wilson adalah pintu sejajar dengan tanah, yang sudah lama tidak terpakai. Itu menuju basement yang dipakai untuk gudang sekolah. Aku pernah memergoki dia. Tapi sayangnya, pintu itu selalu tergembok. Aku tidak bisa melihat apa yang ada di dalam," lanjutnya lagi.
"Bagaimana kamu bisa tahu sebanyak ini? Siapa kamu sebenarnya?" tanyaku heran.
"Kami utusan Thema, Bennet. Keluargaku datang untuk mencarimu. Pentagram dari timur yang akan melengkapimu nanti." Aku benar-benar terkejut. Ini di luar rencana kami.
"Ja-jadi Thema adalah nyata," desis Ed.
"Sangat nyata dan hidup. Dia gadis yang sangat bijak. Dia mengirimku dan juga keluargaku untuk mengunjungi Bennet dan menyampaikan pesan," jawab Leane makin terdengar misterius.
"Pe-pesan apa?" tanyaku mulai gugup. 'Semoga bukan pesan buruk', harapku dalam hati.
"Jangan bunuh Dalai Lama, dia tidak pantas dibunuh. Semua ramalan itu bohong. Kamu tidak perlu membunuhnya, Dalai Lama akan menyerahkan kekuatannya dengan sukarela. Dia pria yang baik dan bukan serakah. Tapi perlu kamu tunjukkan jika kau layak menerima kekuatan itu. Dengan kata lain, kau harus menjadi pribadi yang kuat dan baik. Kamu harus mampu menjadi penyeimbang, bukan pemihak." Paparan kalimat Leane sangat panjang. Namun semua kupahami.
"Dari awal, aku tidak ingin membunuh siapa pun. Bukan hak aku untuk mengakhiri nyawa seseorang," jawabku kecut.
"Bagus! Aku senang karena ternyata Thema benar. Kamu sangat bijak, walau angkuh dan pemarah," sahutnya terdengar lega. Pemarah? Itukah diriku?
"Sejauh ini kamu menempuh jarak demi sebuah pesan?" tanya Ed masih belum percaya sepenuhnya. Leane terdengar menarik napas.
"Kamu bukan manusia super seperti Bennet yang bisa mengarungi jarak dan waktu. Thema sendiri tidak bisa datang karena dia dalam perlindungan Dalai Lama. Sejak dia berhasil diselamatkan dari Mesir, Dalai Lama tidak menginjinkan dia untuk terlihat," jawab Leane.
"Jadi kamu tahu jika aku juga time traveler atau jumper?" selidikku.
"Aku tahu semuanya. Thema yang memberitahu kami," jawab Leane kembali.
"Ok. Terdengar mengejutkan namun masuk akal. Sekarang katakan kenapa Wilson menjadi sasaran penyelidikanmu?" tanya Flint. Aku bisa mendengar Leane menarik napas panjang.
"Temui aku sekarang di ruang kesenian. Ada yang ingin aku tunjukkan," pintanya. Terdengar Leane melangkah menjauh. Kami masih menebak-nebak apa yang ingin dia tunjukkan.
Sembari mengikuti tanpa kentara, kami menuju ruang kesenian yang terletak di gedung tua paling belakang. Ed meminta kami masuk sementara dia mengawasi dari luar untuk berjaga-jaga.
Leane berdiri di tengah ruangan yang berbentuk theater tersebut. Ruangan ini sebenarnya masih bagus. Entah kenapa, kesenian kurang berkembang dan ruangan ini menjadi tidak terpakai.
"Aku tidak mengetahui apanpun tentang Wilson sampai aku mendapatkan ini."
Leane membuka baju di pundaknya dan memutar. Aku terlonjak begitu juga Flint.
Tattoo terlukis ditempat yang sama dengan Reese, sebuah bintang arah mata angin dengan huruf E di ujung kanan.
"Kamu companion keempat ...," desis Flint takjub. Leane mengangguk.
"Ya. Ed, Reese dan kamu, Flint, merupakan companions ketiga lainnya kan?" tanya Leane. Flint mengiyakan.
"Ok. Tunggu. Ed memiliki huruf W di ujung sebelah kiri, Flint memiliki huruf N pada ujung menghadap ke atas, kemudian Reese memiliki huruf S pada ujung bawah. Dan dirimu E pada ujung bagian kanan. Kiri W, atas N, kanan E dan bawah S. Itu mirip dengan mata angin pada kompas. West, North, East dan South. Apa arti ini semua?" rangkumku sekaligus bertanya.
"Sabar, Bennet. Aku belum selesai menjelaskan tentang kecurigaanku pada Wilson," sergah Leane. Gadis itu tampak sangat berbeda dari yang kemarin.
"Lanjutkan, sebelum kepalaku pecah karena kerumitan ini," pintaku.
"Tattooku muncul begitu aku menginjakkan kaki di Les Chester. Aku tidak memiliki waktu bertanya pada ayah dan ibuku. Jadi aku mencari sendiri. Lagipula aku belum mengenalkan diri pada kalian. Ketika aku di perpustakaan mencari artinya, Wilson memergoki dan bertanya padaku kenapa aku membaca tentang lambang tersebut dalam buku sejarah simbol. Aku mengatakan jika perjalanan dengan kapal dari Hongkong memberi ide untuk menjadi ahli navigator. Tapi dia tidak percaya begitu saja. Dia memaksaku menunjukkan tangan juga kakiku, mencari jika tattoo itu muncul. Aku berusaha lari dan mengancam untuk mengadukan pada Wester. Sejak itu, dia mengawasi gerak gerikku. Begitu juga sebaliknya. Aku mengawasi dia dengan seksama. Thema mengatakan siapa saja yang bisa kupercaya, Wilson bukan salah satunya. Jadi aku mencari tahu. Hingga kemarin aku memergoki dia sedang membuang sesuatu dari jendela. Sayang, aku tidak tau itu apa."
Leane mengakhiri dan menarik napas lega. Semua sudah dia ungkapkan.
"Welcome to the club, Leane. Kamu tidak sendiri lagi," sambut Flint. Aku mengulurkan tanganku dan Leane menyambut dengan senyum.
"Aku senang kalian teman baik. Kupikir akan sulit meyakinkan," ucapnya dengan senyum. Suara siulan Ed berkumandang.
"Ayo kita bubar. Waktunya makan siang," ajakku.
Kami bergegas keluar dan Ed mengisyaratkan supaya memutar jalan karena Wilson sedang patroli. Entah apa tujuannya. Kami berlarian tanpa suara menuju ruang makan.