Hatiku mulai gelisah karena Vino... Untuk kesekian kalinya aku melirik ponsel di atas sofa yang tidak menandakan adanya telepon. Padahal sudah jam dua belas malam. Ini pertama kalinya Vino belum pulang. Apa aku telepon saja ya? Aku menggigit kuku tangan dengan cemas. Biasanya jam sepuluh malam kantuk mulai menghinggapi, tapi untuk malam ini rasa kantuk itu diculik oleh rasa cemas. Apa karena pertanyaanku tadi pagi yang membahas tentang perceraian ia marah padaku? Walau gengsi tapi aku harus memastikan kalau Vino baik-baik saja. Dengan segenap kekuatan aku meraih ponsel. Ma’af nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. “Nomornya tidak aktif,” gumamku. Wajah Roy terbayang, aku langsung menelpon Roy. “Iya, halo, Git.” Suara Roy terdengar dari seb

