6. Rencana Licik Selina

1318 Kata
“Aku enggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi aku percaya kamu selalu melakukan yang terbaik, Kayden. Maafin aku, udah bikin kamu marah banget.” Selina berucap tulus, sampai rasanya pandangan mereka hanya jatuh pada satu titik—sama-sama menyelami rasa yang sulit dijelaskan oleh kata-kata. Selina makin mendekat pada Kayden, kemudian berjinjit untuk membawa pria itu ke dalam pelukannya. Dan takjub, Kayden tidak menolak atau mendorong Selina sama sekali. Dia malah menyandarkan kepalanya lemah di bahu Selina, dengan pandangan kosong. Perdebatan mereka tadi adalah nada bicara Kayden paling tinggi yang pernah Selina dengar selama ini. Kayden benar-benar marah dan tidak senang atas perlakuan seenaknya Selina. Namun di sisi lain, Selina semakin lihat jika Kayden ternyata sangat kesepian—melebihi dirinya. “Aku cuma pengin lakuin sesuatu buat wujudin impian kamu. Aku senang kalau kamu bahagia. Maaf, kalau cara aku selalu salah buat bikin kamu bahagia. Jangan benci aku ya, nanti aku makin sedih.” Selina mengusap dan menepuk-nepuk pelan punggung Kayden. Badannya yang kecil, tertutup habis oleh tubuh besar Kayden. Sepanjang keintiman ini, dadaa Selina tak berhenti berdebar kencang, sampai rasanya seperti akan ada sesuatu yang meledak sebentar lagi. Selina tidak bisa mengontrol perasaannya, begitu menggebu-gebu pada sosok Kayden. “Pelukan aku nyaman banget, ya? Kamu kayaknya bentar lagi bakal ketiduran.” Sadar dengan posisinya, Kayden langsung melepaskan pelukan mereka, lantas menjaga jarak dengan salah tingkah. Dia mengusap tengkuk, bingung akan bersikap bagaimana, dan hanya berusaha membenarkan pakaiannya agar rapi kembali. “Pulang sana. Kamu benar-benar menyebalkan, Kalselina!” Selina tersenyum. “Cuma kamu yang panggil nama aku secara lengkap. Awalnya kerasa aneh banget, tapi sekarang mulai terbiasa di telinga aku. Indah banget. Aku anggap itu panggilan kesayangan dari kamu.” “Jangan kebanyakan ngehalu kamu.” “Jadi gimana, mau bikin kebun binatang sama aku?” “Tidak!” “Kayden!” Selina bersungut, wajahnya langsung berubah sengit. “Aku habisin banyak uang buat beli hewan-hewan imut itu. Tabungan aku mau habis.” “Saya suruh kamu?” “Gantinya jadiin aku istri kamu, biar kamu yang kasih aku nafkah setelah ini. Aku jamin, setelah kita menikah, hidup kamu lebih cerah. Kapan lagi dikejar dan dicintai cewek secantik dan seberisik aku, ‘kan?” Kayden melenggang pergi dari hadapan Selina, menyibukkan diri dengan beberapa dokumennya. “Saya sibuk, silakan pergi.” “Aku enggak pernah seterluka ini ditolak cowok, cuma kamu.” Selina mendumel sambil melangkah meninggalkan ruangan Kayden. “Nggak pa-pa, harga diri aku banyak buat hadepin kamu, ditolak sepuluh kali pun enggak berpengaruh banget.” Pintu ruangan Kayden tertutup kasar, membuat sang empunya geleng-geleng kepala dan hanya bisa mengusap dadaa. Kayden menutup wajahnya frustasi ketika Selina pergi, merutuki dirinya yang mau-maunya dipeluk tanpa menolak sedikit pun. Anehnya, Kayden malah menikmati kehangatan dari sentuhan kecil Selina. Ada apa dengan dirinya? *** Alley sudah pulang dari luar kota, Selina menemui papanya di ruang kerja. Ada bisnis penting yang ingin dia bicarakan. Melihat Selina masuk ruang kerja Alley, nenek Juwi menyipitkan matanya—terlihat sinis dan curiga. Dia akan memukul Selina lebih keras jika anak itu berani mengadu dan membuat keributan antara dirinya dan Alley. “Papaaaa …!” Selina berlarian kecil menghampiri Alley, kemudian memeluk pria yang sedang duduk di dekat jendela sambil membawa buku tebal kesenangannya. “Ya, Sayang? Kamu makin besar, aja. Kamu sehat?” Alley mengusap rambut dan punggung Selina penuh kasih. Mereka sangat jarang bertemu, apalagi ketika Alley harus melakukan perjalanan ke Singapura untuk mengurus beberapa bisnis di sana—dia bisa pulang satu sampai dua bulan lamanya. Jadi ketika bertemu Selina, sangat terasa perbedaan gadis kecilnya yang dulu. Kini sudah besar dan tambah cantik. “Sehat, Papa. Aku baik-baik aja, kuliahku juga lancar.” “Syukurlah. Ada yang ingin kamu bicarakan, Nak? Tumben kelihatan buru-buru sekali datang ke sini.” Selina duduk di hadapan Alley, melipat kedua kakinya menyamankan posisi. Dia mengangguk antusias, senyumnya melebar sempurna. “Papa kenal om Leonardo Kaltara?” Alley mengernyit lembut, kemudian mengangguk. “Kenal dong. Itu teman Papa dari dulu, sejak kamu kecil. Kamu ingat beliau? Apa kalian pernah bertemu dan mengobrol?” “Enggak. Tapi aku temenan sama Kayden, anaknya Om Leo. Papa ingat nggak sama Kayden? Yang ganteng itu loh!” paparnya semangat empat lima. Apapun tentang Kayden, rasanya selalu membuat Selina bahagia. “Oh, Kayden. Bukannya sekarang dia menjadi pimpinan di Kaltara Group? Papa beberapa kali dihubungi Leo, mereka ingin menjalin kerja sama lagi, tetapi sampai saat ini, belum ketulusan. Jadwal Papa sangat padat—tidak pernah cocok dengan jadwal Kayden, akhirnya Papa belum punya waktu untuk mengundang mereka ke sini.” “Wah, kebetulan banget dong.” “Kebetulan?” Selina mengulum senyum, malu-malu kucing. “Papa tau nggak, kalau usia aku sekarang udah dua puluh tahun?” Alley mengangguk, sambil mengingat-ingat kembali. “Udah legal buat menikah. Aku suka sama Kayden, Papa.” Pernyataan dadakan Selina, membuat Alley tersedak salivanya sendiri. Dia sampai batuk-batuk dan segera minum dulu untuk mencerna setiap kalimat Selina yang sangat tiba-tiba ini. “Menikah, Sayang? Kamu bercanda? Kamu masih sangat muda dan masa depanmu masih panjang. Katanya kamu ingin mengelola bisnis restoran kita?” Tidak salah. Selina sekolah tinggi ilmu bisnis karena setuju akan mengelola restoran nusantara keluarga mereka yang saat ini berpusat di Singapura, kemudian berkembang pesat hingga ke beberapa negara eropa. “Pa, aku bisa mengelola semuanya dengan bantuan Kayden. Dia hebat dalam berbisnis dan bisa diandalkan oleh keluarganya dalam hal ini. Dia bisa mengajari aku banyak hal.” “Tapi masih dua puluh tahun, Sayang. Kamu coba pikirkan kembali. Menikah bukan sesuatu yang mudah dan selalu sesuai rencana kamu.” Selina mengangguk. “Aku tahu. Tolong, Pa, paling enggak, jodohkan dulu aja aku sama Kayden, biar dia enggak kecantol cewek lain. Terima kerja sama om Leo dengan syarat perjodohan antara aku dan Kayden.” Alley terdiam beberapa saat, memikirkannya. Kerja sama dengan Kaltara Group memang tidak pernah gagal sejak dulu, dia juga melihat bagaimana potensi Kayden yang turun temurun dari Leonardo—mereka sekeluarga besar memang berjiwa pembisnis hebat. “Emangnya Papa enggak kepengen Kayden jadi bagian dari keluarga kita? Aku sendirian enggak bakal mampu buat menjadi penerus Rilley, Pa. Kita butuh pemimpin yang terlahir memang untuk menjadi pemimpin, ‘kan?” “Apalagi Papa udah kenal Kayden sejak dulu, Papa pasti udah tau gimana kinerja dia tanpa perlu aku jelasin. Kapan lagi menyatukan dua keluarga untuk kelancaran bisnis kita, Pa?” “Sayang, tetap saja, kamu masih terlalu muda.” “Kayden udah sangat matang untuk menikah dan bisa membimbing aku, Pa. Kami berteman baik, kami sudah saling suka.” Selina terpaksa berbohong, untuk merayu Alley agar setuju. Sungguh, jika Kayden mendengar ini, dia pasti tidak segan akan memaki Selina. Tapi, persetan dengan semua itu. Selina akan halalkan segala cara untuk mendapatkan Kayden. “Kalian berpacaran?” “Iya, Pa. Kayden bilang, dia suka aku. Dia mau menikahiku.” “Loh, kok Papa enggak pernah tahu? Leo belum bilang apa pun soal hubungan kalian.” “Kayden mau temuin Papa, tapi enggak pernah ada kesempatan. Jadi sekarang, aku bantu dia ngomong lebih dulu.” Alley tampak memikirkannya, Selina tersenyum penuh kemenangan. “Coba nanti Papa bicarakan dulu hal ini dengan Leo dan Kayden langsung. Papa akan batalkan penerbangan ke Bandung besok, untuk mengajak mereka makan malam bersama.” “Beneran, Pa?” Alley mengangguk, sementara Selina langsung bersorak sambil memeluk Alley dengan terjangan tanpa aba-aba. “Papa, terima kasih banyak. Aku sayang banget sama Papa. Aku bahagia, Pa, aku bahagia karena Kayden bakal jadi pelindung aku.” “Berjanjilah dulu, kamu akan tetap menyelesaikan kuliah meski menikah.” Selina melingkarkan kelingkingnya pada Alley. “Aku janji, Papa. Aku bakal jadi anak kebanggaan Papa.” “Papa hanya tidak menyangka, kamu dan Kayden ternyata saling menyukai. Usia kalian terpaut cukup jauh.” “Iya, nih. Katanya Kayden udah suka aku sejak aku sama dia ketemu pertama kali di usiaku sepuluh tahun. Katanya aku anak yang lucu dan cantik kayak bidadari.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN