Kelopak mataku terbuka samar-samar. Apakah aku sedang berada di awan? Rasanya nyenyak sekali tidurku. Aku masih ingin berguling-guling di kasur yang empuk ini. Ehmm, mataku tak sengaja melihat Vino yang masih tertidur di lantai dengan selimut dan bantal.
Malam itu ketika acara resepsi selesai, aku mengantuk. Vino mengajakku untuk masuk ke kamarnya. Setelah berganti kebaya dengan baju tidur, Vino muncul dari balik pintu dengan baju tidur. “Ada apa?!” tanyaku membentak, dengan raut wajah waswas.
“Ada apa, apanya? Ini, kan, kamarku. Bukan kamar kamu.” Jawabnya santai dengan wajah yang tenang. Aku mencondongkan wajahku ke wajahnya dengan tatapan penuh curiga. “Maksudmu kita tidur berdua?” Vino tersenyum miring dengan salah satu sudut bibirnya. Aku benci senyumnya itu!
“Peraturannya sih seperti itu?” Aku melangkah mundur beberapa langkah.
“Awas kamu ya kalau berani berbuat sesuatu!” Kataku dengan nada penuh ancaman. Vino hanya menggelengkan kepala. Lalu ia menarik selimut dan bantal dari ranjang. Ia membaringkan tubuhnya di lantai. Malam itu cukup mengerikan bagiku. Aku tidur satu kamar dengan seorang laki-laki. Meskipun tidak satu ranjang tetap saja aku merasa waswas. Rasa kantuk yang menyergapku tiba-tiba hilang. Aku hanya berpura-pura memejamkan mata. Dan mataku ini sesekali mencilak menatap ke arah lantai di mana Vino tidur. Ketika sudah yakin kalau Vino benar-benar tidur, aku baru bisa tidur.
Aku melihat jam dinding. Mataku membelalak kaget karena jarum jam menunjukkan pukul 09.45, sejurus kemudian aku langsung melompat dari ranjang dan menghadap pintu kamar. “Mau kemana?” Suara Vino yang serak membuatku menghentikan langkah. Aku berbalik dan mendapati Vino sudah membuka matanya.
“Mandi.” jawabku dengan suara serak juga karena baru bangun tidur.
“Kamar mandinya, kan, di situ.” Ia menunjuk ke arah sebelah kiri.
Ah, aku lupa. Kamar ini, kan, ada kamar mandinya.
“Jangan lupa keramas ya.” Pinta Vino. Aku menoleh tajam.
“Keramas? Memang tadi malam kita ngapain?” Tanyaku tajam seraya mengerucutkan bibir.
“Kita kan pengantin baru. Apa kata orang kalau kamu tidak keramas?”
“....”
***
“Mah, ma’af ya, aku bangunnya kesiangan.” Aku meminta ma’af tulus kepada mertuaku itu. Ya, Sekarang ia sudah resmi menjadi ibu mertuaku. Aku benar-benar menyesal tidak menunjukkan diri sebagai menantu yang baik. Bangun pagi menjelang siang ini dan mertuaku itu menunggu aku dan Vino bangun hanya untuk sarapan bersama.
“Sudah tidak apa, Mamah dan Papah memahami itu. Semoga sebentar lagi Mamah akan mendapatkan cucu.” Katanya berharap sambil mennyendokkan lauk pauk ke piring Ayah mertuaku.
Cucu? Memangnya aku ini mesin pembuat anak? Aku tidak akan membiarkan Vino menyentuhku. Tidur satu kamar dengannya saja membuat aku ngeri apalagi punya anak dengannya, Ckck!
“Mah, kami sudah memutuskan untuk tinggal di apartemen.” Vino menatapku sekilas. Kami sudah memutuskan? Apa-apaan dia? Tinggal di apartemen? Berdua? Aku menatapnya dengan mata menyipit.
“Kenapa tidak tinggal di sini saja. Rumah ini, kan, luas. Menampung 12 cucu pun masih bisa.” Seketika raut wajah ibu mertuaku itu terlihat muram.
“Mah, biarkan Vino dan Gita mandiri. Mereka sudah dewasa. Biarkan mereka menentukan pilihannya.” Kata ayah mertuaku penuh wibawa.
“Kenapa kalian mau tinggal di apartemen? Padahal Mamah ingin sekali kalian tinggal di sini.” Raut wajah ibu mertuaku terlihat lebih muram lagi.
