Setelah memakai baju tidur bergambar Mickey Mouse, aku duduk di sofa. Di samping Vino yang sudah duduk santai masih dengan muka kusutnya. Di tangan kananku, berdiri sebuah buku yang aku dapatkan sewaktu SD dulu. Buku itu adalah buku mata pelajaran bahasa Indonesia. Bukunya memang sudah usang begitu juga dengan isinya. Akan tetapi, isi dari buku itu meskipun usang akan tetap terpakai sampai kapan pun. Mungkin agak sedikit aneh diusiaku yang sudah menginjak umur 24 tahun aku masih menyimpan buku SD. Jika ditanya kenapa masih menyimpannya mungkin jawabannya adalah cinta. Aku sangat cinta dengan buku ini karena ada satu puisi yang aku sukai dari seorang penyair Indonesia bernama Chairil Anwar. Puisi itu berjudul ‘Aku’. Puisi yang akan selalu kukenang. Puisi yang selalu membawaku ke ruang lingkup nostalgia.
“Ehm...” Aku berdeham, Vino menoleh.
“Buku apa itu?” Tanyanya dengan sebelah alis terangkat.
“Apa buku itu isinya peraturan yang harus aku taati lagi? Kamu menulisnya di buku? Peraturan yang harus ditaati kedua?” Vino berburuk sangka.
“Jangan berburuk sangka. Ini bukuku sewaktu SD. Aku menulis sebuah puisi di buku ini. kamu tahu tidak, aku pernah ditunjuk guru untuk membaca puisi dari pengarang besar karya Chairil Anwar. Judulnya, ‘Aku’ sejak membaca puisi itu aku selalu membaca puisi itu hampir setiap hari sampai aku hapal, lho. Lalu ketika pelajaran bahasa Inggris, saat itu aku masih terus mencoba menghapal puisi. Guru bahasa Inggris yang tanpa aku sadari memperhatikan aku yang tidak memperhatikannya bertanya kepadaku, ‘Gita, Apa kamu tidak memperhatikan Ibu?’ dia bertanya dengan wajah yang galak. Saat itu aku terkejut, sepertinya wajah Guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesiaku itu tertukar. Aku merasa kalau dia guru bahasa Indonesia dan dengan lantang aku bersuara, ‘Kalau sampai waktuku... ku mau tak seorang kan merayu...’ lalu aku mendengar suara ‘hah’ yang kompak memenuhi ruangan. Dan aku mulai menyadari kalau aku sedang bermain dalam duniaku sendiri. Hahaha. Aku mendapat hukuman atas jawabanku itu. Ibu Guru bahasa Inggrisku meminta aku menulis puisi ‘Aku’ dengan memakai Bahasa Inggris. Hahaha...” Aku terus cekikikan mengingat kenangan konyol itu.
Vino menatapku. Aku tahu dia sedang menahan tawa. Ia cekikikan dari balik tangan yang menutupi mulutnya. “Ceritamu itu kalah seru dengan ceritaku.” Katanya, seolah sedang menerawang ke masa lampau. “Memangnya kamu punya cerita apa?” tanyaku yang mulai penasaran.
“Saat aku SMP dulu itu adalah saat pertama kalinya aku jatuh cinta. Aku membuat sebuah puisi, sayang aku tidak pandai menulis. Akhirnya, aku menulis sebuah puisi karya Chairil Anwar yang berjudul ‘Aku’.” Aku berusaha untuk tidak menginterupsinya saat ia sedang bercerita. Meskipun lidahku terasa gatal untuk tidak bertanya, kenapa kamu juga punya kenangan tentang puisi berjudul ‘Aku’ itu?
“Aku menulis memakai tinta pena warna merah muda. Aku menuliskan namaku, ‘Dari Vino Putra.’ Pada jam istirahat aku memasukkan kertas yang berwarna merah muda yang senada dengan warna tinta pena. Aku sempat ragu karena biasanya gadis yang aku taksir itu duduk di sebelah kanan, tapi, aku melihat tasnya di meja sebelah kiri. Dengan perasaan yang harap-harap cemas aku memasukkan kertas itu ke dalam tas di meja sebelah kiri. Dan ternyata...” Vino menghela napas dalam. “Tas yang aku pikir milik gadis yang aku suka ternyata milik teman yang duduk sebangku dengannya. Jadi mereka memiliki tas yang sama.” Dia menoleh ke arahku.
