“Mas … aku sedang tidak bercanda.” Jawaban Mas Satria terdengar seperti tidak serius. “Iya … Sayang, iya. Maaf ya, tapi, beneran itu bukan candaan tentang apa yang aku rasakan. Mm … apa kamu sedang cemburu dengan Aleya?” Apa memang makhluk pria itu diciptakan satu paket dengan ketidak pekaannya. Bagaimana bisa dia masih bertanya apa kah aku cemburu dengan Aleya. Kalau aku merasa biasa saja dan tidak cemburu pada perempuan itu pasti tidak akan sekesal ini. Benar benar tidak “Biasa saja,” jawabku dengan sedikit ketus. Ini lagi minusnya diriku juga mungkin sama dengan perempuan-perempuan di luar sana. Apa yang mulut ucapkan jarang sekali singkron dengan suara hati. Berharap para pria bisa peka denga napa yang dirasakan tanpa harus menjelaskan panjang kali lebar. “Syukurlah, aku takut ka