“Ini sudah kesepakatan kami, Mah. Vino ingin belajar menjadi kepala rumah tangga yang mandiri. Begitu juga dengan Gita. Iya, kan, Git?” Vino menatapku dengan bahasa isyarat mata seolah berkata, ‘’Ayo bilang, iya!”
“Iya, Mah.”
“Yasudah, kalau kalian maunya begitu. Terserah kalian saja. Tapi, ingat ya, Git, kamu harus masak sendiri. Mengurus suami dan melayaninya dengan sepenuh hati. Dan kamu tidak boleh membiarkannya makan di luar kecuali jika kamu sakit. Jangan membangkang suami, kamu harus nurut sama suami. Jangan pergi tanpa seizin suami.” Aku melongo bodoh mendengar kata-kata bijaknya. Wow! Aku menarik napas dalam dengan sedih. Masak sendiri? Mengurus Vino dan melayani sepenuh hati? Tidak boleh membiarkan Vino makan di luar kecuali kalau aku sakit? Jangan membangkang Vino? Harus nurut sama Vino? Jangan pergi tanpa izin Vino? Amazing!
***
“Bagaimana malam pertamanya?” tanya Agni antusias. “Kenapa datang-datang wajahmu memberengut seperti itu? Ayo ceritakan tentang malam pertamamu, hihi.” Agni menyambutku dengan menghujaniku pertanyaa-pertanyaan aneh.
“Malam pertama apanya? Tidak ada malam pertama. Statusku memang istrinya tapi bukan berarti aku ini istri sungguhan. Jangan menggodaku terus, hari ini aku lelah.” Aku merebahkan tubuhku ke kursi reot dan memejamkan mata.
“Lelah kenapa?” tanya Agni polos. “Kelelahan gara-gara itu, ya?” Agne cekikikan lagi.
“Itu apa? Jangan berpikir kotor. Aku baru pindah ke apartemen Vino. Selesai beres-beres aku langsung ke sini. Aku membereskan semua barang-barang milik Vino sendirian. Dia hanya mengantarkanku sampai ke depan pintu apartemen. Keterlaluan sekali, kan, dia!” Kataku kesal. Sepenuhnya kesal. Seperti ada asap yang mengepul di atas kepalaku.
“Mungkin Vino sibuk. Seorang suami, kan, wajib mencari nafkah dan istri memang seharusnya beres-bereskan.” Perkataan Agni seakan pembelaan untuk Vino. Aku lelah. Benar-benar lelah. Aku memilih memejamkan mata daripada berdebat lebih lanjut dengan Agni.
***
Samar-samar aku membuka mata. Seperti ada bayangan tubuh Vino di depan mataku. “Mungkin ini mimpi. Jangan datang ke mimpikulah!” Gumamku sembari mengibas-ngibaskan tangan, mengusir bayangan itu. Aku memejamkan mata kembali dan setelah sekian detik mataku terbuka sepenuhnya..
“Kok tidak pergi sih!” Seketika aku menyadari bahwa ini bukan mimpi Vino menatapku tajam dan tangannya dilipat di atas perut. Apa-apaan dia?
“Vino,” tubuhku nyaris terlompat melihatnya dengan jelas.
“Ayo pulang!” Tanpa basa-basi Vino menarik lenganku.
“Nanti dulu,” selorohku mencoba melepaskan tarikan tangannya.
“Aku, kan, baru tidur sebentar,” gumamku mengeluh.
“Sebentar apanya? Ini sudah jam 7 malam.”
“Benarkah?” Tanyaku tidak percaya. Aku melihat layar ponsel yang terletak di atas meja. Ya, benar. Sudah jam 7 malam. Dan Agni tidak ada di rumah.
Sepanjang perjalanan aku terus memasang wajah memberengut. Apa-apaan dia? Menarikku seenaknya saja. Setidaknya basa-basi dulu atau bicara baik-baik kan bisa. Sekilas aku menatapnya, ia juga memasang wajah demikian. Kenapa dia? Apa dia marah padaku karena aku ketiduran di rumah Agni? Ah, tidak! Yang harus marah itu aku, bukan dia. Aku yang capek dari pagi membereskan barang-barang di apartemen.
Kruyuk... Kebiasaan. Di saat seperti ini perutku memberi aba-aba untuk diisi.
“Kamu lapar?” Tanya Vino ketus. Sekilas ia menatap perutku yang berbunyi itu.
“Aku memang kelaparan. Aku belum sempat makan siang karena kecapekan aku tertidur.” Aku menyahut dengan nada sedih seolah kelaparan adalah hal yang paling menyedihkan di dunia.
Ponsel Vino berdering. Ia mengangkat ponselnya.
“Iya, Mah.” katanya.
“Kami sudah makan kok, Mah. Tadi Gita masak rendang.” Vino menyodorkan ponselnya.
“Apa?” tanyaku.
“Mamah mau bicara denganmu.” dengan ketakutan yang aneh aku meraih ponsel dan menempelkannya pada telinga sebelah kanan.
“Iya, Mah.” kataku dengan nada suara yang sedemikian rupa halusnya.
“Kamu masak apa tadi?”
“Ehm, rendang, Mah.” jawabku agak ragu seraya menatap Vino.
“Besok kamu masak sup daging ya. Itu makanan kesukaan Vino.”
“Iya, Mah.” Aku mengangguk, menyetujui. Sup daging? Memangnya aku ini chef restoran bisa masak semua jenis makanan?
***
Vino membawaku di sebuah Restoran Seafood. Aku memesan cumi goreng, udang goreng dan cah kangkung. Membayangkannya saja sudah membuatku ingin meneteskan air liur. Pramusaji menghidangkan makanan yang dipesan tidak begitu lama hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja. Tanpa memedulikan Vino yang makan dengan tidak berselera, aku melahap habis makananku. Ehm... benar-benar kekenyangan. Di saat lapar kadang aku ingin melahap semua makanan enak yang ada di dunia.
“Kamu kenapa?” Aku bertanya ragu. Melihat wajahnya yang kusut begitu membuatku merasakan perasaan yang tidak enak.
“Tidak apa.” Ia menjawab dengan nada cuek, tidak menoleh sedikit pun kepadaku. Sendok hanya di putar-putar di atas piring yang berisi nasi putih.
“Kamu sudah selesai makan?” tanyanya sembari meletakkan sendoknya di atas piring.
Aku mengangguk.
“Kita pulang sekarang.”
“Nanti dulu, makanannya belum turun. Tunggu 10 menit lagi.”
Vino kembali tertunduk lemas. Melihatnya seperti itu membuatku merasa ingin menghiburnya. Sebenarnya dia itu kenapa sih? Seketika aku mengingat peraturan yang harus di taati Vino. Peraturan yang aku catat sebelum aku menikah dengannya. Aku membenamkan sebelah tangan kanan di tas. Mencari secarik kertas itu.
Yeah, aku mendapatkannya! Secarik kertas yang mencatat semua peraturan untuk Vino sudah di tangan. “Vino,” Aku berkata dengan nada lembut.
Ia mengangkat wajahnya sembari bertanya, “Apa?”
“Aku akan membacakan beberapa peraturan yang harus kamu taati.”
“Peraturan?” Dahi Vino mengkerut.
“Pertama,” Aku memberi jeda pada kalimatku. Berdeham lalu mengatur suaraku terlebih dahulu agar tidak terlalu keras. “Kamu tidak boleh menyentuhku. Kedua, kamar kita terpisah, itu sudah pasti. Ketiga, kita hanya boleh terlihat mesra untuk orang-orang yang menginginkan pernikahan kita seperti Mamah, Papah dan Mamku di luar itu tidak perlu bermesraan. Ketiga, harus ada perceraian. Entah kapan datangnya perceraian itu, tapi, kita akan dan pasti bercerai. Karena aku ingin melanjutkan hidupku.” Kataku mantap.
Vino hanya menatapku dengan tatapan kosong. Dan tidak bereaksi apa-apa. “Kamu dengar tidak sih, aku ngomong apa?” Seruku.
Vino terkejut mendengar ucapanku. “Ya, aku dengar kok. Santai saja.” Katanya tenang. Perubahan kilat dari wajahnya yang tadinya terkejut langsung berubah tenang sangat menakjubkan. Aku ragu kalau dia baik-baik saja. Meskipun, aku bukan istri sungguhan tapi naluri ingin membantu sesama ingin aku lakukan. Tapi... bagaimana ya, Vino sepertinya bukan tipe orang yang mudah untuk menceritakan masalahnya.
***