7. Penolakan Perjodohan

1506 Kata
Kayden menyambangi kediaman utama Kaltara saat Leonardo memintanya datang usai menyelesikan pekerjaan di kantor. Karena hari ini Kayden sangat sibuk dan jadwalnya padat, alhasil dia tiba sedikit terlambat dari jam yang dijanjikan sebelumnya. Kayden pikir Leonardo akan marah, ternyata pria itu malah menyambut kedatangannya dengan suka cita. Kayden tentu bukan seseorang yang haus pujian dan mudah tersanjung menerima kehangatan yang terbilang jarang dia dapatkan ini. Jauh di dalam dirinya, Kayden sudah curiga jika ada sesuatu yang harus dia lakukan untuk membayarnya. Kedekatannya dengan Leonardo terjalin dengan baik hanya soal bisnis dan profit, di luar daripada itu, mereka seperti dua orang yang tidak memiliki ikatan darah. Menyapa dan bertemu pun hanya sesekali saja—jika Leonardo berkunjung ke kantor mereka untuk melihat kinerja Kayden sebagai pemimpin. “Ada yang mau Ayah bicarakan. Duduk dan minumlah kopi ini dulu.” Kayden tersenyum singkat, mengangguk paham. Dia jarang membantah dan selalu berusaha menyenangkan hati Leonardo, karena menghindari amukan yang menyakiti dirinya, dan berakhir membuat mental Kayden goyah. Dia sudah terbiasa dan memilih menikmati segala tekanan yang diberikan tanpa banyak mengeluh. “Kamu ingat jika Ayah pernah bilang kita akan menjalin kerjasama dengan Alley untuk proyek awal tahun nanti?” “Pembangunan beberapa villa di Bali, Yah?” “Benar. Tadi siang Alley menghubungi Ayah, katanya besok malam kita diundang untuk makan malam bersama membicarakan hal ini.” “Baik, Yah. Nanti akan aku urus dokumen yang diperlukan sebelum kita melakukan pertemuan, termasuk desain bangunan yang sudah dibentuk waktu itu. Apa ada hal lain yang perlu aku siapkan, Yah?” “Kamu sedang menjalin hubungan asmara dengan putrinya Alley?” Kayden sontak tersedak, segera menaruh cangkir tehnya ke meja dan mengambil tisu. Dia membulatkan mata, menggeleng tegas. “Katanya kalian akan menikah?” “A—APA?” Leonardo tersenyum lebar, menepuk-nepuk bahu Kayden bangga dan penuh harapan. “Ayah sangat setuju. Menikahlah dengan gadis itu, Kayden, maka bisnis kita akan semakin meroket dengan bantuan Alley. Ini akan menjadi ladang keuntungan untuk kita. Kapan lagi Rilley menjadi keluarga besar kita, bukan?” “Yah, tapi—” “Tidak usah banyak tapi atau mau mengelak, Kayden. Ayah sangat setuju dan ini adalah sebuah kemenangan untuk kita. Ayah sudah lihat profil gadis muda itu. Namanya kalau tidak salah Selina, usianya memang jauh lebih muda daripada kamu, tetapi dia cantik dan pintar. Meski perempuan, dia pewaris Rilley, Kayden. Kalau kalian menikah, nama baik kamu akan semakin bersinar. Kamu akan menjadi menantu satu-satunya dan anak laki-laki satu-satunya di keluarga mereka. Kamu akan disanjung di sana.” “Yah, kalau bisnis bareng tidak masalah. Tapi jangan kaitkan ini semua dengan masa depan aku, apalagi soal menikah. Aku tidak berniat menjalin hubungan dengan siapa pun.” “Sudah berani melawan saya, kamu?” Intonasi Leonardo meninggi seketika, rahangnya ikut mengetat bengis. Dia begitu antusias sejak tadi siang, tetapi langsung dibuat kecewa dengan jawaban Kayden yang menolak mentah-mentah tak sesuai harapannya. “Bukan begitu, Yah—” “Lalu, bagaimana? Usia kamu sudah berapa, Kayden? Kata kamu dulu, kamu akan menikah ketika sudah siap dan usiamu matang. Ini