Jika ada yang bertanya padaku apa keistimewaan menjadi seorang Pentagram Bennet, jawabanku cuman satu. Tidak ada.
Setelah pembicaraan yang cukup menguras air mata dengan Wester dan Ruben, aku seperti terbangun dari mimpi seorang remaja yang terselubung oleh kabut fantasi.
Aku kaya dan bisa melakukan apa saja. Aku angkuh dan arogan karena tidak pernah mendapat sentuhan seorang wanita yang bisa kusebut, Ibu. Aku juga skeptis tentang manusia yang berada di sekelilingku. Keinginan untuk melindungi sahabatku juga baru tercetus setelah berbulan-bulan berteman dan mengenal mereka.
Tapi begitu menghadapi pembicaraan di kantor Wester, aku seperti tertampar. In the end of the day, I’ll always have no one. Aku menghadapi pertarungan juga tantangan sendiri. Tidak ada satu pun yang bisa mengambil alih garis takdir itu.
Wester benar, aku tumbuh menjadi remaja yang terlalu membentengi diri. Terbukti sulit sekali menerima kenyataan bahwa aku memang tidak pandai meluapkan emosiku. Bukan karena aku lelaki yang tidak begitu pintar mengekspresikan perasaan, tapi bahkan hanya sekedar mengatakan isi kepala dan hati pada ketiga sahabatku saja sulit.
“Jadi pikiranmu tentang Wester berubah?” tanya Reese, yang entah kenapa aku lihat dia tampak lega.
“Seratus delapan puluh derajat, ya,” jawabku sambil menikmati potongan keju, roti baguette dengan daging asap. Makan malam ini aku lebih lega dan bebanku mulai terangkat. Aku berada dalam lingkungan di mana orang-orang yang mengetahui keberadaanku masih ingin aku hidup, kecuali Wilson tentunya.
“Kentang tumbuk ini sangat lembut dan enak,” puji Flint. Kawanku yang satu ini memang hobi makan.
“Astaga Flint, kami sedang bicara serius kamu malah sibuk memikirkan kentang tumbuk?” cecar Reese jengkel.
“Aku hanya ingin menikmati makan malam yang tenang, Reese. Apakah salah?” tanya Flint.
“Untuk apa? Supaya kamu bisa tidur seperti kerbau malam ini?” tuduh Reese tajam. Flint menelan makanannya dan menunjukkan pada kami secarik perkamen kain.
“Aku menemukan ini dari tas Ms. Anna yang terjatuh tadi siang,” bisik Flint sambil menoleh kanan kiri.
“Kau harus mengembalikannya, Flint,” seru Reese tidak terima.
“Tunggu dulu,” tahan Ed. Reese yang sudah merebut kain itu batal.
“Coba kulihat,” pinta Ed kembali. Reese mengelar di pangkuannya. Ed memiringkan kepala dan melihat dengan seksama.
“Kita ke kamar sekarang,” ajaknya dengan buru-buru.
“Nah, ini yang kutakutkan. Tidak bisakah kita makan malam dengan tenang dulu?” protes Flint. Reese bimbang.
“Kita bisa terkena gizi buruk karena selalu makan dengan buru-buru. Lihat yang lain. Mereka terlihat tenang, tertawa dan gembira. Bandingkan dengan kita yang muram, khawatir dan cemas terus menerus,” keluh Flint.
“Flint benar. Kita habiskan makan malam, kita masih ada waktu satu jam untuk membahas. Reese, aku janji akan mengantar ke kamarmu nanti,” ucapku. Reese akhirnya setuju dan Ed pun urung berdiri.
Aku menikmati makanan dengan santai dan Ed mulai mengatakan hal-hal lucu, tentang gadis yang berada tak jauh dari meja kami. Aku tertawa geli dan Reese pun akhirnya tersenyum lebar.
***
“Lihat ini." Ed melebarkan buku diarinya. Tergambar di situ bentuk yang sama.
“Mirip dengan belati hanya agak bengkok,” gumam Flint.
“Pada perkamen tertulis juga material s*****a dan lokasi, biar pun tidak jelas." Ed kembali membentangkan lipatan peta dunia di meja.
“Ini bukan di Inggris,” desis Reese yang mengetahui dengan baik sejarah dunia hingga bentuk masing-masing pulau juga benua.
“Menurutku ini adalah …." Reese memicingkan matanya dan melihat bergantian bentuk peta di perkamen dengan yang ada di peta.
“Kairo, Mesir …,” ucap Reese.
“Sejauh itu?” tanya Ed dengan takjub.
“Tidak tau kenapa bisa mencapai sana, tapi Inggris hingga sekarang masih menguasai Sudan dan mungkin Mesir akan melakukan pemberontakan. Pemerintah dan ratu kita terlalu ambisius menguasai perdagangan di timur tengah,” cetus Reese tampak tidak setuju. Aku masih mengurutkan jariku pada petunjuk dan mencoba mencari bentuk yang sama dengan peta.
“Delta Nil. s*****a itu mungkin terletak di sana,” gumamku membuat asumsi.
“Kamu mulai bicara tidak jelas, Bennet,” keluh Reese.
“Ini hanya asumsiku yang konyol, tapi lihat ini. Gambar belati. Ini peta. Berarti menunjukkan di mana belati tersebut berasal, tidak mungkin seseorang mengambarkan denah tanpa ada maksud,” paparku.
“Kita simpan dulu, kita sudah memiliki kertas yang pernah Ruben kirimkan dan sekarang ini. Siapa tahu berguna nantinya,” ucap Reese melipat perkamen tersebut.
“Berguna bagi calon pembunuh kita, Reese. Untukku, itu adalah informasi jelas tentang bagaimana aku dibunuh nanti. Kita sudah memiliki posisi tempat aku harus ditikam, yaitu d**a, dengan belati yang kini sudah kita ketahui lokasinya. Sempurna jika semua itu jatuh di tangan musuh kita,” ucapku dengan getir.
“Kita akan simpan ini. Jangan bagikan pada siapa pun, termasuk guru kita. Tidak akan ada yang mencurigai bahwa kita menemukan semua ini dan menyimpannya,” balas Reese sambil meletakkan di dalam buku Ed beserta dengan kertas yang dia simpan dulu dari Ruben.
“Ed, kunci dan lindungi buku ini dengan mantramu. Bahwa siapa pun-kecuali Bennet sendiri- tidak akan menemukan atau membukanya. Bukan aku, kamu ataupun Flint. Jika kita tertangkap, tidak ada yang bisa mengambil kedua informasi ini,” seru Reese.
Ed mulai mengumamkan mantra dan seiring dengan itu, buku itu menutup. Kemudian muncul dengan ajaib, kunci yang membungkus seperti berbentuk pita. Tampak sederhana, tapi ketika Flint mencoba mengurai pita itu, tidak pernah bisa terbuka. Satu pita terurai, tetapi begitu dia mengurai pita sisi lain, pita yang terurai terikat kembali.
“Coba dengan gunting,” pinta Flint. Reese mengunting, namun tidak mempan. Gunting kecil itu pun akhirnya patah.
“Sempurna, Ed!” puji Reese puas.
“Harta karun yang aneh,” komentar Flint menurutku lucu.
“Tapi bagus kamu memiliki gambar yang ada di buku diarimu,” timpalku pada Ed.
“Aku mendapatkan itu ketika berkunjung ke rumah elder kami,” sahut Ed.
“Elder?” tanyaku heran.
“Yap, setiap aliran penyihir memiliki Elder. Elder adalah pemimpin, wanita itu memberi sebuah penglihatan tentang belati itu yang sepertinya terkubur sangat dalam. Ucapannya yang selalu tergiang di telinga dan pikiranku. Tidak menyangka bahwa ini benar terjadi setelah bertemu denganmu,” ungkap Ed sambil menaruh buku diari di laci belajarnya.
“Apa yang Elder kamu katakan, Ed?” tanyaku. Ed tampak mengingat dengan baik.
“Aku akan menjadi salah satu dari pelindung Sang Terpilih, Elder dari semua aliran penyihir dan umat manusia. Penguasa bumi yang tidak ingin menjadi penguasa. Bahwa akulah yang akan menemukan belati tersebut dan memusnahkannya,” jawab Ed dengan lancar.
Tidak aneh, ini terlalu sering terjadi akhir-alhir ini. Kejutan dalam hidupku makin meningkat.
“Siapa yang tahu ini?” tanya Reese.
“Semuanya. Ayahku, Uncle Larry, Aunt Margie, kelima pelindungmu, dan juga Mr. Bennet, maksudku Uncle Cedric,” jawab Ed.
“Kenapa baru kamu kasih tahu sekarang?” tanya Flint kesal.
“Kupikir ramalan itu hanya akan terjadi nanti, masih lama. Bukan sekarang,” bela Ed untuk dirinya.
“Kamu bilang salah satu pelindung, siapa lagi mereka? Guruku?” tanyaku makin penasaran akan informasi sepotong-potong yang Ed sampaikan. Ed menggelengkan kepala.
“Dengar, sejauh ini aku baru tahu hanya aku saja, ok? Tapi menurut Elder akan ada empat dan kau melengkapi sebagai pusat dari keempat orang tersebut. Sangat sulit mendefinisikan siapa, karena ketiga lainnya akan muncul saat engkau menuju usia tujuh belas tahun. Anehnya, pelindung atau companionmu juga akan memiliki tanda seperti tattoo arah mata angin, aku mendapatkan tattooku beberapa bulan lalu sebelum kamu muncul."
Ed membuka baju dan menunjukkan punggung bawah yang selama ini tertutup oleh batas celana yang cukup tinggi. Tepat di pinggang terdapat tattoo seperti mata angin beserta tulisan W yang artinya west atau barat.
“Maksudmu seperti ini?” ucap Flint membuka baju dan menunjukkan tattoo di tempat yang sama. Aku hampir terjatuh dari kursi saat melihat Flint memiliki tattoo sama persis! Tulisannya saja yang berbeda. Punggung Flint terukir huruf N yang berarti North atau utara.
“Ini aneh …,” desis Reese juga membuka pundaknya dan menunjukkan tattoo yang melukiskan mata angin dengan huruf S yang berarti south atau selatan.
“Oh Tuhan …!" seruku tertahan. Ed juga tampak bengong.
“Kalian tidak pernah bilang?” tanya Ed dengan terbata-bata.
“Punyaku muncul kemarin, itulah kenapa aku memilih diam,” jawab Reese. Kini semua menjadi jelas kenapa Reese sempat terlihat aneh.
“Tandaku muncul waktu Bennet hampir membunuh kita dengan gelombang airnya,” jawab Flint.
“Sekarang aku paham kenapa semua mendukung sekali kalian berteman denganku. Bahkan Hensey menganggap kalian berbahaya!" seruku dengan kegembiraan yang tidak terkira.
“Siapakah yang keempat?” tanya Reese masih meringis. Kami semua menggeleng.
“Rasanya sakit seperti terbakar,” keluh Reese.
“Maaf, Reese,” simpatiku untuknya.
“Kehormatan bagi kami, Bennet!" ucap mereka serentak. Aku mengangguk dan akhirnya mengurai tawa.