“Takut kehilangan Thea? Aku?” Abian tersenyum sendiri memikirkan kalimat itu berulang-ulang. Sejak kapan terakhir kali ia mengalami rasa takut kehilangan? Mungkinkah sejak ia kehilangan ibunya? Tidak. Kehilangan ibunya tidak terlalu membuatnya menangis berbulan-bulan. Waktu itu ia pernah menangisi seseorang hingga membuat ia menjadi pria yang dianggap bisu, karena duka yang dialaminya tak mampu membuatnya bicara lagi. “Mbak, apakah pasien bernama Thea dirawat di rumah sakit ini?” Abian kini berada di bagian resepsionis guna menanyakan keberadaan wanita yang sedang dicarinya itu. Setelah berpura-pura istirahat dan memastikan dokter bernama Genta keluar dari kamarnya, Abian beranjak turun dari ranjangnya dan mendatangi ruang bagian informasi ini. “Tunggu sebentar ya, saya cek dulu.” Petug

