Semua buku tentang politik, aku baca hingga habis. Kecepatan membacaku semakin meningkat. Mungkin ini ada kaitannya dengan kekuatan yang aku miliki.
“Hari ini kita ada kelas fisika. Aku harap, Hensey adalah guru yang mengajar hari ini,” cetusku dengan penuh harap. Flint dan Ed menyambangi langkahku.
“Apa yang akan kamu lakukan, Bennet?” tanya Ed khawatir.
“Aku hanya ingin mengulik isi kepala dia saja,” jawabku dengan ringan.
“Jangan macam-macam!” pesan Ed dengan cemas. Aku berhenti sebelum memasuki kelas.
“Kategori macam-macam itu tidak ada padaku, Ed. Ayolah,” sanggahku.
Ed tersenyum dengan geli dan menepuk pundak. Flint menarik vestku dan kami segera masuk. Tracy Hensey terlihat dari jauh berjalan dengan langkah panjang menuju kami. Roknya yang lebar terdengar berkelebat seiring dengan langkah cepatnya.
“Pagi anak-anak!” serunya dengan tatapan mata tajam. Kami menjawab dengan suara malas. Dulu dia adalah guru yang periang dan selalu sabar. Namun sejak anaknya meninggal, Tracy berubah total. Sayangnya tidak ada yang menyadari itu, terutama Wester yang tampak tidak peduli.
“Buka halaman sembilan puluh delapan!” serunya sambil menulis sesuatu di papan tulis.
“Bennet, coba jelaskan tentang Teori Quantum!" seru Tracy Hensey tiba-tiba berteriak tanpa memandangku. Aku mencoba mencari tahu isi kepalanya, namun kosong. Hanya gumaman tentang materi hari ini saja.
“Aku dengar kamu sangat cerdas dan pembelajaran Ronald Trudy Baker sudah sampai tahap materi untuk para ilmuwan. Aku ingin mengujimu,” ucapnya dengan nada dingin. Tampak seringai di wajahnya yang menunjukkan dia sedang mengejekku. Kembali lagi, ada orang mempertanyakan tentang isi otakku. Aku berdiri dan dengan lantang menjelaskan tentang quantum.
“Teori quantum berdasarkan pada ide, bahwa semua kemungkinan peristiwa memiliki probabilitas untuk terjadi, tak peduli seberapa fantastik atau pandirnya peristiwa itu. Para fisikawan menyadari bahwa bila kita bisa, dengan suatu cara, mengendalikan probabilitas-probabilitas ini. Seseorang bisa melakukan perbuatan luar biasa yang tidak dapat dibedakan dari sulap atau sihir. Tapi untuk saat ini, pengubahan probabilitas peristiwa berada jauh di luar jangkauan teknologi kita.
Teori quantum memberi kita gambaran alam semesta yang jauh lebih aneh daripada gambaran yang diberikan oleh Einstein. Menurut relativitas, panggung kehidupan tempat kita tampil, mungkin terbuat dari karet yang fleksibel. Dengan aktor-aktor yang bergerak pada jalur melengkung sewaktu mereka melintasi set panggung.
Sebagaimana dalam dunia Newton, aktor-aktor dalam dunia Einstein meniru dialog mereka dari naskah yang telah ditulis sebelumnya. Tapi dalam sandiwara quantum, para aktor tiba-tiba membuang naskah dan berakting atas kemauan mereka sendiri. Para boneka memutus benang pengendali mereka. Kehendak bebas telah ditegakkan.
Para aktor bisa menghilang dan muncul kembali dari panggung. Yang lebih aneh lagi, mereka bisa mendapati diri mereka muncul di dua tempat pada waktu yang sama. Para aktor, saat membacakan dialog mereka, tak pernah tahu pasti apakah mereka sedang berbicara dengan seseorang yang dapat tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di tempat lain.”
Aku menyudahi namun masih berdiri menunggu perintah selanjutnya.
“Kesimpulanmu?” tanya Tracy belum puas mempermalukan diriku.
“Teori quantum masih belum lengkap dan bersandar pada landasan filosofis yang rapuh. Tidak ada yang mampu merumuskan dengan benar dan tepat. Jika memang ada lompatan quantum seperti dipaparkan oleh para fisikawan, maka kita harus menunggu kembali hingga pembuktian ini berhasil. Hingga saat ini masih misterius,” simpulku dengan hati mendongkol, karena aku tahu bahwa ini mungkin dan bisa dilakukan. Aku buktinya.
“Bagus, lumayan juga otakmu, silahkan duduk!" perintahnya dengan angkuh.
“Di luar segala hal mengenai teori quantum, aku sebagai guru kalian menyimpulkan bahwa itu hanya teori yang terlalu berlebihan. Segala probabilitas yang terdengar gila dan terlalu berfantasi tidak cocok dengan prinsip sains yang pasti.” Cemooh keluar dari mulutnya yang melengkung penuh kebencian. Entah apakah separah ini kegetiran hidupnya, hingga dia menjadi manusia yang bermulut pahit.
“Tidak ada yang mampu membuktikan jika teori quantum adalah nyata dan ilmiah,” lanjutnya dengan nyaring dan lantang.
“Mungkin benar, jika kita dapat merumuskan!” sanggahku. Semua mata menatapku. Hensey juga memicingkan mata dengan raut tidak suka.
“Tidak ada yang memintamu bicara, Bennet!" serunya dengan marah.
“Anda adalah fisikawan, kenapa menentang sebuah ilmu yang jelas-jelas sudah terumuskan dan menunggu untuk berkembang?” tanyaku dengan kritis.
“Itu kebohongan!” sanggahnya dengan murka.
“Bagi saya, alam semesta lebih mengisyaratkan proses mental ketimbang mekanis. Alam semesta lebih mirip pikiran yang jenius daripada mesin hebat. Jadi, apa pun bisa terjadi di alam ini. Suatu percobaan dan rumusan gila akan berkembang. Kita hidup di alam yang bukan berasal dari suatu sistem yang sudah terbentuk baku tanpa bisa dirubah!” seruku tidak mau kalah. Semua siswa hanya menatap kami dengan bingung.
“Kita hidup dakam sebuah dimensi bebas, yang bisa kita bentuk dan akan bereaksi jika kita mau mencoba dan terus mencoba!” paparku kembali, sebelum Hensey sempat membuka mulutnya.
“Sok pintar dan merasa hebat! Itukah genetik dalam keluargamu, Bennet?” tanya Hensey dengan sinis, karena tidak bisa membantah ucapanku. Aku sudah mulai geram. Terutama saat kudengar dalam kepalanya, bergaung pemikirannya yang gila.
‘Anak tidak tahu diri! Seandainya ada kesempatan, aku ingin mencungkil otaknya! Supaya tahu siapa dia. Pasti akan kulakukan jika ada kesempatan!’
“Ya, anak dari keluarga yang membesarkan, menyekolahkan dirimu dan keluargamu! Tapi masih kau kutuk bahkan berniat untuk memusnahkan! Bukan aku yang tidak tahu diri, Hensey! Tapi dirimu! Kau makan uang dari keluarga Bennet, dan kini seolah-olah kau tidak pernah hutang budi!”
Aku sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi. Wanita separuh baya itu terhenyak. Dia terhuyung ke belakang dan menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut.
Sialnya, Wester masuk dan menatap tajam padaku.
“Pentagram Bennet! Lancang kau hina Mrs Hensey dengan kalimat kejimu!” serunya. Aku ingin membantah, tapi percuma. Dia akan tetap menyalahkan aku.
“Ke kantorku sekarang!” pintanya dengan suara menggelegar.
Aku membereskan buku serta memasukkan dalam tas dengan cepat dan hati jengkel. Kuikuti langkah Wester menuju ruang kepala sekolah. Sekilas aku melihat Ruben dan Hugo yang bercakap-cakap di lorong, dan tampak terkejut ketika melihatku mengikuti Wester.
Namun mereka tidak berbuat apa-apa. Hanya pandangan Ruben yang terlihat sedih dan Hugo yang menghela napas berat. Aku mendengar dengan jelas karena memang telingaku sangat sensitif.
Kami memasuki kantor kepala sekolah yang berada di lantai dua. Begitu kami berdua di dalam, lampu menyala otomatis. Sangat canggih, mungkin ada sedikit unsur sihir yang dia terapkan.
Wester menarik laci dan mengambil beberapa botol obat dan menelan pil dalam sekali teguk. Ternyata dia juga manusia tua yang mengenal kata 'tidak sehat'. Badannya memang tidak segempal Hugo. Dia jauh lebih kurus dan jangkung. Rambutnya mulai memutih keseluruhan, kumisnya terpotong rapi namun juga tampak memutih. Berbeda dengan Hugo yang klimis.
Aku masih dibiarkan berdiri sementara dia sibuk melakukan ini itu.
Apa maksud dari orang tua ini? Betulkan dia sorcerer terkuat saat ini? Semua pertanyaan berputar di kepalaku. Rasa penasaran dan tidak sabar terus mendesakku. Pikiran negatif akan pembelaan Wester terhadap Hensey, membuatku menyiapkan pembelaan sebaik mungkin.