“Selamat si___” Abian melangkah begitu saja melewati Merry, sang sekretaris yang sudah berdandan cantik dan tersenyum semanis mungkin untuk menyambut kedatangan Abian. Merry menghentakkan kakinya kesal saat bos baru yang lebih tampan dari pemilik perusahaan ini, mengacuhkannya. Ya, bisa dibilang sejak tadi pagi, ia sama sekali tak dilirik oleh bos barunya itu. Bunyi gemericik air langsung mencuri perhatian Abian tatkala ia semakin memasuki ruang kerja milik ayahnya. Sepasang sepatu hak berwarna hitam bertengger tepat di depan pintu kamar mandi. Meyakinkan Abian, bahwa di dalam kamar berbentuk kubus itu, pasti ada sosok yang seharian ini mengisi kepalanya. Tanpa sadar, Abian tersenyum-senyum sendiri. Namun, seketika senyum di bibirnya memudar, sorot matanya kembali setajam elang tatkala