“Terus?” Aku bertanya dengan antusias.
“Yang membalas puisiku itu temannya dan dia juga menyukaiku.”
“Terus?” Aku bertanya kembali.
“Ya, karena aku tidak mau melukai teman gadis yang aku suka dan tidak mau menghancurkan persahabatan mereka aku berpacaran dengan gadis itu.”
“Temannya gadis yang kamu sukai itu? Jadi kamu tidak berpacaran dengan gadis yang kamu sukai.” Vino mengangguk. Hening beberapa detik sebelum tawa kami pecah secara bersamaan.
“Tunggu, kenapa puisi Chairil Anwar yang kamu pilih. Apalagi puisi dengan judul ‘Aku’ kan bukan puisi tentang cinta?”
“Hanya ada puisi itu di bukuku pada saat itu. Selebihnya aku juga tidak mengerti kenapa aku memilih puisi tersebut.”
Aku senang karena telah membuat wajah kusutnya rapi kembali seperti disetrika. Ternyata cerita masa SD-ku itu bisa diandalkan untuk merubah suasana hati seseorang. Aku juga tidak menduga kalau ia juga punya cerita yang unik dengan puisi ‘Aku’ itu. Puisi yang melegenda dan membuat aku juga Vino bernostalgia dengan ceria di balik cerita yang mengesankan.
“Terus, berapa lama kamu pacaran dengan teman gadis yang kamu sukai itu?”
“Tidak lama. Hanya sekitar dua minggu dan dia yang memutuskan aku.”
“Kenapa?” Mataku menyala seketika, menatapnya dengan penasaran.
“Dia bilang, aku terlalu pendiam.”
“Lalu gadis yang kamu sukai itu?” Aku menangkap raut wajahnya yang tiba-tiba berubah. Raut wajahnya tampak lebih kusut dari yang aku lihat sebelumnya. Muram dan masam hingga aku seakan tidak sanggup untuk menatap wajah Vino.
***
Pagi-pagi aku belanja ke pasar tempat Mam berjualan daging ayam. Aku sengaja belanja ke pasar supaya Mam membantuku membelikan bahan-bahan untuk membuat sup daging dan memintanya untuk mencatat resep pembuatan sup daging. Ini semua aku lakukan demi ibu mertuaku yang cerewet itu. Walaupun dengan berat hati menuruti permintaannya tapi, aku tidak mau menjadi menantu yang durhaka terhadap ibu mertuanya. Dan yang jelas, Vino sangat menyayangi mamahnya. Ia juga sepertinya takut dengan mamahnya. Mau tidak mau aku juga merasakan hal yang demikian. Ya, ketakutan itu cepat menular.
Aku memasak sup daging sesuai dengan apa yang Mam katakan. Sup daging dengan asap yang masih mengepul telah aku hidangkan di meja makan.
“Vino,” Aku memanggil Vino sembari mengetuk keras pintu kamarnya. Tidak ada jawaban. “Sepertinya Vino masih tidur,” terkaku. Lebih baik aku masuk ke kamarnya. Toh, aku hanya berniat menyuruhnya untuk bangun.
Ceklek...
Aku memasuki kamar Vino dengan langkah cepat. Kamarnya berwarna biru tua itu memang terlihat elegan dengan adanya ruang kerja mini. Setahuku ruangan yang bercat warna biru dapat membuat orang lebih produktif. Mungkin itu salah satu faktor kamar Vino dicat warna biru tua.
“Aah!!” Aku berteriak histeris. Disusul Vino yang juga berteriak. “Aah!!” tanpa direncanakan kami berteriak secara bersamaan.
***
“Uhuk-uhuk...” Vino tersedak. Aku buru-buru memberikan bantuan mengambil tisu dan memberikannya pada Vino. Ia menyeka ujung bibirnya.
“Sup dagingnya asin sekali!” Komentarnya membuatku merasa ditendang sampai ke selokan.
“Aku memang belum sempat mencicipinya. Aku pikir rasanya pas. Padahal tadi aku memasukkan bumbunya sesuai dengan takaran dari Mam.” Aku menyendok sup daging dan menyeruputnya.
“Uhuk-uhuk-uhuk...” kali ini Vino yang memberikan bantuan mengambil tisu dan memberikannya padaku. “Asin dan rasanya nyenggrak. Apa aku kebanyakan memasukkan lada?” Gumamku pada diri sendiri. Vino mengangkat bahu. Sepertinya Vino mengira aku berbicara padanya.
“Ada telur dadar. Apa kamu mau telur dadar?” Aku menawarkan telur dadar yang akan aku makan sebagai lauk sarapanku.
“Tidak usah. Aku sarapan di kantor saja.” Ia beranjak dari tempat duduknya. Dengan gerakan cepat ia meraih jas dan tasnya.
Aku memang tidak bisa memasak! Aku memang tidak pantas menjadi istri. Aku ini bisanya apa sih? Astaga... kenapa aku mencemoh diriku sendiri? Apa aku sedang tidak sadar dengan perkataanku? Semestinya Vino itu mengucapkan terima kasih kepadaku karena aku sudah memasak sesuai dengan keinginan mamahnya. Ya, meskipun masakanku itu tidak enak. Setidaknya dia bilang terima kasih atau apalah sebagai ucapan basa-basi. Aku bangun di pagi buta, belanja ke pasar dan meminta resep pada Mam dan hasilnya mengecewakan!
Padahal tadi malam baru saja kami tertawa bersama mengingat masa remaja yang konyol. Apa dia tadi malu gara-gara aku mendapatinya sedang memakai celana dalam? Lho... bukannya aku yang selalu mencucikan baju-bajunya sampai celana dalamnya juga untuk apa dia malu? Apa karena aku berteriak histeris ketika melihatnya seperti itu? Ah, apa yang aku pikirkan sih?!
***
Raanya rindu juga tidak makan semur jengkol buatan Mam selama seminggu ini. Aku mengangkat kakiku di atas sofa. Memeluk kakiku dan meletakkan dagu di atas lutut. “Apa hari ini aku makan siang di rumah Mam saja ya?” Oh ya, aku belum menyapu lantai, mencuci baju, mencuci piring dan... mengepel.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan mulai mengambil sapu. Membersihkan seluruh ruangan sampai ke sudut-sudutnya juga. Selesai menyapu aku mulai mengambil pakaian kotor dan memulai memasukkannya ke mesin cuci. Sembari menunggu pakaian yang sedang dicuci aku memilih mencuci piring yang kotor. Sebenarnya piring yang kotor hanya beberapa biji daripada hanya dikumpulkan saja lebih baik dicuci, kan?
***
Pukul 11.00 pagi. Semua pekerjaanku sudah selesai. Menyapu lantai, mencuci baju, mencuci piring dan mengepel. Aku baru sadar kalau seorang istri itu memang seorang wanita yang hebat apalagi kalau mereka sudah punya anak. Pasti rasanya sangat-sangat melelahkan. Pagi-pagi harus masak, mengurusi keperluan suami dan anak setelah itu beres-beres rumah. Menjemput anak dan memasak lagi, beres-beres kembali. Kenapa Vino tidak memakai pembantu saja ya? Jika ada pembantu, kan, semuanya bisa teratasi dan aku hanya cukup bersantai ria. Benar-benar aku ini otak pemalas!
Aku terkekeh sendiri mengingat betapa malasnya aku.
Bel berbunyi. Seketika aku menghentikan tawaku dan membeku. “Siapa ya?” Mataku membelalak saat wajah ibu mertuaku muncul. Perasaan khawatir sekaligus panik menjalari setiap sendi tubuhku. Bagaimana kalau ibu mertuaku itu bertanya macam-macam? Dengan langkah malas aku menuju pintu.
Seulas senyum angkuh menghiasi wajahnya yang cantik.
***