waktu yang tepat dan calonnya pun sudah ada di depan mata. Gadis itu juga menyukai kamu.” “Apa lagi yang kamu pikirkan? Selama ini, Ayah selalu menempatkan kamu di posisi enak, tapi balasanmu dengan menjadi anak kurang ajar dan tidak tahu diri begini?” “Apapun itu, selain menikah, Yah.” Kayden masih berusaha membujuk dengan nada memelas namun cukup tegas. Selama ini posisi enak yang Leonardo berikan itu hanya menurut ayahnya, tetapi tidak bagi Kayden. Dia banyak mengalami tekanan dan tak pernah punya pilihan sendiri atas hidupnya. Kayden selalu diperalat sedemikian rupa, sesuai keinginan Leonardo. “Tidak. Menikahlah, maka Ayah akan tetap menempatkan kamu di posisi yang nyaman seperti sekarang. Jika tidak, lihat saja apa yang akan terjadi pada hidupmu.” “Kamu masih sangat susah untuk diarahkan, Kayden. Keras kepalamu itu menurun dari mamamu yang tidak beres, sama-sama kurang ajar dan tidak tahu diri. Jangan kamu ambil semua sisi buruknya dia, Ayah muak melihatnya.” Leonardo meletakkan surat kabar ke meja, kemudian meninggalkan Kayden yang membungkam di tempatnya tanpa selaan. Leonardo tidak menerima alasan untuk penolakan, baginya sama seperti hinaan. *** Kayden menunggu kedatangan Selina ke kantornya, tetapi sudah ditunggu sepanjang hari, gadis itu malah tidak muncul sama sekali. Kayden coba kirimkan pesan dan menghubungi nomornya juga tidak mendapat sahutan. Kayden murka, dia sangat pusing memikirkan nasibnya yang di ujung jurang. Andai bisa mengamuk, dia akan melampiaskannya sejak semalam. Di saat seperti ini, Selina sengaja menghindarinya dan lagi-lagi menjadi sumber masalah dalam hidup Kayden. Sekarang, datanglah waktu untuk makan malam itu. Kayden tak bisa menolak agar tidak hadir, karena Leonardo berada di sisinya dengan sikap yang tegas dan tidak segan menghukum Kayden jika melawan. Sangat berat rasanya ketika harus menginjakkan kaki di kediaman Rilley, apalagi setelah mendapat sambutan hangat dan penuh kasih dari Arsenio padanya. Entah apa yang sudah Selina katakan untuk menghasut, sehingga Arsenio sangat menyanjung kehadirannya seolah dia benar-benar sudah menerima tawaran sebagai menantu. “Tegakkan badan dan angkat wajahmu, Kayden. Jangan buat Ayah malu!” Leonardo berbisik penuh peringatan, menyenggol lengan Kayden yang sejak tadi tampak seperti orang bodoh yang lambat merespon setiap ucapan Arsenio. “Jika makan malam ini kacau akibat ulah pikirmu yang singkat itu, Ayah tak segan untuk mematahkan lehermu setibanya di rumah nanti. Kamu dengar?!” Arsenio sangat senang mengobrol dengan Kayden, menggali lebih dalam tentang dirinya yang akan menjadi pendamping Selina. Sementara Leonardo, hanya ikut menimpali sesekali dan selebihnya jadi pendengar yang baik dan seolah mendukung jika ini pilihan yang tepat. “Sebentar ya, Nak Kayden, Selina masih siap-siap. Dia katanya ingin tampil cantik di hadapan kamu.” Kayden hanya mengangguk singkat. “Sejak kapan kalian menjalin hubungan, Kayden? Katanya, kalian sudah membicarakan soal pernikahan ini jauh sebelum Selina jujur pada saya kemarin, ya? Saya cukup terkejut, tapi jauh daripada itu … saya sangat senang jika pria pilihan Selina adalah kamu Kayden. Saya tidak perlu repot mencari tahu siapa calon menantu saya, karena hubungan saya dan Ayah kamu sejak kami muda, sudah terjalin dengan baik. Ya, Leo?” “Benar, Alley. Saya juga tidak menyangka jika akhirnya kita akan menjadi keluarga seperti ini. Sangat senang untuk menerima Selina menjadi anak saya.” Kayden hanya bisa terseyum, tidak tahu harus menyahut apa. Lidahnya kelu untuk mengeluarkan kalimat, karena kebohongan ini ternyata sudah dikemas sebaik mungkin oleh Selina dan membuatnya tak bisa mengelak sama sekali. Untunglah saat Leonardo menginjak kaki Kayden untuk memberi jawaban, Selina datang mengalihkan perhatian. Suasana di antara mereka langsung mencair, apalagi gadis ceriwis itu tampak riang. “Calon suami aku. Kamu ganteng banget, lebih ganteng dari biasa aku liat.” Selina mengulum senyum, tidak merasa berdosa sama sekali atas kebohongannya. Tatapan Kayden pada gadis itu cukup tajam, tetapi Selina tak ambil pusing. Dia baik-baik saja. Senyum Selina lebar, tatapannya berbinar indah, karena dirinya menang atas diri Kayden. Sekarang, dia tak mungkin ditolak lagi—karena Kayden wajib menerimanya. “Karena Selina sudah datang, ayo kita mulai saja makan malamnya. Saya sangat senang dan berterima kasih karena Nak Kayden bersedia datang menerima jamuan saya. Sebenarnya ini sudah biasa kita lakukan, tapi malam ini terasa berbeda karena dibalut dengan perjodohan kalian. Saya ikut gugup dan pertemuan ini terasa lebih canggung dari biasanya.” “Sama-sama, Alley. Saya juga sangat senang dan merasa beruntung karena kamu maupun Selina bisa menerima Kayden dengan baik.” “Iya, Kayden baik banget. Aku jatuh cinta banget sama anak Om Leo.” Selina terkikik, menaik turunkan alisnya pada Kayden yang tampak muak. Makan malam berjalan dengan hangat, Kayden sesekali menanggapi ucapan Alley sopan, tetapi tak terlalu terpancing dengan rayuan menggoda Selina yang memecah obrolan mereka jadi lebih menyenangkan. Usai makan, Kayden izin sebentar untuk mengajak Selina bicara di halaman belakang. Ada banyak hal yang harus dia bahas, karena ini sudah sangat keterlaluan. “Apa-apaan ini, Kalselina?!” Kayden melepaskan cekalannya ketika sudah merasa agak jauh memasuki halaman belakang. Nada bicaranya penuh penekanan dan banyak emosi yang tertahan. “Apanya? Aku enggak kenapa-kenapa kok.” Kayden meminat pelipis, kemudian meninju udara untuk meluapkan amarah. “Jangan melewati batas, sudah berapa kali saya ingatkan? Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan ini?” Seline menghela panjang, jengah dengan sikap Kayden. “Apa salah kalau aku mau memperjuangkan kamu? Lagian, aku enggak melakukan pembunuhann kok.” Tatapan Kayden menajam, berusaha agar tidak meneriaki Selina dengan murka. “Saya tidak berniat menikahi kamu!” “J—jangan gitu dong. Aku sakit hati kalau terus-terusan kamu tolak. Kamu kenapa enggak pernah mikirin perasaan aku sedikit aja? Hobi kamu selalu nyakitin aku. Lagi pula, papa dan ayah kamu udah saling setuju. Aku bukan penjahat, Kayden, kenapa segitunya menolak? Aku cewek baik-baik, sumpah.” “Batalkan perjodohan ini, tolong!” “Nggak mau.” Selina melipat kedua tangan di dadaa, membuang muka dengan memberengut. “Udahlah, ayo ke dalam. Nanti Ayah kamu marah, aku enggak tanggung jawab.” “Kalsel, dengar saya dulu.” Selina mengangkat tangan, melangkah duluan meninggalkan halaman belakang. Kayden mengacak rambutnya, tambah frustasi. “Kamu akan semakin menderita jika menikah sama saya, Kalselina.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN