BAB 8

1858 Kata
            Aku duduk di samping Vino sedangkan Agni duduk di belakang mobil. Saat aku menceritakan kalau hari ini aku dan Vino akan fitting baju pengantin, mata Agni melebar dan berbinar-binar. Jadi, kupikir aku lebih baik mengajaknya daripada membiarkannya menonton DVD film dokumenter tentang satwa liar di Hutan Afrika Selatan seharian. Entah berapa kali aku memergokinya menatap Vino dari balik kaca spion. Setiap kali aku memergokinya, Agni tersenyum dan menunjuk ke arah Vino melalui dagunya. Saat aku menurutinya menatap Vino, sial! Vino memergokiku. “Kenapa?” tanyanya sekilas menatapku dan kembali melihat ke arah depan. “Tidak apa.” Aku merasa kikuk. Aku melihat Agni menyembunyikan tawa di balik tangannya. “Katanya mau ke butik pengantin. Kenapa lewat gang sempit ini, sih?” tanyaku yang terdengar seperti omelan. “Butiknya memang ada di sekitar sini. Sebentar lagi juga sampai.” Jawab Vino santai. *** Butik yang didominasi warna krem muda itu terlihat kecil dari depan, tetapi ketika memasuki tokonya barulah terlihat cukup megah dan luas. Mata Agni tampak terkagum-kagum melihat gaun-gaun indah seperti gaun seorang putri kerajaan modern. Gaun-gaun itu didominasi warna putih hanya beberapa saja yang bukan warna putih.             Gaun indah model trumpet dua layer berwarna putih cerah menarik perhatianku. Aku membayangkan kalau aku memakai gaun ini nanti. Ah, betapa cantiknya! Ketika aku akan mendekati gaun itu, Vino memegang lenganku. Aku menoleh.             “Kita di sebelah sana,” Ia menunjuk ke arah mannequin yang memakai kebaya sederhana ala kadarnya. “Mamah sudah memilihkannya untuk kamu.” “Tapi aku punya hak untuk memilih gaun pengantin yang aku inginkan.” Aku mengernyitkan dahi, kesal. “Agni coba—” Aku menoleh ke arah samping di mana Agni berpijak saat itu dan dia dengan ajaibnya menghilang. “Mamah punya selera yang bagus. Gaun yang cantik sedang menunggu calon pengantin wanita untuk melihatnya. Ayo kita ke sana!” Vino menarik lenganku. “Tapi aku—” “Mas Vino, kan?” Sebelum aku melanjutkan kalimatku seorang gadis yang sepertinya seorang pelayan butik bertanya ramah. “Ya,” jawab Vino tersenyum ramah. Ia melepaskan pergelangan tanganku. “Ini calon istrinya?” Tanya gadis itu. Matanya tampak tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkannya. “Iya, dia calon istri saya.” Jawab Vino masih dengan sisa senyum ramahnya. Aku mengulas senyum di bibirku saat gadis itu menatapku.             “Oh.” ujarnya dengan nada kecewa. Wajahnya terlihat masam. Bahkan ia tidak membalas senyumku. Kenapa dia? “Ayo silahkan,” Dia berjalan di depan kami. Aku dan Vino mengekor. “Ini kebaya pengantinnya.” katanya menunjuk salah satu kebaya berwarna hijau yang cerah. “Hah?” Aku mengeluarkan suara nyaring dengan mulut ternganga. Aku menoleh pada Vino. “Kenapa tidak warna yang cokelat saja. Kulitku, kan, warnanya cokelat. Kalau aku memakai kebaya warna hijau, tidak menyatu dengan kulitku. Pasti akan terlihat aneh.” Protesku. Vino tertawa puas. “Kalau warna kulitmu cokelat ya, terima saja. Jangan mengeluh, Hahaha.” Vino terkekeh kembali. Aku melihat gadis yang tadi menunjukkan kebayanya juga ikut terkekeh pelan. Rasanya aku ingin sekali detik itu juga menghilang dari planet bumi.             “Sayang, maksudku... warna kulit cokelat itu eksotis dan mengagumkan. Aku menyukainya.” Kata Vino berpura-pura tampak manis seraya merangkul pundakku. Vino mencoba menyelamatkan situasi dan membuat gadis itu cemburu melihat keromantisan palsu yang dibangunnya. Aku tersenyum simpul dan menempelkan tanganku di pinggang Vino dan mencubitnya pelan. Dia menatapku seolah matanya berbicara, “Awas kamu!” “Hai,” sapa Agni. “Kamu dari mana saja?” Aku bertanya seketika melihat Agni datang. “Aku tadi lihat gaun di sebelah sana. Bagus-bagus, Git!” katanya dengan mata terkagum-kagum. ***             Waktu berputar begitu cepat. Seminggu seperti sehari. Ini adalah hari pernikahanku. Aku menatap bayangan wajahku di pantulan cermin. Kebaya pengantin warna hijau ini cantik sekali! Entah kenapa pada saat di butik aku merasa kebaya ini tidak cocok dan aku tidak menginginkan kebayanya. Dengan polesan make-up yang flawless wajahku terlihat cantik. Wajah ini hanya akan cantik di hari pernikahanku saja. Aku tidak ahli dalam urusan make-up dan lebih suka tampil apa adanya. “Git,” Agni muncul dari balik pintu. “Keluar yuk! Sudah pada nunggu, lho.” Agni menghampiriku. Aku terduduk lemas di ranjang. “Dengan kebaya hijau ini aku merasa seperti Nyi Roro Kidul yang cantik.” Aku mengukir senyum tipis. “Haha, imajinasimu itu memang tinggi ya, tidak bisa dipungkiri hari ini kamu cantik sekali! Kalau Vino melihatmu pasti dia akan terpesona.” Aku hanya membalas pujian Agni dengan senyum kecil. “Ada berita menarik untuk kamu. Gladys baru saja terkena stroke dadakan setelah mengetahui kalau Vino menikah denganmu.” wajah Agni terlihat puas. Aku bergeming. Seketika wajah Agni berubah saat tersadar kalau aku tidak tertawa dan tidak berekspresi apa-apa. “Kamu kenapa?” tanyanya dengan wajah panik. “Apa aku tidak salah dengar?” Aku memasang kedua telinga mendekat ke arah Agni. “Tidak. Aku ulangi sekali lagi, Gladys terkena stroke.” “Kenapa wajahmu puas begitu?” Tanyaku tidak mengerti. Gladys itu bosnya Agni, kan?             “Aku senang saja dendammu terbalaskan.” katanya dengan tatapan seolah berkata, “Yeah, kita menang!” “Gladys terkena stroke bukan hiburan favoritku, Ni.” kataku tidak berselera. “Oh, aku kira kamu akan senang mendengarnya. Gladys hanya syok saja, sebentar lagi juga dia akan pulih kembali.” katanya renyah mencoba menenangkan aku. Tiba-tiba wajah Pap hadir. Kenangan kebersamaan Pap melompat-lompat dipikiranku. Kekhawatiran menjalar di tubuhku. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku merasa takut akan pernikahan ini. Pernikahan yang hanya didasari keegoisan orang tua semata. Bagaimana akhir dari pernikahan yang tidak ada cinta di antara kedua mempelai ini? Hidungku memerah. Mataku berkaca-kaca. “Git, kamu kenapa?” tanya Agni panik sekaligus khawatir.             Air mataku terjun bebas. Aku tidak mempedulikan make-up yang membalut wajahku ini. Akhirnya tangisku pecah. Air mata merusak eyeliner dan menghapus sebagian blush on di pipiku. Agni terlihat panik. Ia tampak bingung harus berbuat apa. Antara menenangkanku atau membiarkanku menangis seperti ini... di saat seperti ini apa yang dilakukan Agni serba salah. Vino datang. Ia terkejut melihat aku menangis sesenggukan. “Kenapa dia?” tanya Vino pada Agni. “Aku tidak tahu, tiba-tiba Gita menangis seperti ini?” jawab Agni masih dengan kepanikan dan kekhawatirannya yang kentara. “Kamu kenapa?” Tanya Vino panik. Kepanikan Agni menular. “Aku takut...” kata-kataku tertelan oleh tangisanku. “Takut apa?” Tanya Vino lagi. “Tidak tahu!” Jawabku ketus di sela rengekanku. “Huhuhu...” Aku menangis meraung-raung. “Kamu takut dengan pernikahan kita?” Tanyanya seolah tahu isi hatiku. “Aku janji tidak akan menyentuhmu. Status suami-istri hanya sebagai status saja. Tidak akan ada apa-apa di antara kita. Kamu boleh mencintai orang lain atau mungkin kembali dengan mantanmu juga tidak apa. Asal kamu juga bisa menjaga rahasia. Pokoknya kamu tenang saja. Meskipun kita tinggal satu rumah, tapi kita hanya seperti teman saja. Mengerti, kan?” Perkataan Vino sukses membuat tangisku mereda. Dan rasa takut itu beringsut mundur secara pelan-pelan. “Mengertilah, ini untuk kebahagiaan orang tua kita.” Lanjutnya. Aku mengangguk. Agni menatapku dan Vino secara bergantian dengan ekspresi lega sekaligus bingung. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN