Keesokan paginya aku tetap memerankan peranku sebagai istri. Pagi ini aku hanya menggoreng telur dadar untuk sarapan. Aku benar-benar tidak lapar meskipun tadi malam aku tidak makan. Aku dan Vino tinggal dalam satu ruangan tapi kami hanya saling diam. Sebenarnya itu menyakitkan untukku. Seakan membenarkan bahwa ia benar bersama Katrina tadi malam dan ia benar-benar masih mencintai Katrina. “Aw...” teriakku tertahan. Tanganku terkena semprotan minyak dari wajan. “Kenapa?” Vino muncul tiba-tiba dan bertanya dengan cemas. “Tanganmu terkena minyak?” Ia meraih telapak tanganku. Aku melepaskan genggamannya dan kembali fokus membalik telur dadar. “Kenapa kamu bersikap seperti ini?” tanya Vino dengan nada dingin. Aku ing

