Tracing Tracy Hensey

1605 Kata
Reese tidak terlihat nyaman ketika kami kembali ke kamar. "Kenapa, Reese?" tanyaku. "Tracy bukan seseorang yang mampu mengatakan ini semua dalam kepalanya," jawab Reese menunjuk pada serbet makan yang penuh dengan tulisan Ed yang tidak rapi. Aku memandang kembali tulisan tersebut. ‘Jika dia mulai menunjukkan kekuatan, maka matilah Osirus. Apa kelemahan anak itu? Kenapa Wester sangat melindungi dia? Apakah anak itu secerdas Esther ibunya? Kumpulan anak-anak kurang ajar yang menjadi teman-temannya juga bahaya, aku harus berhati-hati. Terutama yang berambut cokelat, anak Larry itu memiliki pengamatan yang tajam. Sudah beberapa kali memergoki diriku.’ "Wester melindungi aku? Dari mana? Aku justru merasa sebaliknya," cibirku masih tidak menyukai kepala sekolahku. "Dia mencari kelemahanmu dan mengincarku ...," gumam Flint mencoba menebak-nebak. "Kamu mergokin dia sedang apa, Flint?" tanya Ed. Rambut ikalnya yang berwarna merah sudah terlihat panjang. Sebentar lagi Ms. Pamela, guru yang bertugas mendisiplinkan murid, akan berteriak pada Ed untuk merapikan rambutnya. "Pertama saat dia berbicara dengan seseorang di gerbang. Yang kali kedua, ketika dia masuk diam-diam tengah malam sehari sebelum Bennet datang," jawab Flint masih tampak berpikir. "Menurut kamu dia berkomunikasi untuk membocorkan rahasia kita?" tanya Ed kembali. "Ya dan tidak. Tapi aku justru menyangka jika dia mencuri sesuatu, mungkin informasi file sekolah," jawab Flint penuh teka teki. "Membocorkan rahasia mungkin, tapi bukan pada momen saat aku pergoki dia. Hensey tidak mungkin seceroboh itu," sanggah Flint kemudian. "Dia menganggap kita berbahaya, tapi aku tidak pernah bertindak tidak sopan. Walaupun mukaku selalu masam, tapi jarang sekali aku mencari masalah," gerutu Reese. "Ada sesuatu yang misterius tentang wanita itu. Kita harus mengungkapnya," cetus Ed. "Bisakah kamu memasang mata dan telinga, Reese? Asrama perempuan biasanya beredar gosip yang lebih banyak dan pasti beragam," pinta Flint.  "Kamu pikir alasanku meminta dan membayar lebih untuk kamar sendiri itu tanpa alasan? Aku malas bersosialisasi!" bentak Reese kesal. "Ayolah, demi Bennet," bujuk Flint. Reese jengkel setengah mati pada sepupunya.  "Cari tahu sendiri!" Gadis itu melenggang pergi. "Aku mau balik kamar, sudah malem." Reese berpamitan sembari melangkah keluar dan tidak kembali lagi. *** Flint merapikan kembali rambut cokelatnya di depan kaca. “Kenapa kamu tidak beli minyak rambut untuk merapikan rambutmu?” tanya Ed. “Ada beberapa anak yang memang tidak diberi anugerah untuk berwajah tampan seperti Bennet, Ed!” cetus Flint dengan kesal. “Aku juga membenci bintik di wajahku. Aku mirip dengan alien. Kapan aku bisa dapat pacar kalo begini?” keluh Ed muram. Aku terbahak dan menarik vestnya dengan cepat. “Lima belas menit lagi jam masuk!” ajakku sambil bergegas keluar kamar. Aku dan Flint masuk kelas kecuali Ed yang satu kelas dengan Reese. Suasana kelas cukup hiruk pikuk karena kedatangan murid baru yang berasal dari negara timur. Gadis itu bermata sipit dan berkulit kuning langsat. Sekilas matanya yang tajam mirip dengan mata kucing, aneh tapi dengan cara yang menarik. “Selamat pagi!” seru guru yang masuk. Mr. Wilson tampak ceria pagi itu. “Ada siswa baru yang bergabung dengan kita mulai semester ini, silahkan memperkenalkan diri,” seru guru kami pada gadis itu. Rambut gadis Asia tersebut berwarna hitam legam dan sangat lurus serta panjang. Bajunya jauh lebih modern. Gaun lurus selutut dengan sepatu boot. Mungkin dia belum dapat seragam sekolah batinku. “Selamat pagi, namaku Leane Xie Tan. Aku pindahan dari Hongkong, Cina. Orang tuaku adalah pedagang dan mohon bantuan teman semua untuk membantuku ke depannya nanti.” Suaranya sangat lembut dan merdu, semua memandang Leane dengan takjub. Gadis itu memang berwajah aneh namun dengan cara yang menarik, sekali lagi aku katakan, menarik. “Leane, selamat datang di Les Chester dan semoga kamu betah,” sambut Mr. Wilson. Pagi itu kami belajar tentang politik dan aku, jujur, sedikit tertarik. Mungkin sudah ada dalam darah di keluargaku bahwa seorang Bennet tertarik pada pemerintahan. Kelas berakhir dan aku ingin bertanya lebih lanjut tentang bentuk pemerintahan yang paling menarik dan adil di terapkan. “Bennet, ada yang bisa di bantu?” tanya Mr. Wilson. “Saya ingin meminjam buku tentang sejarah politik, Mr. Wilson,” sahutku. “Politik? Wah, darah Bennet memang ada dalam dirimu. Cedric adalah politikus cerdas favoritku,” cetus Mr. Wilson dengan mata berbinar lucu. “Saya pikir hampir setiap orang anti menyebut nama paman saya karena dia masih dalam pengejaran pemberontakan,” ucapku. “Ya, ditambah desas desus sebagai pembunuh keluarganya sendiri. Tapi aku tidak percaya Cedric seperti itu,” Mr. Wilson menoleh kanan dan kiri kemudian mencondongkan tubuhnya padaku. “Cedric adalah idolaku, biarpun dia hanya murid dulu, tapi aku menghargai andilnya dalam keberanian menentang pemerintahan yang korup. Jika kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku pengikut setianya,” ucapnya sambil berbisik. Aku menelan ludahku dengan gugup. “Sa-saya tidak tahu dia ada di mana, Mr. Wilson,” jawabku terbata-bata. Toh aku tidak berbohong karena aku memang tidak mengetahui di mana dia berada. Wajahnya berubah menjadi sedih. “Oh, Bennet. Kasian sekali dirimu, harus hidup sebatang kara. Untungnya ada kelima pelindung yang selalu siap mengorbankan nyawa untukmu dan menjadi keluargamu,” ungkapnya dengan prihatin. Aku menunduk dan menatap ujung sepatuku. Semua simpati tertuju padaku. Selalu dalam situasi ini aku menjadi anak yang malang. “Terima kasih, Mr. Wilson. Tapi bolehkah saya meminjam buku sejarah politik yang tadi?” tanyaku kembali mengalihkan suasana sedih yang menyeruak. ‘Ah maafkan aku, Bennet. Aku sudah terlalu tua untuk konsentrasi penuh terkadang. Boleh, Bennet. Aku akan meminjamkan satu buku copy dan juga ini, mungkin kamu tertarik untuk membaca. Cedric sangat menyukai buku yang kedua. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh buku ini.” Mr. Wilson mengulurkan dua buku padaku. “Terima kasih,” sahutku dengan gembira. Pria berusia hampir seumuran Hugo itu mengangguk dengan senyum ramah. Aku berpamitan dan meninggalkan ruang guru dengan langkah cepat. Semua menungguku di ruang makan, aku sedikit terlambat karena menemui Mr. Wilson terlebih dahulu. “Kemana saja kamu?” tanya Ed heran. Aku melambaikan dua buku sejarah politik. “Keluargamu selalu tertarik dengan hal tersebut,” timpal Flint. Aku tersenyum. “Uncle Larry juga kan?” tanggapku. Flint menggedikkan bahunya tidak perduli. “Ada kabar bagus dari Reese,” seru Ed sedikit tertahan. Reese hanya diam dan asyik menyantap makanannya sambil membaca buku tentang sejarah dunia. “Oh ya? Apa itu?” tanyaku jadi penasaran. “Kita akan bicarakan ini nanti,” sergah Flint. Aku mengangguk dan kami menyantap makan siang dengan cepat-cepat. Reese terdiam sedari tadi. Biarpun sehari-hari dia cukup pendiam, namun sebetulnya dia bertingkah agak aneh. Dia tidak sependiam hari ini. Begitu