“Iya mah, sendirian saja anaknya. Wajahnya juga terlihat seperti habis menangis atau apa ya, mama lihat sendiri nanti. Ya sudah ayok itu penghulunya sudah nanyain terus, tamu-tamu juga sudah nungguin.” “Ayo … ayok,” seru Kak Sisil kemudian seperti di komando satu persatu semua keluar dari kamarku tinggal kak Sisil, Kak Regina dan Kak Aletha di kamarku. “Kakak rapikan lagi ya make upnya,” ucap Kak Aletha kemudian, aku mengangguk dan membiarkan perempuan cantik itu untuk memperbaiki riasanku. Kedua kakakku juga terlihat merapikan diri mereka masing-masing, semua yang di ruangan ini menangis tadi. Dan sekarang akhirnya Mas Satria datang, antara lega, kesal dan perasaan perasaan lainnya berjejalan di dalam dadaku. Sesungguhnya aku masih tidak paham dan tidak mengerti denga napa yang sebenar

