Kami berada di kantor Wester yang luas, dan lebih mirip dengan perpustakaan. Banyak sekali rak buku berjajar di dinding. Koleksi minuman keras juga menghiasi meja, dekat dengan pintu yang menuju balkoni. Sepertinya itu tempat dia biasa terlihat, mengawasi kami yang sedang berada di taman sekolah.
“Duduk!” perintahnya. Aku duduk dengan bahasa tubuh kesal. Aku banting tas ke lantai dengan keras.
“Remaja yang memiliki wajah yang tampan, menarik, cerdas, kaya raya! Pewaris utama kerajaan bisnis keluarga Bennet, sayang mulutmu lancang dan kamu pribadi yang angkuh!” cecar Wester dengan tajam. aku berusaha menahan semua gejolak yang mulai bergemuruh.
“Jelaskan kenapa kamu mengeluarkan kalimat itu!” pintanya.
“Kamu adalah seorang Sorcerer, Wester. Tidak perlu bertanya padaku,” cibirku tidak sopan, dan aku menyadari itu. Wajah Wester tampak sedikit terkejut.
“Kau sudah tahu banyak tentang diriku rupanya,” balas Wester dengan dingin dan kembali ekspresi meremehkan tampil di wajahnya.
“Kau tahu apa arti sopan santun? Bahwa seandainya kamu benar pun, ada etika dalam menyampaikan. Bukan berteriak seperti orang bodoh, Bennet. Hensey memang keterlaluan, tapi kau perlu juga mengendalikan sifat aroganmu, atau kau hancur sama seperti leluhurmu!” bentak Wester tidak lagi menutupi penilaiannya tentang keluargaku.
“Aku tidak perlu tunduk pada manusia pembenci seperti dia!” jawabku geram.
“Terutama yang ingin menghancurkan seluruh keturunan Bennet. Sayang sekali kalian membiarkan itu!” cibirku menyambung kalimat barusan.
“Kau pikir kami ini bodoh dan pandir? Bisakah kamu mengontrol sikapmu? Sekali lagi kuperingatkan, Bennet! Jaga adabmu!” bentaknya lagi. Wester menatapku dengan tajam. Aku membalasnya tanpa takut.
“Masuklah jika mau masuk, Ruben. Kau sama tidak sopannya menguping dari jarak jauh!” seru Wester tanpa mengalihkan pandangannya padaku. Aku terkejut. Tidak berapa lama Ruben masuk. Bagaimana dia tahu?
“Kenapa, Bennet? Kau terkejut? Bukankah kau tahu jika aku seorang Sorcerer? Sama seperti guru kesayanganmu yang terlalu memanjakan dirimu?” sindir Wester dengan sinis menatap Ruben.
“Kami tidak memanjakan dia, Wester,” balas Ruben dengan pelan dan menyeret kursi.
“Membiarkan sifat angkuh dan ketusnya berkembang dengan subur, kau bilang tidak memanjakan?!” teriak Wester.
“Yah, kami hanya membiarkan dia menjadi dirinya sendiri. Kamu tahu jika dia terperangkap dan terasing selama belasan tahun. Tidak adil membiarkan dia juga terkungkung dan tidak bebas berekspresi!” tukas Ruben masih membelaku. Wester menudingkan telunjuknya pada Ruben.
“Seandainya aku terus mengikuti pandangan kalian tentang kebebasan tanpa kontrol, maka keturunan Bennet akan hancur!" desisnya dengan geram.
“Wester!” bentak Ruben mulai tersinggung.
“Kenapa keberatan, Ruben?! Kau juga berada di sana ketika aku meminta Esther untuk dioperasi! Tapi keangkuhan kalian juga Rupert yang memang memiliki rencana licik, membunuh putri baptisku!”
Mata Wester berkaca-kaca dan suaranya bergetar penuh dengan duka. Pria berusia enam puluh tahun itu memutar tubuhnya dan duduk di kursi. Kepala Wester menunduk ditopang oleh tangan kanannya, bahunya terguncang. Wester menangis!
Ruben tertegun dan wajahnya membeku. Aku masih mematung dan mencoba mencerna satu persatu. Apa yang barusan terjadi?
“Estherku yang menjadi korban, Ruben. Janjiku pada George dan Mary tidak mampu kupenuhi …,” ratapnya pilu.
“Kini aku harus hidup dalam penyesalan dan menjadi getir. Oh Estherku sayang …. Maafkan diriku, Nak,” tangis Wester kian tergugu. Buliran bening dari kedua mataku meneteskan air. Inikah yang terjadi di masa lampau?
“Aku tidak menentangmu, Wester. Aku masih remaja bodoh yang percaya sepenuhnya pada Rupert. Siapa yang menyangka jika dialah monster sebenarnya?" ujar Ruben juga terlihat bersalah.
“Kita semua telah dibohongi …,” isak Wester.
Aku menjadi memiliki pandangan baru dan dalam diam, aku merasa sangat konyol dan marah.
“Bisakah kalian berdua berhenti menangis, dan menceritakan yang terjadi di masa lalu? Ada cerita apa dibalik sikap Hensey? Aku yang paling terbelakang di antara kalian dengan semua teka teki!!”
Ucapanku yang sedikit keras membuat kedua manusia dewasa di hadapanku tersadar. Ada remaja yang menunggu sebuah penjelasan, akan masa lalu yang masih berkabut.
“Jika engkau menilaiku berdasarkan kesan pertama yang tercipta pada hari kita bertemu, maka kau salah besar, Bennet!” seru Wester sambil berdiri mengusap muka dan berjalan menuju meja minumannya. Dia menuang whisky pada dua gelas, lalu memberikan satu lagi pada Ruben. Guruku segera menenggak dengan cepat.
“Wester, aku bukan remaja kebanyakan yang mungkin akan berpikir sempit dan kekanakkan,” tukasku.
“Tapi kau memilih menghindariku dengan melakukan lompatan itu menuju ke kamar,” tuduhnya. Aku terkejut karena dia mengetahui peristiwa malam itu.
“Aku sedang berbicara dengan Wilson malam itu, Bennet. Jika kamu menilai aku dan kelima gurumu lambat, kau salah. Kami mengetahui siapa saja yang berusaha menciduk dan ingin membunuhmu. Mereka menganggap kau bencana yang harus dimusnahkan, terutama dari pagan Fratrem,” cetus Wester masih terdengar sinis.
“Apakah Wilson salah satunya?” tanyaku dengan ngeri. Kami baru saja berbicara dan dia mengakui sebagai pengagum Cedric.
“Kamu sudah berbicara apa dengan Wilson?” tanya Ruben. Aku menceritakan dengan singkat pembicaraan kami.
"Kenapa kau mencurigai Wlson yang mengaku penggemar Cedric?" tanya Wester ingin teryakinkan.
"Aku bisa membaca isi kepalanya. Yang ia katakan tidak sesuai dengan ucapannya," jawabku.
“Mungkin Bennet bisa menjadi pancingan yang sempurna …,” gumam Wester kini tampak berpikir.
“Jelaskan dulu tentang Hensey dan permintaan kalian untukku menerima menjadi pemimpin Fratrem,” tukasku tidak puas.
“Dengar baik-baik, Bennet. Pertama, Tracy Hensey memang menaruh dendam pribadi yang dipicu oleh kecelakaan yang membunuh bayinya. Tidak ada yang bisa disalahkan, bahkan Cedric juga tidak terlibat. Hensey hanya akibat buruk dari pemberontakan tersebut. Cedric tidak menolongnya saat tertangkap, padahal mereka berdua adalah sahabat yang cukup dekat. Dia menganggap ini kesialan yang harus dia balas. Ibunya juga terbunuh karena dituduh menyembunyikan Cedric, tapi Osiruslah yang menghabisi nyawa keluarganya. Hensey tidak ada kaitannya dengan kedua pagan, ini murni karena kesalah pahaman pribadi. Itulah sebabnya aku melindungi dia dengan terus mempekerjakan dia di sini, jika tidak dia akan menjadi s*****a hebat bagi pagan Osirus. Hensey tidak tahu jika Osirus yang membunuh ibu dan adiknya.
Kedua, Wilson kami curigai sebagai penyusup Osirus. Banyak bukti yang mengarah ke sana. Jika hari ini kamu menarik perhatiannya, mungkin kamu bisa membantu.
Ketiga, aku memaksamu untuk menjadi pemimpin Fratrem, karena dengan membiarkan Shield memegang kendali, maka Fratrem sama bejatnya dengan Osirus. Shield adalah tim yang Rupert bawa dalam ekspedisi Mesir. Kami tidak menginginkan kemuliaan dengan cara gelap, kami hanya ingin persemakmuran untuk anggota. Jika ada anggita dewan yang memiliki pandangan yang berbeda, maka semua akan bungkam dan memilih tunduk pada pemimpin. Sayangnya, Shield yang juga sepaham dengan Rupert memiliki ambisi yang sama dengan Osirus. Shield yang membuat Fratrem ternoda, Bennet. Bukan kami,” pungkas Wester dengan menggebu-gebu. Aku terperanjat. Jadi segala kesimpang siuran kini telah terjelaskan.
“Shield melindungimu hanya untuk dituai dalam waktu yang tepat,” lanjut Ruben menambahkan.
“Kenapa harus menunggu sekian lama untuk menjelaskan padaku?” tanyaku dengan tidak mengerti. Ruben melirik Wester yang berdiri dengan tangan bersilang di d**a.
“Membiarkan kau menempuh proses mencari, alih-alih menyediakan semua informasi adalah salah satu cara kami mendidik dirimu. Engkau akan menjadi seseorang yang akan menghadapi banyak sekali pertempuran dan petualangan, Bennet. Mungkin kami akan mati, mungkin juga kami bisa mendampingimu. Tapi semua tantangan adalah milikmu, bukan takdir kami,” jawab Wester. Aku membisu. Ada sebuah pertanyaan yang ingin aku lemparkan pada Wester.
Aku tidak pernah menanyakan pada siapa pun tentang Ibuku, tapi aku yakin Wester mengenal ibu lebih baik dari siapa pun.
“Apakah dia mencintaiku? Ibuku, Esther. Benarkah ia menginginkan aku lahir? Atau dia membenciku karena aku bentuk monster yang menjadi malaikat mautnya?” tanyaku dengan suara penuh emosional.
Wester menoleh dan menatapku. Matanya berkaca-kaca. Ruben kulihat membuang muka.
“Dia mencintaimu, malaikat mautnya, melebihi apa pun dalam hidupnya. Esther ingin kelahiranmu menjadi berkah bagi umat manusia, bukan bencana,” jawab Wester.
Suaranya agak serak dan lirih, dengan tetes demi tetes mengalir dari kedua mata keriputnya. Aku mengangguk dan menunduk. Air mataku pun tidak terbendung lagi.
“Aku hanya ingin mengenal dirinya. Jika aku memiliki keberanian untuk kembali ke masalalu, aku ingin melakukan itu. Aku ingin mengenal ibu ….”
Aku tersedak oleh suara tangisku. Tidak ada lagi suara. Hanya tangis dalam diam. Kami para lelaki yang meratap dalam duka.