sampai di kamar, kami segera duduk di meja belajar dan siap mendengarkan dia. “Aku mencoba berbaur dengan para siswi tadi malam. Tapi jika kalian memintaku lagi, aku bersumpah akan melempar kalian dengan granat! Sangat memuakkan melihat mereka terus bicara tentang para pria yang menurut mereka dalam versi menarik!" seru Reese terlihat geram. Aku menahan tawa. “Tidak lucu, Bennet! Karena mereka terus menyebut kamu dengan cara tidak wajar dan tidak pantas juga menjijikkan!” cecar Reese padaku dengan kesal. Aku seketika bungkam. “Apa sih yang mereka bicarakan sampai kamu anti pati begitu?” tanya Flint heran. “Mereka berlomba-lomba ingin mencium Bennet dan memeluknya, bahkan mereka membicarakan tubuhmu yang menurut mereka sangat seksi, fuuuihhh, itu  menjijikkan.” Reese meleletkan lidahnya dengan ekspresi muak. Aku tersipu sekaligus sungkan. “Wow … keren sekali,” desis Ed dan Flint bersamaan. “Fiiiuuuh … itu sangat menjijjikkan!” seruku dan Reese juga bersamaan. “Kalian berdua ternyata setipe anehnya,” ejek Flint. “Flint, apa enaknya kita mencium mulut seseorang dan bertukar ludah? Aku muak membayangkan itu!” tukasku dengan mimik mual. Reese tampak senang dan merangkulku dengan senang. “Aku senang masih ada yang waras,” sambutnya dengan ceria. Aku mengedikkan bahu tak acuh. “Sudahlah, jelas-jelas kamu dan Reese masih belum paham tentang hal dewasa seperti aku dan Flint,” ucap Ed dan melirik ke arah Flint yang tertawa dengan wajah nakal. “Bisakah kita ganti topik?” pintaku makin jengah. “Ok! Reese, lanjutkan yang tadi,” Ed memberi isyarat pada Reese. “Tapi jangan dipotong lagi,” sahutnya kesal. Kami menghela napas dan mengiyakan. “Jadi, karena mereka terus membicarakan Bennet terus menerus, aku mulai bertanya, apa yang mereka ketahui tentang dirimu? Tadinya mereka menuduhku menjadi pacarmu, karena kita selalu terlihat bersama. Tapi saat aku jelaskan karena orang tua kita bersahabat dan kamu berada dalam perlindungan keluarga kami, maka akhirnya mereka menceritakan sesuatu. Tapi bukan tentangmu karena mereka tetap tidak memberitahu sedikit pun.” Reese menarik napas berat. “Pertama tentang Tracy Hensey yang dulunya menjadi anak pengasuh keluargamu. Karena jasa ibunya, dia disekolahkan di Les Chester oleh kakekmu dan bekerja di sini sebagai guru. Kemudian mereka mengatakan jika banyak pengajar yang seharusnya tidak layak menjadi guru.” Reese meraih gelas dan menuang air dari teko air tanah liat. Setelah minum, dia kembali melanjutkan. “Hensey pernah mengalami kegilaan karena anak yang baru dikandungnya meninggal saat pemberontakan buruh terjadi lima tahun yang lalu. Dia tidak ikut namun terciduk karena dianggap berteman dengan Cedric. Akhirnya bayinya meninggal dalam proses investigasi. Dia mengutuk Cedric dan bersumpah di depan polisi, jika dia akan mencari Cedric sendiri dan menyerahkan pamanmu ke tangan polisi. Semua tahu tentang hal tersebut.” Reese mengakhiri dengan wajah tegang. “Jadi dia mengincar Uncle Cedric …,” gumamku. “Satu lagi, Bennet!” seru Reese. Aku berpaling padanya. “Hensey juga bersumpah akan membalas pada keluargamu. Menurut dia, ini terjadi karena kesialan yang ditularkan dalam keluargamu,” lanjut Reese, wajahnya tampak penuh sesal. “Satu lagi anak angkat kakekku yang tidak tahu diri,” ucapku dengan sinis. “Selain si Wester,” imbuh Flint. Aku mengusap kepalaku dengan gusar. Kesalahan apa yang telah leluhurku perbuat hingga satu persatu manusia yang telah mereka tolong kini berbalik memusuhi kami?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN